
Ucapan Kanya tentang perasaan Aksa yang ingin disampaikan pada Araz, terus mengganggu benak laki-laki itu. Lagi-lagi, dia tertawan pada lamunan dan mengabaikan perempuan yang masih memeluknya dalam dekapannya. Namun, kali ini, justru ucapan perempuan itulah yang membuatnya melamun.
Apa benar, Aksa menyimpan perasaannya pada suatu tempat? Seperti Arez yang mengabulkan permintaan Kanya melalui dirinya? Jika memang iya, tapi di mana?
Araz sama sekali tidak terpikirkan kira-kira di mana Aksa menitipkan perasaannya selama ini. Apakah ada tempat yang selama ini luput dari pengamatannya? Jika memang ada, di mana kemungkinan tempat itu berada?
Apakah, Eomma?
Itu semakin tidak mungkin. Araz yang paling tahu, meskipun Aksa paling dekat dengan ibu mereka, tetapi adiknya itu tidak mau sang ibu mengetahui kegelisahannya selama ini. Aksa tidak mau Haneul mengkhawatirkannya. Meski tidak dapat dihindari, mereka tetap sama-sama membuat Haneul maupun Bagaskara khawatir. Terlebih kepada Aksa. Namun, sebisa mungkin, Aksa akan berusaha untuk meminimalisir hal itu terjadi.
Kalau bukan Eomma, terus di mana kemungkinan dia menyimpan perasaannya selama ini?
Araz masih memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi saat kenangan yang sudah dia lupakan tiba-tiba muncul dalam benaknya.
"Hyeong ... coba tebak apa yang aku temukan." Suara itu seakan muncul dari alam yang purba.
Seorang bocah laki-laki masih dengan seragam biru-putih berlari ke arah Araz yang baru saja tiba di rumah setelah mengawal aksi demo mahasiswa di Bundaran HI. Araz memperhatikan adiknya yang masih berseragam putih-biru itu. Adhyaksa itu tidak cukup kuat untuk bersekolah di sekolah umum seperti anak lain seusianya. Demi memenuhi kebutuhan belajar anak bungsunya, Bagaskara - sang ayah - memanggil guru privat untuk mengajarinya. Namun, Aksa memaksa tetap memakai seragam karena ingin terlihat dan merasakan seperti anak-anak lain seusianya. Bagaskara tidak pernah melarang. Guru yang mengajarinya pun tidak merasa keberatan. Alhasil, Aksa selalu memakai seragam saat mengikuti sekolah privat di rumah keluarga Bagaskara.
"Panggil 'Mas', Aksa," tegas Araz saat adiknya memanggilnya dengan sebutan 'Hyeong'.
__ADS_1
Meski Araz memiliki separuh darah Korea yang diwariskan dari sang ibu, tetap saja dia tidak terbiasa dengan budaya yang dikenalkan ibunya. Kecuali memanggil wanita yang telah melahirkannya itu dengan sebutan eomma. Mungkin karena dia sudah terbiasa tinggal di lingkungan yang bertutur kata ramah dalam bahasa Jawa sejak kecil. Menurut Araz, itu tidak sesuai dengan ajaran tata krama yang diajarkan kepadanya selama tinggal bersama saudara laki-laki Bagaskara dan sang kakek-nenek. Walaupun Araz tetap menerima perbedaan dalam keluarga mereka. Sebab itu pula yang diajarkan kepadanya.
Sementara Aksa yang lebih banyak menghabiskan waktunya bersama sang ibu sejak kecil, lebih lapang dada menerima budaya yang dikenalkan oleh wanita yang dipanggilnya amma. Dia bahkan lebih fasih berbahasa Korea dibandingkan Araz yang sama sekali tidak menguasai bahasa ibunya. Oleh sebab itu, terkadang Aksa masih sering memanggilnya 'Hyeong' daripada 'Mas' seperti yang sudah diajarkan oleh Araz.
"Ah ... sori, udah kebiasaan sering sebut 'Hyeong'," ucap Aksa tetap menurut meski sebenarnya dia tidak suka memanggil kakaknya dengan sebutan 'Mas'. "Jadi, lihat apa yang aku temukan, 'Mas'!" imbuh Aksa dengan menekankan pada kata 'Mas' sambil menunjukkan kotak berukir berukuran 30 cm x 20 cm x 15 cm di tangannya.
"Kamu nemu dari mana?" tanya Araz penasaran.
Laki-laki itu mengenali kotak di tangan Aksa sebagai pemberian dari sang paman untuk menyimpan barang-barang berharganya waktu kecil. Namun, semenjak kepindahannya ke Jakarta dan usianya yang semakin bertambah, Araz melupakan keberadaan benda itu sampai Aksa menemukannya.
"Ada di tumpukan di gudang. Tadi Pak Adam memberi tugas untuk mendaurulang barang-barang yang udah nggak terpakai. Waktu aku bantu Amma di gudang untuk mencari barang-barang yang kubutuhkan, aku nemu ini. Milik Mas Araz, 'kan?"
Setelah dipikir-pikir lagi, jika dulu Araz menyimpan benda berharganya di dalam kotak itu, apakah akan benar-benar aman? Untung Araz tidak pernah benar-benar memiliki benda berharga. Jadi, dia tidak perlu menyimpannya dalam kotak itu.
"Daebak! Ini harta karun, Mas Araz? Pantes aja kotaknya berat banget," teriak Aksa kegirangan saat mengetahui isi dalam kotak itu.
Araz ikut tertawa saat melihat isi dalam kotak yang hanya dipenuhi oleh kelereng, batu-batuan dengan berbagai bentuk yang aneh, dedaunan yang dikeringkan, hingga kelopak bunga yang hampir tidak berwujud bentuknya karena aus dimakan usia. Rasanya begitu menyenangkan menertawakan kebodohan sendiri saat dia masih kecil. Walaupun benda-benda di dalam kotak itu memiliki kenangan tersendiri.
Laki-laki itu ingat betul, sebagaimana Aksa yang tidak bisa banyak beraktivitas, dia tidak diizinkan bermain terlalu sering saat masih kecil. Kondisinya tidak memungkinkan untuk beraktivitas berat. Apalagi keluar dari rumah. Kalaupun terpaksa bermain keluar rumah, harus dibatasi jam dan jarak. Lebih sering, teman-teman Araz yang bermain di pekarangan rumah kakek yang memang berlahan luas. Itu pun bukan permainan yang memerlukan banyak tenaga. Satu-satunya yang bisa diikuti oleh Araz hanyalah bermain gundu.
__ADS_1
Suatu ketika, Araz yang kambuh penyakitnya dan mengharuskan dia tetap berada di rumah, ingin sekali ikut bermain dengan teman-temannya yang tidak lagi datang semenjak dia sakit. Namun, kakek maupun paman tidak mengizinkan Araz kecil pergi bermain. Sampai pada suatu hari, seorang anak mengejeknya dan memamerkan kelereng yang dia punya. Araz yang tidak pernah pergi bermain, tentu saja tidak punya. Dia merengek pada kakek agar dibelikan kelereng, tetapi tidak juga dikabulkan. Begitu pula saat meminta pada paman.
Hingga akhirnya Araz kabur dari rumah dan meminjam lima buah kelereng pada teman sepermainannya. Siapa yang mengira dengan lima kelereng pinjaman itu, Araz berhasil menang berkali-kali dalam permainan dan mengumpulkan paling banyak kelereng di antara teman-temannya. Kelereng-kelereng itulah yang berada di dalam kotak kayu yang ditemukan oleh Aksa.
"Ini boleh buat aku, Mas?" tanya Aksa masih tidak kehilangan semangat. Bagi Aksa yang sama sekali tidak pernah bermain keluar rumah, tentu memiliki sesuatu yang berharga bagi sang kakak merupakan harta karun tak terkira. Apalagi dia sama sekali tidak pernah memiliki kelereng barang sebuah pun.
"Memang mau kamu buat apa?"
"Masih belum tahu, tapi kayaknya suatu saat aku bakal kepikiran mau kubuat apa."
Araz tidak mendebat keinginan adiknya. Entah memang berbakat atau karena bocah itu teliti dan telaten serta memiliki banyak waktu luang, banyak barang-barang bekas di rumah mereka menjadi sesuatu yang estetik di tangan Aksa. Mulai pajangan sampai perkakas yang sering dimanfaatkan oleh Eomma. Inilah hal yang kelak membuat Araz senang mengunjungi galeri seni. Sebab, dengan menikmati barang-barang estetik di galeri ataupun pasar seni, selalu mengingatkannya pada Aksa. Terlebih, adiknya itu juga suka melukis untuk mengisi waktu luangnya.
Setelah bertahun-tahun Araz melupakan peristiwa yang terjadi bertahun lalu, mengapa baru sekarang dia mengingatnya kembali? Terlebih pada kotak yang dulu pernah Aksa temukan sebagai tempat penyimpanan benda-benda berharganya waktu kecil.
"Aku tahu, sepertinya Aksa memang menyimpan perasaannya pada suatu tempat. Meski aku juga nggak sepenuhnya yakin, tapi nggak ada salahnya mencoba bukan?" ucap Araz begitu tiba-tiba setelah cukup lama berdiam diri. Memikirkan kemungkinan-kemungkinan atas ucapan Kanya tentang Aksa. "Ayo, kita harus mencarinya selagi masih di sini."
Langkah Araz begitu ringan saat ia mengajak Kanya berlari membelah rerumputan taman yang tertata rapi. Perawat taman keluarga Bagaskara memang yang terbaik melakukan pekerjaannya itu. Tidak ada sedikit pun bagian taman yang tampak cacat meskipun hanya seujung kuku. Itu pula yang membuat langkah Araz begitu ringan. Berlari di atas rumput taman yang sudah lama tidak pernah dia lakukan, membuat Araz merasakan sensasi tersendiri baginya. Apalagi, rasa penasarannya pada pesan selamat tinggal yang ditinggalkan Aksa, membuat laki-laki itu semakin lebih bersemangat.
...----------------...
__ADS_1
Hasil kegabutan di pagi hari. Halo semua, maafkan aku yang lagi-lagi kabur dan menggantung kisah Araz dan Kanya. 🥺🥺🥺