
Hidup ini penuh dengan pertemuan dan perpisahan. Kamu bertemu dengan orangtuamu, lalu berpisah. Bertemu dengan orang-orang baru, berteman, lalu berpisah. Bertemu dengan tempat baru, lalu meninggalkannya. Tidak ada perpisahan yang tidak menyedihkan. Semuanya membuat hatimu kosong. Terkadang kamu akan menangis. Jenis tangisnya juga berbeda. Tergantung dengan siapa kamu berpisah. Hatimu sebentar akan merasa hampa. Lalu rindu. Ditahan dengan menyibukkan diri. Ada yang berhasil. Ada yang tidak. Karena pada dasarnya hati setiap orang berbeda. Semua orang pernah mengalami perpisahan, anehnya kebanyakan tidak bisa mengatasinya dengan baik. Pada akhirnya, waktu yang membuatnya menjadi biasa. Waktulah yang mengatasinya.
Terkadang aku bertanya, perpisahan apa yang lebih sakit? Berpisah dengan seseorang yang kamu cintai, tetapi kamu bisa melihat wajahnya? Meskipun ia bukan milikmu. Atau berpisah dengan seseorang yang kamu cintai, tetapi kamu tidak bisa melihat wajahnya lagi? Aku mengetahuinya sekarang. Dua-duanya tetap menyedihkan. Tidak ada yang lebih sakit. Berpisah dengan seseorang yang kamu cintai akan menyakitkan. Tidak peduli seperti apa perpisahannya.
Hari ini waktuku berjalan seperti biasa. Pergi ke sekolah, bercengkrama dengan teman-temanku dan Putra, dan belajar meskipun tidak bisa diartikan belajar dalam arti sesungguhnya bagiku. Aku terbangun dengan rasa sakit kepala yang luar biasa. Rasa sakitnya sama dengan rasa sakit yang aku rasakan ketika aku pertama kali datang ke dunia masa lalu ini. Apakah waktuku akan segera selesai? Karena ketika aku terbangun, aku sudah berada di waktu yang tidak sama lagi. Apakah jika aku tidur, aku tidak akan di sini lagi? Semuanya berkecamuk di kepalaku. Aku berusaha untuk menyikapinya dengan santai, tetapi ini bukan hal yang harus disikapi dengan santai. Ini berkaitan dengan hatiku.
Aku sudah meminum obat sakit kepala yang diresepkan ibuku dan sakitnya sudah mereda. Aku bahkan tidak merasakan sakit lagi. Akan tetapi, perasaanku mengatakan aku sudah sampai di akhir waktu. Sekarang, aku duduk di tribun lapangan basket. Teman-temanku dan juga Putra sedang asyik bermain basket. Aku memperhatikan mereka dengan sorot mata merindu, khususnya Putra. Dia tampak sangat menikmati waktunya bersama teman-teman. Aku juga akan merindukan waktu-waktu seperti ini karena setalah kami lulus SMA, semuanya sibuk dengan kegiatan masing-masing dan kami jarang bertemu. Semuanya juga sudah menyebar ke seluruh penjuru negeri ini. Masa SMA memang masa yang paling membahagiakan.
Aku menolehkan pandanganku ke seberang tribun. May sedang duduk sendiri di sana. Aku segera berdiri dan berjalan menuju tempatnya. Aku harus menyelesaikannya sekarang.
“Hai, May,”sapaku sambil duduk di sampingnya.
Raut wajahnya tampak terkejut melihatku, tetapi segera ditutupinya. “Hai,”balasnya.
Hening untuk beberapa saat. Tidak ada lagi yang membuka suara.
“Aku minta maaf.” Aku masih memusatkan pandanganku pada Putra.
May tidak membalas permintaan maafku. Aku memandangnya. Dia juga sedang memusatkan pandangannya ke lapangan. Kami mungkin memandang orang yang sama.
Aku manarik nafasku dan mengatakan apa yang ingin aku katakan. “Maaf karena sudah mendekati Putra di saat aku tahu kau menyukainya. Waktu tidak akan memberi tahu kapan rasa suka akan muncul dan bagaimana. Aku harap kau mengerti.”
Dia meluruskan punggungnya dan mengangkat kakinya bersila. Dia meremas-remas tangannya. “Awalnya aku tidak mengerti,”ucapnya masih tidak memandangku. “Teman yang mendukungku untuk terus menyukai Putra, ternyata juga menyukainya. Aku juga tahu kau tidak menyadari telah menyukainya.”
Aku tidak menyangkalnya karena aku memang tidak tahu aku menyukai Putra dulu. Aku menyadarinya setelah dia pergi meninggalkan kami. Menyedihkan, bukan?
“Awalnya, aku memang berniat membuat Putra suka padaku meskipun aku sudah lama tahu kalau Putra menyukaimu. Menurutku, hati bisa dengan mudah berubah jika aku terus bersama dengannya. Ternyata tidak semudah yang kubayangkan. Dia tetap menyukaimu. Diam-diam tersenyum melihatmu, mendengarkan semua perkataanmu meskipun sedang tidak berbicara dengannya, khawatir melihatmu terus berada di belakang pintu kelas, berada di sampingmu ketika kau sedih dan marah, dan tertawa melihat hal konyol yang kau lakukan. Semua teman-teman mampu melihat itu. Hanya kau yang tidak. Itu membuatnya sedih. Belum lagi kau terus menjodohkanku dengannya.” May menceritakan semuanya. Matanya terlihat sendu, tetapi tetap fokus dengan seseorang di lapangan sana.
Aku tidak membalasnya karena dia sepertinya masih ingin melanjutkan ceritanya.
“Tau nggak kau? Dari tadi dia melihat ke sini terus. Wajahnya terlihat khawatir dan juga penasaran. Tetapi, aku tahu dia lagi khawatir samamu. Mungkin khawatir aku akan membuatmu berubah pikiran. Melihatnya begitu bahagia akhir-akhir ini membuatku berpikir aku seharusnya melepaskannya sejak dulu dan mengatakan padamu kalau dia sangat menyukaimu. Awalnya, aku memang marah padamu karena merasa kehilangan seseorang yang mendukungku. Tetapi aku sadar, kau juga harus bahagia. Dia juga harus bahagia. Bohong kalau aku tidak merasa sakit hati. Aku juga ingin marah, tetapi aku tahu aku juga tidak berhak marah. Aku sedang menenangkan diriku dan mencernanya dengan baik agar aku tidak menyakiti kalian.”
Air mataku mengalir. May akan tetap menjadi sahabat terbaikku. Sampai kapanpun. Aku tahu dia tidak mungkin membenciku hanya karena aku menyukai laki-laki yang disukainya. Aku tahu aku juga salah karena telah menyukai Putra di saat aku tahu dia juga menyukainya. Akan tetapi, dulu aku sudah mengorbankan waktu yang harusnya kuhabiskan bersama Putra. Aku tidak ingin mengorbankannya lagi kali ini.
“Kau tau, Ra. Aku tidak akan meninggalkanmu hanya karena laki-laki. Perjalanan kita masih panjang. Kita baru berumur 16 tahun, pasti akan bertemu dengan banyak pria nanti di masa depan, yang lebih keren dari Putra. Jadi, jangan korbankan kebahagiaanmu untukku. Pilih saja cinta daripada sahabat. Karena sahabat itu seperti rantai. Akan tetap terlilit erat meskipun cinta berusaha melepaskannya. Sahabat tidak selemah dan serapuh kerupuk. Yang disiram air saja sudah mengerut dan terkena angin saja menjadi melempem. Aku akan menudukung hubungan kalian. Lagipula, Putra sukanya samamu. Dia pasti lebih bahagia samamu lah daripada aku.”
May mengakhirinya dengan mengelus bahuku. Sedangkan aku sedang menghapus air mataku dengan tanganku. Menyesali sikapku dulu. Aku seharusnya tidak mengikuti kesimpulan-kesimpulan yang kubuat dulu. Aku harusnya jujur saja, maka semuanya menjadi jelas. Berlagak mengorbankan kebahagiaan sendiri demi sahabat, sedangkan sang sahabat tidak mempermasalahkan apa yang terjadi. Sakit hati itu wajar ketika mencintai seseorang. Karena namanya jatuh, pasti merasakan sakit. Namun ada yang ringan dan berat. Dan lagi tergantung orangnya. Pada akhirnya, kami berdua bersama-sama merasakan sakit hati yang sama dengan orang yang sama.
Aku menggapai kedua tangannya. “Maaf, May. Aku minta maaf,”kataku. Aku terus mengulanginya.
“Nggak apa-apa. Ngapain minta maaf kau,”balasnya dibarengi dengan sedikit tawa karena melihatku menangis tersedu-sedu. Dia terus menepuk bahuku untuk menenangkanku. Aku tahu dia juga menangis karena sesekali dia juga mengarahkan tangannya ke wajahnya, menghapus air matanya. Aku akan meminta maaf langsung pada May setelah aku kembali ke masa depan, tekadku.
Aku sudah tidak menangis lagi dan merasa tenang. Aku menikmati hembusan angin yang melintas di depan wajahku. Aku melihat May juga menikmatinya. Aku tersenyum karena semuanya sudah jelas. Tidak ada rasa dendam atau benci di antara kami.
Aku memandang May sekilas, lalu mengatakan apa yang ingin aku katakan.
“Ternyata semuanya akan indah jika semuanya jujur dulu. Meskipun pada akhirnya kita yang akan menangis,”
“Menangis karena apa?”tanyanya.
“Karena waktu. Setiap orang mempunyai waktu yang berbeda di dunia ini. Kita berharap kita akan memiliki waktu yang sama dengan orang yang dicintai. Tidak salah berharap karena hidup memang tempat untuk berharap. Masalahnya, hidup suka sekali dengan kejutan. Dan waktu berteman baik dengan hidup. Mereka selalu bersama. Jika waktu pergi, maka hidup juga pergi. Selagi mereka sedang berjalan bersama, aku juga ingin berjalan bersama mereka.”
May memandangku dengan sorot mata bingung dan raut wajah tidak mengerti. Aku tertawa melihat ekspresinya. “Nggak usah dipikirin. Nanti juga kau akan ngerti sendiri.”
“Makanya, nggak usah sok puitis gitu kau,”balasnya.
Aku mencubit pipinya yang chubby. Dia meraih tanganku untuk melepaskannya dari wajahnya. Matanya membuat sorot kebencian, tetapi aku tahu itu tidak serius. Bukannya takut, aku justru menertawainya.
“Kau tau May, kau akan selalu menjadi sahabatku.”
“Tau lah. Kan temanmu cuman aku sama Malik aja,”balasnya. Dia berdiri dan meregangkan kakinya yang bersila dari tadi.
“Ayo ke kelas, bentar lagi pelajaran baru,”ajaknya.
“Ayooooo,”balasku sambil merangkul lengannya. “Kau tetap nggak berubah ya May. Tetap pendek,”lanjutku. May membalasnya dengan menggelitik pinggangku. Aku segera menjauh darinya karena aku tidak tahan dengan rasa geli. Aku senang aku mengakhirinya dengan bahagia. Tidak ada rasa benci dan dendam, meskipun rasa cemburu pasti ada. Tidak ada yang bisa menyembuhkan patah hati tanpa rasa cemburu. Melihat orang yang tidak dikenal bermesraan juga terkadang membuatmu cemburu. Percaya saja dengan waktu karena untuk sembuh juga membutuhkan proses.
*****
Saat ini aku sedang berada di kantin bersama Putra. Dia langsung mengajak dan menarik tanganku sesaat bel tanda istirahat berbunyi. Aku tahu dia pasti penasaran dengan apa yang aku bicarakan dengan May tadi. Terlebih dia juga melihatku menangis. Aku tahu dia ingin mendekat, tetapi aku sudah mengatakan padanya bahawa aku ingin menyelesaikannya sendiri.
“Duduk di tempat biasa aja. Aku pesan sotonya dulu,”suruhnya setelah kami sampai di kantin.
Dia duduk di depanku setelah memesan soto dan es teh seperti biasa. Sorot matanya menunjukkan dia sedang menungguku untuk menceritakan kejadian tadi. Tetapi aku ingin menggodanya. Aku pura-pura tidak mengerti dengan sorot mata itu.
__ADS_1
“Nggak usah pura-pura,”ucapnya dengan raut wajah kesal. Keningnya di wajanya mengerut dan matanya berubah seperti burung hantu.
Aku memasang wajah tidak mengerti dengan maksud perkatannya. Dia mendengus melihatnya. Aku pun tertawa karena sepertinya dia memang sudah kesal sekali.
“Kami udah baikan. Semuanya udah selesai. May nggak benci samaku dan juga samamu. Dia bahkan senang kita dekat,”ceritaku.
“Serius?”tanyanya tidak yakin. Dia melipat dadanya di depan dan menyipitkan matanya. “Terus kenapa kau nangis?”tanyanya lebih lanjut.
Aku menatap matanya. “Iya. Aku nangis karena aku terharu aja sama kata-katanya. Kalau tahu kau bakalan sebahagia ini, dia ingin berhenti mendekatimu lebih awal. Itu katanya.”
Putra mengalihkan pandangannya yang tadinya juga menatap mataku ke es teh di depannya. Lalu ia mengatakan “Ohh.”
“Oh doang?”tanyaku. Nada suaraku sedikit meninggi.
“Terus aku harus bilang apa emangnya?”tanyanya balik.
Aku menyeruput kuah soto di depanku, lalu menatapnya. “Kau tahu nggak dia sayang kali samamu?”
Putra kelihatan jengah karena perkataanku. “Kau tahu nggak aku juga sayang kali samamu?”balasnya sambil menatap kedua mataku. Ada binar-binar cahaya di sana.
Wajahku memerah dengan ucapannya yang jujur. “Tau,”jawabku.
“Ya udah. Aku sayang samamu. Kau juga sayang samaku,”balasnya lagi. Tidak ada rasa canggung dan gugup sama sekali.
“Loh emang aku pernah bilang sayang?”balasku. Aku tersenyum jenaka dan ia membalasnya dengan wajah tidak percaya.
“Memang cuman aku aja yang sayang,”balasnya. Raut wajahnya seperti sedang kecewa.
Aku mengubah raut wajahku menjadi lebih serius dan menyesal. “Bercanda. Sayang kok sayang.”
“Seberapa sayang?”
Aku diam sejenak dan menatap matanya. Aku membentuk senyum di wajahku.
“Sampai aku kembali ke sini.”
“Makasih,”balasnya.
“Untuk?”
“Aku juga. Terima kasih karena sudah menyayangiku.”
Untuk kesekian kalinya. Hari ini aku juga merasa bahagia. Jujur memang salah satu kunci kebahagiaan. Karena ketika dirimu jujur, cinta juga akan jujur. Dirimu akan bahagia. Dia juga akan bahagia. Indah sekali hidup jika terus begini.
*****
Aku terbangun dari tidur siang karena kepalaku yang terasa berat dan seperti ditusuk. Aku merasakannya lagi, sakit kepala ini. Aku segera meminum obat yang diresepkan ibuku. Sakitnya berkurang, tetapi hanya sedikit. Mungkin inilah ujung perjalananku. Sebelum aku kembali, aku ingin berpamitan terlebih dahulu kepadanya. Hari ini Putra ada rapat pramuka sepulang sekolah. Aku juga langsung pulang ke rumah. Sedikit aneh karena biasanya aku menghabiskan beberapa jam terlebih dahulu bersamanya. Aku mengirimkan pesan untuk bertemu dengannya di jembatan penyebrangan depan gang rumahnya malam nanti.
Malam pun tiba. Aku sudah di sini sejak 15 menit yang lalu, menikmati pemandangan malam kota ini. Seperti biasa, jalanan ini tidak ramai. Hanya beberapa lampu jalan yang terlihat. Langit terlihat penuh dengan bintang malam ini. Anginnya tidak sekencang biasanya, tetapi tetap menyejukkan. Aku memakai celana jeans, kaos berwarna putih, dan jaket hitam kesayanganku. Aku membiarkan rambutku digerai. Aku memakai kacamata untuk menutupi mataku yang sembab. Bukan karena menahan rasa sakit di kepalaku, tetapi mengingat ini adalah hari terakhir aku melihatnya. Ntah kenapa aku memiliki firasat seperti itu.
Aku mendengar suara langkah kaki mendekat ke arahku dan berhenti tepat di sampingku. Aku mengalihkan pandanganku padanya. Dia memakai celana jeans hitam dan kaos panjang polos berwarna coklat. Rambutnya menutupi sebagian dahinya. Dia tidak menata rambutnya. Dia tersenyum kepadaku.
“Padahal aku udah 10 menit datang lebih awal dari janji. Ternyata kau udah di sini,”ucapnya.
Aku tersenyum mendengar gerutuannya.
“Coba lihat langitnya. Cantik.”
Dia mengalihkan pandangannya ke langit. Dia tersenyum melihat betapa indahnya langit malam ini. “Aku senang bisa melihatnya samamu,”ucapnya sambil menatap mataku. Raut wajah penuh bahagia terlukis di sana. Aku menjadi tidak tega untuk merusak kebahagiaan itu.
Sakit di kepalaku semakin lama semakin parah. Aku harus segera mengatakannya. “Adhikari, dengar baik-baik ya dan jangan dipotong. Akhir-akhir ini aku sangat bahagia sampai-sampai aku ingin menjadi serakah. Tetapi, Tuhan akan membenciku jika aku melakukannya. Kau adalah seseorang yang sangat spesial dan akan terus seperti itu. Aku... aku... aku sangat menyayangimu. Kau ada atau tidak, aku tetap menyayangimu. Aku minta maaf karena tidak memikirkan perasaanmu dan lebih mementingkan keinginanku. Padahal kebahagiaanmu salah satunya ada padaku. Begitu juga aku, kebahagiaanku ada padamu salah satunya. Terima kasih karena menjadikanku sebagai orang yang spesial dan terima kasih sudah menyayangiku. Aku dapat merasakan rasa sayang itu. Dan... aku bahagia.... aku bahagia... Kau harus tahu itu. Dan itu karenamu. Terima kasih.”
Berhasil. Aku berhasil mengatakannya tanpa menangis. Aku bertekad untuk tidak menangis. Aku tidak ingin menjadikan perpisahan ini terkesan menyedihkan. Meskipun sebenarnya memang menyedihkan.
Putra hanya diam dan terus menatapku. Wajahnya terlihat sedih dan matanya memerah. Air mata mengalir ke pipinya. Aku heran dan bingung. Apa yang membuatnya menangis? Sebelum aku bertanya, dia menarikku ke pelukannya, menenggelamkan kepalanya di bahuku. Dia terisak dan memelukku semakin kencang. Aku membalas pelukannya dan menepuk punggungnya. Aku masih bertanya-tanya penyebab Putra menangis. Namun, semuanya terjawab.
“Jangan pergi. Jangan pergi,”ucapnya masih terisak. Aku tidak bisa lagi membendung air mataku. “Maaf, tapi... tapi... aku ingin kau di sini. Aku minta maaf.”Putra terus mengulang kata maaf dalam isakannya. Aku mengencangkan pelukanku padanya dan ikut terisak. Bagaimana aku akan kembali kalau seperti ini?
Aku memandang jalan di depanku dan juga memandangnya sesekali. Aku tak bisa membaca raut wajahnya. Aku tidak bisa menyimpulkan perasaannya. Dia masih memfokuskan pandangannya ke jalan sambil mengenggam tangan kananku. Tak sekalipun dilepasnya. Sesekali dia mempererat genggamannya seakan takut aku akan menghilang tiba-tiba dari hadapannya.
“Kau sudah tahu. Sejak kapan?”tanyaku berusaha memecahkan keheningan ini.
Dia tidak langsung membalas, namun mempererat kembali genggamannya. Dia menghembuskan nafasnya, lalu memandangku. “Sejak awal.”
__ADS_1
Aku terkejut mendengarnya. Apakah dia berpura-pura selama ini?
“Aku tidak berpura-pura. Aku jujur dengan perasaanku. Kau... kau bukan berada di masa lalu.” Dia menjawabnya seakan-akan mengetahui isi pikiranku.
Maksudnya tidak berada di masa lalu? “Terus aku di mana?”tanyaku.
“Ini seperti di alam mimpi, tetapi ini nyata,”jawabnya. Dia memandangku. Sorotan matanya terlihat sendu sekali dan berair.
“Aku masih belum mengerti,”balasku.
“Kau ingat kau sering bermimpi aku mengajakmu untuk pergi bersamaku?”
“Iya.”
“Dan di akhir mimpi aku selalu meninggalkanmu,”lanjutnya.
Aku ingat dengan jelas semua mimpi-mimpi itu. Dia akan mengajakku pergi ke suatu tempat bersamanya. Aku bersiap-siap dan dia menungguku. Namun, ketika aku sudah siap, dia sudah tidak ada lagi di sana. Lalu, aku akan terbangun dan kecewa. Terkadang aku akan menangis.
“Itulah yang sedang terjadi. Tetapi aku sebenarnya nyata.” Dia melanjutkan perkatannya.
“Tapi yang lainnya? Yang lain juga....”
“Hanya aku dan Malik yang nyata. Ini yang akan terjadi jika kita sama-sama jujur.”
Aku mengerutkan keningku. Jadi, aku sebenarnya berada di alam mimpi, bukan masa lalu? Aku memandang Putra dengan raut wajah kebingungan. Dia mengeratkan kembali genggamannya dan tersenyum.
“Jangan bingung. Kau akan mengerti setelah kau bangun,”ucapnya. Dia melepaskan genggamannya. Dia menarik lenganku dan memelukku. “Aku mendengar semua yang kau ceritakan di sana. Setiap kau mengatakan kau rindu samaku. Aku ingin mengatakan aku juga merindukanmu. Di saat kau mengatakan kau mencintaiku. Aku juga ingin mengatakan aku mencintaimu. Dan akhirnya, aku bisa mengatakannya. Aku juga sangat merindukanmu dan aku juga sangat mencintaimu, Aira Putri.” Dia meletakkan dagunya di kepalaku.
Aku melepaskan pelukannya dan menatap matanya. Aku melihat kejujuran di sana. Dia sama sekali tidak berbohong. “Kenapa baru mengatakannya sekarang?”
Dia membalas menatap mataku dan memegang bahuku dengan kedua tangannya. “Karena aku tidak boleh mengatakannya. Aku hanya bisa membuat keputusan di akhir perjalanan. Membawamu atau meninggalkanmu.”
“Dan kau selalu meninggalkanku.”Aku memotong penjelasannya.
Dia menggapai jemari kananku dan menggenggamnya. “Karena banyak orang yang menyayangimu di sana. Aku tidak tega merampas kebahagiaan orangtuamu.” Dia memutar tubuhnya menghadap jalan, lalu mengadahkan kepalanya ke langit. Tanganku masih dia genggam. “Karena kebahagian orangtuamu ada padamu. Aku tidak bisa menukar kebahagiaanku dengan kebahagiaan orangtuamu.”
Hening. Kami berdua sibuk dengan pikiran masing-masing. Aku tahu itu. Kebahagiaanku juga berada pada orangtuaku salah satunya. Aku sangat menyayangi mereka dan bahkan rela melakukan apapun untuk membuat mereka bahagia.
“Lagipula, waktumu juga masih berjalan. Awalnya, aku ingin menjelaskan semua yang terjadi dulu padamu. Berhenti membuatmu bingung dan menjadi satu-satunya yang tidak memahami situasi yang terjadi dulu.” Dia menghentikan ceritanya. Dia menatapku untuk melihat raut wajahku. Dia menghapus air mata yang mengalir di pipiku. “Lalu, aku akan meninggalkanmu seperti dulu.” Air matanya mengalir. Dia membiarkannya.
“Lalu kenapa nggak kau lakuin?”tanyaku.
“Karena di hari pertama kita menghabiskan waktu bersama, aku merasa sangat bahagia. Lalu, aku menjadi serakah. Sama sepertimu. Aku juga ingin menghabiskan waktu lebih lama bersamamu.”
Air mataku tidak bisa berhenti mengalir. Kami memiliki perasaan yang sama, tetapi kami tidak pernah bersama. Kenapa takdir kami sangat menyedihkan?
“Lalu bagaimana dengan sekarang?”tanyaku terisak.
Putra mengusap pelan kepalaku sebelum dia mengadahkan kepalanya ke langit. Lalu mengalihkannya ke jalanan yang hanya dilewati oleh beberapa kenderaan.
“Aira, Aira yang sangat aku sayangi. Jika kau melihat langit dan terdapat bintang yang cerah dan berkedip-kedip seperti sedang mendengarkan ceritamu dan bersamamu, itu aku. Meskipun di langit tidak ada bintang. Lalu kau menutup matamu dan seperti melihat bintang sedang memperhatikanmu. Itu aku. Aku akan bersamamu seperti langit di siang hari dan bintang di malam hari.” Dia menatapku. Dia berusaha tersenyum, tetapi yang keluar justru air mata.
“Kau akan meninggalkanku lagi?”tanyaku menggenggam tangannya.
“Kau tahu aku sangat menyayangimu. Aku bahagia jika melihatmu bahagia. Waktumu masih berjalan.” Dia menggenggam kedua tanganku dengan kedua tangannya. Lalu membawanya ke dadanya. “Aku berjanji. Di kehidupan selanjutnya, aku tidak akan meninggalkanmu secepat ini. Aku akan mengenggam tanganmu seperti ini dan tak akan melepaskannya.”
“Apa aku akan bahagia?”tanyaku.
“Kau akan bahagia,”jawabnya.
“Apa aku bisa mencintai orang lain lagi?”
“Kau akan mencintai orang lain lagi.”
“Apa kau akan baik-baik saja?”
“Iya. Aku akan baik-baik saja. Aku bahagia jika kau bahagia. Ingat saja itu. Tetapi di kehidupan selanjutnya, aku tidak akan merelakanmu untuk dimiliki orang lain.”
Aku melepaskan tanganku yang digenggamnya. Aku mengusap air mata yang semakin deras mengalir dengan tanganku. Dia terkekeh melihatnya. “Sini aku peluk lagi,”ucapnya, lalu menarikku ke pelukannya.
Aku meluapkan perasaanku di sana. Sakit sekali rasanya dada ini. Aku bahkan tidak merasakan sakit di kepalaku lagi. Rasa sesak akan takdir, tetapi tidak bisa menyalahkannya. Aku hanya bisa menerimanya dan merelakannya. “Aku mencintaimu. Aku mencintaimu.” Aku terus mengulang kalimat itu karena itulah yang memang ingin aku katakan selama ini padanya. Dia mengeratkan pelukannya dan menepuk punggungku pelan.
“Aku juga mencintaimu,”balasnya lirih dan suaranya bergetar. Dia juga masih menangis. Sama sepertiku.
__ADS_1
Semuanya sudah jelas. Apa yang aku tanyakan selama ini sudah terjawab. Apa yang ingin aku lakukan juga sudah aku lakukan semua bersamanya. Apa yang ingin aku katakan juga sudah aku katakan. Yang aku inginkan sejak dulu adalah pengakuan.
Aku mengatakan pada diriku sendiri bahwa aku akan menjalani hidupku seperti orang lain setelah mendengar pengakuannya. Tetapi, apakah aku bisa hidup dengan baik setelah mendengarnya? Perpisahan seperti apapun bentuknya akan tetap menyakitkan. Aku mungkin tidak akan bisa langsung sembuh. Aku mungkin akan berjalan dengan lambat. Tetapi aku akan mencoba untuk hidup bahagia. Karena dengan begitu dia juga akan bahagia. Cinta pertamaku yang harus berakhir dengan batu nisan. Terima kasih telah memberikan memori yang indah kepadaku meskipun sebentar. Aku... akan mencoba lebih keras untuk bahagia.