Pulang

Pulang
Semua Cerita Tentang Arez II


__ADS_3

Renjana Alcatraz


Jakarta, 2013


"Araz."


"Arez."


Seruan seorang perempuan memanggil namaku di depan apotek rumah sakit, membuatku menoleh ke sumber suara. Eomma yang memaksa mengantarku cek up, mengangkat kantong obat tinggi-tinggi ke arahku. Di saat bersamaan seorang laki-laki yang masih sangat muda, juga menoleh ke arah yang sama. Mungkin usia kami terpaut tujuh atau delapan tahun. Aku tak tahu pasti.


Tatapan kami bertemu. Aku mengulas senyum. Begitupun dengannya. Kami berjalan ke arah yang sama dengan tujuan yang berbeda. Ia menghampiri sang ayah, sedangkan aku menghampiri eomma yang masih menunggu di dekat instalasi obat rumah sakit.


Itulah pertemuan pertamaku dengan Arez. Tanpa pernah tahu jika di masa depan, takdir kembali mempertemukan kami. Di tempat yang sama.


Awalnya aku ragu menyapa. Ia sedang duduk seorang diri di bangku taman rumah sakit di suatu senja yang remang. Wajahnya terlihat pucat. Seperti tidak sehat. Aku menawarkan air yang kubawa dan ia menerimanya. Ia bilang sedang menunggu ayahnya yang akan datang menjemput.


"Btw, gue Araz. Lo, Arez 'kan?" tanyaku berbasa-basi. Lelaki itu tersenyum. Lalu mengangguk.


"Inget juga lo Bang sama nama gue. Sori, gue boleh ngomong gue-lo 'kan?"


Aku hanya tertawa sambil mengetuk-ngetuk tempurung kepalaku. "Gue punya ingatan yang cukup kuat. Santai aja, gue nggak ngerasa sok tua yang harus dihormati kok."


"Lo negrasa lucu nggak sih Bang, nama kita mirip dan kita dipertemukan dengan cara yang unik. Sekarang kita justru duduk berdua gini sambil nikmati senja. Di rumah sakit pula."


"Hahaha... Unik gimana nih maksud lo?"


Arez meneliti wajahku. Lalu katanya,"Kita berdua kelihatan sehat, tapi sebenarnya lagi sakit. Apa jantung Abang bermasalah? Sori, gue tadi sebenernya liat Abang saat masuk ke poli jantung."


Senyumku mengembang sebagai jawaban. Arez termasuk orang yang tak suka berbasa-basi saat menyampaikan sesuatu yang ia pikirkan. Dari wajahnya juga terlihat seperti sosok yang berwawasan luas. Muda dan cerdas.


"Ya, sejak lahir. Keluar masuk rumah sakit sih udah biasa buat gue."


"Setidaknya lo masih bisa berpikir dengan menggunakan otak yang sehat, Bang," katanya terdengar putus asa.

__ADS_1


Kulihat mendung diam-diam hinggap di wajahnya bersamaan dengan langit senja yang mulai menggelap dan lampu-lampu taman yang mulai dinyalakan. Pikirku saat itu, apa yang membuat Arez begitu terlihat frustrasi? Padahal secara fisik, ia tidak terlihat sakit. Kecuali wajahnya yang memucat saat pertama kali bertemu.


Namun pembicaraan kami tak berlanjut. Sebab seorang lelaki yang mengaku sebagai sopirnya sudah menjemput dan mengajaknya pulang. Tanpa pernah aku tahu, jika ia lebih menderita jika dibandingkan denganku.


Setelah pertemuan kami di temaram senja hari itu, kami tanpa sengaja bertemu lagi di sebuah kafe. Tujuh bulan kemudian. Saat itu, aku memutuskan rehat sejenak dari aktivitasku sebagai jurnalis foto lepas di sebuah media nasional. Ia datang sendirian. Duduk di pojok ruangan sambil menikmati secangkir kopi dengan sedikit creamer. Wajahnya terlihat lebih pucat dari terakhir kali kami bertemu.


"Wah, kayaknya kita beneran punya ikatan takdir deh Bang. Sering banget ketemu tanpa sengaja."


"Haha... Bisa aja lo ngarang. Sendirian aja nih?"


"Berdua nih. Kalau Abang mau nemenin," katanya sambil tertawa.


"Kok gue merinding ya dengernya, lo nggak suka sama cowok 'kan?"


"Sialan lo, Bang. Gue bahkan barusan putus sama cewek gue."


"Oh ya? Lo punya cewek?"


Aku menggeleng menjawab pertanyaan Arez. "Ribet," jawabku singkat sambil duduk di kursi di depan Arez. Mana mungkin kukatakan aku tak mau pacaran jika hanya akan menyakiti orang yang aku sayang di masa depan, hanya karena umurku yang tak panjang. "Trus lo sendiri kenapa putus?"


"Dia hamil."


"E buset, anak orang lo hamilin trus lo putusin?"


"Sial, gue nggak sebejat itu, Bang."


"Nah terus?"


"Hamil sama temen satu jurusan dia. Gue malah yang disuruh tanggung jawab. Enak aja lo nuduh gue hamilin anak orang."


"Ya kali aja 'kan. Trus gimana lo bisa tahu kalo dia hamil?"


"Dia sering minta gue beliin nanas muda. Nggak tahu deh buat apa. Tapi sebulan terakhir dia nggak ngeluh lagi PMS kalo gue ajakin keluar. Gue tanyalah barusan. Eh dianya ngaku. Trus minta gue tanggung jawab. Gue nggak ngerasa pernah nanam benih, nggak maulah gue suruh tanggung jawab. Ya udah, putus gitu aja."

__ADS_1


"Wah... wah... Gue salut anak muda. ABG kayak lo udah punya pengalaman pacaran dihamilin orang. Kok lo juga bisa tahu jadwal haidnya gitu?" kataku prihatin, tapi juga penasaran. Arez tertawa mendengar kalimat simpati dan pertanyaan konyol dariku.


"Ah, daripada udah Om-om tapi belum punya pengalaman pacaran," ejeknya sambil menjulurkan lidah. "Ya tahulah, dia pasti alesan PMS kalo lagi males gue ajakin jalan. Nah ini sebulan nggak ngeluh apa-apa dia, kecuali minta beliin nanas muda tiap hari."


"Wah, gue simpati sama lo ya, eh ini malah balas menghina. Trus nanas muda buat apa?"


"Hahaha... Sori Bang, gue cuma bilang soal fakta. Mana tahu, biar keguguran mungkin."


"Hidih, fakta sih fakta, tapi keliatan jelas kalo maksud lo itu menghina."


Tawa Arez masih berderai. Ia bahkan sampai memegangi perutnya yang mungkin terasa sakit karena menertawakanku. "Enak kali ya kalo gue punya kakak laki-laki kayak lo, Bang."


"Hemm?"


"Gue anak tunggal, nggak pernah ngerasain gimana punya saudara. Pas ketemu sama lo, trus kita bisa ngobrol gini, rasanya nyaman aja. Kayak lagi ngobrol sama Abang sendiri."


Perkataan Arez menampar sisi sensitifku. Aku mengingat Adhyaksa. Adik laki-lakiku seumur Arez yang baru saja kembali pada pangkuan bumi tiga bulan yang lalu. Akibat penyakit yang sama denganku.


Mungkin karena hal itulah, hubunganku dengan Arez semakin akrab. Aku seperti menemukan sosok Adhyaksa yang selama ini tak begitu akrab denganku karena keegoisanku sebagai kakak. Aku lebih memilih tinggal jauh dari orang tua dan belajar mandiri meski dengan kondisi yang susah akibat kesehatanku. Padahal ia begitu ingin berbagi kisah dan keluh denganku, tentang apa pun itu.


Namun aku selalu mendorongnya menghindar. Menjauh, agar ia tak bergantung denganku. Tanpa pernah tahu, jika penyakit di balik tulang rusuknya itu, lebih cepat menggerogotinya daripada sang waktu.


Tanpa sadar aku menangis. Arez yang duduk di depanku terlihat kebingungan. Apalagi melihatku sampai terisak akibat menahan sesak yang tiba-tiba menghimpit. Namun selanjutnya, ucapan Arez membuatku tersenyum meski tak menghilangkan nyeri dalam dada.


"Bang lo segitu kepinginnya ya punya adek kayak gue?"


"Gue emang punya adek, tapi dia udah diminta sama Tuhan," ucapku datar.


"Sori, gue nggak tahu, Bang."


Kami sama-sama diam sambil menatap keluar jendela yang sudah mulai gelap. Entah sejak kapan. Sibuk dengan pikiran masing-masing yang riuh seperti suasana Kota Jakarta menjelang petang. Hingga akhirnya kalimat Arez membuat pertahananku runtuh.


"Bang, jadi Abang gue ya. Biar gue punya tempat berbagi kalo kesepian."

__ADS_1


__ADS_2