
Setiap orang terlahir menjadi memori. Semuanya akan berakhir dengan kata-kata. Ah dulu aku belajar bersama dia. Ah dulu aku sering berincang-bincang dengan dia. Ah dulu aku tinggal di indekos yang sama dengannya. Aku hanya berharap apapun memori itu adalah memori yang menyenangkan dan membahagiakan. Membuatmu tersenyum, bukan menangis. Karena tidak ada yang abadi di dunia ini. Yang abadi hanyalah cinta.
Aku membuka mataku secara perlahan. Rasanya dengan membuka mata saja sudah membuatku lelah. Aku tetap berusaha membukanya dan memfokuskan pandanganku. Aku melihat samar-samar beberapa orang sedang memandangku dengan wajah khawatir, tetapi juga antusias. Kenapa ada dokter di kamarku? Aku mendengar suara ibuku memanggil namaku. Aku berusaha menyahutnya, tetapi tidak ada suara yang keluar. Aku merasakan tenggorakanku kering dan aku tidak punya tenaga untuk bersuara.
“Tidak apa. Tidak apa. Jangan dipaksakan, Ai,”ucap seseorang. Aku tidak mengenal suara ini.
Aku tetap berusaha membuka mataku. Akhirnya, aku dapat melihat semuanya dengan jelas. Ada ibu, ayahku, dan juga seorang dokter. Sepertinya aku mengenal dokter ini. Aku mengingat-ngingat kembali di mana aku bertemu dengan dokter ini. Wajahnya benar-benar tidak asing, tetapi aku tidak bisa mengingatnya. Aku mengalihkan pandanganku ke sekililing ruangan. Semuanya berawarna putih. Sepertinya aku sedang berada di rumah sakit. Kenapa aku berada di rumah sakit? Aku ingin bertanya kepada ibu, tetapi aku sama sekali tidak bisa mengeluarkan suaraku.
Dokter tersebut mengambil segelas air yang berada di atas meja yang tidak jauh dari ranjangku. Dia memberikan air tersebut kepadaku menggunakan sendok makan. Aku merasakan tenggorakanku basah dan aku bisa mengeluarkan suaraku.
“Kenapa aku di sini?”tanyaku lirih dan lemah kepada ibuku yang berada di samping dokter tersebut.
“Ceritanya panjang. Nanti akan mama ceritakan ya. Kau istirahat aja,”jawab ibuku. Suaranya sangat antusias melihatku membuka mata dan berbicara.
Aku ingin membalas kembali jawaban ibuku, tetapi aku merasa lelah sekali. Mataku terasa berat sekali. Aku menutup mataku secara perlahan. Aku masih mendengar perkataan ibuku yang menyuruhku untuk istirahat dan jangan memaksakan diri. Aku juga masih mendengar ibuku yang mengobrol dengan dokter tersebut. Lalu, aku merasakan usapan ringan di kepalaku.
“You have done well. Thank you for coming to this world again, Ai. You are strong.”
*****
Aku membuka mataku dan melihat ke sekelilingku. Kali ini aku tidak merasakan lelah dan berat untuk membuka mata. Tenggorakanku juga tidak sakit. Aku menggerakkan kepalaku ke kanan, lalu ke kiri. Aku sedang mencari orang tuaku. Tidak ada di sini. Hanya ada aku. Aku melihat jendela kaca yang lumayan besar dari ruangan ini. Sepertinya sudah sore. Aku melihat jam dinding yang berada di depanku. Pukul 5 sore. Orang tuaku mungkin sedang berada di luar atau berbincang dengan dokter yang tadi.
Berbicara tentang dokter tersebut. Aku mengingat-ngingat kembali di mana aku bertemu dengannya. Aku masih belum bisa menemukan jawabannya. Aku menghilangkan pikiran tersebut dan mulai menyusun memoriku mencari jawaban kenapa aku berada di rumah sakit. Apa yang sudah terjadi padaku? Yang aku ingat adalah aku menangis karena rahasia yang diceritakan May malam itu. Lalu, aku tidur di rumah kontrakanku dan aku..... . Aku bukan di sini. Aku kembali ke masa-masa SMA dulu. Aku bertemu dengannya. Aku bertemu dengan Putra. Dia juga mencintaiku. Dia juga merindukanku. Aku merasakan air mata membasahi pipiku. Semuanya masih terasa jelas. Waktu yang aku habiskan bersamanya masih seperti tadi aku merasakannya. Aku memeluknya untuk yang pertama dan terakhir kalinya.
Aku mencoba untuk duduk. Nafasku terasa tercekat. Aku menepuk-nepuk pelan dadaku. Rasanya sakit sekali mengingat aku tidak bersamanya lagi. Aku menangis terisak dan masih menepuk dadaku.
“Dia mencintaiku. Dia mencintaiku.” Aku terus mengulang kalimat tersebut.
Aku tidak mendengar suara pintu ruanganku dibuka. Aku masih menangis. Suara yang terdengar khawatir sekali dan langkah kaki yang berjalan cepat menghampiriku.
“Kamu kenapa, Ai? Apa yang sakit? Mana yang sakit?”tanyanya khawatir.
Aku tidak menjawab. Aku juga tidak memandang wajahnya. Yang aku tahu dia seorang dokter dari jas putih yang dipakainya. Aku masih saja menangis. Dia tidak bertanya lagi dan hanya memperhatikan aku yang sedang menangis. Perlahan, dia berjalan ke samping ranjang mendekatiku. Dia mengelus kepalaku beberapa kali, lalu merintangkan lengannya di sekitar bahuku. Dia memelukku. Hanya sekilas untuk menenangkanku. Akan tetapi, tangisku justru semakin kencang. Dia menepuk punggungku, sesekali mengelus kepalaku. Tidak mengatakan apapun.
*****
Sudah pukul 10 malam, tetapi aku masih belum bisa tidur. Dokter yang tadi harus meninggalkanku karena ada pasien darurat yang harus diperiksanya. Dia menyesal harus meninggalkanku, sedangkan aku masih menangis meskipun sudah tidak terisak. Aku menyuruhnya untuk segera melihat pasien tersebut. Dia juga tidak boleh terlalu lama di ruanganku. Apalagi dia hanya menenangkanku yang menangis selama 15 menit. Sudah aku bilang, aku paling susah berhenti menangis.
Beberapa menit kemudian, aku diperiksa oleh dokter residen. Seorang perawat membantuku untuk makan malam. Aku kira aku tidak akan merasa lapar, namun ternyata aku menghabiskan semua makanan yang disajikan rumah sakit ini. Jiwa rakusku akan makanan tidak berubah ternyata. Lalu, aku disarankan untuk istirahat. Aku sudah berusaha untuk menutup mataku dan mencoba segala posisi yang enak untuk tidur, aku masih belum bisa memejamkan mataku. Aku ingin melihat langit malam ini. Apakah di sana ada bintang? Aku mengubah posisiku dari yang terbaring menjadi duduk di atas ranjang. Aku memandang jendela kaca rumah sakit yang besar, tetapi tertutupi tirai. Aku masih terus menatapnya. Aku baru mengalihkan pandanganku ketika aku mendengar pintu ruanganku dibuka.
“Masih belum tidur?”tanyanya. Kali ini dia tidak memakai jas dokter. Dia memakai kemeja berwarna abu yang tangan kemejanya digulung sampai siku. Celana bahan berwarna hitam dan sepatu pentafol berwarna hitam. Rambutnya yang kecoklatan disisir ke belakang, namun matanya terlihat lelah. Dia sepertinya kurang istirahat.
“Tidak bisa tidur, Dok,”jawabku.
“Waah. Akhirnya saya mendengar kamu berbicara,”balasnya. Ia sudah berdiri di samping ranjangku.
“Dokter udah dengar saya berbicara tadi. Waktu baru sadar kan saya udah bicara.”
Dia terkekeh mendengar perkataanku. “Kayaknya besok kamu udah bisa pulang. Kamu udah bisa debat,”ucapnya sambil memeriksa selang infus.
Dia kembali ke sampingku dan menatapku. “Apa ada yang sakit? Kamu ada keluhan?”tanyanya.
Aku membalas tatapannya sebagai seorang pasien. “Tidak ada, Dok. Masih aman sampai saat ini,”jawabku. Dia terkekeh lagi mendengar jawabanku. Aku memperhatikan wajahnya dengan hati-hati. Aku ingat pernah bertemu dengannya.
“Kita pernah ketemu ya, Dok? Dokter kayak nggak asing gitu,”tanyaku.
Dia mengambil kursi yang tidak jauh dari meja dan duduk di samping ranjangku. “Oh ya? Nggak asing gimana?”tanyanya. Dia mengambil sebuah apel yang di atas meja. Dia bisa menggapainya dengan tangannya yang panjang. Lalu, ia mengupasnya.
Aku memperhatikan gayanya yang santai seperti tidak bertemu dengan pasien, melainkan teman. Lagipula untuk apa dia duduk di sampingku sambil mengupas apel jika ia sedang memeriksa pasien.
“Saya sepertinya pernah bertemu Dokter, tetapi saya tidak ingat,”jawabku.
“Iya kan tadi pagi pas kamu sadar, kamu ketemu saya,”balasnya.
__ADS_1
Dokter ini sepertinya ingin membuatku semakin sakit. Apa susahnya mempermudah pasien dengan menjawab pertanyaannya dengan benar. Tidak usah berbelit.
“Maaf Dok kalau gitu. Saya mungkin salah orang. Mungkin hanya ingatan-ingatan ayam.” Aku sedang berusaha untuk sopan dan tidak mendebatnya karena dia adalah dokterku saat ini. Aneh saja mengajak dokter ini untuk berdebat hanya masalah ingatan yang samar-samar.
Hening beberapa saat. Dia sedang asyik memakan apel yang dikupasnya tadi. Aku kira dia akan memberikannya padaku. Eh dia memakannya sendiri. Itu juga buah yang ada di kamarku. Kenapa dia santai saja berada di sini seakan dia sudah sering berada di ruangan ini?
“Lapar ya, Dok?”tanyaku.
“Iya, saya belum makan malam. Tadi ada operasi,”jawabnya. “Eh, kamu mau?”tanyanya melihat sorot mataku yang masih memperhatikannya dari tadi.
“Nggak, makasih. Kenapa Dokter ke ruangan saya bukannya makan malam?”tanyaku.
“Kamu beneran nggak mau apelnya? Enak loh,”tanyanya lagi. Dia mengalihkan pembicaraan.
“Aaah. Jangan-jangan dokter salah satu narasumber yang pernah aku wawancarain, ya?” Aku tidak menjawabnya. Aku juga mengalihkan pembicaraan. Emangnya dia saja yang bisa.
Dia menatapku sebentar, lalu berjalan ke arah meja. Dia mengambil segelas air dari dispenser. Dia meletakkan pisau kecil yang dipakainya untuk mengupas apel di atas meja. Lalu, berjalan dan duduk kembali di kursinya. Dia meneguk airnya.
“Kamu benar-benar nggak ingat?”tanyanya. Wajahnya terlihat serius. Keningnya berkerut sedikit dan matanya mengecil.
“Nggak, Dok,”jawabku.
“Kenal Dokter Fani?”
“Iya, kenal.”
“Kalau gitu, kamu udah kenal saya?”
Aku memutar bola mataku ke kanan dan mengingat-ngingat hubungannya dengan Dokter Fani. Aku membuka mulutku, lalu menutupnya dengan tangan kananku. Aku sudah ingat sekarang.
“Anaknya Dokter Fani?”tanyaku.
“Namanya siapa?”tanyanya balik.
“Saya nggak berkesan sekali ya makanya kamu lupa,”balasnya. Matanya terlihat kesal karena aku tidak mengingatnya.
“Bukan begitu. Saya lupa kalau dokter juga dokter.”
“Dokter juga dokter?”
“Maksudnya kalau Bintang juga dokter. Padahal Dokter Fani udah cerita,”jawabku.
“Kamu ingatnya sama Bang Fadlan doang, sih.”
“Nggak jugaa. Saya ingat Bang Ilham, Kak Mona, Zaid, Zahrah, Fika.”
“Tapi lupa sama saya?”
“Soalnya kita nggak ngobrol,”elakku. Aku ingin tertawa melihat raut wajahnya seperti anak kecil yang sedang ingin membela diri, tetapi diurungkannya.
“Alesan aja kamu.”
Aku membalasnya dengan memasang senyum memebela diri. Aku mengakui itu hanya alasan karena aku memang tidak ingat. Dia mengambil ponselnya dari saku celana dan memeriksa pesan yang masuk sejak tadi. Sepertinya pesan dari grup. Dia terus mengabaikannya dari tadi. Aku mengalihkan pandanganku kembali ke jendela yang masih tertutupi tirai. Aku benar-benar ingin tahu apakah ada bintang di langit saat ini, tetapi aku belum kuat untuk berjalan.
“Mau ke sana?” tanyanya yang sudah menyimpan ponselnya kembali ke saku celananya.
“Ke mana?” tanyaku balik.
“Dari tadi kamu lihat jendela itu terus. Yuk, aku bantu ke sana. Kamu pasti bosan ya liat ruangan ini terus.”
Bintang sudah bangkit dari kursinya. Dia menyibak selimut yang menutup kakiku, lalu mengangkat kakiku menuju lantai. Dia melingkarkan lengan kirinya di bahuku membantuku berdiri. Lalu, dia menggeser tiang infus dengan tangan kanannya. Dia membantuku berjalan secara perlahan sambil menggeser tiang infus tersebut.
Selang beberapa menit, kami sudah sampai di depan jendela. Dia menarik tirainya supaya pemandangan malam terlihat. Dia masih melingkarkan lengan kirinya di bahuku. Aku membiarkannya karena kakiku masih belum terlalu kuat.
__ADS_1
Pemandangan malam saat ini indah sekali. Rumah sakit ini berada di pinggir jalan raya. Jadi, suasana jalanan kota Depok langsung terpampang diri sini. Seperti biasa, masih banyak kenderaan yang mondar-mandir di sini. Berbeda dengan jalanan di kampung halamanku. Jam segini sudah jarang terlihat kenderaan. Aku mengalihkan pandanganku ke langit. Gelap. Tidak ada bintang. Berbeda dengan langit di kampung halamanku. Langitnya terlihat cerah bersama bintang-bintang meskipun sudah jam segini.
“Nggak ada bintang,”ucapku kecewa.
Hening sejenak. “Kata siapa nggak ada?”tanyanya.
Aku memutar kepalaku ke kiri melihatnya. Sorot mataku menuntut jawaban. Dia mengalihkan pandangannya kepadaku, lalu tersenyum. “Ini di samping kamu?”
Aku langsung mengubah raut wajahku menjadi datar. Dokter yang satu ini garing sekali leluconnya. Dia tertawa melihat ekspresiku. “Yah nggak salah dong. Kan saya Bintang,”ucapnya di sela-sela tawanya.
“Nggak ada bintang di langit,”koreksiku.
“Nah itu baru benar.”
Dia sudah menghentikan tawanya. Aku juga sudah memusatkan kembali pandanganku ke langit. Mencari-cari bintang. Apa dia tidak merindukanku?
“Meskipun tidak ada bintang, tetapi langitnya indah,”ucap Bintang. Dia juga sedang memandang langit sekarang.
“Benar. Seperti apapun warnanya, langit akan tetap indah,”balasku.
Kami terhanyut dengan pemandangan malam ini. Keramaian kota Depok dan keindahan langit meskipun aku masih belum menemukan bintang di sana. Sebenarnya, aku sedikit kecewa. Ini adalah hari pertamaku kembali ke sini. Aku tidak tahu dia merindukanku atau tidak. Aku menutup mataku dan membisikkan kata-kata cinta padanya di dalam hati.
“Ada bintang di langit,”ucap Bintang. Aku segera membuka mataku.
“Di mana?”
“Itu di sebelah kiri. Kecil. Kayaknya dia jauh banget dari bumi,”jawabnya.
Aku melihatnya. Aku melihat bintang itu. Dia merindukanku sama seperti aku merindukannya. Aku tersenyum bahagia. Aku tidak sadar seseorang sedang menatapku dari tadi.
“Sudah? Mau ke ranjang sekarang?”tanya Bintang.
“Iya,”jawabku sambil tersenyum.
Dia membantuku kembali ke ranjang rumah sakit. Dia mengeratkan rangkulannya di bahuku. Akhirnya, aku sudah sampai di ranjangku.
“Makasih,”ucapku yang masih dalam posisi duduk.
“Nope,”balasnya. “Sekarang waktunya istirahat,”lanjutnya. Dia mengatur bantal dan membaringkanku di kasur.
“Saya bisa sendiri.”
Bintang menegakkan tubuhnya dan meletakkan kedua tangannya dipinggangnya. Dia memasang raut wajah lelah untuk berdebat. “Good night,”ucapnya. Dia berjalan ke arah sofa panjang yang ada di ruangan ini. Tunggu. Dia akan tidur di sini?
Aku menegakkan kembali tubuhku. Dia sudah berbaring di sana. “Kenapa masih di sini?”tanyaku bingung.
Dia mengatur kembali bantal yang sudah berada di bawah kepalanya. “Malam ini giliranku yang menjagamu,”jawabnya.
“Maksudnya?”tanyaku lagi. Giliran? Menjagaku? Orangtuaku kemana? Aku sampai lupa dengan orangtuaku.
“Maksudnya kamu harus tidur sekarang karena ini udah mau tengah malam. Saya juga sudah mengantuk dan ingin istirahat,”jawabnya. Tidak membantu sama sekali.
“Orangtuaku kemana?”
Dia memiringkan tubuhnya menghadapku. Salah satu tangannya berpangku pada bantal di sofa tersebut. “Sedang istirahat di rumah kontrakanmu. Udah jangan banyak nanya lagi. Kita istirahat aja sekarang,”jawabnya. Lalu memutar tubuhnya kembali menghadap langit ruangan ini.
Aku membaringkan tubuhku kembali di kasur. Aku juga memandang langit ruangan ini. Aku baru ingat kalau aku belum menanyakan tentang apa yang terjadi padaku. Apa yang menyebabkan aku berada di rumah sakit. Tiba-tiba sebuah suara membawaku kembali ke dunia nyata.
“Ai... kadang kita memang merasa ada beberapa ketidakadilan di hidup ini. Kita menanyakan kenapa dan bagaimana. Namun, hidup tidak memiliki jawaban yang benar. Memang sudah seperti itu sejak awal. Jangan dipertanyakan. Terima rasa sakit itu, maka kesembuhan juga akan datang. Hasilnya, kamu akan menjadi kuat. Jika kamu sudah terinfeksi dengan satu virus, kamu akan sakit, lalu sembuh. Virus tersebut tidak akan membuatmu sakit lagi meski ia menyerangmu karena sistem imunmu sudah mengenalnya dan sudah kebal.” Bintang menyuarakan pikirannya. Ntah apa maksudnya mengatakan kalimat-kalimat tersebut. Akan tetapi, cukup membuatku tenang.
“Have a sweet dream,”ucapnya lagi. Lalu, memutar tubuhnya menghadap dinding rumah sakit.
“You too,”balasku. Aku hanya ingin menunjukkan jika aku mendengarkan kalimat-kalimatnya tadi. Aku menarik selimutku dan menutup mataku. I will be healed. I believe the pleasure journey is on their way coming to me. Once I meet that pleasure journey, I’ll grasp and hug it tightly.
__ADS_1
Untuk saat ini, aku mungkin akan terus memikirkannya dan merindukannya. Tidak apa. Semuanya butuh proses. Aku yakin akan ada waktunya dimana aku tidak akan memikirkannya setiap hari. Dan ketika aku mengingat memori bersamanya, aku tidak akan menangis. Akan tiba saatnya aku merasa lega dan memahami takdir ini.