Pulang

Pulang
Pulanglah Bersamaku


__ADS_3

Renjana Alcatraz


Kejutan yang aku siapkan bersama Tante Sukma, Om Eka, Putra, Damar dan Almira benar-benar sukses. Bahkan Kanya sama sekali tak menyangka jika akan mendapat sambutan selamat datang. Terlebih saat Nada Sumbang menyempatkan mampir di tengah kesibukan mereka. Sepertinya dari semua rangkaian kejutan hanya kemunculan Nada Sumbanglah yang membuat Kanya menitikkan air mata. Perempuan itu terharu dan memeluk Arlan begitu lama. Memang terlihat, hubungan keduanya begitu akrab. Bahkan sifat manja Kanya lebih sering muncul saat bersama Arlan ketimbang bersamaku. Fans service kalau Kanya menyebutnya. Aku pun bisa bernapas lega, sebab tak melihat apa pun - kecuali ketulusan - di mata Arlan.


Setelahnya, kami menggelar barbeque di taman belakang rumah Kanya. Renata yang terlihat paling antusias perkara makan. Teman Kanya itu - yang aku baru mengenalnya hari ini - begitu unik. Sekilas, dia hampir setipe dengan Kanya. Terlihat cuek, bahkan cenderung belagu, tetapi begitu mengenal lebih dekat ternyata sama hebohnya dengan Kanya. Mereka berdua bahkan yang paling berisik di antara semua orang yang ada di halaman.


Tanpa sadar, aku tersenyum. Ternyata banyak sisi dari Kanya yang belum sepenuhnya aku pahami. Dan, selama beberapa hari tinggal di rumah ini membuatku semakin banyak mengetahui sisi lain Kanya yang sebelumnya belum aku tahu. Seperti saat ini, Renata dan Kanya menyanyikan berbagai genre lagu diiringi petikan gitar oleh Arlan dan satu lagi personel Nada Sumbang yang entah siapa namanya. Aku belum bisa mengenali mereka satu per satu.


Sesekali Putra yang juga bertugas mengantikan aku memanggang daging bersama Om Eka, ikut menyanyikan lagu yang dia tahu. Ah, sebagai vokalis, tentu saja banyak lagu yang dia tahu. Bahkan aku pun baru menyadari jika suara laki-laki itu sangat merdu. Tadi malam, aku tak bisa fokus mendengarkan karena sibuk berurusan dengan rasa cemburu yang tak bisa aku tahan. Dan, baru kali ini mendengar dengan seksama bagaimana suara Putra. Pantas, jika banyak yang mengidolakan laki-laki itu dan lagu mereka dengan cepat melejit menduduki tangga lagu tanah air.


"Senyum-senyum sendiri, Bang." Damar menghampiriku sambil menyerahkan sekaleng softdrink. Aku menerimanya demi menghargai kebaikan laki-laki itu yang telah membawakannya untukku meski aku tak meminumnya. "Lagi perhatikan Kanya? Tapi aku penasaran deh Bang, kenapa kalian nggak langsung nikah aja sih?"


Tawaku mengembang. Aku bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan Damar. Siapa yang tidak ingin menikahi orang yang kita cintai, tetapi jika orang itu masih belum sepenuhnya yakin mengikat sebuah komitmen, bagaimana aku sanggup memaksanya? Sesuatu yang dipaksakan itu tidak baik bukan?


"Apa butuh bantuan gue buat ngomong sama, Kanya? Bocah itu, kalau nggak keburu diikat, bakal makin lupa daratan, Bang. Lupa kalau umur makin tua. Sori, maksud gue bukan lo, Bang, tapi Kanya." Damar buru-buru meralat ucapannya saat menyadari perkara yang dia bahas.


"Santai ajalah. Lagian biarkan Kanya yang memutuskan sendiri kapan dia siap buat menikah. Gue nggak mau paksa dia. Hasilnya bakal nggak bagus."


"Ya iya sih, Bang. Btw, gue udah dengar semua dari Kanya soal Arez. Gue turut prihatin. Gue ... ."


Wajah Damar tiba-tiba mendung saat membicarakan soal Arez. Ada sesal yang begitu dalam di wajah laki-laki itu. Kutepuk pelan panggung Damar.


"Dia pergi dengan cara yang diinginkan kok. Lo harusnya bangga punya teman kayak dia."


"Gue justru ngerasa bersalah karena nggak bisa jadi teman yang baik buat Arez, Bang. Dia selalu baik dengan semua orang, tapi justru dia simpen lukanya sendirian. Orang lain nggak boleh tahu kalau dia emang nggak baik-baik aja. Bahkan gue yang beberapa kali ngantar dia ke rumah sakit pun nggak pernah dia kasih tahu kalau kesempatan hidupnya udah nggak lama lagi. Ketika dia pergi pun, nggak ada satu pun temannya yang dengar tentang kabar kepergiannya."

__ADS_1


"Sori, harusnya gue bilang sejak awal saat ketemu lo pertama kali, tapi gue memilih diam karena takut bakal merusak rencana gue buat dekati Kanya. Arez berterima kasih banget sama lo, Dam. Karena berkat lo, dia bisa ketemu Kanya dan menyadari arti mencintai yang sebenarnya. Mencintai yang membuatnya terus berjuang sampai akhir dan mengambil keputusan bahwa cinta itu akan terus ada jika bagian dari dirinya ada dalam diri orang lain."


"Heh, tetap aja caranya yang sok misterius itu bikin gue nggak suka. Menyebalkan banget tahu nggak sih, Bang."


"Hei, gue juga sebal sama bocah itu, tapi bagaimanapun gue beruntung pernah kenal sosok seperti Arez. Bagi gue, dia benar-benar wujud malaikat tanpa sayap."


"Harusnya dulu gue lebih perhatian sama dia kalau tahu akhir kisahnya bakal kayak gini."


Senyumku mengembang. Kuamati wajah Damar yang semakin mendung saat membicarakan tentang Arez.


"Udah, dia udah bahagia di atas sana. Nggak perlu ada hal yang lo sesalkan, Dam."


Pada akhirnya Damar ikut tersenyum setelah mendengar ucapanku. Laki-laki itu mohon pamit saat Almira memanggilnya dari kejauhan. Sepertinya ibu hamil yang sebentar lagi melahirkan itu, sudah tak sanggup berada di tengah-tengah pesta terlalu lama. Terlebih kedua sahabatnya masih kebanyakan energi dan sanggup bernyanyi entah sampai kapan. Bahkan Nada Sumbang yang katanya harus melanjutkan perjalanan untuk tour pun ikut terbawa suasana dan dengan semangat mengiringi mereka.


"Gue mesti balik dulu, Bang. Kapan-kapan kita mesti ngobrol banyak lagi. Oh iya, btw, makasih. Udah sabar ngadepin Kanya dan mengajak bocah itu pulang. Ke tempat yang seharusnya. Gue sebagai sahabat bersyukur dia ketemu sama lo, Bang. Cuma lo yang bisa luluhin sifat keras kepalanya," kata Damar sebelum berpamitan dan meninggalkan aku sendirian. Aku tersenyum menanggapi pernyataan laki-laki itu.


"Ya udah, gue pamit dulu ya, Bang."


Sepeninggalan laki-laki itu, aku lebih banyak termenung sambil mengamati Kanya yang masih saja bernyanyi. Sampai pandangan kami bertemu dan dia melambai ke arahku. Dengan tangan kanannya dia memberi tanda jika akan menyelesaikan satu lagu lagi sebelum menghampiriku. Senyumku melebar. Kubalas lambaian tangannya dan melayangkan simbol cinta yang biasanya digunakan artis Korea.


Sorakan riuh terdengar di depan sana. Dan, wajah perempuan itu tersipu malu.


"Mas Araz tuh paling bisa deh bikin aku salting. Jadi nggak fokus 'kan nyanyinya," protes Kanya saat perempuan itu menghampiriku. Aku tertawa dan mengacak-acak rambutnya dengan gemas.


"Gimana sih? Aku 'kan cuma nunjukkin perasaanku yang sebenarnya."

__ADS_1


"Di hadapan banyak orang gitu? Kan malu, Mas." " Wajah manyun Kanya justru membuatku semakin gemas dan ingin sekali mencubit bibirnya.


"Nggak apa-apa, daripada sembunyi-sembunyi, terus yang tahu cuma setan. 'Kan makin bahaya itu, Nya."


"Mas Araz ih, nggak gitu juga maksudnya."


Aku tertawa saat menyadari wajah Kanya telah bersemu merah muda. Perempuan itu benar-benar cepat sekali tersipu.


"Gimana, lusa ikut aku pulang yuk. Kita balik ke Jakarta dan bareng-bareng bangun MediaPena," ajakku tiba-tiba. Kanya menepuk keningnya dan menatapku dengan pandangan bersalah.


"Mas, sori. Aku lupa kalau Mas Araz punya tanggungan perusahaan yang nggak bisa ditinggal lama-lama. Aku keasyikan di sini sampai lupa mikirin tawaran Mas Araz juga."


"Ya udah, tinggal jawab aja sekarang. Kita pulang yuk. Mau 'kan?"


"Iya, aku mau pulang sama Mas Araz," jawab Kanya tanpa ragu-ragu kali ini. Dia bahkan terlihat begitu antusias. "Aku nggak sabar debat sama Mas Hanung lagi. Mas Araz yang sabar ya kalau nanti kita sering ribut buat nentuin topik berita yang menarik."


Senyumku semakin lebar. Tanpa perempuan itu tahu, aku sudah berkali-kali melihatnya berdebat dengan Hanung demi topik berita yang akan mereka kerjakan. Hanya saja, selama ini keberadaanku tak pernah tertangkap oleh retina mata perempuan itu.


"Iya. Asal kamu tahu saja, aku sudah kebal dengan segala bentuk perdebatan kalian."


"Eh, kok bisa? Emang kapan Mas Araz pernah lihat kita debat?"


Aku sengaja tak menjawab pertanyaan Kanya.


"Mas, kasih tahu aku dong!"

__ADS_1


"Cium dulu dong," godaku sambil menunjuk pipi. Kanya memutar bola matanya dan pergi begitu saja. Sedangkan aku tak sanggup menahan tawa.


__ADS_2