Pulang

Pulang
Mengungkapkan yang Terpendam


__ADS_3

Renjana Alcatraz


Aku tak berharap lebih perempuan itu akan memandangku dengan tatapan rindu. Bahkan aku tak berharap ia mau sekadar menoleh ke arahku. Namun tatapan kami bertemu. Mata perempuan itu menelisik. Terlihat jelas pancaran amarah di kedua matanya yang lama kurindu.


Tiga minggu bukan waktu yang singkat bagi orang yang sedang jatuh cinta. Aku jatuh cinta, itu sebabnya tiga minggu tanpa Kanya rasanya begitu menyiksa. Sedangkan perempuan itu menatapku dengan sorot benci. Tentu saja.


Sungguh aku tak ingin dicap sebagai jelangkung atau apa pun itu, yang konon katanya datang tak dijemput pulang tak diantar. Hanya saja keadaan yang memaksaku harus menghilang sementara waktu. Jika aku tak melakukannya, aku pun tak tahu apa yang akan terjadi setelah itu.


Aku pernah bilang bukan, jika dulu aku memiliki ketakutan akan kematian yang sewaktu-waktu menjemputku, hingga tak berani merasakan jatuh cinta. Apalagi setelah adik lelaki pun akhirnya harus mengalah dengan rasa sakit yang ia derita. Ketakutanku semakin menjadi. Namun aku lebih beruntung daripada adik lelakiku yang meninggal lebih dari lima tahun lalu. Saat usianya masih begitu remaja. Keberuntungan yang membawaku kemudian pada kisah selanjutnya hingga bertemu Kanya.


"Makan sup ini dulu. Perutmu akan lebih baik setelah makan," kataku sambil menyodorkan semangkuk sup rumput laut yang biasa dibuatkan eomma ketika aku sedang tak enak badan.


Kami sedang duduk berhadapan dan menghabiskan makanan dalam diam. Sedikit pun Kanya tak mengajakku berbicara. Ia menikmati semangkuk sup yang kuberikan bersamaan dengan telur dadar gulung dan sandwich.


Aku tahu semua yang terhidang di atas meja saat ini bukanlah padanan yang pas. Namun hanya bahan-bahan itu yang sanggup kutemukan di kulkas. Minus bahan-bahan sup rumput laut sebab aku membawanya dari rumah. Kanya pun tak berkomentar apa-apa. Ia hanya diam dan menikmati makanan yang kuulurkan ke piringnya. Meski ia tak mengajakku berbicara, setidaknya aku bersyukur Kanya masih lahap memakan masakanku.


"Aku minta maaf," kataku begitu Kanya menyelesaikan makannya.


Perempuan itu duduk tanpa ekspresi di depanku kecuali menunjukkan wajah sembabnya akibat tangis yang entah sudah ditumpahkan sejak berapa lama. Membuat hatiku ikut merasakan nyeri. Apalagi saat tahu, akulah yang membuatnya menangis.


"Kanya," panggilku demi melihat respon perempuan itu. Aku mencari matanya yang menunduk, menatap ujung kuku jemarinya yang saling bertautan. "Apa yang harus kulakukan biar kamu maafin aku?"


Kanya masih tetap bisu. Namun kali ini tak lagi memainkan ujung kukunya. Ia mengangkat kepalanya hingga bertatapan denganku. Wajahnya masih tetap datar tanpa ekspresi. Ada luka yang jelas terpancar dari sorot matanya.


"Mas Araz masih utang penjelasan sama aku. Sebenarnya apa hubungan Mas Araz sama Arez?"


Aku sudah menebak jika itulah pertanyaan pertama yang akan ditanyakan Kanya padaku. Sebab sebelum aku "menghilang" sekalipun, Kanya begitu antusias mengiyakan ajakan kencanku demi mendengar cerita tentang Arez.

__ADS_1


Bahkan, saat aku melihatnya setengah mabuk di depan mini market 24 jam tak jauh dari apartemennya, Kanya meracau tentang banyak hal. Nama Arez tak hentinya disebut. Wajahnya begitu menderita. Seolah menyimpan beban atau mungkin penyesalan yang tak sanggup ia sampaikan.


"Arez, sebenarnya ke mana sih lo? Apa hubungan lo sama lelaki kurang ajar yang udah ninggalin gue itu?"


Tiga kaleng bir ukuran sedang sudah kosong saat aku melihatnya duduk dengan kepala bertumpu pada kedua tangan di atas meja. Sementara tangan lainnya masih menggenggam kaleng bir keempat yang tinggal sebagian.


Ck, bisa gila aku kalau Kanya sering berlaku seenaknya tanpa peduli dengan keselamatannya sendiri. Lagipula dengan alkohol berkadar rendah saja sudah tumbang. Bisa-bisanya bergaya sok meminum alkohol.


"Nya, Kanya, ngapain kamu di sini?"


Matanya menyipit tajam saat menatapku. "Oh, lo udah balik? Dari mana aja sih lo? Padahal lo udah janji sama gue buat cerita hubungan lo dengan Arez. Lo malah ngilang."


"Aku bakal ceritain sama kamu, tapi kita pulang dulu yuk."


"No, no, no... gue nggak mau pulang. Gue mau tahu tentang Arez. Di mana lo sembunyiin Arez?"


"Arez, gue minta maaf kalau selama jadi sahabat lo selalu nyusahin. Gue minta maaf karena selalu kesel sama lo. Gue sayang sama lo, tapi gue nggak mau pisah sama Putra. Arez..."


Racauan Kanya semakin menjadi. Perempuan itu menyandarkan kepalanya di jendela mobil. Matanya terpejam, tapi mulutnya tetap tak berhenti bicara. Mengungkapkan apa saja yang mungkin menganggu pikirannya.


"Rez, gue udah putus sama Putra. Lo bilang kalau gue putus sama Putra, lo mau pacaran sama gue 'kan? Tapi kenapa lo sama sekali nggak ada kabar dan justru muncul dia?"


Kanya menunjuk ke arahku. Ia tersenyum sambil terus menatapku dengan pandangan... entahlah, aku tak sanggup menerjemahkannya selain tatapan rindu. Mungkinkah?


"Dia mirip banget sama lo, Rez. Bahkan kalian punya aroma tubuh yang sama. Caranya yang menggaruk belakang telinga kalau gugup, caranya yang diam-diam ngeliat gue, bahkan kalian juga punya kesukaan yang sama. Kopi dengan sedikit krimer tanpa tambahan gula. Lo tahu, juga suka banget sama mie pangsit. Gue suka sama dia, Rez. Gue juga suka ngeliat lo ada dalam diri Araz."


Aku refleks menginjak pedal rem. Bukan karena sudah sampai di gedung apartemen perempuan itu, melainkan akibat ucapan Kanya. Ia bahkan secara gamblang menyebutkan kemiripanku dengan lelaki yang ia sebut sebagai sahabatnya.

__ADS_1


Jantungku berdegup kencang. Aku mencoba menguliknya seperti saat dalam perjalanan usai bakti sosial LF. Namun sebelum aku sempat bertanya, Kanya sudah jatuh tertidur.


Aku terpaksa mengangkat tubuhnya ke unit apartemen perempuan itu. Lagi. Tanpa tahu apakah yang diucapkannya benar-benar dari hati.


"Gimana, Mas Araz keberatan?" Pertanyaan Kanya menyadarkanku dari lamunan. Ia masih menatapku dengan pandangan yang susah diartikan.


"Jika kenyataan yang terjadi nggak sesuai yang kamu harapkan, apa yang bakal kamu lakukan?"


Kanya tak menjawab pertanyaanku. Perempuan itu justru menatapku dengan pandangan menyelidiki. Meski bersit rindu tak mampu ia halau sepenuhnya.


"Itu akan aku putuskan setelah melihat kenyataannya."


Aku menghela napas panjang. Kehilangan kata-kata apa yang harus kusampaikan pada Kanya.


"Takut?"


"Maksudnya?"


"Ya Mas Araz takut kalau kenyataannya bakal merugikan kamu?"


Aku tersenyum lemah. Entah apa yang membuat Kanya berpikir demikian. Namun aku tak sanggup membantahnya. Perempuan itu berhak menilaiku sesuka yang dia mampu. Sebab selama tiga minggu ini, aku sudah memikirkannya apabila situasi ini harus kuhadapi.


"Oke, tapi kita harus ke suatu tempat lebih dulu," ucapku pada akhirnya. Mungkin kini memang waktunya mengungkapkan kebenaran.


"Ke mana?"


"Menemui Arez."

__ADS_1


__ADS_2