Pulang

Pulang
BAB 9 Waktu Bersamanya


__ADS_3

Tak ada yang sempurna dalam hidup ini. Rencana yang disusun dengan sempurna tetap memiliki cacat. Hidup yang katanya sudah sempurna pasti memiliki ketidakpuasan. Yang sempurna hanya rencana Tuhan. Meski sering tak dipahami. Meski sering dipertanyakan. Jangan dipahami dan jangan pertanyakan. Terima saja. Karena menurut Tuhan itulah yang sempurna. Tuhan tak akan membuatmu tersesat. Percaya saja itu.


Suara ramai dan berisik membangunkanku dari tidur. Aku membuka mataku secara perlahan. Kenapa berisik sekali di UKS ini? Tanyaku dalam hati. Aku mengangkat kepalaku dan melihat ruangan yang sedang aku tempati sekarang.


Tunggu. Ini bukan UKS. Lalu, aku di mana? Ada yang memindahkanku? Aku melihat papan tulis, meja guru, lemari, pintu secara bergantian. Aku semakin mengerutkan keningku. Ini kelasku waktu kelas XI. Kenapa aku ada di sini? Aku melihat satu per satu teman sekelasku. Iya benar. Mereka adalah teman-teman sekelasku di kelas XI. Sebagain dari mereka bukanlah teman sekelasku di kelas X. Penentuan kelas memang diubah setiap kenaikan kelas. Aku melihat masih ada Alif, Malik, May, dan Ami. Terus Putra di mana? Aku kembali ke tahun berapa dan bulan berapa sekarang? Apakah aku kembali saat dia sudah meninggalkan kami? Kejadian itu kan terjadi di kelas XI. Apakah aku kembali ke masa dia sudah tidak ada?


Aku masih memperhatikan satu per satu teman-temanku dengan pandangan tidak percaya. Aku hanya tidur di UKS tadi siang karena kepalaku sakit sekali. Sekarang, aku di sini? Tunggu. Kepalaku juga tidak sakit lagi. Tidak sakit sama sekali.


“Udah bangun, Ra? Nyenyak kali kau tidur,”kata Anisa. Dia adalah pacar Putra dulu waktu SMA.


“Hah?Ra? Kau lagi nanya aku?”tanyaku ke Anisa yang berada di samping mejaku.


“Iyalah, siapa lagi. Kan cuman kau Aira di sini,”jawabnya.


Tunggu. Aku bukan menjadi Ami? Aku menjadi diriku sendiri sekarang? Aku segera mengalihkan pandanganku ke Ami yang sedang asyik mengobrol dengan Malik dan May.


“Mi,”panggilku ke Ami yang berada di meja Malik dan Putra. Putra dan Malik adalah teman semeja dan hanya dipisahkan oleh satu meja saja dari mejaku.


“Napa, Ra?”tanya Ami.


“Kau Ami?”tanyaku tidak yakin.


“Iyalah. Aneh kali kau. Siapa lagi emangnya?”jawabnya.


“Aneh kali kau, Ra. Cuci muka dulu sana. Belum sadar pun kuliat kau,”suruh Anisa.


Aku tidak membalas Anisa lagi. Aku berlari menuju toilet sekolah yang tidak terlalu jauh dengan kelasku. Aku membasuk wajahku dan melihat kaca fullbody yang berada di sudut ujung toilet. Aku menatap wajahku tidak percaya. Aku kembali menjadi Aira. Rambut hitam sepunggung tampa poni yang aku kuncir satu. Jaket hitam yang sering aku pakai ke sekolah. Pipi yang chubby dan tubuh yang tetap pendek, 158 cm. Dan tidak tambah tinggi lagi. Aku masih 158 cm di masa depan. Apakah Tuhan mengabulkan doaku? Tetapi aku belum tahu aku kembali ke bulan berapa. Aku bisa saja kembali ke bulan dia sudah tidak ada. Aku meraih kantong rokku dan tidak ada ponsel. Di kantong jaketku juga tidak ada. Aku pasti menyimpannya di tas. Aku harus kembali ke kelas.


Aku berlari menuju kelas. Sesampainya di kelas, aku langsung memeriksa kalender. 3 Oktober 2009. Aku menarik nafas lega. Aku kembali ke waktu dia masih di sini. Dia belum pergi meninggalkan kami. Aku melihat ke mejanya, tetapi dia tidak ada di sana. Yang duduk di sana adalah May.


“Putra, mana?”tanyaku ke Malik sambil memutar tubuhku ke arah mereka, tetapi aku masih duduk di kursiku.


“Nggak tau,”jawab Malik.


“Kau tau, May?”tanyaku ke May.


“Nggak juga,”jawab May.


Aku memutar kembali tubuhku ke depan. Aku mengambil buku tulis dari tasku. Aku mulai menyimpulkan apa yang terjadi padaku sekarang. Awalnya aku berada di UKS karena kepalaku sakit. Kemudian, aku tertidur dan berdoa aku ingin menghabiskan waktuku sebagai Aira di sini bersamanya. Walaupun hanya sebentar. Lalu, aku sekarang berada di kelas XI dan dia juga masih hidup. Tandanya, Tuhan mengabulkan doaku. Karena Tuhan sudah mengabulkannya, aku harus menikmatiku bersamanya sebelum aku kembali lagi ke masa depan. Hah. Bagaimana aku bisa menghabiskan waktuku bersamanya? Aku harus ngapain, ya?


“Oi, Putra. Dari mana aja kau?”Itu suara Malik. Putra ada di sini. Aku menghentikan menulis agenda apa yang ingin aku lakukan bersamanya dan menatapnya. Dia juga menatapku sebentar, lalu berjalan menuju mejanya.


“Rapat pramuka tadi,”jawabnya sambil duduk di kursinya. May sudah tidak di sana lagi. Dia sudah duduk kembali di sampingku. Aku dan May memang duduk semeja di kelas XI ini.


Putra, Malik, dan Alif sedang asyik mengobrol. Ntah apa yang mereka obrolkan. Anak-anak yang lain juga sibuk mengobrol dan ada yang bermain gitar. Kacau sekali kelas ini. Berisik. Aku menggigit ujung pulpen yang tadi aku pakai untuk menulis. Aku sedang berpikir dan menimbang. Kebiasaan menggigit ujung pulpen belum bisa aku hentikan bahkan sampai sekarang. Aku meletakkan pulpen itu di meja dan memutar tubuhku menghadap meja Putra dan Malik.


“Heh, Putra. Mau jalan nggak? Nanti habis pulang sekolah,”tanyaku ke Putra. Tanganku dingin dan jantungku berdegup kencang. Seumur-umur baru kali ini aku mengajak cowok jalan. Meskipun itu Putra, aku tetap saja grogi.


Tiba-tiba kelas menjadi hening. Mereka semua berhenti melakukan aktivitasnya dan memandangku. Kenapa jadi waktu seperti berhenti? Putra juga yang sedang asyik mengobrol pun berhenti. Wajahnya terlihat sangat terkejut dengan ajakanku ini.


“Loh, kok hening?”tanyaku bingung. Apa suaraku terlalu kencang? Semua orang bisa mendengarnya? Tamatlah riwayatmu, Nak.


“Silakan dilanjut,”ucap Wawan.


Semua orang kembali melakukan aktivitasnya, tetapi sambil bisik-bisik. Sudah tidak ada keributan seperti tadi. Aku melihat Putra meminta jawaban sambil menaikkan daguku sedikit.


“Aku ada latihan futsal pulang sekolah,”jawabnya.


Aku menghembuskan nafasku kecil tanda aku kecewa dengan jawabannya. Aku menundukkan kepalaku dan memandang sepatuku. Aku sedang mempertimbangkan untuk menemaninya latihan futsal, tetapi pasti akan canggung. Aku tidak akrab dengan teman-teman futsalnya. Tetapi, aku tidak punya waktu yang banyak di sini.


“Habis latihan gimana?”tanyanya.


Aku mengangkat kepalaku dan memandangnya. Aku terdiam.

__ADS_1


“Gimana? Mau nggak?”lanjutnya.


“Oke,”balasku sambil tersenyum. Dia juga membalas senyumku.


Aku kira dia tidak akan mau tadi. Aku membalikkan tubuhku ke depan. Aku merasa aku sedang dipandang seseorang. Aku melihat samping kiriku. May sedang memandangku keheranan.


“Kenapa?”tanyaku heran.


“Kemaren-kemaren kau nggak mau ngomong sama dia. Sekarang kau ajak jalan,”jawab May.


Aku mengerutkan keningku. “Aku nggak ngomong kenapa?”tanyaku.


“Mana kutau. Kau nggak cerita. Pokoknya habis kalian ngobrol berdua minggu kemaren, kau musuhin dia,”jelas May. “Si Putra juga nggak ngasih tau aku kenapa,”lanjutnya.


Aku pasti marah karena Putra memberi tahu aku kalau dia tidak suka May. Aku marah padanya. Kejadian itu kan memang seharusnya terjadi di kelas XI, bukan kelas X. Tandanya, aku memang tidak mengubah apa-apa. Aku tidak bisa merubah yang sudah terjadi. Aku kembali hanya untuk memenuhi janjinya.


“Kok nggak kau jawab?”tanya May.


“May... kayaknya aku suka sama Putra,”jawabku.


May terdiam. Dia mengalihkan pandangannya dariku. Lalu, mengambil buku pelajaran yang ada di tasnya. Dia tidak melakukan apa-apa dan hanya memandang buku yang sudah diletakannya di atas meja. Aku juga diam dan masih memandangnya.


“Aku tahu,”balasnya tanpa mengalihkan pandangannya dari buku tersebut.


“Kau tahu?”tanyaku tidak percaya.


“Nanti saja ceritanya. Bu Lala udah masuk,”ucapnya.


Aku tidak membalasnya lagi. Satu per satu semuanya sudah mulai jelas. May sudah tahu aku menyukai Putra, tetapi tidak mengatakan apapun sampai kejadian malam itu. Dia juga mengetahui cewek yang Putra suka, tetapi tidak mengatakannya padaku. Dia sudah tahu dari dulu. Tetapi dia hanya diam. Aku tidak boleh membuat kesimpulan sendiri. Aku harus mendengarkan alasannya nanti. Terkadang, orang yang kamu kira tidak mengetahui segalanya justru memahami segalanya. Lalu berpura-pura seolah-olah kau lebih tahu darinya.


*****


Aku duduk di teras kelasku sambil memandang langit biru. Indah sekali langit hari ini. Biru sekali, hanya sedikit awan di sana. Terkadang cahaya mengganggu penglihatanku, tetapi aku tetap menyukainya. Terkadang menyakiti mataku, tetapi aku menyukainya. Aku mengangkat tangan kananku ke depan, merasakan cahaya matahari tersebut di tanganku. Aku sering melakukannya. Tanpa aku sadari, aku tersenyum.


“Cantik ya langitnya?”tanya Putra, lalu duduk di sampingku.


Putra membalas senyumku. Dia juga mengangkat tangan kanannya dan merasakan cahaya matahari. Dia tersenyum. Dia... manis sekali. Aku terus memandangnya seolah-olah ini adalah hari terakhir aku akan melihatnya. Mengagumi setiap ekspresi yang ditunjukkannya. Indah sekali laki-laki ini.


“Jadi, kita mau kemana sekarang?”tanya Putra.


“Loh, kan habis latihan perginya. Kau nggak latihan?”tanyaku balik.


“Nggak. Aku permisi,”jawabnya.


“Kenapa?”


“Biar bisa lebih lama,”jawabnya. “Ayok, kita mau kemana? Jam 5 kau udah harus pulang. Kalau nggak kau bakalan kena marahi nanti,”lanjutnya.


Ah iya benar. Aku harus pulang ke rumah nanti. Kalau pulangnya lama, bisa-bisa aku diomelin. “Umm kemana ya? Kau ingin kemana?”tanyaku balik.


“Aku? Jalan baru gimana?”


Jalan baru adalah tempat nongkrong anak-anak muda di daerahku. “Malas ah ke sana. Ramai,”jawabku memasang wajah tidak suka.


“Hm tadi nanya mau kemana. Dikasih tau malah nggak suka,”balasnya sambil memasang wajah kesal.


“Hehe. Ke bukit teletubies mau nggak?”tanyaku.


“Boleh. Aku juga pengen ke sana,”jawab Putra. “Yuk, berangkat sekarang,”lanjutnya. Dia masuk ke kelas mengambil tasnya dan juga tasku. Lalu, kami berjalan ke parkir motor sekolah. Menghabiskan waktu bersamanya sebagai Aira pun dimulai. Aku akan menghargai setiap detik yang aku habiskan dengannya.


*****


Bukit teletubies tidak terlalu jauh dari sekolah. Kami hanya membutuhkan waktu 15 menit untuk sampai di sana. Cuacanya sudah tidak sepanas tadi. Justru cuacanya cocok untuk berpiknik. Bukit teletubies adalah bukit kecil di tempatku yang dipenuhi rumput-rumput halus seperti gunung tempat tinggal teletubies. Jadi, bukit ini sebenarnya adalah padang rumput. Biasanya banyak orang yang datang ke sini untuk berpiknik atau hanya sekedar menghabiskan waktu. Akan tetapi, hari ini sedang tidak banyak orang. Aku bahkan bisa menghitungnya dengan jariku.

__ADS_1


Putra melepaskan jaketnya dan meletakkannya di rumput. “Duduk di sini aja,”katanya. Kami pun duduk di sudut kanan bukit. Aku melepaskan tasku dan meletakkannya di atas rumput. Putra juga. Dia mengeluarkan kantong plastik dari tasnya.


“Nih, snack. Tadi aku beli di kantin.”


“Apaan isinya?” tanyaku. Aku mengeluarkan satu per satu isi tas plastik tersebut.


“Biskuat, kripik, sukro, tik-tik, roti, aqua, kacang arab?”


“Hahaha. Kacang arab nggak boleh lewat,”katanya sambil tertawa senang melihat ekspresiku yang kesal karena dia juga membeli kacang arab. Dia meledekku.


“Kau kayaknya suka kali ya sama kacang arab. Heran aku,”balasku sambil memasukkan kembali jajanan tersebut ke plastik.


“Iya. Jajanan favorite dari dulu,”balasnya.


Tes nggak nih? Tes sajalah. “Terus kenapa kau panggil aku kacang arab? Karena suka?”tanyaku sambil menatap matanya.


Dia balas menatap mataku. Lalu, dia mengambil tasnya dan meletakkannya di atas kepalanya. Dia rebahan. “Umm aku berpikir dulu. Aku memang suka atau nggak,”jawabnya sambil menatap langit.


“Nyebelin banget,”balasku lirih, tetapi dia masih bisa mendengarnya. Dia terkekah mendengarku mengomel. Aku memandang langit biru. Kali ini, banyak awan yang menemaninya. Aku senang karena langit mempunyai banyak teman sekarang. Aku juga senang sekarang. Aku menutup mataku dan merasakan hembusan angin di wajahku. Terima kasih Tuhan. Aku bahagia. Ucapku dalam hati.


“Aku juga bahagia,”ucap Putra tiba-tiba.


“Hah?”balasku heran. Perasaan aku ngomongnya dalam hati.


“Kau kelihatan bahagia hari ini. Banyak senyum. Aku juga bahagia,”lanjutnya masih menatapku sambil tersenyum. Dia juga memang terlihat bahagia.


“Kau bahagia melihatku bahagia?”tanyaku.


“Iya. Kan kau dari minggu lalu nggak mau ngomong samaku. Matamu selalu jelek kalau ngeliatku. Makanya pada heran kau ngajak jalan. Aku aja terkejut,”balasnya panjang. Dia menegakkan tubuhnya dan duduk disampingku.


“Kenapa aku marah?”tanyaku.


“Ya karena aku bilang aku nggak suka May samamu,”jawabnya.


Benar tebakanku. Aku pasti marah gara-gara itu karena hanya itu alasan yang membuat kami bermusuhan. “Terus kenapa aku jadi baik?”tanyaku menggodanya.


“Ya mana kutau. Aneh kali kau,”jawabnya kesal.


Aku tertawa melihat wajahnya yang ditekuk. “Lucunyaaaa,”kataku sambil menekan kedua pipinya dengan jari tengah dan jempolku.


Dia menggembungkan pipinya pura-pura tidak suka. Aih, lucu sekali laki-laki ini. Aku melepaskan tanganku dan menatap matanya. “Aku nggak bisa paksain kau buat suka kan? Kalau emang nggak suka, ya udah. Kita nggak bisa atur kita harus suka sama siapa juga. Kau nggak salah. Maaf ya sikapku kayak anak kecil,”ucapku. Aku benar-benar tulus meminta maaf karena memaksanya untuk suka dengan orang yang tidak disukainya. “Aku minta maaf karena sudah ikut campur terlalu banyak dalam kehidupan pribadimu. Padahal itu hakmu untuk menyukai siapa saja,”lanjutku.


Dia menatapku heran untuk sesaat, lalu tersenyum. Dia mungkin heran Aira yang keras kepala kenapa jadi lembut dan merasa menyesal begini. Lebih pengertian. “Jadi, kita baikan?”tanyanya.


“Iya,”jawabku sambil tersenyum.


“Kau nggak akan jodohin aku lagi sama May, kan?”tanyanya lagi.


“Iyaaa. Nggak akan,”jawabku. “Aku minta maaf atas sikapku yang dulu, Putra,”lanjutku dalam hati.


“Okeeeee. Gini doong dari dulu,”balasnya sambil mengambil kacang arab yang di plastik dan memakannya.


“Kacang arabnya enak loh. Makanlah,”suruhnya. Kenapa dia tiba-tiba jadi senang sekali?


Aku mengambil kacang arab yang dibukanya dan memakannya. Dia masih tersenyum sambil memakan kacang arab itu. “Kau bahagia?”tanyaku.


“Iya. Aku bahagia,”jawabnya.


“Aku juga senang ngeliat kau bahagia,”balasku dengan senyum bahagia. Iya, aku bahagia.


“Kalau gitu... kau harus sering tersenyum,”ucapnya sambil mengelus rambutku.


“Karena aku bahagia?”

__ADS_1


“Iya, karena kau bahagia.”


Baiklah. Aku akan sering tersenyum. Aku juga akan sering tersenyum di masa depan. Karena aku juga ingin melihatmu bahagia. Akankah kejadian ini yang akan terjadi jika aku tidak keras kepala dan jika kita saling jujur? Harusnya kejadian ini terjadi saat aku masih bisa melihatmu dengan bebas, kan? Tetapi tak apa. Begini saja pun, aku sudah bahagia. Terima kasih karena menjadi alasan kebahagiaanmu.


__ADS_2