
Renjana Alcatraz
Dia sudah berdiri di lobi kantor LF usai aku melakukan rapat dengan tim redaksi untuk membahas materi yang akan diterbitkan bulan depan. Aku baru saja memutuskan menandatangani kontrak dengan majalah wanita itu dua bulan sebelumnya. Setelah sebelumnya lebih suka pekerjaan lepas dibidang yang sama. Ritme pekerjaan yang tak begitu berat membuatku berani mengambil keputusan itu. Apalagi keperluan mereka hanya fokus pada satu rubrik karena setiap bagian memiliki timnya sendiri.
Lelaki itu melambaikan tangan saat melihatku. Jika dibandingkan dengan kondisinya satu minggu yang lalu saat terakhir kali bertemu, Arez tampak lebih kurus. Namun wajahnya terlihat cerah seperti biasa. Bahkan ia sempat tebar pesona dengan beberapa perempuan yang sempat melintas. Begitulah Arez, ia kumbang yang sadar bahwa dirinya tampan dan suka menggoda para kembang.
"Bang udah gue tunggu dari tadi juga. Main tinggal aja." Protes Arez karena aku tak membalas sapaannya dan memilih untuk berlalu ke arah tempat parkir. Ia lebih dulu masuk mobil sebelum aku sempat membuka pintu. "Gue ikut. Kita bahas perjanjian antar lelaki dewasa."
"Gue nggak mau dengar apa pun itu tentang keputusan lo. Keluar!" pintaku dengan suara bergetar. Selalu ada perasaan yang bergejolak tiap kali mengingat keputusan Arez menyumbangkan organ dalamnya.
"Elah Bang, kita perlu jalanin tes dulu sebelum gue beneran mati dan organ gue diambil. Belum tentu juga cocok sama lo. Kalaupun bukan lo, pasti juga bakal orang lain yang terima," kata Arez bersikeras. Lelaki itu tak bergerak sedikit pun dari posisi duduknya.
"Terserah, gue pastikan itu bukan gue."
"Tapi firasat gue bilang, jantung ini bakal berdenyut di dalam tubuh lo di masa depan. Bang, cuma lo yang bisa. Menjaga Bunda, Ayah dan..." Arez menggantung kalimatnya. Ia menatapku yang masih berdiri di pintu mobil dan menahannya agar tetap terbuka. Mata Arez berkaca-kaca sebelum melanjutkan kalimatnya. "Kanya. Kalau bukan lo, gue nggak tahu harus sama siapa lagi minta tolong buat jagain dia."
"Kenapa harus gue? Kenapa nggak lo sendiri aja yang jagain dia?" Jika Arez bisa bersikeras memaksa kehendaknya, aku pun juga bisa melakukan hal yang sama.
"Bang, kondisi gue makin parah. Gue udah sering tiba-tiba pingsan. Dokter juga udah bilang kalau harapan hidup gue semakin menipis. Lo mau liat gue mati sia-sia tanpa bisa ninggalin apa-apa?"
Aku tak menanggapi ucapan Arez. Lelaki itu tampak sinis menatapku. Ujarnya,"Kita sama-sama sekarat, Bang, tapi dokter apa pernah bilang ambang batas hidup lo? Nggak 'kan? Nah gue, bisa bertahan sampai tiga tahun ke depan udah syukur."
Arez tak lagi mendebat kebisuanku. Ia memilih pergi sesudah memintaku untuk memikirkan baik-baik soal keputusannya.
Selepas kepergian Arez, aku memilih berlama-lama berdiam diri dalam mobil. Memikirkan apa yang menjadi beban bocah yang lebih muda delapan tahun dariku itu.
***
Dua bulan pasca pertengkaran kami, aku dan Arez benar-benar tak berkomunikasi. Semua pesan maupun telepon lelaki itu tak pernah kupedulikan. Bahkan aku terang-terangan tak mengacuhkannya ketika ia muncul di lobi LF. Hingga suatu waktu, kami dipertemukan di tempat pertama kami bertemu. Sebagai pasien rawat inap.
Kondisiku menurun akibat kegiatan kantor yang banyak menguras tenaga. Eomma bahkan memintaku keluar dari LF saat tahu kesehatanku menurun. Namun aku bersikeras menolak permintaan perempuan yang telah melahirkanku itu. Sedangkan Arez, lagi-lagi jatuh pingsan, bahkan sempat tak sadarkan diri.
"Gue bilang juga apa, kita tuh punya ikatan takdir, Bang."
"Kalau lo keras kepala, gue juga bisa ngelakuin hal yang sama."
"Duh gimana dong, gue udah terlanjur isi semua berkas persetujuan donor organ dalam kalau sewaktu-waktu gue mati. Nama lo juga udah gue cantumin sebagai salah satu penerima donor tuh," kata Arez benar-benar tanpa beban.
Ingin sekali aku memukulnya jika tidak ingat kondisi fisik kami yang sama-sama sekarat. Meski kesal, aku hanya sanggup menahannya agar tidak lepas kendali dan membuat keributan. Sungguh bukan sesuatu yang pantas dilakukan di rumah sakit bukan?
"Menurut lo, kenapa gue bisa dengan mudah atur semua ini, Bang? Kakek gue pemilik rumah sakit ini. Sekalipun Bunda nggak mau mewarisi rumah sakit ini, tapi om sama tante gue masih punya kuasa. Bukan hal susah buat atur keputusan gue. Paling penting, semua organ gue sangat layak didonorkan."
Aku benar-benar tersulut dengan ucapan Arez. Masihkah ia tidak memahami posisiku? Aku bukan tidak ingin menerima donor jantung dari siapa pun itu, tapi jika hidup Arez masih bisa diusahakan, kenapa dia memilih untuk mempersiapkan semua hal tentang kematian?
"Bang, udah gue bilang 'kan, gue lakuin ini nggak gratis. Ada tanggung jawab yang harus lo tanggung sebagai balasan."
"Kalau gitu, gue lebih nggak peduli dengan apa pun keputusan lo. Silakan cari orang lain, tapi bukan gue."
__ADS_1
Dengan mendorong tiang infus, aku kembali ke kamar. Termenung memikirkan ucapan Arez yang semakin membuatku kesal. Bukankah keluarganya pemilik rumah sakit ini? Jika keluarganya lebih paham tentang kesehatan, mengapa tak melakukan segala cara untuk menyembuhkan Arez? Mengapa justru menuruti kemauan bocah itu?
Ketika pikiranku sibuk mencari berbagai jawaban atas keputusan Arez, pintu tempatku dirawat, diketuk oleh seseorang dari luar. Perempuan setengah baya dengan padanan baju yang terlihat berkelas, menyapaku dengan senyuman ramah. Aku tak mengenal siapa perempuan itu.
"Nak Araz, kan? Kenalkan, saya Elis, perempuan yang telah melahirkan Arez. Boleh kita bicara sebentar?" sapa perempuan itu tak melepas senyum ramah dari wajahnya. Aku hanya bisa mengangguk dan mempersilakan duduk. "Saya sudah dengar penjelasan Dokter Bella tentang kondisi Nak Araz. Begitu pun dengan Arez. Meski saya bukan dokter spesialis, saya juga mempelajari sedikit banyak tentang kondisi kalian."
Perempuan itu menjeda ucapannya. Meski ia berusaha agar tidak menitikkan air mata, tapi aku bisa mendengar jelas suaranya yang bergetar. Menahan tangis.
"Tidak mudah buat kami menerima keputusan Arez, Nak. Apalagi bagi kami, Arez adalah satu-satunya anak yang kami punya. Tapi, apa yang bisa dilakukan orang tua selain menuruti kemauan anaknya? Arez bersikukuh mendonorkan organ dalamnya sebab tak ingin dianggap mati sia-sia. Hal ini pun juga sulit bagi Arez. Apa yang bisa dilakukan bocah yang umurnya bahkan tak panjang lagi. Kamu tentu telah mendengar dari Arez 'kan, jika terapi atau pengobatannya selama ini hanya memperlambat, bukan menyembuhkan. Sedangkan kamu masih punya harapan hidup lebih panjang, Nak. Meskipun kamu juga tidak bisa menghindari rasa sakit."
"Kenapa tak melakukan segala cara untuk kesembuhan, Arez?" tanyaku tetap bersikeras menolak keputusan Arez.
"Apa yang bisa kami lakukan? Jika kami bisa dan mampu, pasti akan melakukan apa pun demi kesembuhan Arez. Tapi kondisi otaknya yang mengalami cedera benar-benar cukup parah. Ia masih diberi kesempatan hidup pun, kami sudah bersyukur meski tak akan lama. Ini bukan sebagai wujud putus asa, Nak. Kami pasrah dengan kehendak Tuhan. Toh kami tetap mengupayakan segala cara demi kesembuhan kalian tanpa harus ada yang dikorbankan."
"Maka jangan biarkan dia berkorban untuk saya," ucapku tegas.
Perempuan yang mengaku bernama Elis itu, hanya mampu menatapku dengan pandangan mengiba. Ada begitu banyak kata yang ingin ia sampaikan, tapi sikapku yang tak bersahabat membuatnya urung berbicara. Ia mohon pamit setelah mengucapkan agar aku memikirkan lagi tentang tawaran Arez.
***
Hampir pukul 10.00 malam saat aku memutuskan menyusuri koridor rumah sakit yang sepi. Aku bosan berada di ruangan berbau karbol, meski di luar ruangan pun aku tetap membaui aroma yang sama. Setidaknya aku bisa merasakan semilir angin.
Aku mengeratkan cardigan yang membalut tubuhku agar tetap hangat. Jika suster tahu, pasien dengan kelainan jantung sepertiku keluar dari kamar inap malam-malam, pasti akan mengomel dan memintaku kembali. Beruntung ruang jaga di ruangan khusus VIP tidak orang. Jadi aku dengan mudah menyelinap ke taman. Sejenak menghirup udara malam yang tentu tak baik bagi kesehatanku.
Limabelas menit, aku duduk di bangku taman yang dingin sambil terus memikirkan ucapan Arez maupun ibunya, berulang-ulang. Bagaimanapun aku merenungkannya, pikiran serta hatiku tetap menolak keinginan Arez. Sungguh tidak mudah menerima hal sebesar itu, saat tahu akan banyak orang yang merasa kehilangan. Apalagi saat mengetahui fakta jika orang tua Arez sebenarnya merasa keberatan dengan keputusan bocah itu.
Adik yang selisih delapan tahun denganku itu lahir dengan kondisi yang sama denganku. Bahkan keadaannya semakin parah karena ia terlahir prematur. Sepanjang hidupnya, bahkan lebih banyak dihabiskan di rumah sakit. Setidaknya aku masih bisa hidup layaknya orang normal meski dengan keterbatasan. Sedangkan Adhyaksa harus menghabiskan lebih dari separuh hidupnya dengan berada di rumah sakit.
Lantas bagaimana jika aku pun pada akhirnya menyerah dengan kondisi ini? Meski begitu, aku juga terkadang berpikir untuk mengakhiri hidup saja daripada merasakan sakit yang tak berkesudahan. Bahkan aku sering menyalahkan Tuhan, mengapa tak aku saja yang menggantikan posisi Adhyaksa? Mengapa aku masih diberi kesempatan hidup lebih lama, jika hanya untuk menyusahkan mereka?
Lamunanku terputus saat melihat beberapa orang suster berlari ke arah kamar VVIP yang berjarak tak jauh dari kamar inapku. Mereka mendorong alat yang aku tak tahu bernama apa. Karena penasaran, aku mengikuti langkah tergesa mereka. Entah mengapa, intuisiku mengatakan jika mereka menuju kamar Arez.
Benar dugaanku. Dari balik pintu yang sedikit terbuka, aku melihat seorang dokter sedang memeriksa keadaan Arez. Bocah itu terlihat sangat kesakitan sambil memegangi kepalanya. Bahkan aku tak sanggup mendengar jerit kesakitannya dan memilih pergi sebelum para suster sadar jika aku tak ada di kamar. Sialnya, saat aku berbalik, seorang dokter lengkap dengan jas snelli menangkapku sebagai burua besar.
"Apa yang kamu lakukan di sini, Araz? Kamu bahkan bukan lagi remaja, bisa-bisanya menyelinap saat malam."
Dokter Bella yang telah menangani kasusku sejak pindah ke Jakarta, menjewer kupingku dan menyeretku kembali ke kamar. Sepanjang lorong aku merintih kesakitan. Ia baru melepaskan tangannya dari kupingku ketika sampai di ruang inap.
"Aku bahkan udah 29 tahun, Dok. Bisa-bisanya dokter memperlakukanku kayak anak kecil."
Dokter perempuan yang menjelang 45 tahun itu tertawa menanggapi protesku. Dia satu-satunya dokter yang menganggapku sebagai pasien sekaligus teman. Bersamanya aku tak memiliki rasa khawatir harus hormat kepada orang yang lebih tua. Sebab ia pun tak mau diperlakukan serupa. Bahkan kami lebih terlihat seperti adik baginya, daripada pasien. Ya, mana ada dokter yang menjewer telinga pasiennya.
"Umur kamu boleh bertambah, tapi kelakuan kamu tetap aja kayak anak kecil. Ngapain kamu tadi di depan kamar Arez?"
"Aku cuma penasaran aja, Dok."
"Masih sama aja seperti dulu. Diam-diam selalu mengintip ke kamar pasien lain. Dia anak seniorku waktu kuliah. Dan aku juga udah dengar keputusannya mendonorkan organ dalamnya. Juga gimana kondisi kesehatannya. Saranku, kamu harus lakukan pemeriksaan sekali lagi. Kamu juga berhak untuk terus hidup, Raz."
__ADS_1
"Dengan mengorbankan orang lain? Kukira itu bukan perkara mudah, Dok."
"Ya memang, tapi kita juga nggak bisa semudah itu mengubah keinginan orang lain, Raz. Kukira Arez juga udah mikirin keputusannya dengan segala risiko."
"Dokter ngomong gini bukan karena bersekongkol dengan Arez dan keluarganya 'kan?"
"Yah, anggap aja begitu," ucap Dokter Bella sebelum keluar ruangan. Ia memintaku segera tidur sebelum menutup pintu.
Sepanjang malam, pikiranku semakin penat akibat ucapan Dokter Bella. Mengapa semua orang seolah mendukung keputusan Arez yang masih di luar nalarku?
***
Pagi-pagi sekali, Arez sudah muncul di kamarku, bahkan sebelum sarapan diantar oleh petugas khusus. Wajahnya terlihat segar dibanding kemarin yang tampak pucat. Ia bahkan tak lagi menjerit kesakitan sambil memegangi kepalanya seperti yang kulihat semalam.
"Bang, beneran lo masih nggak mau terima tawaran gue?" tanya lelaki itu tanpa basa-basi. Ia duduk di bawah kakiku sambil memperhatikanku yang sedang membaca buku. "Bang!"
"Gue masih belum berubah pikiran," jawabku tanpa mengalihkan pandangan dari buku yang kubaca. Namun Arez merebut buku itu dan membuangnya ke lantai. "Maksud lo apa sih? Ini masih pagi ya, jangan ngajak gue ribut!"
"Gue bakal terus ngajak lo ribut, selama lo belum terima tawaran gue."
Mulutku membisu. Tak berminat membalas pernyataan Arez. Sedang lelaki itu kini berpindah duduk di sampingku menggunakan kursi bagi penunggu pasien.
"Cuma menjalani serangkaian tes. Kalau emang organ kita nggak cocok, gue nggak akan pernah ganggu lo lagi. Gimana?"
"Jangan buang waktu buat hal yang nggak pasti!"
"Bang!" Arez tampak frustrasi menanggapi perlakuanku. "Gue mesti gimana sih biar lo mau terima tawaran gue?"
"Ya nggak mesti gimana-gimana. Gue nggak larang lo buat donorkan organ dalam lo, tapi gue pastikan bukan gue yang terima."
"Gue sayang sama, Kanya, Bang. Kedua orang tua gue juga. Lebih dari apa pun. Kalau gue bisa, gue juga pengen terus nemenin mereka. Kalau gue bisa juga pengen bahagiain mereka lebih dulu sebelum mati. Emang gue bisa apa? Gue tanya coba, gue bisa apa kalau idup gue aja ada di tangan dokter?" tanya Arez dengan nada histeris membuatku terkejut. "Gue juga pengen bisa idup seribu tahun lagi kalau perlu. Gue juga pengen terus nemenin mereka, Bang. Tapi gue nggak bisa lakuin itu. Lo yang bisa, Bang!"
Baru kali itu aku melihat Arez begitu putus asa. Ia bahkan sampai menangis di hadapanku yang hanya bisa terbengong menatapnya.
"Gue juga sakit, Bang. Gue juga sakit menyadari kenyataan kalau idup gue nggak bisa bertahan lama. Gue juga sakit karena nggak bisa jadi kebanggaan orang tua."
Emosi Arez meledak. Entah berapa lama ia memendam semua perasaannya sendirian. Namun terlihat jelas, gejolak yang selama ini sengaja ia simpan di balik wajah cerianya.
"Oke, gue bakal terima tawaran lo, tapi janji satu hal, jangan pernah paksa gue melakukan hal konyol lainnya kalau hasil tes kita nggak menunjukkan kecocokan," kataku pada akhirnya.
Senyum Arez mengembang. Meski wajah itu masih menunjukkan ekspresi tertekan yang tak bisa lagi ia sembunyikan.
"Deal?!"
Arez mengulurkan tangan dan kusambut setengah hati.
"Deal!" ucapku menirukan perkataannya.
__ADS_1