
Baik Araz maupun Kanya saling diam dalam beberapa menit. Tak ada satu pun dari mereka yang membuka pembicaraan lebih dulu.
Keduanya sama-sama malu dengan apa yang baru saja terjadi.
Terlebih Araz. Laki-laki itu terus menerus menyalahkan kebodohannya dalam hati. Bisa-bisanya dia hampir melakukan kesalahan yang fatal.
Kalau saja Kanya tidak sadar lebih dulu dengan perbuatan mereka, entah apa yang bakal terjadi selanjutnya. Bisa jadi mereka bakal menyesalinya seumur hidup.
"Sial. Gue bener-bener malu!" ucap laki-laki itu dalam hati.
Ia melirik Kanya yang tak juga bergerak dari tempat duduknya. Membuat Araz semakin bingung dengan apa yang harus dia lakukan.
"Nya, aku benar-benar minta maaf. Aku nggak bermaksud kayak gitu. Aku...."
Buru-buru Kanya menghapus air mata yang masih membekas di pipinya. Tanpa sepengetahuan laki-laki itu. Dia tidak menyalahkan Araz. Hanya saja, perempuan itu bingung harus merespon bagaimana.
Ini pertama kalinya mereka dalam situasi canggung seperti sekarang.
"Aku...."
"Udah, Mas. Nggak perlu minta maaf. Mas Araz nggak salah," pungkas Kanya memotong ucapan Araz sebelum laki-laki itu menuntaskan kalimatnya.
"Tapi...."
"Mas, please. Jangan salahin diri Mas Araz sendiri!"
Kanya mencoba untuk tersenyum. Ini bukan sesuatu yang pantas untuk diteruskan meski tak dapat dimungkiri jika hasrat itu masih bergelegak dalam diri Kanya.
Perempuan itu pun yakin jika Araz juga pasti merasakan hal yang sama.
"Baiklah, kalau gitu...ke depan kita harus memastikan untuk saling mengingatkan supaya hal kayak gini nggak bakal terulang. Oke?" Araz tersenyum kikuk.
"Ya. Kalau gitu...aku turun dulu ya. Mas Araz...hati-hati kalau pulang."
Kanya bergegas turun dari mobil begitu selesai berpamitan. Dia tidak ingin semakin memalukan dirinya sendiri dengan berada di dekat sang kekasih.
Perempuan itu sudah cukup malu dengan peristiwa yang benar-benar di luar dugaan tersebut.
Sementara Araz hanya bisa terpaku beberapa saat setelah Kanya turun dari mobil.
Ini bukan pertama kalinya dia berada di situasi sulit saat berdekatan dengan Kanya. Ya, tentu saja. Banyak momen yang membuat Araz sangat menginginkan perempuan itu.
Sentuhan di antara kulit mereka yang tanpa sengaja saja, sudah membuat Araz kesulitan mempertahankan imam. Apalagi sampai terjadi adegan di luar dugaan? Tentu saja Araz tak sanggup mempertahankan kewarasannya.
Bagaimanapun dia merupakan laki-laki dewasa yang usianya sudah sangat matang. Tentu hal wajar jika dia memiliki sensasi tersendiri setiap kali bersentuhan dengan Kanya.
Meski begitu, selama ini dia selalu bisa menahan diri. Walaupun pada akhirnya dia harus menuntaskan dengan bersolo karier.
__ADS_1
"Bego, kenapa kali ini nggak bisa tahan sih, Raz? Sial memang!" umpat Araz dengan kesal.
Dia masih berada di basemen gedung apartemen Kanya dan belum beranjak dari sana.
Laki-laki itu tidak bisa melupakan sepenuhnya apa yang baru saja terjadi.
"Sial, gua bahkan nggak bisa lupa gimana lembutnya...Arghhh...bego lo, Raz. Bisa-bisanya lo masih ingat-ingat hal memalukan kayak gitu!" Araz kembali mengumpat.
Tak lama kemudian, ia menstarter mobil dan meninggalkan kawasan basemen apartemen Kanya.
...***...
Di sisi lain, Kanya tak juga bisa memejamkan mata setelah mengingat apa yang baru saja terjadi. Dia bahkan tak sempat mandi dan berganti pakaian begitu datang.
Sambal cakalang dan ikan asap yang sebelumnya sangat menggoda untuk dinikmati, kini tak lagi membuatnya berselera.
Pikiran perempuan itu sepenuhnya tersita oleh peristiwa dalam mobil yang tak bisa terlupakan.
Ini benar-benar di luar dugaannya. Dia menolak juga mengharapkan pada waktu yang bersamaan. Cara Araz memperlakukannya membuat Kanya tak bisa sepenuhnya lupa.
"Stop, Nya. Stop! Mau sampai kapan lo kepikiran terus?" tanya perempuan itu pada dirinya sendiri.
Dia berusaha mengenyahkan pikiran kotor itu dari benaknya. Tapi, hal tersebut justru membuatnya semakin mengingat peristiwa memalukan yang terjadi di dalam mobil tadi.
"Bisa-bisanya hal buruk kayak gitu masih aja lo bayangin, Nya?!" runtuk perempuan itu sambil menutup wajahnya dengan bantal.
Namun, justru hal itu membuat Kanya tak bisa mengendalikan pikiran liar dalam benaknya.
Masih terasa jelas sentuhan Araz yang membuatnya seperti melayang.
Kanya pernah melakukan kesalahan di masa lalu. Namun, perlakuan Araz sama sekali berbeda dan itu semakin menjadikan Kanya tak bisa melupakannya.
"Gimana jadinya kalau gue nggak suruh dia berhenti ya?" bisik suara dalam benak Kanya.
Seketika perempuan itu tersentak.
"Gila! Nggak Kanya, lo nggak boleh berpikiran yang bakal merugikan lo di masa depan. Stop sekarang dan jangan pernah coba-coba!" pikiran lain dalam benak perempuan itu mendebat.
Kanya segera tersadar jika besok masih ada hari di mana yang membuatnya tidak mungkin menghindari Araz. Setelah apa yang terjadi masih sanggupkah dia menghadapi laki-laki itu?
"Bakal gimana kalau besok ketemu di kantor?! Sial! Bego lo, Nya! Harusnya lo mengakhiri dengan benar. Bukan dengan cara melarikan diri!" Perempuan itu masih terus menyalahkan dirinya sendiri.
"Dengan benar? Memang seperti apa cara yang benar?"
Benak perempuan itu penuh sesak. Dia benar-benar terombang-ambing dengan perasaannya sendiri.
Perempuan itu tak lagi sanggup berpikir jernih.
__ADS_1
Kini yang ada dalam benaknya hanyalah bagaimana harus menghadapi Araz ketika mereka bertemu di kantor besok?
"Sial, pasti bakal canggung banget! Mana bisa gue pura-pura nggak terjadi apa-apa? Akting gue kan parah kalau soal begituan!" gumam Kanya masih dari balik bantal.
"Dahlah. Bodo amat. Pura-pura aja nggak pernah terjadi hal memalukan tadi!"
Namun, tentu saja hal itu tak semudah yang Kanya bayangkan. Ketimbang berpura-pura tak terjadi apa pun di antara mereka, justru hal sebaliknya tak bisa dihindari oleh mereka.
Dan, benar saja. Suasana di antara keduanya mendadak kikuk keesokan harinya.
Padahal Kanya sudah sengaja membawa mobil sendiri dan menolak ajakan Araz berangkat bersama. Dengan tujuan agar dia bisa sampai kantor lebih dulu ketimbang laki-laki itu.
Namun, yang terjadi sama sekali tidak sesuai dengan harapan Kanya.
Mereka bertemu tepat di tempat parkir yang membuat keduanya tak bisa menghindar. Ralat, bukan keduanya yang memiliki niat menghindar. Hanya Kanya yang berniat menghindari Araz demi menyelamatkan mukanya yang terlanjur malu.
"Hai, met pagi," sapa Araz pada Kanya. Berusaha tampak biasa saja meski dalam hati masih menyisakan perasaan bersalah.
"Pagi, Mas." Kanya balik menyapa. Jelas terlihat kikuk dan canggung seperti yang sudah dia duga.
Kanya tak bisa bersikap biasa saja, meski Araz sudah berusaha untuk tampil seperti kebiasaannya.
"Aku masuk duluan ya, Mas," imbuh perempuan itu dengan sengaja menghindar.
Tepat sebelum Araz menahannya lebih lama.
Sikap keduanya tak luput dari perhatian Hanung yang datang tidak lama kemudian.
"Kenapa tuh?" tanya laki-laki itu tanpa basa-basi begitu turun dari mobil dan menyapa Araz.
"Kenapa apanya?" Araz yang kaget dengan kemunculan Hanung yang tiba-tiba berusaha berkelit.
"Nggak usah pura-pura bego. Keliatan tahu."
"Keliatan apanya sih? Ya pasti keliatan lah orang segini gede."
"Ck, nggak usah ngeles. Jawab aja ada apa," tegas Hanung lebih terlihat kepo ketimbang peduli pada sahabatnya.
"Memang apa sih yang lo tanyain?" Araz masih berkelit.
"Itulah. Kenapa sikap kalian canggung gitu? Nggak biasanya."
"Dahlah, bukan urusan lo." Araz memilih untuk melangkah masuk lebih dulu.
Sementara senyum mengembang di bibir Hanung.
"Kayaknya hampir kesahut bisikan setan nih," ucap laki-laki itu penuh arti.
__ADS_1