
Pagi ini diawali dengan sikap Bintang yang berubah 180 derajat. Dia sering menggodaku dan terkadang memanggilku ‘future wifie’. Aku yang tidak suka dengan kata-kata cheesey seperti itu. Aku mual mendengarnya. Aku sudah bilang beberapa kali kalau aku merasa geli mendengarnya. Dia akan berhenti, tetapi 10 menit kemudian dia akan mulai menggodaku lagi. Kemana wajah dingin itu?
Kami sarapan bersama. Seperti biasa, dia membeli sarapannya di kantin dan memakannya di sini. Kami mengobrol-ngobrol sebentar. Pukul 8, dia sudah pergi ke ruangannya karena dia harus melakukan operasi lagi hari ini. Katanya, dia juga akan sibuk sekali hari ini. Sebelum meninggalkan ruanganku, dia mengelus kepalaku dan mendoakan supaya aku memiliki hari yang indah hari ini. Pokoknya, dia selalu tersenyum. Rasanya senang melihat jika ada orang merasa bahagia karenamu.
Aku melakukan terapi terakhirku hari ini. Besok aku sudah bisa pulang. Yeayy. Aku senang sekali karena akhirnya aku bisa keluar dan tidak berada di ruangan putih ini terus. Aku juga tidak disuntik lagi. Aku menyuruh orangtuaku untuk jalan-jalan di Depok saja siang ini karena mereka berniat menginap di sini malam ini sambil membereskan barang-barangku.
Saat ini aku berada di dekat jendela dan memandang langit. Hari ini cerah sekali. Langitnya biru. Ada awan-awan kecil juga di sana. Ntah aku tersihir dengan keindahannya atau aku hanya ingin menceritakan apa yang aku rasakan padanya. Apa yang membuatku ragu menceritakannya? Dia juga menginginkan aku menjalani hidup ini sebagaimana adanya dengan bahagia. Mencintai dan dicintai.
*Pagi ini diawali dengan sikap Bintang yang berubah 180 derajat. Dia sering menggodaku dan terkadang memanggilku ‘future wifie’. Aku yang tidak suka dengan kata-kata cheesey seperti itu. Aku mual mendengarnya. Aku sudah bilang beberapa kali kalau aku merasa geli mendengarnya. Dia akan berhenti, tetapi 10 menit kemudian dia akan mulai menggodaku lagi. Kemana wajah dingin itu?
Kami sarapan bersama. Seperti biasa, dia membeli sarapannya di kantin dan memakannya di sini. Kami mengobrol-ngobrol sebentar. Pukul 8, dia sudah pergi ke ruangannya karena dia harus melakukan operasi lagi hari ini. Katanya, dia juga akan sibuk sekali hari ini. Sebelum meninggalkan ruanganku, dia mengelus kepalaku dan mendoakan supaya aku memiliki hari yang indah hari ini. Pokoknya, dia selalu tersenyum. Rasanya senang melihat jika ada orang merasa bahagia karenamu.
Aku melakukan terapi terakhirku hari ini. Besok aku sudah bisa pulang. Yeayy. Aku senang sekali karena akhirnya aku bisa keluar dan tidak berada di ruangan putih ini terus. Aku juga tidak disuntik lagi. Aku menyuruh orangtuaku untuk jalan-jalan di Depok saja siang ini karena mereka berniat menginap di sini malam ini sambil membereskan barang-barangku.
Saat ini aku berada di dekat jendela dan memandang langit. Hari ini cerah sekali. Langitnya biru. Ada awan-awan kecil juga di sana. Ntah aku tersihir dengan keindahannya atau aku hanya ingin menceritakan apa yang aku rasakan padanya. Apa yang membuatku ragu menceritakannya? Dia juga menginginkan aku menjalani hidup ini sebagaimana adanya dengan bahagia. Mencintai dan dicintai.
Apa keputusanku sudah benar, Putra? Ada laki-laki yang menawarkan cintanya padaku meskipun ia belum yakin. Katanya, dia akan berusaha dan aku juga. Yang membuatku berani mencoba hubungan ini karena dia selalu melibatkan Tuhan jika berhubungan denganku. Apakah ini memang rencana Tuhan? Yakinkan aku kalau aku patut untuk mencoba ini.
Setelah mengatakan isi hatiku, aku berjalan ke sofa. Aku mengambil buku diariku dan hendak menuliskan beberapa puisi di sana. Aku memang suka menulis puisi. Suara pintu menghentikan acara menulisku. Aku berjalan ke pintu melihat siapa yang datang. Dia masuk dengan ragu-ragu ke ruanganku.
Dia tersenyum kikuk melihatku. “Oh hai, Ra. Gimana kabarmu? Kau masih kenal aku nggak?” Dia antara ingin menyapa, menanyakan kabar, dan mengonfirmasi.
Aku melihatnya dengan hati-hati. Mukanya memang tidak asing. Aku menepuk dahiku. “Heri?”tanyaku.
“Bingo,”jawabnya.
“Oh my God! Gimana kabarmu? Astaga. Kenapa kau jadi berubah?”tanyaku antusias.
Aku tidak menyangka Heri ada di sini. Aku tidak pernah berbicara dengannya di sekolah. Sama sekali. Dia adalah orang yang paling aku hindari di sekolah. Dia menjadi lebih berisi dan tegap. Kulitnya masih kecoklatan, tetapi cocok dengannya. Wajahnya lebih berisi. Rambutnya disisir ke samping. Dia menjadi lebih keren sekarang. Namun, aku tidak yakin dengan kelakuannya.
“Aku boleh duduk dulu nggak nih?”tanyanya.
“Boleh boleh. Duduk di sini aja.”Aku mengajaknya untuk duduk di sofa. Lalu, aku duduk di ujung sofa.
“Kau tau dari mana aku di rumah sakit?”tanyaku lagi. Aku tidak berhenti ingin mengajukan pertanyaan padanya.
“Mau jawab yang mana dulu ini? Kabarku atau kabar aku tau dari mana kau di sini?”tanyanya.
Astaga. Anak ini masih belum berubah kelakuannya.
“Dua-duanya,”jawabku.
“Kabarku baik. Aku tahu dari May kau di rumah sakit.”
“Kok, kau bisa ada di Depok? Liburan?”tanyaku lagi.
“Aku dipindah tugas ke Jakarta. Aku tanya siapa teman kita di Jakarta. Kata si May kau tinggal di Depok. Terus, si May ngasih tahu kalau lagi di rumah sakit, makanya kujenguk,”jelasnya.
“Ohh gitu? Eh, kau tentara atau polisi sih? Lupa aku,”tanyaku lagi.
“Tentara, Rara. Ah nggak asyik kali kau. Kau aja dari tadi yang nanya. Kau warga sipil gimana kabarnya?”
Kurang ajar si Heri. Mentang-mentang dia tentara. Tetapi, aku tahu dia hanya bergurau. Dia kan memang seperti itu dari dulu.
“Alhamdulillah baik. Besok aku udah bisa pulang,”jawabku.
“Katanya si May kau kecelakaan sampe koma. Kok bisa?”tanya Heri. Dia berdiri lalu melihat-lihat apa yang ada di meja. “Eh, aku minta wafernya boleh nggak?”tanyanya.
Astaga. Kelakuan anak ini memang sangat menghibur. Aku tertawa, lalu mengiyakan pertanyaannya.
“Oleh-oleh sendiri nggak mau dimakan juga?”tanyaku.
“Boleh emang? Kalau boleh sih nggak apa-apa,”jawabnya.
Aku memasang wajah terkejut, padahal aku sudah tahu dia akan menjawab seperti itu.
“Becanda, Ra. Serius kali kau.”
“Serius juga nggak apa-apa. Lagian mana habis aku buah yang kau bawa,”balasku. “Kalau mau minum ambil sendiri ya di dispenser,”lanjutku.
“Oke,”balasnya.
“Eh, kau belum jawab pertanyaanku loh,”lanjutnya. Dia sudah mengupas jeruk yang dibawanya.
“Aku lagi nunggu ojol di pinggir jalan gang rumah kontrakanku, mau berangkat kerja. Tiba-tiba ada mobil yang ngebut. Jadilah aku tertabrak. Ternyata supirnya itu mabuk dan udah meninggal,”ceritaku.
“Gara-gara kecelakaan itu?”
“Bukan. Karena overdosis alkohol.”
“Innalillah. Tapi syukurlah kau udah makin sehat ya.”
“Eh kau udah berapa lama di sini?”tanyaku.
“Seminggu dan nggak tau sampai kapan di sini.”
“Gimana? Seru tinggal di sini?”
“Nggak. Panas kali. Nggak ada yang ramah kuliat muka orang di sini. Berkerut semua dahinya,”jawabnya.
“Kurang ajar kau. Di Medan juga panas kok,”balasku.
“Aku mungkin yang kebanyakan dosa makanya panas aja kurasa,”balasnya.
“Ada-ada aja kau.”
Dia mengambil ponsel dari sakunya. Dia berkutad dengan ponselnya sebentar.
“Yuk, selfie dulu,”ajaknya.
Astaga. Untuk keberapakalinya aku mengatakan astaga. Kelakuannya selalu membuatku ingin mengucap, tetapi, aku juga terhibur. Apa pernah dia merasa sedih? Dia mungkin tidak pernah merasa sakit hati.
“Astaga, Her. Mukaku pucat gini loh. Nggak mau ah,”tolakku.
“Makanya aku pake B612 biar kelihatan fresh mukamu.”
Aku tidak bisa menahan ketawaku lagi. Aku tertawa terbahak-bahak sampai perutku sakit. Aku juga mengeluarkan air mata. Bayangkan saja dia memiliki aplikasi B612. Buat apa? Aku saja tidak punya.
“Apanya yang lucu? Nggak boleh rupanya cowok punya aplikasi ini? diskriminasi gender kau,”balasnya. Wajahnya dibuat seserius mungkin, tetapi tidak berfungsi untukku. Tetap saja aku melihatnya kocak.
“Sorry, sorry. Jadi nggak fotonya?”tanyaku.
“Jadilah.” Dia mengarahkan ponselnya ke depan. Kami pun selfie. Tidak cukup sekali, Heri mengambil banyak foto, sekitar lima foto.
“Udah ah. Banyak kali ngambilnya,”protesku.
“Ah nggak seru kau,”balasnya.
Aku memasang raut wajah tidak peduli. “Biarin.”
Dia menyimpan ponselnya kembali ke tasnya. Lalu, ia berdiri mengambil segelas air dari dispenser.
“Orangtuamu mana, Ra?”tanyanya.
Aku mengambil biskuit yang berada di atas meja. Aku tiba-tiba merasa lapar.
“Aku suruh jalan-jalan. Nanti sore ke sini,”jawabku. Aku kembali duduk di sofa.
“Kau sendiri dong di sini? Ya udah kutemenin sampai orangtuamu datang,”balasnya. Dia sudah berada di sampingku sekarang. Di ujung sofa.
“Nggak usah. Bisa kok aku sendiri,”tolakku.
Dia menyipitkan matanya curiga. “Ada yang bakalan marah, ya?”tanyanya.
“Nggak ada. Sotoy kali kau,”jawabku.
“Ah nggak percaya aku,”balasnya.
“Ya udah,”balasku balik.
Kami asyik berbicara tentang masa-masa SMA dan tentang gosip-gosip teman-teman seangkatanku. Coba tebak. Dia tahu semuanya atau tidak? Dia tidak tahu banyak tentang teman-temanku setelah lulus SMA. Memang sih. Dia seperti menutup diri dan jarang ikut reuni angkatan. Dia juga jarang berkomunikasi dengan teman-teman sekelasnya. Sejauh yang kutahu. Dan aku tidak menanyakan alasanya. Aku takut dibilang terlalu ikut campur.
“Eh, kau dulu suka sama Ami, kan?”tanyaku.
“Iya. Dia sekarang lagi hamil, kan?”
“Iya. Bulan depan Insya Allah lahiran.”
“Nggak nyangka ya?”
“Apa?”tanyaku.
“Udah tua kita,”jawabnya.
Asem banget ini teman gue. Kami tidak akan pernah berbicara serius. Aku kira dia akan bercerita tentang perasaannya ke Ami. Memang susah sekali serius laki-laki ini. Aku lebih baik berbicara dengan Bintang daripada Heri meskipun Bintang juga menyebalkan terkadang. Setidaknya dia masih bisa serius.
“Aku nyebelin, ya?”tanyanya.
“Sangat,”jawabku dengan penuh penekanan.
Dia menyenderkan punggungnya ke badan sofa. Lalu, meletakkan kedua tangannya di belakang kepalanya.
“Aku heran kenapa kita bisa nyambung gini ngobrolnya padahal dulu kau susah kali diajak ngobrol,”ucapnya sambil memandang langit-langit ruangan ini.
Aku juga menyenderkan punggungku ke badan sofa dan memutar kepalaku menghadapnya. “Soalnya kau fuckboy dulu. Lagian, aku nggak banyak akrab sama laki-laki waktu sekolah,”jawabku.
Dia masih memusatkan pandangannya di sana. “Iya benar. Kau cuman berteman sama Putra dan Malik. Dan dua-duanya juga pergi ninggalin kau lebih dulu,”ucapnya.
Aku tidak membalasnya. Aku selalu begini jika membicarakan mereka berdua, khususnya Putra. Aku tidak tahu harus merespons seperti apa.
“Putra pergi pas SMA dan Malik pas kuliah. Kau nggak sedih?”tanyanya.
“Ya sedihlah. Ada-ada aja kau,”jawabku.
“Nggak ada yang kau suka salah satu dari mereka?”tanyanya lebih lanjut.
Aku terdiam sebentar. “Nggak ada,”jawabku. Aku memutuskan untuk berbohong. Aku tidak ingin membagi rahasiaku dengan orang-orang. Biar aku saja yang tahu. Dan mungkin Bintang.
“Kau gimana? Kau nggak punya pacar?”tanyaku. Aku ingin mengalihkan pembicaraan ini.
“Nggak punya. Ini lagi nyari jodoh, tetapi nggak tau nyarinya di mana. Kau tahu nggak?”tanyanya.
Aku meluruskan punggungku. “Kalau aku tahu, udah aku duluan yang nikah daripada si Ami,”jawabku.
“Nggak membantu sekali. Mengingatkan dengan masa lalu,”balasnya sewot.
“Baperan,”balasku dengan penuh penekanan.
Heri meluruskan punggungnya dan meregangkan ototnya. “Kau mau istirahat nggak? Istirahat aja. Nggak apa-apa,”suruhnya.
Tidak akan kubiarkan. Yang ada seseorang masuk dan menimbulkan salah paham. Tunggu. Kenapa aku jadi memikirkan Bintang? Aku yakin sekali dia akan cemburu. Padahal, belum tentu juga. Dia sendiri mengatakan dia masih berusaha mencintaiku, bukan sudah mencintaiku. Kamu kepedean sekali, Ra.
“Nggak usah,”tolakku. “Aku temani kau aja,”lanjutku.
“Eh, Ra. Kita ngomongnya pake bahasa Jakarta ya. Yang pake gue-elu itu loh,”ucapnya. Topiknya sudah berubah lagi. Dari tadi aku mengobrol dengan Heri, semua pembicaraan tidak pernah selesai. Topiknya selalu berubah dalam hitungan menit.
“Hah?” Aku memasang raut wajah heran dan mulutku terbuka sedikit.
“Nggak usah heran gitu lah. Biar kayak orang Jakarta gitu aku. Nggak boleh rupanya?”
Aku menormalkan raut wajahku kembali. “Boleh, boleh banget loh. Gue seneng banget ketemu teman SMA di sini. Lu gimana?”tanyaku. Aku memasang raut wajah anak-anak gaul begitu.
Heri antusias sekali ingin menjawabnya. “Gue juga. Lu makin glowing aja. Pake skincare apa?”
“Air Wudhu aja sih. Lu juga keliatan keren. Beda banget loh dengan SMA. Lu.. pake susuk ya?”tanyaku sambil menahan ketawaku.
“Kampret kau. Hasil perawatan ini tau kau ya,”jawabnya.
“Nah, katanya mau pake bahasa Jakarta. Gimana sih lu?”tanyaku. “Eh, btw skincare lu apaan?”tanyaku lebih lanjut.
“Tanah liat,”jawabnya dengan wajah datar.
Aku tertawa terbahak-bahak mendengar jawabannya. Ya benar juga. Mereka kan sering dibaluri tanah liat kalau sedang latihan. Jawabannya selalu bisa mengocok perutku.
“Puas lu ketawanya?”tanyanya.
“Banget,”jawabku masih dengan sisa-sisa ketawaku.
“Ya udah. Kau istirahat aja dulu. Aku pulang sekarang aja,”ucapnya.
“Loh, nggak pake bahasa Jakarta lagi?”tanyaku. Aku sedang mengejeknya.
“Nggak usah. Pake bahasa Medan ajalah,”balasnya.
Heri berdiri dan mengambil tasnya yang di atas meja. Dia merapikan kaosnya. Dia memakai pakaian santai hari ini. Kaos lengan panjang berwarna hitam dan celana jeans biru dongker.
“Eh, kau nggak kerja hari ini?”tanyaku. Aku baru ingat hari ini bukan weekend.
“Baru sekarang kau tanya. Udah mau pulang pun aku. Nggak. Aku permisi hari ini,”jawabnya.
Aku mengantar Heri sampai pintu kamarku. Tidak lupa dia mendoakan supaya aku lekas sembuh. Dia juga menitipkan salam untuk orangtuaku. Aku tidak menyangka akan bertemu Heri di sini. Aku senang sekali tentunya.
Hari ini aku juga banyak tertawa karena Heri. Dia masih tidak berubah. Dia masih lucu. Akan tetapi, dia sepertinya sudah berhenti sebagai fuckboy. Dia tidak membahas tentang wanita juga. Dia juga mungkin menjaga rahasianya. Sama sepertiku.
Aku sedang asyik menulis di buku tulis yang dibelikan ibuku dua hari yang lalu. Aku menulis di jendela sambil memandang matahari yang sinarnya memasuki ruangan ini. Rasanya, aku sudah lama tidak melihat matahari seperti ini. Bercahaya dan terlihat gagah. Memberikan kenyamanan dan menghangatkan. Sesekali aku menutupinya dengan tanganku jika sinarnya mengenai wajahku. Terkadang, aku bermain dengan sinar tersebut. Tanpa kusadari, aku melukiskan senyum di wajahku.
Aku mendengar pintu ruanganku dibuka. Aku tidak repot-repot untuk mengalihkan pandanganku karena aku sudah tahu siapa yang datang. Siapa lagi kalau bukan Bintang. Orangtuaku tidak jadi datang hari ini. Mereka datang besok pagi. Ibuku merasa lelah karena berjalanan di pasar seharian. Ibu dan ayah pergi ke tanah abang tadi.
“Good afternoon future wifie. Lagi apa?”tanyanya. Dia sudah berada di sampingku.
“Nulis,”jawabku. “Bisa nggak sih nggak usah panggil future wifie segala,”protesku.
Bintang melipat tangannya di dadanya. “Perkataan itu doa loh, Ai,”balasnya.
Aku menatap wajahnya dan menghentikan kegiatan menulisku. “Iya, saya tahu. Tapi geli.” Aku bersikeras untuk menghentikannya.
“Terus mau dipanggil apa?”tanyanya. Wajahnya terlihat kesal karena aku masih ngotot ingin mengubahnya.
“Ya, Ai saja. Nggak ada loh yang manggil aku Ai. Baru kamu,”jawabku. Aku sedang menyogoknya. Kenyatannya, memang tidak ada yang memanggilku Ai. Aku selalu dipanggil Rara atau Aira dari dulu.
Aku melihat wajahnya merekah dan senyumnya terlihat jelas di sana. “Oke,”balasnya.
Gampang sekali menyogoknya. Dia seperti anak kecil yang sedang meminta perhatianku. Baru digituin aja udah senang banget. Dasar! Ucapku dalam hati. Tanpa kusadari, aku juga tersenyum melihatnya tersenyum.
“Terus kamu manggil saya apa? Bintang?”tanyanya.
Duh. Kenapa masalah nama panggilan menjadi perbincangan seperti ini? Dia seperti remaja yang baru puber.
“Ya Bintang. Namamu kan Bintang,”jawabku.
“Nggak mau ah.”
“Terus maunya dipanggil apa? Mas? Abang? Kakak? Akang?”tanyaku kesal.
“Kakak. Saya kan lebih tua dari kamu,”jawabnya.
“Oke,”balasku cepat sebelum dia berubah pikiran lagi.
“Oh iya. Mulai sekarang jangan panggil saya lagi, tetapi aku. Aku ngerasa kayak ngobrol sama orang lain,”pintanya lagi.
“Oke. Ada lagi?”tanyaku. Aku sebenarnya ingin tertawa melihat sikapnya yang seperti remaja baru pertama kali mempunyai sebuah hubungan.
“Nggak. Tapi kok kamu langsung oke aja? Biasanya kamu nolak atau debat panjang dulu,”balasnya.
Lihat? Dia juga cerewet hampir sama dengan Dokter Fani. Tidak salah memang Dokter Fani mengatakan kalau dia adalah anak yang paling cerewet di antara saudara-saudaranya yang lain.
“Karena memang masuk akal saran-saran kakak,”balasku. Dia tersenyum lebar di saat aku memanggilnya kakak. Di mana wajahnya yang dingin itu?
“Oke deh. Kita pindah ke sofa aja yuk. Silau,”ajak Bintang.
Sinar mataharinya memang semakin banyak dan silau. Aku berjalan ke sofa, sedangkan Bintang berjalan ke arah dispenser dan mengambil 2 gelas air putih. Dia juga tidak lupa membawa beberapa makanan yang berada di atas meja. Lalu, dia meletakkannya di atas meja yang berada di depan sofa. Dia mengambil sepotong biskuit dan memasukkannya ke mulutnya.
“Kamu ada tamu ya tadi?”tanyanya di sisa-sisa kunyahannya.
“Iya, teman SMA,”jawabku. Aku juga mengambil sepotong biskuit.
“Oh ya? Laki-laki?”tanyanya lebih lanjut. Sekarang, dia sedang mengupas jeruk yang dibawa Heri.
Aku mengambil sepotong biskuit lagi. “Iya. Namanya Heri. Kakak tau dari mana?,”tanyaku.
“Dari perawat.”
Astaga. Perawat-perawat di sini pasti semakin curiga dengan kami.“Nanya ke perawat?”
“Iya.”
Fix. Perawat-perawat di sini pasti curiga. Sebenarnya sudah beredar gosip kalau aku adalah pacarnya Bintang. Setiap hari, perawat yang datang ke ruanganku selalu berbeda. Mereka pasti ingin tahu seperti apa wajah pacarnya Bintang, dokter idaman di rumah sakit ini. Bahkan beredar kabar kami sudah bertunangan. Dan Bintang tidak membantahnya sama sekali. Setiap ditanya, dia akan menjawabnya dengan senyuman. Aku harus memakai kacamata hitam besok keluar dari rumah sakit ini. Sudah banyak orang yang mengenaliku gara-gara Bintang.
“Ganteng nggak si Heri?”tanyanya lebih lanjut. Nada suaranya berubah menjadi lebih tinggi. Kok aku merasa dia sedikit cemburu?
“Lumayan. Bisa dibawa ke kondanganlah,”jawabku.
“Lebih ganteng siapa?”tanyanya. Nada suaranya masih sama dengan yang tadi.
Goda tidak. Goda tidak. Goda ajalah. “Kakak lah,”jawabku.
Dia menatapku sebentar, lalu tersenyum. Telinganya memerah mendengar jawabanku. Dih, dia malu.
“Tapi lebih seru dia daripada kakak,”lanjutku. Aku tidak serius. Aku hanya berniat menggodanya. Aku sedang membuat raut wajahku lebih serius.
Dia kesal mendengar jawabanku. Dia mengembungkan pipi kanannya dengan lidahnya dan menggelengkan kepalanya ke kiri sedikit.
“Aku bercanda. Masih lebih seru kakak kok,”ucapku.
“Tapi kayak nggak lagi bercanda,”balasnya.
“Serius bercanda. Kakak jauh lebih seru.”
Aku tidak berbohong. Meskipun Heri sering membuatku tertawa, aku lebih suka mengobrol dengan Kak Bintang. Oke. Aku sudah memanggilnya kakak sekarang. Aku memang receh sekali orangnya. Aku bisa tertawa ke hal-hal yang menurut orang-orang tidak lucu. Untuk saat ini, Bintang masih lebih seru dari Heri. Aku tidak tahu nanti.
Bintang mengulurkan buah jeruk yang ditangannya ke mulutku. “Jangan berubah pikiran yaaa,”ucapnya. Aku membuka mulutku dan menerima jeruk yang dikasih Kak Bintang.
“Nggak tahu. Liat nanti,”balasku.
“Ishh,”balas Kak Bintang.
Aku tertawa melihat wajahnya yang kesal.
“Gini dong ketawa. Cantiknya nambah,”ucap Kak Bintang. Dia memberikan jeruk yang ditangannya kepadaku lagi.
Aku tidak membalasnya, tetapi aku merasa pipiku memerah. Baru dibilang cantik saja sudah membuatku malu. Lemah sekali aku.
“Nanti malam masih ada operasi, Kak?”tanyaku.
“Nggak ada. Aku nginap di sini,”jawabnya.
Aku menyandarkan punggungku ke badan sofa. “Kakak belum pernah pulang ke rumah ya? Di rumah sakit terus dari kemaren-kemaren,”tanyaku. Aku benar-benar penasaran.
Dia juga menyandarkan punggungnya ke badan sofa. “Pulang kok. Buat ganti baju dan bawa baju ganti lagi,”jawabnya.
Aku merasa hatiku sedikit tersayat. Aku menjadi takut akan menyakiti hatinya. Bagaimana jika aku akan memberikan kesedihan padanya nanti?
Bintang menatapku, lalu merapaikan rambutku yang sedikit menutupi wajahku.
“Setiap aku merasa lelah, aku akan ke sini. Aku menjadi berenergi lagi. Rasa lelahku masih ada, tetapi aku menjadi bisa menahannya hingga rasanya aku tidak merasa lelah.”
Aku membalasnya dengan senyuman sambil menatap matanya. Menjadi kekuatan bagi orang lain, itu yang aku inginkan. Aku selalu mengatakan aku ingin menikah dengan orang yang membuatku kuat dan aku juga ingin membuatnya menjadi kuat. Orang seperti itu sudah ada di depan mataku. Apakah aku akan menyia-nyiakannya?
“Coba ceritakan tentang si Heri,”pinta Kak Bintang.
Aku menegakkan punggungku dan mengangkat kakiku ke atas sofa. Aku sedang posisi bersila saat ini.
“Heri itu narsis. Tingkat kenarsisannya di atas rata-rata. Dia selalu beranggapan cewek yang mengajaknya mengobrol pasti menyukainya. Dia juga suka menggoda cewek-cewek, tetapi aku nggak pernah mengobrol dengannya waktu SMA.” Aku menceritakan tentang Heri padanya.
“Loh kenapa?”
“Ogah,”jawabku. “Males banget berurusan dengan orang seperti itu,”ucapku lebih lanjut,
“Tapi dia pernah ngajak kamu ngobrol?”tanyanya lagi.
“Nggak pernah juga,”jawabku.
“Terus?”
“Nah, si Heri suka sama temanku, Ami. Jadi, kami berteman 5 orang, Aku, May, Ami, Malik, dan Putra. Kami satu geng. Tapi, Ami nggak jadi milih si Heri. Wong dianya gitu, ya pasti ilfil,”lanjutku.
__ADS_1
“Terus teman-teman kamu di mana sekarang?”tanya Kak Bintang.
“May di Ambon. Dia mau nikah bulan depan. Ami tinggal di Medan. Dia mau punya anak bulan depan.”jawabku.
“Kamu doang yang jomblo, ya?”ejeknya.
Raut wajahku berubah menjadi kesal. Sebenarnya, orang-orang selalu mengatakan seperti itu setiap aku menceritakan tentang sahabat-sahabatku itu. Aira kenapa nggak punya pacar? Itu yang akan orang-orang katakan, termasuk teman-teman SMA seangkatanku. Dan aku tidak bisa tidak kesal mendengarnya.
“Terus, yang cowok-cowok kemana?”tanyanya.
“Putra udah meninggal. Kakak tau itu. Dan Malik juga udah meninggal.” Aku mengakhirinya. Aku sedang berusaha senormal mungkin menceritakannya ke Bintang.
Bintang menepuk keningku pelan. “Failed, Honey. Don’t pretend that you feel okay telling about them. Mudah banget kebaca wajah kamu.”
“Yaaah kirain berhasil nipu kamu,”balasku. Aku senang dia tidak memaksaku untuk baik-baik saja. Aku tersenyum padanya. Senyum tulus.
“Heri kok bisa tahu kamu di rumah sakit?”tanya Kak Bintang lagi. Pembicaraan tentang Heri belum selesai pemirsa. Dia harus tahu semuanya dulu baru dia akan berhenti. Aku yakin.
“Dari May. Dia baru pindah tugas ke Jakarta seminggu yang lalu. Karena ada waktu, makanya dia ngejenguk aku,”jawabku.
“Dia kerjanya apa?”tanyanya lagi. Apa aku bilang? Dia akan berhenti jika dia merasa sudah mengetahui semua informasi tentang Heri.
“Tentara. Dia aneh banget tau, Kak. Dulu dia ekskulnya UKS, tetapi malah jadi tentara. Tau gitu kan mending jadi pramuka aja,”jawabku. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku mengingat kembali kelakuannya.
“Loh, kenapa jadi tentara?”
“Aku juga nggak tau. Nggak nanya juga,”jawabku.
Bintang tiba-tiba tersenyum ke arahku, lalu memeluk tubuhku. Aku otomatis terkejut dengan perlakuannya ini. Setelah beberapa detik, dia melepaskan pelukannya. Pandangannya masih berada padaku.
“Apaan tadi peluk-peluk. Kesempatan dalam kesempitan kamu,”bentakku.
Bintang masih menatapku dengan senyuman di wajahnya. “Aku senang kamu nggak kepo sama Heri,”ucapnya.
Aku terheran-heran mendengarnya. Itu saja sudah membuatnya senang? Lucu sekali si Bintang ini. Dia benar-benar seperti anak kecil. Hal-hal kecil saja membuatnya bahagia. Apalagi hal yang besar? Apa dia jangan-jangan sudah bucin?
“Kakak kayak anak kecil tau. Hal kecil begitu saja buat kakak senang?”tanyaku penasaran.
“Iya. Semua yang berhubungan dengan kamu buat kakak senang,”jawabnya.
“Gombal aja terus,”balasku malas.
“Kakak serius loh, Ai.”
Aku mendekatkan posisiku padanya dan memiringkan tubuhku ke kiri untuk menatapnya. “Kakak belum pernah jatuh cinta ya?”tanyaku. “Iya, kan? Iya kan?”godaku sambil mengelus-elus dagunya. Lalu, aku memundurkan tubuhku dan kembali ke posisiku yang menyender di badan kursi.
“Sotoy. Ya pernah lah. Memangnya kamu aja yang bisa jatuh cinta,”jawabnya sewot.
“Masa sih? Kok kayak nggak pernah sih? Nggak percaya aku,”balasku. Aku melipat kedua tanganku di perutku.
“Kamu pengen aku cerita, kan?”tanyanya curiga. Dia juga sudah mengangkat kedua kakinya ke sofa.
“Iya.”
“Kalau begitu, peluk,”pintanya.
“Ogah. Nggak usah cerita juga nggak apa-apa,”balasku.
“Huu pelit.”
“Huu biarin.”
Bintang meletakkan kepalanya di bahu sofa. Dia duduk bersila di pinggir kanan sofa, sedangkan aku duduk di pinggir kiri sofa. Dia mengarahkan pandangannya kepadaku. Lalu, dia menekan-nekan kakiku yang berada di dekat kakinya. Aku memasang wajah tidak suka dan memperingatinya untuk tidak melakukannya lagi. Kapan Bintang mengindahkan perkataanku? Dia masih terus menekan-nekan kakiku. Dia terkadang tertawa ringan ketika aku membalasnya, tetapi dia bisa menghindarinya. Dia bayi ditubuh seorang dokter.
“Main game, yuk,”ajakku.
“Apa?”
“Tanya jawab gitu. Bergiliran yang bertanya,”jawabku.
“Oke. Kamu duluan.”
“Nama lengkap kakak apa?”tanyaku.
Bintang menganga mendengar pertanyaanku. “Kamu nggak tau nama lengkap aku, Ai?”tanyanya tidak percaya.
“Nggak, hehe. Sorry. Lagian aku bakalan tahu dari mana? Aku nggak mungkin nanya Dokter Fani, kan?” Aku membela diri.
“Ya pura-pura aja gitu nanya ke mama,”balasnya.
“Udaaah. Jawab aja,”pintaku.
“Bintang Adicandra,”jawabnya.
“Artinya?”
“Bintang yang indah. Sesuai kan dengan orangnya?”
Aku membuat wajah datar mendengar perkataannya itu. “Emang kakak tahu nama lengkapku?”
“Tau dong. Arya Putri,”jawabnya.
“Benar. Sekarang giliran kakak.”
“Makanan kesukaan kamu apa?”
“Nasi goreng,”jawabku. “Kakak apa?”tanyaku.
“Cumi goreng. Negara kesukaan?”
“Spanyol. Kakak?”
“Sama. Tos dong.”
Aku menerima tosannya. Ketika ingin melanjutkan permainan ini, ponselku berbunyi. Bintang berdiri dari sofa dan mengambil ponsel yang aku letakkan di atas meja dekat ranjangku.
“Siapa?”tanyaku.
“Heri,”jawabnya dingin. Dia memberikan ponsel itu kepadaku, tetapi dia terlihat kesal. Aku yakin dia tipe pencemburu.
Aku menerima ponsel tersebut dan menerima panggilan Heri.
Aku:
Hallo, Heri.
Heri:
Ra, besok kan kau keluar dari rumah sakitnya?
Aku:
Iya. Kenapa?
Heri:
Jam berapa?
Aku:
Jam 10 pagi.
Heri:
Aku ke sana ya besok. Aku ikut antar kau pulang.
Aku:
Eh, nggak usah Her. Kau nggak kerja emangnya?
Heri:
Nggak. Aku libur.
Aku:
Libur aja terus kau.
Heri:
Terserah aku lah. Gimana jadinya?
Aku melirik ke Bintang yang sedang mengupas buah apel. Dia pura-pura tidak peduli atau gimana?
Aku:
Jangan ke rumah sakit. Datang ke kontrakanku aja. Nanti ku kirim alamatnya.
Heri:
Kenapa? Ada yang jemput juga ya? Suit suit.
Heri sudah mulai heboh.
Aku:
Sotoy. Pokoknya ke sana aja datangnya.
Heri:
Oke. Oke. Sampe ketemu besok ya.
Aku:
Oke.
Aku pun mengakhiri panggilan Heri. Aku meletakkan ponselku di atas meja yang di depan sofa. Kemudian, aku melirik Bintang. Dia sedang memperhatikanku. Raut wajahnya terlihat tidak ramah dan juga penasaran.
“Heri mau datang besok ke kontrakan. Awalnya, mau kesini. Kan aku tahu Kak Bintang yang mau anterin ke kontrakan. Jadinya...” Aku tidak melanjutkan perkataanku.
Bintang tersenyum. “Iyaaa. Nggak usah nggak enak gitu raut wajahnya.”
Aku kira dia akan bertanya banyak hal. Aku membalas senyumnya.
“Lagipula aku penasaran gimana si Heri itu,”lanjutnya.
Setelah mengatakan isi hatiku, aku berjalan ke sofa. Aku mengambil buku diariku dan hendak menuliskan beberapa puisi di sana. Aku memang suka menulis puisi. Suara pintu menghentikan acara menulisku. Aku berjalan ke pintu melihat siapa yang datang. Dia masuk dengan ragu-ragu ke ruanganku.
Dia tersenyum kikuk melihatku. “Oh hai, Ra. Gimana kabarmu? Kau masih kenal aku nggak?” Dia antara ingin menyapa, menanyakan kabar, dan mengonfirmasi.
Aku melihatnya dengan hati-hati. Mukanya memang tidak asing. Aku menepuk dahiku.
“Heri?”tanyaku.
“Bingo,”jawabnya.
“Oh my God! Gimana kabarmu? Astaga. Kenapa kau jadi berubah?”tanyaku antusias.
Aku tidak menyangka Heri ada di sini. Aku tidak pernah berbicara dengannya di sekolah. Sama sekali. Dia adalah orang yang paling aku hindari di sekolah. Dia menjadi lebih berisi dan tegap. Kulitnya masih kecoklatan, tetapi cocok dengannya. Wajahnya lebih berisi. Rambutnya disisir ke samping. Dia menjadi lebih keren sekarang. Namun, aku tidak yakin dengan kelakuannya.
“Aku boleh duduk dulu nggak nih?”tanyanya.
“Boleh boleh. Duduk di sini aja.”Aku mengajaknya untuk duduk di sofa. Lalu, aku duduk di ujung sofa.
“Kau tau dari mana aku di rumah sakit?”tanyaku lagi. Aku tidak berhenti ingin mengajukan pertanyaan padanya.
“Mau jawab yang mana dulu ini? Kabarku atau kabar aku tau dari mana kau di sini?”tanyanya.
Astaga. Anak ini masih belum berubah kelakuannya.
“Dua-duanya,”jawabku.
“Kabarku baik. Aku tahu dari May kau di rumah sakit.”
“Kok, kau bisa ada di Depok? Liburan?”tanyaku lagi.
“Aku dipindah tugas ke Jakarta. Aku tanya siapa teman kita di Jakarta. Kata si May kau tinggal di Depok. Terus, si May ngasih tahu kalau lagi di rumah sakit, makanya kujenguk,”jelasnya.
“Ohh gitu? Eh, kau tentara atau polisi sih? Lupa aku,”tanyaku lagi.
“Tentara, Rara. Ah nggak asyik kali kau. Kau aja dari tadi yang nanya. Kau warga sipil gimana kabarnya?”
Kurang ajar si Heri. Mentang-mentang dia tentara. Tetapi, aku tahu dia hanya bergurau. Dia kan memang seperti itu dari dulu.
“Alhamdulillah baik. Besok aku udah bisa pulang,”jawabku.
“Katanya si May kau kecelakaan sampe koma. Kok bisa?”tanya Heri. Dia berdiri lalu melihat-lihat apa yang ada di meja. “Eh, aku minta wafernya boleh nggak?”tanyanya.
Astaga. Kelakuan anak ini memang sangat menghibur. Aku tertawa, lalu mengiyakan pertanyaannya.
“Oleh-oleh sendiri nggak mau dimakan juga?”tanyaku.
“Boleh emang? Kalau boleh sih nggak apa-apa,”jawabnya.
Aku memasang wajah terkejut, padahal aku sudah tahu dia akan menjawab seperti itu.
“Becanda, Ra. Serius kali kau.”
“Serius juga nggak apa-apa. Lagian mana habis aku buah yang kau bawa,”balasku.
“Kalau mau minum ambil sendiri ya di dispenser,”lanjutku.
“Oke,”balasnya.
“Eh, kau belum jawab pertanyaanku loh,”lanjutnya. Dia sudah mengupas jeruk yang dibawanya.
“Aku lagi nunggu ojol di pinggir jalan gang rumah kontrakanku, mau berangkat kerja. Tiba-tiba ada mobil yang ngebut. Jadilah aku tertabrak. Ternyata supirnya itu mabuk dan udah meninggal,”ceritaku.
“Gara-gara kecelakaan itu?”
“Bukan. Karena overdosis alkohol.”
“Innalillah. Tapi syukurlah kau udah makin sehat ya.”
“Eh kau udah berapa lama di sini?”tanyaku.
“Seminggu dan nggak tau sampai kapan di sini.”
“Gimana? Seru tinggal di sini?”
“Nggak. Panas kali. Nggak ada yang ramah kuliat muka orang di sini. Berkerut semua dahinya,”jawabnya.
“Kurang ajar kau. Di Medan juga panas kok,”balasku.
“Aku mungkin yang kebanyakan dosa makanya panas aja kurasa,”balasnya.
“Ada-ada aja kau.”
Dia mengambil ponsel dari sakunya. Dia berkutad dengan ponselnya sebentar.
“Yuk, selfie dulu,”ajaknya.
Astaga. Untuk keberapakalinya aku mengatakan astaga. Kelakuannya selalu membuatku ingin mengucap, tetapi, aku juga terhibur. Apa pernah dia merasa sedih? Dia mungkin tidak pernah merasa sakit hati.
"Astaga, Her. Mukaku pucat gini loh. Nggak mau ah,”tolakku.
“Makanya aku pake B612 biar kelihatan fresh mukamu.”
Aku tidak bisa menahan ketawaku lagi. Aku tertawa terbahak-bahak sampai perutku sakit. Aku juga mengeluarkan air mata. Bayangkan saja dia memiliki aplikasi B612. Buat apa? Aku saja tidak punya.
“Apanya yang lucu? Nggak boleh rupanya cowok punya aplikasi ini? diskriminasi gender kau,”balasnya. Wajahnya dibuat seserius mungkin, tetapi tidak berfungsi untukku. Tetap saja aku melihatnya kocak.
“Sorry, sorry. Jadi nggak fotonya?”tanyaku.
“Jadilah.” Dia mengarahkan ponselnya ke depan. Kami pun selfie. Tidak cukup sekali, Heri mengambil banyak foto, sekitar lima foto.
“Udah ah. Banyak kali ngambilnya,”protesku.
“Ah nggak seru kau,”balasnya.
Aku memasang raut wajah tidak peduli.
“Biarin.”
Dia menyimpan ponselnya kembali ke tasnya. Lalu, ia berdiri mengambil segelas air dari dispenser.
“Orangtuamu mana, Ra?”tanyanya.
Aku mengambil biskuit yang berada di atas meja. Aku tiba-tiba merasa lapar.
“Aku suruh jalan-jalan. Nanti sore ke sini,”jawabku. Aku kembali duduk di sofa.
“Kau sendiri dong di sini? Ya udah kutemenin sampai orangtuamu datang,”balasnya. Dia sudah berada di sampingku sekarang. Di ujung sofa.
“Nggak usah. Bisa kok aku sendiri,”tolakku.
Dia menyipitkan matanya curiga. “Ada yang bakalan marah, ya?”tanyanya.
“Nggak ada. Sotoy kali kau,”jawabku.
“Ah nggak percaya aku,”balasnya.
“Ya udah,”balasku balik.
Kami asyik berbicara tentang masa-masa SMA dan tentang gosip-gosip teman-teman seangkatanku. Coba tebak. Dia tahu semuanya atau tidak? Dia tidak tahu banyak tentang teman-temanku setelah lulus SMA. Memang sih. Dia seperti menutup diri dan jarang ikut reuni angkatan. Dia juga jarang berkomunikasi dengan teman-teman sekelasnya. Sejauh yang kutahu. Dan aku tidak menanyakan alasanya. Aku takut dibilang terlalu ikut campur.
“Eh, kau dulu suka sama Ami, kan?”tanyaku.
“Iya. Dia sekarang lagi hamil, kan?”
“Iya. Bulan depan Insya Allah lahiran.”
“Nggak nyangka ya?”
“Apa?”tanyaku.
“Udah tua kita,”jawabnya.
Asem banget ini teman gue. Kami tidak akan pernah berbicara serius. Aku kira dia akan bercerita tentang perasaannya ke Ami. Memang susah sekali serius laki-laki ini. Aku lebih baik berbicara dengan Bintang daripada Heri meskipun Bintang juga menyebalkan terkadang. Setidaknya dia masih bisa serius.
“Aku nyebelin, ya?”tanyanya.
“Sangat,”jawabku dengan penuh penekanan.
Dia menyenderkan punggungnya ke badan sofa. Lalu, meletakkan kedua tangannya di belakang kepalanya.
“Aku heran kenapa kita bisa nyambung gini ngobrolnya padahal dulu kau susah kali diajak ngobrol,”ucapnya sambil memandang langit-langit ruangan ini.
Aku juga menyenderkan punggungku ke badan sofa dan memutar kepalaku menghadapnya. “Soalnya kau fuckboy dulu. Lagian, aku nggak banyak akrab sama laki-laki waktu sekolah,”jawabku.
Dia masih memusatkan pandangannya di sana. “Iya benar. Kau cuman berteman sama Putra dan Malik. Dan dua-duanya juga pergi ninggalin kau lebih dulu,”ucapnya.
Aku tidak membalasnya. Aku selalu begini jika membicarakan mereka berdua, khususnya Putra. Aku tidak tahu harus merespons seperti apa.
“Putra pergi pas SMA dan Malik pas kuliah. Kau nggak sedih?”tanyanya.
“Ya sedihlah. Ada-ada aja kau,”jawabku.
“Nggak ada yang kau suka salah satu dari mereka?”tanyanya lebih lanjut.
Aku terdiam sebentar. “Nggak ada,”jawabku. Aku memutuskan untuk berbohong. Aku tidak ingin membagi rahasiaku dengan orang-orang. Biar aku saja yang tahu. Dan mungkin Bintang.
“Kau gimana? Kau nggak punya pacar?”tanyaku. Aku ingin mengalihkan pembicaraan ini.
“Nggak punya. Ini lagi nyari jodoh, tetapi nggak tau nyarinya di mana. Kau tahu nggak?”tanyanya.
Aku meluruskan punggungku. “Kalau aku tahu, udah aku duluan yang nikah daripada si Ami,”jawabku.
“Nggak membantu sekali. Mengingatkan dengan masa lalu,”balasnya sewot.
“Baperan,”balasku dengan penuh penekanan.
Heri meluruskan punggungnya dan meregangkan ototnya. “Kau mau istirahat nggak? Istirahat aja. Nggak apa-apa,”suruhnya.
Tidak akan kubiarkan. Yang ada seseorang masuk dan menimbulkan salah paham. Tunggu. Kenapa aku jadi memikirkan Bintang? Aku yakin sekali dia akan cemburu. Padahal, belum tentu juga. Dia sendiri mengatakan dia masih berusaha mencintaiku, bukan sudah mencintaiku. Kamu kepedean sekali, Ra.
__ADS_1
“Nggak usah,”tolakku. “Aku temani kau aja,”lanjutku.
“Eh, Ra. Kita ngomongnya pake bahasa Jakarta ya. Yang pake gue-elu itu loh,”ucapnya. Topiknya sudah berubah lagi. Dari tadi aku mengobrol dengan Heri, semua pembicaraan tidak pernah selesai. Topiknya selalu berubah dalam hitungan menit.
“Hah?” Aku memasang raut wajah heran dan mulutku terbuka sedikit.
“Nggak usah heran gitu lah. Biar kayak orang Jakarta gitu aku. Nggak boleh rupanya?”
Aku menormalkan raut wajahku kembali.
“Boleh, boleh banget loh. Gue seneng banget ketemu teman SMA di sini. Lu gimana?”tanyaku. Aku memasang raut wajah anak-anak gaul begitu.
Heri antusias sekali ingin menjawabnya. “Gue juga. Lu makin glowing aja. Pake skincare apa?”
“Air Wudhu aja sih. Lu juga keliatan keren. Beda banget loh dengan SMA. Lu.. pake susuk ya?”tanyaku sambil menahan ketawaku.
“Kampret kau. Hasil perawatan ini tau kau ya,”jawabnya.
“Nah, katanya mau pake bahasa Jakarta. Gimana sih lu?”tanyaku. “Eh, btw skincare lu apaan?”tanyaku lebih lanjut.
“Tanah liat,”jawabnya dengan wajah datar.
Aku tertawa terbahak-bahak mendengar jawabannya. Ya benar juga. Mereka kan sering dibaluri tanah liat kalau sedang latihan. Jawabannya selalu bisa mengocok perutku.
“Puas lu ketawanya?”tanyanya.
“Banget,”jawabku masih dengan sisa-sisa ketawaku.
“Ya udah. Kau istirahat aja dulu. Aku pulang sekarang aja,”ucapnya.
“Loh, nggak pake bahasa Jakarta lagi?”tanyaku. Aku sedang mengejeknya.
“Nggak usah. Pake bahasa Medan ajalah,”balasnya.
Heri berdiri dan mengambil tasnya yang di atas meja. Dia merapikan kaosnya. Dia memakai pakaian santai hari ini. Kaos lengan panjang berwarna hitam dan celana jeans biru dongker.
“Eh, kau nggak kerja hari ini?”tanyaku. Aku baru ingat hari ini bukan weekend.
“Baru sekarang kau tanya. Udah mau pulang pun aku. Nggak. Aku permisi hari ini,”jawabnya.
Aku mengantar Heri sampai pintu kamarku. Tidak lupa dia mendoakan supaya aku lekas sembuh. Dia juga menitipkan salam untuk orangtuaku. Aku tidak menyangka akan bertemu Heri di sini. Aku senang sekali tentunya.
Hari ini aku juga banyak tertawa karena Heri. Dia masih tidak berubah. Dia masih lucu. Akan tetapi, dia sepertinya sudah berhenti sebagai fuckboy. Dia tidak membahas tentang wanita juga. Dia juga mungkin menjaga rahasianya. Sama sepertiku.
*****
Aku sedang asyik menulis di buku tulis yang dibelikan ibuku dua hari yang lalu. Aku menulis di jendela sambil memandang matahari yang sinarnya memasuki ruangan ini. Rasanya, aku sudah lama tidak melihat matahari seperti ini. Bercahaya dan terlihat gagah. Memberikan kenyamanan dan menghangatkan. Sesekali aku menutupinya dengan tanganku jika sinarnya mengenai wajahku. Terkadang, aku bermain dengan sinar tersebut. Tanpa kusadari, aku melukiskan senyum di wajahku.
Aku mendengar pintu ruanganku dibuka. Aku tidak repot-repot untuk mengalihkan pandanganku karena aku sudah tahu siapa yang datang. Siapa lagi kalau bukan Bintang. Orangtuaku tidak jadi datang hari ini. Mereka datang besok pagi. Ibuku merasa lelah karena berjalanan di pasar seharian. Ibu dan ayah pergi ke tanah abang tadi.
“Good afternoon future wifie. Lagi apa?”tanyanya. Dia sudah berada di sampingku.
“Nulis,”jawabku. “Bisa nggak sih nggak usah panggil future wifie segala,”protesku.
Bintang melipat tangannya di dadanya. “Perkataan itu doa loh, Ai,”balasnya.
Aku menatap wajahnya dan menghentikan kegiatan menulisku. “Iya, saya tahu. Tapi geli.” Aku bersikeras untuk menghentikannya.
“Terus mau dipanggil apa?”tanyanya.
Wajahnya terlihat kesal karena aku masih ngotot ingin mengubahnya.
“Ya, Ai saja. Nggak ada loh yang manggil aku Ai. Baru kamu,”jawabku. Aku sedang menyogoknya. Kenyatannya, memang tidak ada yang memanggilku Ai. Aku selalu dipanggil Rara atau Aira dari dulu.
Aku melihat wajahnya merekah dan senyumnya terlihat jelas di sana. “Oke,”balasnya.
Gampang sekali menyogoknya. Dia seperti anak kecil yang sedang meminta perhatianku. Baru digituin aja udah senang banget. Dasar! Ucapku dalam hati. Tanpa kusadari, aku juga tersenyum melihatnya tersenyum.
“Terus kamu manggil saya apa? Bintang?”tanyanya.
Duh. Kenapa masalah nama panggilan menjadi perbincangan seperti ini? Dia seperti remaja yang baru puber.
“Ya Bintang. Namamu kan Bintang,”jawabku.
“Nggak mau ah.”
“Terus maunya dipanggil apa? Mas? Abang? Kakak? Akang?”tanyaku kesal.
“Kakak. Saya kan lebih tua dari kamu,”jawabnya.
“Oke,”balasku cepat sebelum dia berubah pikiran lagi.
“Oh iya. Mulai sekarang jangan panggil saya lagi, tetapi aku. Aku ngerasa kayak ngobrol sama orang lain,”pintanya lagi.
“Oke. Ada lagi?”tanyaku. Aku sebenarnya ingin tertawa melihat sikapnya yang seperti remaja baru pertama kali mempunyai sebuah hubungan.
“Nggak. Tapi kok kamu langsung oke aja? Biasanya kamu nolak atau debat panjang dulu,”balasnya.
Lihat? Dia juga cerewet hampir sama dengan Dokter Fani. Tidak salah memang Dokter Fani mengatakan kalau dia adalah anak yang paling cerewet di antara saudara-saudaranya yang lain.
“Karena memang masuk akal saran-saran kakak,”balasku. Dia tersenyum lebar di saat aku memanggilnya kakak. Di mana wajahnya yang dingin itu?
“Oke deh. Kita pindah ke sofa aja yuk. Silau,”ajak Bintang.
Sinar mataharinya memang semakin banyak dan silau. Aku berjalan ke sofa, sedangkan Bintang berjalan ke arah dispenser dan mengambil 2 gelas air putih. Dia juga tidak lupa membawa beberapa makanan yang berada di atas meja. Lalu, dia meletakkannya di atas meja yang berada di depan sofa. Dia mengambil sepotong biskuit dan memasukkannya ke mulutnya.
“Kamu ada tamu ya tadi?”tanyanya di sisa-sisa kunyahannya.
“Iya, teman SMA,”jawabku. Aku juga mengambil sepotong biskuit.
“Oh ya? Laki-laki?”tanyanya lebih lanjut. Sekarang, dia sedang mengupas jeruk yang dibawa Heri.
Aku mengambil sepotong biskuit lagi. “Iya. Namanya Heri. Kakak tau dari mana?,”tanyaku.
“Dari perawat.”
Astaga. Perawat-perawat di sini pasti semakin curiga dengan kami.“Nanya ke perawat?”
“Iya.”
Fix. Perawat-perawat di sini pasti curiga. Sebenarnya sudah beredar gosip kalau aku adalah pacarnya Bintang. Setiap hari, perawat yang datang ke ruanganku selalu berbeda. Mereka pasti ingin tahu seperti apa wajah pacarnya Bintang, dokter idaman di rumah sakit ini. Bahkan beredar kabar kami sudah bertunangan. Dan Bintang tidak membantahnya sama sekali. Setiap ditanya, dia akan menjawabnya dengan senyuman. Aku harus memakai kacamata hitam besok keluar dari rumah sakit ini. Sudah banyak orang yang mengenaliku gara-gara Bintang.
“Ganteng nggak si Heri?”tanyanya lebih lanjut. Nada suaranya berubah menjadi lebih tinggi. Kok aku merasa dia sedikit cemburu?
“Lumayan. Bisa dibawa ke kondanganlah,”jawabku.
“Lebih ganteng siapa?”tanyanya. Nada suaranya masih sama dengan yang tadi.
Goda tidak. Goda tidak. Goda ajalah. “Kakak lah,”jawabku.
Dia menatapku sebentar, lalu tersenyum. Telinganya memerah mendengar jawabanku. Dih, dia malu.
“Tapi lebih seru dia daripada kakak,”lanjutku. Aku tidak serius. Aku hanya berniat menggodanya. Aku sedang membuat raut wajahku lebih serius.
Dia kesal mendengar jawabanku. Dia mengembungkan pipi kanannya dengan lidahnya dan menggelengkan kepalanya ke kiri sedikit.
“Aku bercanda. Masih lebih seru kakak kok,”ucapku.
“Tapi kayak nggak lagi bercanda,”balasnya.
“Serius bercanda. Kakak jauh lebih seru.”
Aku tidak berbohong. Meskipun Heri sering membuatku tertawa, aku lebih suka mengobrol dengan Kak Bintang. Oke. Aku sudah memanggilnya kakak sekarang. Aku memang receh sekali orangnya. Aku bisa tertawa ke hal-hal yang menurut orang-orang tidak lucu. Untuk saat ini, Bintang masih lebih seru dari Heri. Aku tidak tahu nanti.
Bintang mengulurkan buah jeruk yang ditangannya ke mulutku. “Jangan berubah pikiran yaaa,”ucapnya. Aku membuka mulutku dan menerima jeruk yang dikasih Kak Bintang.
“Nggak tahu. Liat nanti,”balasku.
“Ishh,”balas Kak Bintang.
Aku tertawa melihat wajahnya yang kesal.
“Gini dong ketawa. Cantiknya nambah,”ucap Kak Bintang. Dia memberikan jeruk yang ditangannya kepadaku lagi.
Aku tidak membalasnya, tetapi aku merasa pipiku memerah. Baru dibilang cantik saja sudah membuatku malu. Lemah sekali aku.
“Nanti malam masih ada operasi, Kak?”tanyaku.
“Nggak ada. Aku nginap di sini,”jawabnya.
Aku menyandarkan punggungku ke badan sofa. “Kakak belum pernah pulang ke rumah ya? Di rumah sakit terus dari kemaren-kemaren,”tanyaku. Aku benar-benar penasaran.
Dia juga menyandarkan punggungnya ke badan sofa. “Pulang kok. Buat ganti baju dan bawa baju ganti lagi,”jawabnya.
Aku merasa hatiku sedikit tersayat. Aku menjadi takut akan menyakiti hatinya. Bagaimana jika aku akan memberikan kesedihan padanya nanti?
Bintang menatapku, lalu merapaikan rambutku yang sedikit menutupi wajahku.
“Setiap aku merasa lelah, aku akan ke sini. Aku menjadi berenergi lagi. Rasa lelahku masih ada, tetapi aku menjadi bisa menahannya hingga rasanya aku tidak merasa lelah.”
Aku membalasnya dengan senyuman sambil menatap matanya. Menjadi kekuatan bagi orang lain, itu yang aku inginkan. Aku selalu mengatakan aku ingin menikah dengan orang yang membuatku kuat dan aku juga ingin membuatnya menjadi kuat. Orang seperti itu sudah ada di depan mataku. Apakah aku akan menyia-nyiakannya?
“Coba ceritakan tentang si Heri,”pinta Kak Bintang.
Aku menegakkan punggungku dan mengangkat kakiku ke atas sofa. Aku sedang posisi bersila saat ini.
“Heri itu narsis. Tingkat kenarsisannya di atas rata-rata. Dia selalu beranggapan cewek yang mengajaknya mengobrol pasti menyukainya. Dia juga suka menggoda cewek-cewek, tetapi aku nggak pernah mengobrol dengannya waktu SMA.” Aku menceritakan tentang Heri padanya.
“Loh kenapa?”
“Ogah,”jawabku. “Males banget berurusan dengan orang seperti itu,”ucapku lebih lanjut,
“Tapi dia pernah ngajak kamu ngobrol?”tanyanya lagi.
“Nggak pernah juga,”jawabku.
“Terus?”
“Nah, si Heri suka sama temanku, Ami. Jadi, kami berteman 5 orang, Aku, May, Ami, Malik, dan Putra. Kami satu geng. Tapi, Ami nggak jadi milih si Heri. Wong dianya gitu, ya pasti ilfil,”lanjutku.
“Terus teman-teman kamu di mana sekarang?”tanya Kak Bintang.
“May di Ambon. Dia mau nikah bulan depan. Ami tinggal di Medan. Dia mau punya anak bulan depan.”jawabku.
“Kamu doang yang jomblo, ya?”ejeknya.
Raut wajahku berubah menjadi kesal. Sebenarnya, orang-orang selalu mengatakan seperti itu setiap aku menceritakan tentang sahabat-sahabatku itu. Aira kenapa nggak punya pacar? Itu yang akan orang-orang katakan, termasuk teman-teman SMA seangkatanku. Dan aku tidak bisa tidak kesal mendengarnya.
“Terus, yang cowok-cowok kemana?”tanyanya.
“Putra udah meninggal. Kakak tau itu. Dan Malik juga udah meninggal.” Aku mengakhirinya. Aku sedang berusaha senormal mungkin menceritakannya ke Bintang.
Bintang menepuk keningku pelan. “Failed, Honey. Don’t pretend that you feel okay telling about them. Mudah banget kebaca wajah kamu.”
“Yaaah kirain berhasil nipu kamu,”balasku. Aku senang dia tidak memaksaku untuk baik-baik saja. Aku tersenyum padanya. Senyum tulus.
“Heri kok bisa tahu kamu di rumah sakit?”tanya Kak Bintang lagi. Pembicaraan tentang Heri belum selesai pemirsa. Dia harus tahu semuanya dulu baru dia akan berhenti. Aku yakin.
“Dari May. Dia baru pindah tugas ke Jakarta seminggu yang lalu. Karena ada waktu, makanya dia ngejenguk aku,”jawabku.
“Dia kerjanya apa?”tanyanya lagi. Apa aku bilang? Dia akan berhenti jika dia merasa sudah mengetahui semua informasi tentang Heri.
“Tentara. Dia aneh banget tau, Kak. Dulu dia ekskulnya UKS, tetapi malah jadi tentara. Tau gitu kan mending jadi pramuka aja,”jawabku. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku mengingat kembali kelakuannya.
“Loh, kenapa jadi tentara?”
“Aku juga nggak tau. Nggak nanya juga,”jawabku.
Bintang tiba-tiba tersenyum ke arahku, lalu memeluk tubuhku. Aku otomatis terkejut dengan perlakuannya ini. Setelah beberapa detik, dia melepaskan pelukannya. Pandangannya masih berada padaku.
“Apaan tadi peluk-peluk. Kesempatan dalam kesempitan kamu,”bentakku.
Bintang masih menatapku dengan senyuman di wajahnya. “Aku senang kamu nggak kepo sama Heri,”ucapnya.
Aku terheran-heran mendengarnya. Itu saja sudah membuatnya senang? Lucu sekali si Bintang ini. Dia benar-benar seperti anak kecil. Hal-hal kecil saja membuatnya bahagia. Apalagi hal yang besar? Apa dia jangan-jangan sudah bucin?
“Kakak kayak anak kecil tau. Hal kecil begitu saja buat kakak senang?”tanyaku penasaran.
“Iya. Semua yang berhubungan dengan kamu buat kakak senang,”jawabnya.
“Gombal aja terus,”balasku malas.
“Kakak serius loh, Ai.”
Aku mendekatkan posisiku padanya dan memiringkan tubuhku ke kiri untuk menatapnya. “Kakak belum pernah jatuh cinta ya?”tanyaku. “Iya, kan? Iya kan?”godaku sambil mengelus-elus dagunya. Lalu, aku memundurkan tubuhku dan kembali ke posisiku yang menyender di badan kursi.
“Sotoy. Ya pernah lah. Memangnya kamu aja yang bisa jatuh cinta,”jawabnya sewot.
“Masa sih? Kok kayak nggak pernah sih? Nggak percaya aku,”balasku. Aku melipat kedua tanganku di perutku.
“Kamu pengen aku cerita, kan?”tanyanya curiga. Dia juga sudah mengangkat kedua kakinya ke sofa.
“Iya.”
“Kalau begitu, peluk,”pintanya.
“Ogah. Nggak usah cerita juga nggak apa-apa,”balasku.
“Huu pelit.”
“Huu biarin.”
Bintang meletakkan kepalanya di bahu sofa. Dia duduk bersila di pinggir kanan sofa, sedangkan aku duduk di pinggir kiri sofa. Dia mengarahkan pandangannya kepadaku. Lalu, dia menekan-nekan kakiku yang berada di dekat kakinya. Aku memasang wajah tidak suka dan memperingatinya untuk tidak melakukannya lagi. Kapan Bintang mengindahkan perkataanku? Dia masih terus menekan-nekan kakiku. Dia terkadang tertawa ringan ketika aku membalasnya, tetapi dia bisa menghindarinya. Dia bayi ditubuh seorang dokter.
“Main game, yuk,”ajakku.
“Apa?”
“Tanya jawab gitu. Bergiliran yang bertanya,”jawabku.
“Oke. Kamu duluan.”
“Nama lengkap kakak apa?”tanyaku.
Bintang menganga mendengar pertanyaanku. “Kamu nggak tau nama lengkap aku, Ai?”tanyanya tidak percaya.
“Nggak, hehe. Sorry. Lagian aku bakalan tahu dari mana? Aku nggak mungkin nanya Dokter Fani, kan?” Aku membela diri.
“Ya pura-pura aja gitu nanya ke mama,”balasnya.
“Udaaah. Jawab aja,”pintaku.
“Bintang Adicandra,”jawabnya.
“Artinya?”
“Bintang yang indah. Sesuai kan dengan orangnya?”
Aku membuat wajah datar mendengar perkataannya itu. “Emang kakak tahu nama lengkapku?”
“Tau dong. Arya Putri,”jawabnya.
“Benar. Sekarang giliran kakak.”
“Makanan kesukaan kamu apa?”
“Nasi goreng,”jawabku. “Kakak apa?”tanyaku.
“Cumi goreng. Negara kesukaan?”
“Spanyol. Kakak?”
“Sama. Tos dong.”
Aku menerima tosannya. Ketika ingin melanjutkan permainan ini, ponselku berbunyi. Bintang berdiri dari sofa dan mengambil ponsel yang aku letakkan di atas meja dekat ranjangku.
“Siapa?”tanyaku.
“Heri,”jawabnya dingin. Dia memberikan ponsel itu kepadaku, tetapi dia terlihat kesal. Aku yakin dia tipe pencemburu.
Aku menerima ponsel tersebut dan menerima panggilan Heri.
Aku:
Hallo, Heri.
Heri:
Ra, besok kan kau keluar dari rumah sakitnya?
Aku:
Iya. Kenapa?
Heri:
Jam berapa?
Aku:
Jam 10 pagi.
Heri:
Aku ke sana ya besok. Aku ikut antar kau pulang.
Aku:
Eh, nggak usah Her. Kau nggak kerja emangnya?
Heri:
Nggak. Aku libur.
Aku:
Libur aja terus kau.
Heri:
Terserah aku lah. Gimana jadinya?
Aku melirik ke Bintang yang sedang mengupas buah apel. Dia pura-pura tidak peduli atau gimana?
Aku:
Jangan ke rumah sakit. Datang ke kontrakanku aja. Nanti ku kirim alamatnya.
Heri:
Kenapa? Ada yang jemput juga ya? Suit suit.
Heri sudah mulai heboh.
Aku:
Sotoy. Pokoknya ke sana aja datangnya.
Heri:
Oke. Oke. Sampe ketemu besok ya.
Aku:
Oke.
Aku pun mengakhiri panggilan Heri. Aku meletakkan ponselku di atas meja yang di depan sofa. Kemudian, aku melirik Bintang. Dia sedang memperhatikanku. Raut wajahnya terlihat tidak ramah dan juga penasaran.
“Heri mau datang besok ke kontrakan. Awalnya, mau kesini. Kan aku tahu Kak Bintang yang mau anterin ke kontrakan. Jadinya...” Aku tidak melanjutkan perkataanku.
Bintang tersenyum. “Iyaaa. Nggak usah nggak enak gitu raut wajahnya.”
Aku kira dia akan bertanya banyak hal. Aku membalas senyumnya.
“Lagipula aku penasaran gimana si Heri itu,”lanjutnya.
__ADS_1
Apa yang akan terjadi besok? Aku yakin Bintang akan merasa lelah meladeni lelucon si Heri. Secara Bintang tidak receh orangnya. Si Heri juga pasti akan berkomentar banyak tentang Bintang. Sepertinya besok akan menjadi hari yang menyenangkan. Mudah-mudahan saja mereka bisa akrab.