
Renjana Kanya
Wajahku masih terasa panas. Refleks aku melarikan diri saat Araz mengajukan pertanyaan kapan aku mulai tertarik dengannya. Mana bisa aku menjawabnya? Menatapnya saja tiba-tiba membuatku malu. Dan, apa yang tadi kulakukan? Meminta lelaki itu menunjukkan bekas lukanya. Lagi.
Aku bahkan tidak bisa membayangkan seandainya Araz menolak untuk kedua kalinya setelah... membuat diriku sendiri menjadi umpan bagi hewan buas yang lapar. Hemm... yah walau bagaimanapun, aku menikmati ciuman itu. Hangat, lembut dan...
Oh, damn. Poor Kanya. Lo bener-bener nggak tahu malu! Bisa-bisanya isi otak lo sekarang cuma ciuman dan... Araz.
Dari balik pintu aku masih bisa mendengar suara Araz.
"Kok kabur sih. Jawab dulu dong, Nya."
"Bodo, aku nggak mau jawab!" teriakku dari balik pintu kamar Arez.
Apa lelaki itu tidak tahu betapa malunya aku mendengar pernyataannya. Ah, bahkan aku bisa menebak, ia justru menahan tawa karena melihatku malu-malu. Memang benar-benar lelaki itu. Apa pentingnya dia tahu kapan aku mulai tertarik sama dia? Dan, bisa-bisanya aku langsung mengiyakan ajakan Araz untuk menjalin hubungan. Ini juga bukan yang pertama kali buatku, tapi kenapa aku semalu ini menyadari kenyataan jika kami sekarang... pacaran?
Bener-bener, mikir apa sih lo, Anya! Bahkan nerima Putra aja lo butuh waktu seminggu buat mikir. Ini bahkan nggak ada sejam lo langsung jawab iya aja. Yakin lo ini yang lo harapin dari Araz? Lagian Putra... Ah, kenapa jadi bandingin mereka sih?
Ah ya, soal Putra, aku sama sekali tidak mengabari lelaki itu jika aku harus ke Bandung sejak kemarin. Aku bahkan sengaja mematikan gawaiku, sebab tak mau menganggu pertemuanku dengan Arez yang ternyata benar-benar jauh dari ekspektasiku. Bagaimana reaksi lelaki itu saat tahu aku dan Araz memutuskan buat pacaran?
Yah, kalau kemarin lihat reaksinya sih bakal tak berpengaruh apa pun yang terjadi antara aku dan Araz. Lagian dia sudah memutuskan akan melindungiku sebagai adiknya. Bukan lagi perempuan yang dicintainya.
Huufftt... Aku menghela napas panjang. Senyumku mengembang. Ada beban yang diam-diam terasa melegakan saat melepas dendamku pada Putra. Semudah itu. Ya, semudah itu. Benar kata Damar, kata Almira, kalau aku juga berhak untuk bahagia.
Aku bermaksud beranjak ke tempat tidur saat mendengar suara Araz dari balik pintu. Lelaki itu mengucapkan kalimat yang membuat wajah serta hatiku menghangat.
"Makasih, Rez. Lo udah bawa Kanya dalam kehidupan gue. Gue berutang banyak sama lo. Gue janji, selanjutnya gue yang akan bahagiain Kanya. Tugas lo udah selesai. Waktunya lo tidur dengan damai."
"Makasih Rez, gue juga boleh bahagia 'kan? Sori kalau seandainya gue nggak bisa minta maaf dengan cara yang benar sama lo. Tapi lo mau gue tetep bahagia 'kan? Dan gue udah nemuin kebahagiaan gue berkat lo. Thanks, Arez," bisikku menyambung kalimat Araz.
Senyumku mengembang. Meski masih tersisa duka saat mengetahui fakta yang begitu mengejutkan tentang Arez, aku harus tetap tersenyum. Bagaimanapun Arez sudah menyiapkan semua ini demi membuatku tetap bahagia. Bukan sebaliknya. Meski tak dapat kupungkiri, ada penyesalan yang belum sanggup kusembuhkan. Ya, mungkin dengan seiring berjalan bumi mengelilingi matahari atau mungkin berputar pada porosnya sendiri.
***
Rasanya aku baru saja memejamkan mata saat merasakan sesuatu yang dingin menyentuh pipiku. Mataku mengerjap. Menajamkan pandangan dalam gelap.
__ADS_1
Araz tersenyum saat tatapan kami bertemu. Tangannya yang dingin - mungkin oleh air wudhu atau justru selepas mandi - menyentuh pipiku dan menyalurkan rasa dingin itu melalui ujung jemarinya.
"Bangun yuk, kita mesti balik ke Jakarta sebelum terang. Hanung bisa jadi memburuku sampai ke ujung dunia kalau sampai kamu nggak masuk hari ini."
"Jam berapa sih ini?" tanyaku dengan suara serak khas bangun tidur. Sedangkan Araz masih tak melenyapkan senyum dari bibirnya.
"Jam empat. Bentar lagi subuh. Ayo bangun-bangun!"
Pantas saja rasanya kepalaku pusing. Aku baru tertidur tiga puluh menit setelah usai berbincang dengan Arez pukul 01.00 tadi. Sedangkan aku tak pernah bisa benar-benar terlelap karena memikirkan lelaki itu. Baru tiga puluh menit yang lalu saat kesadaranku pelan-pelan menghilang dan jatuh tertidur. Sialnya, Araz sudah merusak momen ternikmat yang baru saja kurasakan.
"Kanya, bangun. Mau kamu, aku tinggal di sini?" ancam Araz masih berusaha membuatku bergerak dari tempat tidur. Sedangkan aku masih bersikukuh memejamkan mata sebagai pertahanan agar lelaki itu menyerah.
Namun Araz justru menarik tanganku agar aku keluar dari kepompong yang kubuat dengan selimut. Sekalipun aku tak bergerak dari tempat tidur yang terasa nyaman dan hangat.
"Lima menit deh, ya?"
"Nggak bisa Kanya. Ini hari Senin dan kita bisa saja kejebak macet sewaktu-waktu kalau nggak berangkat sekarang juga." Araz masih mencoba membangunkanku.
"Aduh, serius deh Mas. Masih ngantuk banget aku tuh," ucapku merajuk yang justru membuat Araz semakin gencar membangunkanku.
Pada usahanya yang kesekian kali, akhirnya aku mengalah pada Araz. Kusibak kepompong yang membalut tubuhku selama aku terpejam. Lelaki itu tersenyum sambil mengelus pucuk rambutku dengan mesra. Membuat perutku tiba-tiba terasa geli seperti ada ribuan kupu-kupu terbang di bawah sana. Sebelum dia meninggalkan kamar Arez, tak lupa ia mengecup kening dan juga kedua mataku. Membuatku semakin salah tingkah.
Bisa-bisanya Araz selalu membuatku salah tingkah hanya beberapa jam setelah kami... jadian.
Wait, jadi... Eh? Serius gue punya pacar? Araz? Kami? Oh my God, dia liat wajah bangun tidur gue?!
"Aaa... bisa salah tingkah mulu gue kalau kek gini caranya!" teriakku sambil menyembunyikan wajah di atas bantal. Sungguh aku merasa malu jika harus bertatap muka lagi dengan Araz.
***
Ayah bersikeras meminta Pak Yanto - sopir pribadi keluarga ini - mengantarkan kami balik ke Jakarta. Katanya, Araz tidak boleh menyetir terlalu jauh sebab kondisi kesehatannya belum stabil. Beliau juga melarang keras saat aku menawarkan diri untuk mengemudi. Bahaya katanya, kalau perempuan menyetir jarak jauh. Padahal aku sudah terbiasa menyetir jarak jauh jika sewaktu-waktu ingin melepas penat. Bahkan ketika kuliah pun jarak tempuh yang lumayan jauh juga kulalui setiap hari.
"Jangan lupa sering main ke sini ya, Nya. Bunda pasti bakalan kangen sama kamu," kata Bunda sambil memelukku saat kami berpamitan.
"Oh Kanya aja nih yang bakal dikangenin sekarang?"
__ADS_1
Araz merajuk saat bunda lebih lama memelukku dibanding saat memeluk lelaki itu. Diam-diam aku tersenyum. Lelaki itu, ternyata juga memiliki sisi sebagai anak kecil.
"Astaga anak Bunda yang satu ini. Manja banget sih kamu." Bunda membalas dengan mengacak-acak rambut Araz. Sedangkan ayah hanya tertawa melihat kelakuan lelaki yang kini sudah dianggap sebagai anaknya sendiri. "Kalian jaga diri ya. Hati-hati di jalan. Kanya, Bunda minta tolong sama kamu, pastikan Araz selalu baik-baik saja ya. Terkadang dia selalu bandel jika udah melakukan hal yanh dia suka."
Wajah perempuan setangah baya itu mendung saat berpesan padaku. Aku tahu, setelah kepergian kami, bunda pasti akan kembali merasa kesepian.
"Iya, Bunda," jawabku singkat sambil melemaskan ujung bibirku. Bunda mengusap pucuk kepalaku sebelum melepas pelukannya. "Kami, pamit balik dulu ya Bunda, Ayah."
"Iya, tuh Pak Yanto juga udah siap," kata Ayah benar-benar tak terbantahkan.
Sosok yang dipanggil Pak Yanto sudah siap di samping pintu mobil. Menggagalkan rencanaku untuk menyetir sampai Jakarta menggantikan Araz.
"Nggak apa-apa, harusnya seneng kan kita bisa duduk deket-deketan," goda Araz sebelum masuk mobil. Aku hanya menghela napas saat menyusulnya.
Akhirnya kami berdua duduk di jok belakang dengan memasrahkan Pak Yanto memegang kendali. Inilah mengapa aku tadi bersikeras ingin menyetir menggantikan Araz. Duduk berdua dengan jarak tanpa sekat antara aku dan Araz membuat jantungku berirama tanpa aturan. Sialnya lelaki itu mengetahuinya dan semakin gencar menggodaku.
Araz duduk berdekatan dan menyudutkanku agar tak mudah bergerak. Padahal bangku di sisi kananya masih cukup lega jika harus menampung satu orang lagi. Dia memang sengaja melakukannya. Menyebalkan.
Jelas saja kelakuannya itu membuat Pak Yanto tersenyum saat melirik kami dari spion tengah dan sukses membuatku malu setengah mati. Lagian tak biasanya aku begitu malu hanya dengan duduk berdampingan dengan seorang lelaki. Apalagi hanya dengan membayangkan jika kami sekarang sudah resmi berpacaran.
Astaga, lagi-lagi kata itu muncul dalam benakku. Memancing semburat merah di pipiku. Meski aku tak bisa jelas melihatnya, setidaknya aku bisa merasakan bagaimana merahnya pipiku saat ini.
"Nggak usah malu kalau mau tidur. Bahu Abang siap sedia kok buat jadi sandaran," kata Araz sambil memamerkan senyum dengan kerut di ujung mata dan lesung di kedua pipinya.
"Nggak deh, ntar ada yang iseng lagi kalau aku tidur."
Tawa Araz mencair. Lelaki itu meraih kepalaku dan menyandarkannya di pundaknya.
"Udah, tidur aja. Nggak usah malu-malu gitu dong, Nya. Sama pacar sendiri ini. Ya 'kan Pak Yanto?" tanya Araz meminta pendapat lelaki yang sedang fokus menatap jalan. Pak Yanto hanya mengangguk ramah sebelum kembali fokus mengendalikan kemudi.
Sedangkan tubuhku mendadak kaku dan kehilangan kata harus membalas bagaimana. Reaksiku benar-benar membuat tawa Araz semakin lebar.
"Kamu gemesin banget sih kalau malu-malu gini," ucapnya sambil mengecup puncak kepalaku.
Duh Tuhan, lindungi jantungku biar nggak meledak nerima perlakuan Araz.
__ADS_1