
Renjana Kanya
“Sudah lebih baik?” tanya Araz saat aku kembali ke tempat kami duduk. Laki-laki itu menggeser posisi duduknya dan membiarkan aku lewat.
“Sudah. Makasih sudah kasih aku kesempatan ngobrol sama Putra, Mas.”
Sesaat setelah aku bangun tadi, sebelum memasuki Stasiun Bojonegoro, Araz memberi tahuku jika Putra ingin berbicara denganku. Saat aku bertanya ada apa, laki-laki itu justru memintaku untuk menelepon Putra. Maka aku memutuskan untuk ke toilet agar pembicaraanku tidak menggangu penumpang lainnya. Apalagi saat aku menyadari banyak dari penumpang yang masih tertidur lelap. Terlebih, aku tak bisa memastikan apakah air mataku bisa tertahan jika berbicara dengan laki-laki itu.
Benar saja, aku tak bisa menahan diri agar tidak menangis. Beban pikiranku terlalu penuh dan itu membuatku mudah sekali menitikkan air mata. Terlebih, kalimat demi kalimat yang diucapkan Putra membuatku semakin mudah mengundang tangis.
Bahkan selama perjalanan pun sudah tidak terhitung berapa kali aku diam-diam menangis. Kalau saja tidak ada Araz di sampingku, mungkin aku sudah dianggap perempuan yang sedang patah hati. Untung saja kehadiran Araz bisa membuatku menyembunyikan air mata.
“Syukurlah. Aku tahu sih, keberadaan Putra juga bisa jadi obat buat kamu.”
Senyum Araz yang meninggalkan kerutan di ujung matanya itu mengembang. Aku balas tersenyum.
"Makasih, Mas."
“Bagaimanapun juga kalian di masa lalu, tapi saat ini kalian tetap sebagai saudara. Masa iya aku bakal larang kamu ngobrol sama kakak sendiri. Dia juga ‘kan akhirnya bakal jadi kakakku. Haha ... aneh juga rasanya saat sadar kalau bakal kakakku jauh lebih muda.”
__ADS_1
Aku tersipu mendengar pernyataan Araz. Angan-angannya yang menganggap Putra sebagai kakaknya membuatku berpikir jauh ke depan. Dan itu sedikit mengobati gundah atas kebimbanganku untuk pulang.
Hufftt ... aku menghela napas panjang. Lagi-lagi kata pulang mengganggu pikiran. Pembicaraanku dengan Putra pun kembali terngiang. Mungkinkah benar kepulanganku kali ini bisa mengobati luka yang sudah lama bersarang dalam hati? Mungkinkah berbicara dengan mama sanggup menghapus tentang dendam yang sudah lama mengumpal?
Aku tahu, Putra mengatakan hal yang benar saat membicarakan tentang aku dan mama yang sama-sama keras kepala. Sama-sama memiliki pandangan sendiri mana yang benar dan salah. Juga sama-sama tidak mau mengakui jika ada perasaan rindu yang diam-diam mengetuk pintu hati. Aku terlalu pengecut mengakui dan mungkin mama, seperti juga kata Om Eka maupun Putra, jika wanita itu terlalu gengsi dan menjadikan masalah di antara kita tidak pernah selesai.
Jantungku berdegup kencang. Laju kereta semakin cepat membawa kami ke stasiun tujuan. Bahkan kurang beberapa menit lagi. Pikiranku semakin tidak karuan. Apa yang harus kulakukan saat menghadapi orang yang belum ingin kutemui? Apa yang bisa kulakukan untuk menyelamatkan seseorang yang katanya butuh kekuatanku? Dan hal satu yang terus mengganggu pikiranku, sanggupkah aku menemuinya jika terakhir bertemu pun ia masih bersikeras menolak kehadiranku?
"Sebentar lagi kita sampai tujuan. Kamu baik-baik saja 'kan?" tanya Araz membuyarkan lamunanku.
"Iya, Mas. Aku baik-baik saja," ucapku tanpa bermaksud sok tegar, padahal aslinya menahan degub jantung yang semakin tidak beraturan. Hanya saja aku tidak mau membuat Araz semakin khawatir.
Araz mengencangkan pelukannya di pundakku. Sepasang pria dan wanita tengah baya yang tadi sempat menyapa kami, diam-diam melirik dengan ekor mata. Mungkin saja mereka mendengarkan pembicaraan kami dan merasa aneh dengan apa yang telah terjadi. Bisa juga mereka bertanya-tanya apa gerangan yang membuatku begitu cengeng dan tersedu selama di perjalanan.
"Pria yang sempat menyapa tadi, mendoakan agar urusan kamu cepat selesai dan semuanya cepat membaik," kata Araz saat berjalan di sampingku. Menuju penjemput kami yang sudah menunggu di pintu keluar stasiun.
Aku tersenyum menanggapi cerita Araz. “Mereka baik sekali mau mendoakan orang yang bahkan nggak dikenal.”
“Akan selalu ada orang-orang baik yang mendoakan kamu, Kanya. Semua akan baik-baik saja.”
__ADS_1
Lagi-lagi aku hanya tersenyum. Sedangkan laki-laki utusan Om Eka sudah mengambil alih bawaan kami dan membawanya ke mobil yang terparkir tidak jauh pintu keluar stasiun. Selama perjalanan, tidak ada lagi pembicaraan di antara kami. Seperti halnya saat kami melakukan perjalanan yang sama akhir tahun lalu. Hanya saja, kali ini berbeda. Kami diam bukan perkara aku tersinggung oleh pertanyaan Araz tentang Putra. Luka itu telah sembuh. Namun, masih ada luka lain yang menuntut untuk segera disembuhkan pula. Dan, semoga aku bisa.
***
“Non Kanya, mau pulang ke rumah atau langsung ke rumah sakit?” tanya sopir yang dikirimkan Om Eka. Orang yang sama ketika menjemputku dari rumah Almira. Namun, sampai saat ini aku belum berniat untuk menanyakan namanya.
“Antar saja kami ke rumah teman saya, Pak. Yang dulu Bapak sempat jemput saya.”
Aku tahu, lagi-lagi aku pasti merepotkan Almira. Kemarin sebelum berangkat, aku sempat menghubungi sahabatku itu untuk menampungnya barang beberapa hari. Sungguh, urusan pulang tidak semudah itu bagiku. Tempat tinggal yang menyimpan banyak kenangan bersama ayah, rasanya begitu asing saat aku datang. Padahal hanya beberapa jam aku di sana dan itu cukup mengoyak sisi sensitifku yang paling dalam.
“Kenapa nggak langsung ke rumah sakit?” tanya Araz akhirnya bersuara setelah lama kami saling membisu.
“Sudah malam, Mas. Besok pagi saja kita ke rumah sakit. Aku nggak mau ganggu istirahat Om Eka ataupun ... Mama.”
“Ini bukan cara kamu menghindar lagi ‘kan?”
Aku menghela napas panjang. Pertanyaan Araz tidak sepenuhnya keliru. Ini memang caraku mengulur waktu agar tidak segera bertemu dengan wanita itu. Selama perjalanan aku sungguh memantapkan hati dan pikiran untuk mampu bisa menerima semuanya. Rasa sakit, kecewa, juga memaafkan sebagaimana yang dikatakan Putra.
Namun, aku benar-benar belum bisa. Justru jantungku berdetak lebih cepat dan amarah bergemuruh di dalam dada. Seandainya aku paksakan tetap datang dini hari ini pun, pasti akan menambah luka baru yang belum juga sembuh di antara aku dan ... mama.
__ADS_1
“Maaf, Mas. Aku belum bisa. Masih ada perasaan sakit yang belum juga bisa aku terima. Boleh ‘kan, kita ke rumah sakit besok pagi saja? Lagipula, Almira juga pasti sudah menunggu kita dan nggak mungkin tidur sebelum kita sampai.”
Araz tak membantah pernyataanku. Ia hanya tersenyum maklum dan menarik kepalaku lembut agar bersandar di pundaknya. Tempat yang kini terasa begitu nyaman dibandingkan hal lain yang pernah kurasakan sebelumnya. Dengan lembut laki-laki itu membelai rambutku hingga akhirnya aku jatuh tertidur. Melepaskan segala lara yang membuatku bahkan susah bernapas sekalipun.