
Semua masih tertuju pada Kanya dan Putra setelah kepergian perempuan yang baru saja mempermalukan dirinya sendiri itu. Namun, tatapan mereka kini tak lagi sinis seperti sebelumnya.
Bahkan, beberapa di antara dengan sengaja tersenyum manis dan tampak bersahabat begitu tahu jika Kanya merupakan adik sang vokalis Nada Sumbang.
"Eh, tapi bukannya Putra anak tunggal ya?" celetukan seseorang di antara para fans, tiba-tiba membuat geger gerombolan yang baru saja mereda.
"Dih, gimana sih?" celetukan yang lain mulai menular.
"Aku cuma baca hasil wawancara Putra di sebuah media. Dia bilang kalau anak tunggal dan nggak punya sodara."
"Jadi dia bohong kalau adiknya Putra? Itu cuma akal-akalan dia doang?"
"Nggak tahu diri banget sih tuh cewek."
"Apa coba maksudnya dengan ngaku-ngaku sebagai adik, Putra."
"Dasar cewek freak!"
Tak bisa dimungkiri, Kanya seketika tersulut amarah begitu mendengar cewek-cewek yang sedang membicarakannya. Namun, dia harus menahan diri. Jika tidak, hal itu bisa merusak citra sang kakak sambung.
Bagaimanapun, belum ada skandal yang melibatkan Putra ataupun personel Nada Sumbang yang lain. Dan, Kanya benar-benar tidak berharap hal itu terjadi pada mereka.
Maka, sebisa mungkin Kanya menahan diri agar tidak membuat ulah. Kecuali jika Putra sendiri yang melakukan pembelaan. Kanya tidak bisa mencegah hal itu.
Meski begitu, tetap saja dia juga tidak mau apabila citra dirinya semakin buruk.
Setelah label pelakor yang menempel pada perempuan itu - akibat ulah mulut orang tidak bermoral, tentu saja Kanya tidak mau mendapatkan label baru. Seperti dianggap sebagai cewek halu misalnya?
Lagipula, kenapa harus halu mengharapkan Putra, kalau laki-laki itu merupakan bagian dari masa lalunya? Bahkan dirinya selalu menjadi muse di setiap lagu yang diciptakan oleh Putra.
Bukannya merasa bangga, tapi memang itulah yang sebenarnya terjadi. Dan, tidak mungkin juga Kanya mengungkapkan hal itu begitu saja.
Bisa jadi, skandal yang tersebar tentang Putra dan dirinya akan semakin parah ketimbang digosipkan sebagai fans yang halu dengan mengaku sebagai adik. Sepertinya, opsi itu masih lebih baik, ketimbang membuat karier ataupun masa depan mereka sama-sama bakal hancur.
Terlebih bagi Putra yang baru saja mengawali kariernya. Tentu saja Kanya tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi. Bagaimanapun dia juga masih tetap ingin melindungi masa depan Putra. Masa depan mereka.
__ADS_1
Namun, sesuai dugaan Kanya, kakak sambungnya itu memilih maju ke depan demi melindungi si perempuan. Lagipula, Putra juga sudah membuat pengumuman bahwa Kanya merupakan adik perempuannya saat konser perdana Nada Sumbang di kota kelahiran mereka.
"Oh, kamu baca hasil wawancaraku juga ya? Bagus deh kalau gitu. Harusnya kamu juga baca bagian selanjutnya dong. Masa sih, kasih informasi setengah-setengah gitu? Bukannya kalian juga kerja di bidang media ya? Masa kayak gitu kasih info ke khalayak," ucap Putra membuat si pemberi informasi mendadak bungkam seketika.
Kanya baru menyadari jika perempuan yang membuat ulah tersebut adalah Carol.
Dia hanya menghela napas panjang. Ternyata musuhnya di MediaPena sejak awal sudah sangat jelas. Yaitu Carol.
"Eh, ada lanjutannya?" celetuk seorang perempuan berambut sebahu dari gerombolan tersebut.
Lagi-lagi, Kanya tidak mengenal siapa dan dari divisi apa perempuan tersebut. Namun, dia bersyukur karena perempuan itu menanggapi pernyataan Putra. Meskipun Kanya sendiri tidak tahu pasti apa yang tertulis dalam hasil liputan wawancara tersebut.
"Iya, ada lanjutannya tuh. Coba dong bacakan. Lo kan yang udah kasih informasi ke kita semua," kata Putra yang semula terdengar sopan, tak lagi menjaga sikap begitu berbicara dengan Carol.
Melihat wajah Carol yang mendadak berubah pucat, membuat Kanya diam-diam menahan tawa.
"Mampus lo," gumam Kanya pelan.
Meski begitu, Kanya sengaja agar perbuatannya dilihat oleh sang musuh.
"Bodoh, harusnya lo bisa dengan cepat membaca keadaan," imbuhnya sambil menahan senyum penuh kemenangan.
"Kenapa diam? Lanjutin dong bacanya? Kita semua kan pengen tahu, apa yang ditulis sama media yang udah unggah hasil wawancara eksklusif bareng Nada Sumbang," ujar Putra membuat Carol makin tak berkutik.
Sepertinya laki-laki itu pun tak lagi peduli jika setelah ini akan muncul anggapan bahwa dirinya tidak ramah terhadap fans. Jika memang muncul anggapan itu sekalipun, Putra bisa membangun citra dirinya yang sangat berlawanan dengan apa yang sedang digosipkan.
Selama itu berkaitan dengan dirinya sendiri, Putra bisa menghadapinya tanpa ada masalah.
Toh, dia bukanlah artis kemarin sore yang tidak bisa bersikap di hadapan para fans. Sekalipun kesempatannya bergabung di label besar baru tercapai dalam dua tahun terakhir.
"Iya nih, berani kasih informasi harusnya berani klarifikasi juga dong. Bukannya kamu reporter MediaPena? Masa malah nyebarin hoax sih?" Si perempuan berambut pendek yang sebelumnya menanggapi pernyataan Putra, menambahkan dengan cukup tajam.
Wajah Carol semakin terlihat pucat dan tak bisa dia lakukan, selain membaca hasil wawancara eksklusif bersama Nada Sumbang yang sebelumnya dibicarakan.
"Saya...lahir sebagai anak tunggal." Carol mulai membaca dengan suara gemetar.
__ADS_1
"Dia pasti menahan malu," batin Kanya dalam hati. Namun, dia tidak berusaha menghentikan ulah Putra yang justru menguntungkan dirinya.
Carol memang harus diberikan pelajaran agar perempuan itu tahu apa yang namanya jera. Jika perempuan itu memiliki nurani untuk merasakan penyesalan.
Mengingat sifat Carol, mustahil jika perempuan itu bakal menyesal seperti yang diharapkan oleh Kanya.
"Ya, itu bagian yang udah lo sampaikan pada kami. Maksud gue, bagian wawancara setelah pernyataan itu. Coba dibaca dong. Ada di hasil wawancara yang kamu temukan itu kan?"
Perempuan itu menelan saliva sebelum melanjutkan bacaannya.
"Sa...saya...punya saudara sambung...yang sudah menemani karier saya, sejak belum dikenal banyak orang...sam...sampai sekarang menjadi kebanggaan kalian."
"Nah kan. Kenapa fakta itu nggak lo ungkapkan juga? Kan jadinya yang nggak tahu bisa salah paham dong," ucapan Putra benar-benar membuat Carol malu kali ini.
Dia bahkan tak sanggup mengangkat wajah.
Sementara Kanya terlihat sangat puas begitu melihat ekspresi wajah sang musuh.
"Katanya lo reporter di sini ya?" tanya Putra begitu Carol selesai membacakan potongan berita sesuai keinginan laki-laki itu.
"Iya." Bahkan untuk jawaban sesingkat itu pun, suara Carol tak lagi terdengar lantang seperti sebelumnya.
"Gue nggak tahu apa masalah lo sama Kanya, tapi kalau elo menjatuhkan dia dengan cara yang nggak elegan kayak gini, itu cuma bikin elo kelihatan menyedihkan," tegas Putra sepelan mungkin agar tidak didengar oleh orang lain.
Meski begitu, tetap saja ucapannya tak luput dari para fans yang memiliki pendengaran tajam.
"Sadis. Sumpah, kalau kayak gini, mending gue temenan sama lo aja deh, Nya. Gue nggak bakal cari masalah lo. Sumpah! Kakak lo serem," celetuk si rambut pendek disambut anggukan setuju oleh yang lain.
Tapi, Putra justru tertawa mendengar celetukan itu.
"Haha...aku nggak kayak gini ke semua orang kok, Gais. Cuma kalau terjadi ketidakadilan di depanku, ya aku nggak bisa diam aja. Apalagi kalau itu berkaitan sama Kanya.
So, jangan beranggapan kalau ini berlaku sama semua orang ya."
"Haha...iya, kami tahu kali, Put. Kami juga bisa lihat dan bedain, mana yang perlu dibela dan mana yang nggak. Sori ya Nya, udah salah paham sama lo," ucap si perempuan berambut pendek.
__ADS_1
Kanya terkesima. Hebat sekali laki-laki itu. Dengan satu kalimat mujarab bisa membuat pandangan orang jadi berbeda kepada Kanya.