
Selama Alcatraz tertidur dalam pelukan Kanya, perempuan itu mencoba menghubungi Hanung melalui aplikasi pengirim pesan singkat. Melihat betapa rapuhnya Araz saat ini, membuat Kanya tidak tega meninggalkan kekasihnya itu sendirian. Mumpung masih dalam suasana peringatan hari ulang tahunnya, Kanya meminta bantuan Hanung untuk membuat pesta kecil-kecilan di apartemennya.
Sang atasan sekaligus teman baik Araz itu, menyambut antusias rencana Kanya. Sebenarnya, Hanung juga memiliki pemikiran yang sama. Hanya saja dia tidak ingin mengganggu acara mereka selama berada di Bandung dan menunggu mereka pulang ke Jakarta. Namun, dalam perjalanan balik, Kanya justru menghubunginya lebih dulu agar membuat pesta kejutan untuk Araz.
Tentu saja Hanung tidak bisa menolaknya. Bagi laki-laki itu permintaan Kanya merupakan suatu keharusan yang harus dituruti. Demi ikatan pertemanan yang sudah terjalin dengan Araz sejak SMA. Terlebih saat perempuan itu mengatakan pada Hanung jika kondisi Araz sedang tidak baik-baik saja.
Hanung tidak bertanya apa penyebabnya, tetapi ia tahu betul apa yang membuat kondisi sahabatnya tidak baik-baik saja setelah pulang dari Bandung. Perjodohan, pertengkaran dengan ayahnya, atau Aksa. Hanya ketiga hal itulah yang bisa membuat perasaan Araz kacau. Dan, demi apa pun, Hanung tidak ingin membahasnya dengan Kanya sekarang.
Makasih, Mas. Mas Hanung bisa minta traktir apa pun setelah ini.
Tulis Kanya di ruang obrolannya dengan sang atasan. Perempuan itu merasa berutang budi pada Hanung yang sudah mau membantunya.
Elah, Nya. Kayak sama siapa aja sih lo. Tapi kalau lo maksa sih, nggak usah repot-repot, cukup belikan puzzle aja. Nanti gue kirim gambarnya. Atau perlu link e-commerce yang jual sekalian? Biar mudah pas lo cari barangnya. 😁
Kanya tersenyum sinis. Hanung paling bisa membaca keadaan dan memanfaatkan peluang. Namun, perempuan itu sudah berjanji akan membelikan apa pun yang diinginkan sang atasan. Jadi, dia harus menepati janji.
Oke deh, Mas. Nanti Mas Hanung kirim aja gambarnya. Gue bakal belikan yang paling sesuai sama budget gue. Nggak usah lo kirim link e-commerce juga. 😏
Tak lama, Hanung membalas pesan Kanya dengan emoticon tawa yang membuat Kanya semakin sinis menanggapinya. Laki-laki itu bahkan juga mengirimkan gambar puzzle sesuai yang dia mau.
__ADS_1
Pilih salah satu. Aku nggak minta dibelikan ketiganya kok. Gue tahu lo paling ngerti yang gue mau. Dan percayalah, butuh keahlian dan kejelian buat ngerakitnya.
Kanya cukup syok dengan kiriman gambar dari Hanung. Tiba-tiba dia merasa menyesal telah mengatakan seenaknya jika akan menuruti semua permintaan laki-laki itu. Kanya lupa jika Hanung lebih licik daripada rubah ataupun ular. Namun, dia tidak bisa menarik ucapannya karena dia bukanlah orang yang tidak bertanggung jawab. Bagaimanapun, Kanya harus memenuhi janjinya untuk memberikan apa pun yang diinginkan Hanung sebagai ucapan terima kasih.
Benar-benar tahu cara memanfaatkan peluang. Gumam Kanya.
Jemari perempuan itu masih membelai rambut Araz yang tertidur pulas dalam pelukannya. Sesekali ia menggumamkan nina bobo agar kekasihnya itu semakin nyenyak menikmati waktu tidurnya.
...****************...
"Aku langsung balik ya. Badanku rasanya lengket banget. Aku mau mandi dan ya ... mungkin akan balik tidur. Kamu juga, istirahat. Kamu pasti capek 'kan, setelah menyetir lumayan jauh." Araz menepuk pucuk kepala Kanya.
Kalau saja tidak ada misi yang harus diselesaikan, Kanya ingin sekali mengiyakan permintaan Araz. Tak bisa dimungkiri jika badan Kanya terasa pegal. Apalagi setelah menggantikan Araz menyetir di sisa perjalanan mereka pulang.
Begitulah, setelah Kanya memaksa, akhirnya Araz menyetujui permintaan sang kekasih agar dia yang mengambil alih kemudi. Hal itu Araz lakukan agar mereka sama-sama selamat dalam perjalanan. Sebab, fokus laki-laki itu semakin terpecah setelah tertidur dalam pelukan Kanya. Mimpinya tentang Aksa membuat Araz bersemangat juga semakin lesu di saat yang bersamaan.
"Masuk dulu boleh nggak sih, Mas? Ada yang mau aku omongin sama Mas Araz sebentar," bujuk Kanya sebelum Araz pergi.
__ADS_1
Kening Araz berkerut heran. Tidak biasanya Kanya memintanya untuk tidak segera pulang ketika kondisi badan perempuan itu cukup lelah. Kanya bahkan menggelayut manja di pundak Araz demi membuat laki-laki itu tidak segera pergi. Sebab, di balik pintu, sudah ada Hanung - dan mungkin juga Shinta - yang menunggu mereka pulang lengkap dengan conffeti.
"Ada apa? Apa nggak bisa dibicarakan lain kali saja?" tanya Araz masih tidak bisa melenyapkan raut heran dari wajahnya. Sedangkan Kanya mulai harap-harap cemas dan mencoba mencari alasan agar Araz tetap mau tinggal.
"Ehmm ... ini soal kerjaan. Ya, ada hal yang mau aku obrolkan soal kerjaan. Ah, itu ... tentang Carol." Tidak ada alasan yang cukup baik dalam benak Kanya untuk menahan Araz agar tidak segera pergi. Ia kehabisan akal. Dan, satu-satunya yang dia pikirkan hanyalah nama musuh bebuyutannya saat ini.
"Nggak biasanya kamu tertarik bahas soal hal remeh kayak gini. Apa bener itu yang mau kamu bicarakan?" tanya Araz mulai curiga. Namun, Kanya segera mengalihkan perhatian dengan membuka pintu apartemen dan bergegas masuk.
Seperti yang dia duga, Araz mengikutinya masuk ke dalam apartemen. Dan, ketika laki-laki itu baru saja duduk di sofa ruang tamu, Hanung, Sinta, beserta anak mereka muncul dari dapur lengkap membawa kue dengan lilin menyala dan confetti yang meriah. Mereka menyanyikan lagu selamat ulang tahun dan tiup lilinnya yang diulang-ulang sampai seluruh lilin padam ditiup oleh Araz.
"Oh, jadi ini alasan kamu minta aku buat nggak pulang dulu?" tanya Araz saat Kanya berdiri di sampingnya. Laki-laki itu memeluk pinggang sang kekasih dan tidak membiarkan Kanya menjauh se-inchi pun darinya. Dia tidak peduli meski Kanya merasa tidak nyaman akibat digoda oleh sepasang suami-istri di depan mereka.
"Ini semua rencana Ibu Bos. Sebagai gantinya, dia bakal belikan aku puzzle tiga dimensi. Eits ... eits ... lo nggak boleh protes ya. Ini kesepakatan gue sama Kanya. Lo nggak boleh ikut campur. Udah, makan kue tart lo dan baru nanti cerita gimana pengalaman pertama kalian pulang ke Bandung. Terutama lo sih, Nya. Lo harus cerita gimana rasanya ketemu calon mertua." Hanung sudah berada dalam mode on. Semua hal yang ingin dia ucapkan, meluncur begitu saja dari mulutnya seakan tanpa memiliki rasa lelah.
Sedangkan Araz mulai terlarut dalam percakapan yang diawali oleh Hanung dan membuat suasana semakin hangat. Begitu juga dengan Sinta yang sejak awal selalu menggoda Kanya yang semakin merah kedua pipinya. Sementara Abi sesekali ikut bersuit ketika orang tua bocah itu menggoda sepasang kekasih yang sedang kasmaran.
Suara tawa memenuhi ruangan yang tidak cukup luas itu. Meski begitu tetap membangun suasana hangat yang tak mungkin ada duanya di tempat lain. Diam-diam Kanya bersyukur, raut muka Araz semakin terlihat membaik saat ini. Itulah hal terpenting yang dipikirkan Kanya dalam benaknya.
...----------------...
Haloooo ... kembali ketemu sama Yoru. Update pelan-pelan sambil nuntasin novel yang lain di lapak si kuning (bisa juga mampir jika berkenan). Tapi kalau mau baca yang gratis aja, di sini deh tempat yang paling tepat. hehehe ...
__ADS_1
Boleh dong dukung Yoru dengan kirim hadiah biar makin giat nulisnya. Atau vote novel ini biar semakin naik rankingnya. 😁😁
Terima kasih buat kalian yang udah membaca sampai sejauh ini.