
Renjana Kanya
Sebanarnya aku tidak benar-benar tertidur setelah menceritakan pada Araz perihal Mama. Hanya saja, bersandar di lengan laki-laki itu terasa begitu nyaman hingga membuatku lupa jika sebelumnya mengeram luka. Bahkan hanya dengan belaian lembut di pucuk kepalaku, membuatku merasakan nyaman lebih dari sekadar pelukan. Meski begitu, kemelut dalam kepalaku masih saja belum juga reda. Ketakutan demi ketakutan terus muncul dan semakin menguat seiring perjalanan kereta yang semakin dekat menuju stasiun tempat kami turun.
Percakapan dengan Araz siang tadi kembali muncul dalam benakku. Bagaimana lelaki itu begitu menyesal saat kehilangan adik semata wayangnya. Mungkinkah juga aku akan merasakan hal yang sama? Entahlah. Rasanya ada yang begitu menyiksa tiap kali aku mengingat tentang mama. Bagiku, sosok wanita itu sudah tak lagi berarti sejak lama.
Sejak dulu, aku memang tidak begitu akrab dengan mama. Aku bahkan lebih dekat dengan ayah, dibandingkan wanita yang telah melahirkanku itu. Entah bagaimana bermula atau perkara apa, aku dan mama sering kali berselisih paham dalam banyak hal. Terutama soal penampilan yang selalu menuntutku menjadi sempurna. Tidak jarang mama memaksaku harus begini begitu hanya demi memenuhi standar kecantikan yang ia tentukan. Dan, aku tak suka itu.
Pernah suatu ketika, kami bertengkar hebat saat anak sepupu jauh Ayah melangsungkan pernikahan. Mama memaksaku memakai kebaya dan make up yang membuat seluruh tubuh rasanya begitu gatal. Jelas saja aku menolak sebab itu membuatku merasa tidak nyaman.
Aku lebih nyaman menggunakan baju terusan daripada harus berbalut kebaya dan berdandan seperti yang mama minta.
Mama bilang aku pembangkang karena tidak mau menuruti kata-katanya. Padahal permasalahannya hanya satu, aku tidak suka pakai kebaya maupun make up. Sangat sederhana bukan.
Namun, mama justru memarahiku dengan dalih jika baju, aksesoris, juga riasan sudah ditentukan agar seragam. Aku ingat jelas, waktu itu aku berteriak kesal karena mama terus memaksa dan menyebutkan sederet nominal untuk membayar ongkos jahit dari kebaya yang seharusnya kukenakan.
"Dari awal aku sudah bilang kalau nggak mau pakai kebaya, Ma. Mama saja yang maksain aku harus pakai kebaya. Orang aku sudah bilang Tante Ambar kalau nggak harus seragam kok. Mama saja yang pengen segalanya kelihatan perfect. Pokoknya Anya nggak mau pakai. Titik!"
"Ya nggak bisa gitu dong, Nya. Tante Ambar sudah sediakan kain segala macam biar kita itu semua tampil kompak. Ini malah pakai aturannya sendiri."
__ADS_1
Mungkin sifat keras kepala kami yang membuat segalanya tidak bisa dipertemukan. Kami sama-sama memiliki keinginan dan pandangan yang saling dianggap benar. Sedangkan mama bukanlah sosok yang mudah mengalah pada hal yang dianggapnya memang yang terbaik. Bukan untukku, tapi untuknya. Makanya banyak hal yang tak bisa disatukan di antara kami.
Ayahlah yang selalu hadir di antara kami sebagai penengah. Meski terkadang ayah membela mama dan ikut memarahiku juga, setidaknya ayah tidak pernah memaksakan kehendak jika aku memang benar-benar tidak menginginkan hal itu. Ayah selalu bisa mencari celah. Ayah selalu bisa mengambil hatiku untuk menurut kepadanya. Ayah juga yang selalu bisa mendengar keinginanku tanpa harus mendebatkan hal yang tidak bermutu. Sebab itulah aku lebih dekat dengan ayah dibandingkan mama.
Mungkin, ada momen-momen saling menguatkan saat kepergian ayah. Kami bisa saling terbuka dan berbagi cerita tentang apa saja. Tentang cita-citaku yang ingin bekerja sebagai jurnalis. Tentang kisah romansa dengan Putra pada masa itu. Juga tentang hal lain yang membuat kami semakin akrab mesti tidak erat.
Pun mama, lebih sering menceritakan bagaimana awal perjumpaannya dengan ayah. Bagaimana mereka saling jatuh cinta dan akhirnya memutuskan menikah. Bagaimana terpuruknya mama saat mengetahui fakta bahwa ayah meninggalkan kami dengan begitu cepat. Dari seluruh obrolan kami setiap melewati malam-malam panjang, tidak terlintas sedikit pun pembicaraan tentang pernikahan setelah kematian ayah. Mama ingin memegang janjinya untuk sehidup semati dengan ayah. Mama tidak ingin mengkhianati janji yang pernah diucapkannya dengan ayah.
Pada kenyataannya, setahun setelah kepergian ayah, wanita itu muncul sambil menggandeng lengan Om Eka dan mengumumkan pada semua jika mereka akan menikah. Dengan alasan, bayi yang ada di dalam perut mama harus memiliki seorang ayah.
Langit seakan runtuh di kepalaku. Wanita yang bahkan beberapa bulan sebelumnya masih begitu kukuh dengan pendiriannya untuk tidak menikah lagi, justru yang paling cepat mematahkan janjinya sendiri. Hal yang membuatku tidak terima, wanita itu justru mencari pembenaran atas keinginannya.
"Kalau saja Mama yang mati lebih dulu, apa kamu pikir Ayah kamu juga bakal memenuhi janjinya untuk sehidup semati dengan Mama? Nggak Kanya, nggak ada cinta setulus itu di dunia. Semua terhubung oleh kebutuhan. Dan, kebutuhan Mama hanya bisa dipenuhi jika Mama menikah lagi. "
Satu tamparan menyentuh pipiku. Pedih. Namun, rasa pedih itu terkalahkan oleh perasaan nyeri yang merajam di balik tulang-tulang rusukku. Maka keinginanku pergi dari rumah malam itu semakin menguat. Aku keluar tanpa pamit. Mama pun tidak berusaha mencegahku agar aku tidak kemana-mana. Kenyataannya wanita itu hanya menatap nanar kepergianku yang tanpa menoleh ke arahnya lagi.
Lagi-lagi air mataku mengalir saat mengingat kejadian beberapa tahun lalu. Masih ada luka yang tiba-tiba menganga tiap kali mengingat tentang mama. Untuk itu, masih adakah perasaan cinta, mungkin saja hormat kepada mama sedikit saja?
Araz berdendang kecil saat aku kembali terisak dalam pelukannya. Suaranya yang lembut itu kembali mengiringku ke alam mimpi yang baru saja kutinggalkan beberapa waktu lalu saat seorang laki-laki asing menyapa kami. Perihal laki-laki itu, kini ucapannya pun berputar dalam kepalaku. Benarkah orang tua akan merasa kesepian saat anak-anak mereka jauh dari rumah? Entahlah. Aku hanya menghela napas panjang untuk mengusir kegelisahan dari dalam benakku meski sepenuhnya tidak akan mampu.
__ADS_1
"Sudah, tidurlah. Perjalanan kita masih panjang. Masih akan ada hari-hari lain kita saling bertukar cerita maupun rahasia. Tidurlah, Kanya. Biarkan mimpi sejenak mengobati laramu."
Seandainya jika luka itu sembuh selamanya, Mas.
.
.
.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hallo, semua!!!
Yoru kembali menyapa. Semoga masih belum bosen dengan kisah Kanya dan Araz.
Makasih buat kalian yang sudah dukung Yoru dengan meninggalkan tanggapan kalian di kolom komentar.
Sungguh Gaes, Yoru merasa terharu banget setiap kali ada komentar yang mendukung Yoru. Meski nggak sempat Yoru balas satu per satu, tapi percayalah semua komentar kalian Yoru baca dan itu yang bikin semangat nulis balik lagi. Tubuh kayak re-charge setiap kali baca komentar kalian. Apalah Yoru jika tanpa kalian semua.
__ADS_1
Happy reading and enjoy!
Kunjungi "Semesta Yoru" di Spotify juga ya. Siapa tahu makin jatuh cinta. 😍😍😘😘