
Saat ini, aku sedang berada di ruang terapi. Ini adalah hari kedua aku melakukan terapi. Aku ditemani oleh perawat. Aku sepertinya tidak perlu melakukannya lagi besok karena aku sudah bisa berjalan sendiri meskipun sedikit tertatih. Aku senang sekali aku bisa berjalan sekarang.
Setelah kejadian Bintang mengakui perasaannya di depan orangtuaku dan orangtuanya, dia tidak datang ke ruanganku lagi ketika waktunya kosong. Dia datang ketika jadwalnya memang untuk memeriksa kondisiku karena ia dokter yang menanganiku.
Akan tetapi, dia masih mengobrol dengan orangtuaku. Namun, mereka hanya membicarakan kondisiku. Dia juga tidak menjagaku lagi di malam hari. Lihat? Dia sepertinya memang ingin main-main saja. Bagaimana bisa aku menyerahkan kehidupanku padanya? Tidak ada yang membuatku membatalkan niat untuk menolaknya.
Setelah melakukan terapi, aku kembali ke ruanganku ditemani oleh seorang perawat. Aku menyuruh orangtuaku untuk istirahat di rumah kontrakanku. Ayahku mempunyai penyakit maag dan semalam maag-nya kambuh. Jadilah, ibuku mengurus ayahku. Aku juga sudah bisa berjalan. Aku tidak perlu dijaga lagi. Mereka pasti merasa lelah merawatku selama ini.
Tak berapa lama, aku mendengar ruanganku diketuk. Ternyata, teman-teman kantor datang mengunjungiku. Ada Mba Sarah, Tari, Rizki, Ina, dan Wanti. Mereka juga bekerja sebagai Content Writer dan Mba Sarah adalah supervisor-ku. Aku senang sekali melihat mereka kembali.
“Kamu gimana keadannya? Udah merasa sehat?”tanya Mba Sarah.
“Alhamdulillah udah Mba. Bentar lagi juga aku boleh pulang,”jawabku.
“Kita khawatir banget Mba pas dengar kamu kecelakaan dan koma. Alhamdulillah, Mba sekarang kelihatan lebih sehat,”ucap Tari, juniorku di perusahaan.
“Kok pada bisa keluar? Kan belum jam pulang,”tanyaku.
“Iya kan sekarang lagi jam istirahat. Kita permisi telat ke Pak Jono setengah jam. Minta izin mau ngejenguk kamu,”jawab Mba Sarah.
“Terus Pak Jono kasih izin?”tanyaku tidak percaya.
“Kan elu anak kesayangan. Pak Jono titip salam juga sama lu,”jawab Rizki.
“Kesayangan dari Hongkong? Gue malah dimarahin terus. Di mana letak kesayangannya?”balasku sewot.
“Eh, Ra. Orangtuamu kemana?”tanya Ina.
“Di rumah kontrakan. Ayahku lagi sakit. Maagnya kambuh. Jadi, aku suruh istirahat aja,”jawabku. “Eh, ini ambil saja buahnya,”pintaku.
“Iya kali kita makan oleh-oleh sendiri, Ra,”balas Wanti.
“Ya bukan yang itu. Kan di meja itu juga ada buah,”balasku balik.
Wanti, Ina, dan Rizki berjalan menuju sofa dan duduk di sana. Sedangkan, Mba Sarah dan Tari duduk di sampingku.
“Eh, Dokter Bintang mana?”tanya Ina.
“Iya ya. Tumben nggak keliatan,”timpal Tari.
Aku menatap mereka keheranan. “Kalian kenal dengannya?”tanyaku.
“Kenal lah. Setiap ngejenguk kamu, dia pasti udah ada di sini. Mau sore, mau malam,”jawab Mba Sarah.
“Seru ya kalau punya pacar dokter kayak Mba Rara. Dia bisa tahu penyakit kita apa dan merawatnya,”ucap Tari.
Aku ingin mengelaknya, tetapi Rizki sudah menimpali.
“Pacaran sama gue juga seru, Tar.”
“Ogah,”balas Tari.
Rizki masih belum menyerah dan terus menggoda Tari. Aku tertawa melihat tingkah mereka berdua. Tari ini anaknya polos, sedangkan Rizki tipe fuckboy. Dia selalu menggoda Tari setiap mempunyai kesempatan. Aku mendoakan supaya mereka benar-benar menjadi pasangan.
Kami sedang asyik mengobrol gosip-gosip terbaru di kantor. Setiap ada waktu luang, kami akan menggosip. Jiwa wartawan di divisiku sangat kuat. Info-info yang diberikan pasti akurat dan jarang yang melesat. Akan tetapi, di antara kita semua, Wanti yang paling update perlambean kantor hingga artis. Jika butuh info tentang seseorang di kantor, tanyakan saja padanya.
Sudah pukul 13.10, mereka harus kembali lagi ke kantor. Kalau terlambat, Pak Jono bisa perang urat nanti sama mereka. Sebelum berpisah, mereka mengucapkan doa supaya aku cepat sehat dan kembali ke kantor. Dan ruanganku kembali menjadi sepi. Aku membaringkan tubuhku di kasur dan berisitirahat.
*****
Tidak terasa sudah malam saja. Sekarang sudah pukul 8 malam. Aku menonton video-video lucu kompilasi Running Man di Youtube. Running Man adalah variety show Korea kesukaanku. Aku tidak pernah melewatkan satu episode pun dulu, sebelum kecelakaan itu.
Sedang asyik menonton, Video Call dari May muncul di layar ponselku. Aku pun menerimanya dengan antusias. May dan Ami sudah tahu aku sadar. Orangtuaku yang memberitahu mereka tentang kecelakaan itu. Setiap hari, mereka menanyakan keadaanku kepada ibuku. Setelah aku sadar, mereka selalu mengirimkan pesan kepadaku. Aku sangat bersyukur mempunyai mereka sebagai sahabat-sahabatku.
May:
Hei... Lagi ngapain kau?
Aku:
Lagi nonton youtube. Kau ngapain?
May:
Baru pulang kerja. Gimana keadaanmu?
Aku:
Sehat May. Kan kau udah tanya tadi siang juga.
May:
Siapa tahu malam ini kau merasa nggak sehat, Ra. Coba Vcall Ami.
Aku pun mencoba menelpon Ami. Tidak berapa lama, ia langsung menerimanya.
Amy:
Hai hai guyss. Ra, gimana keadaanmu?
Aku:
Ah kau sama aja sama si May. Sehat, Mi. Kau gimana? Gimana kabar ponakankuuu?
Amy:
Sehat Aunty. Aku udah nendang-nendang.
Aku:
Yeayy bentar lagi ketemu Aunty.
May:
Bulan depan ya, Mi?
Ami:
Iya, Insya Allah. Kau persiapan udah gimana?
May:
Pusing aku. Banyak kali yang harus disiapin. Makanan, panggung, warna panggung mau gimana. Pusing aku. Kusuruh aja mama yang ngurus.
Aku:
Parah kau. Masa kau suruh tante yang ngurusin.
May:
Nggak terpikirkanku lagi loh, Ra. Aku sibuk kerja juga di sini. Lihat aja kalau kau mau nikah nanti ya. Pasti pusing kau. Yakin aku.
Aku:
Nggak akan.
Ami:
Nggak usah sok-sok nggak akan pusing kau. Aku aja pusing dulu.
Aku:
Lihat aja nanti.
Ami:
Ra, kudengar dokter yang nanganin kau ganteng, ya? Pacarin aja, Ra.
Aku:
Tau dari mana kau?
Ami dan May:
Mamamu.
“Astaga Mamaaaa. Masa kayak gini juga diceritain”ucapku dalam hati.
May:
Iya, gebet aja, Ra. Kan kau nggak akan sendirian jadinya di nikahanku.
Aku:
Kampret kau.
Ami:
Masih single, kan?
Aku:
__ADS_1
Nggak tau. Nggak pernah ngobrol.
Ami dan May:
Masaaa?
Aku:
Iyaaaa.
Aku mendengar kamarku diketuk. Seorang dokter residen datang menjengukku. Dia pasti ingin memeriksa keadaanku. Lihat? Bukan Bintang yang datang. Dia pasti menghindar.
Aku:
Aku tutup ya. Dokter datang meriksa. Byeeeeee.
Aku sudah menutup ponselku sebelum mendengar balasan dari Ami dan May. Ah paling mereka membahasnya lagi di grup WhatsApp.
*****
Sudah pukul 10 malam dan aku masih belum bisa menutup mataku. Aku sudah mencobanya sejak sejam yang lalu, tetapi saja tidak bisa. Aku mungkin terlalu banyak tidur siang.
Aku mengangkat kursi yang berada di samping ranjangku ke dekat jendela rumah sakit. Aku membuka tirainya. Aku ingin melihat keindahan langit malam ini. Aku melewatkannya semalam. Jalanan dipenuhi oleh lampu-lampu kenderaan dan lampu jalan. Masih ramai. Namun, lampu-lampu itu membuat jalanan terlihat indah dari sini. Jalanan raya basah, tetapi tidak bergenang. Malam ini memang hujan, tetapi tidak deras. Sekarang saja, masih ada rintik-rintik hujan.
Kemudian, aku memandang langit. Hitam dan mendung. Tidak ada bintang dan bulan. Hanya gelap. Aku menutup mataku dan membisikkan kalimat-kalimat cinta, lalu membukanya. Tidak ada apa-apa. Aku tidak melihat bintang. Tentu saja aku tidak bisa melihatnya karena sedang turun hujan seperti ini. Aku sedikit kecewa. Namun, aku tahu dia pasti merindukanku, seperti aku merindukannya. Apakah aku boleh menceritakan kejadian kemaren padanya? Apa reaksinya?
Berkutat dengan pikiranku sendiri, aku tidak sadar seseorang sedang berada di sampingku. Sudah 5 menit dia berdiri di sana, tetapi tidak berniat untuk menyapaku. Dia memandang jalanan raya dari jendela ini.
“Tidak bisa tidur?”tanyanya.
Aku berteriak kecil terkejut mendengarnya. Aku tidak tahu sama sekali ada orang di sampingku. Aku terlalu sibuk dengan pikiranku.
“Biasa aja. Nggak usah kaget gitu,”lanjutnya.
“Gimana nggak kaget? Tiba-tiba aja ada orang ya kagetlah,”balasku.
“Saya mengetuk pintu, tetapi tidak ada sahutan. Ya saya masuk saja jadinya.”
“Ya mana dengar kalau ngetuknya pelan,”balasku ketus.
Dia tidak membalasku. Dia berjalan menuju salah satu kursi yang berada di sudut ruangan ini. Lalu, dia membawanya dan meletakkannya di sampingku. Dia pun duduk di situ.
“Siapa yang bantu kamu mindahin kursi ke sini?”tanyanya. Dia memutar tubuhnya ke samping untuk menghadapku.
“Mindahin sendiri,”jawabku. Aku masih memfokuskan pandanganku pada jalanan.
“Terapinya sepertinya berhasil,”balasnya.
“Sangat berhasil,”balasku.
Dia diam, lalu menundukkan kepalanya.
“Ai... saya minta maaf.” Dia mengangkat kepalanya dan memandangku yang masih mengabaikannya. Kenapa juga aku mengabaikannya ya? Aku harusnya meminta penjelasan.
Aku memutar tubuhku menghadapnya. “Minta maaf yang mana, nih?”tanyaku.
“Loh, memangnya saya banyak buat salah?”tanyanya balik. Wajahnya dibuat sepolos mungkin.
Aku menahan geramanku. “Situ nggak pernah merasa buat salah?”tanyaku tidak mau kalah.
“Nggak,”jawabnya.
“Terus kenapa minta maaf?”
“Karena tidak bisa menjaga kamu semalam dan juga menjengukmu siang ini. Saya mempunyai banyak operasi dari semalam. Operasinya juga dadakan,”jelasnya.
“Oke. Saya juga tidak perlu dijaga. Saya sudah bisa berjalan,”balasku.
“So, are we good now?”tanyanya. Senyum merekah di wajahnya yang maskulin.
“What? Memangnya kita mempunyai hubungan yang baik-baik saja?”tanyaku. Aku tidak pernah menganggap mempunyai hubungan yang baik dengannya. Hubungan yang buruk sih iya.
Bintang mengerutkan keningnya dan mendekatkan kursinya kepadaku. Eh, kenapa dia dekat-dekat?
“Apalagi yang salah?”tanyanya.
“Kamu belum minta maaf tentang kejadian dua hari yang lalu,”jawabku. Aku menghindari tatapannya karena ntah kenapa aku tiba-tiba merasa malu.
“Untuk apa saya minta maaf? Saya tidak menganggap itu kesalahan,”balasnya. Dia berbicara dengan suara normal dan lembut, tetapi dapat membuat tanganku menjadi dingin. Nah, ada apa denganku?
Aku memberanikan diri menatap matanya. Aku ingin menunjukkan kalau aku serius dengan perkataanku ini. “Tetapi saya menganggapnya itu kesalahan.”
Dia balas menatap mataku. “Saya serius ingin menikah denganmu. Di mana letak kesalahannya? Saya laki-laki, kamu perempuan. Kita sudah sama-sama dewasa. Kita juga memiliki kepercayaan yang sama,”balasnya. Dia menaikkan alisnya menuntut jawabanku ketika aku tidak mengatakan apapun.
“Saya nggak kenal kamu. Kamu juga nggak kenal saya. Kamu bahkan tidak menceritakan kalau kamu yang memberitahu orangtuaku tentang kecelakaan itu.” Aku meluapkan semuanya padanya. Nada suaraku masih terdengar tidak bersahabat dan sedikit meninggi.
“Kalau masalah perkenalan, kita bisa melakukannya secara perlahan. Saya juga tidak meminta untuk menikah besok, Ai,”balasnya. Suara kekehan keluar dari mulutnya. Raut wajahnya juga lebih ramah. Dia tersenyum kecil.
“Tetapi, lebih cepat lebih baik,”lanjutnya sambil tersenyum. Dia masih memandangku.
Aku yakin wajahku sudah memerah sekarang. Aku mungkin sudah terlalu lama tidak dekat dengan laki-laki, makanya aku menjadi sering salah tingkah begini. Padahal, aku sudah sering mendengar kalimat-kalimat seperti itu di drama korea yang sering kutonton. Didengar secara langsung cukup membuat perutku seperti dipenuhi kupu-kupu.
Aku berusaha menormalkan raut wajahku kembali. “Terus kalau tidak cocok?”tanyaku.
“Ya coba terus sampai cocok,”jawabnya.
“Memangnya gosok-gosok berhadiah. Ishh.”
Dia diam sejenak, lalu menatap mataku. Aku pun tersihir dan juga menatap matanya.
“Tidak akan cocok. Menurutmu apa ada yang membuat laki-laki dan perempuan cocok? Yang membuatnya cocok adalah saling mengerti dan jujur. Berdiskusi dan membuat rencana bersama, lalu meceritakan dengan jujur apa mengganjal dan membuatnya bahagia. Itulah yang membuat pasangan cocok.”
Dia masih menatap mataku setelah mengucapkan kalimat-kalimat tadi. Aku menegakkan tubuhku dan berdehem kecil untuk menjernihkan pikiranku.
“You have a point. Memangnya kamu sudah jujur selama ini? Saya baru kenal kamu selama 4 hari saja, kamu sudah punya banyak rahasia,”balasku.
Bintang tertawa. Dia menggulung tangan kemejanya sampai ke siku. Lalu, dia menegakkan tubuhnya lagi. Dia menjadi terlihat lebih keren saat melakukan itu. Aku memang sangat menyukai laki-laki yang menggulung tangan kemejanya sampai suka. Apakah aku akan goyah?
“Oke. Kamu mau nanya apa? Tanya aja semuanya, saya akan jawab. Dengan jujur,”katanya. Lalu, dia mendekatkan kursinya kepadaku. Lagi.
“Kamu tahu dari mana nomor ponsel ayahku?”tanyaku.
“Dari ponselmu. Ponselmu kan nggak diprivate. Aku langsung menghubunginya setelah dokter menangani kamu. Aku menghubungi ayah kamu daripada ibu kamu karena aku takut membuat ibu kamu syok. Apa cukup membantu?”
Aku menganggukkan kepalaku. “Oke next. Kamu juga menghubungi kantorku.”
“Bukan saya tapi mama. Saya memberitahu kamu kecelakaan dan minta tolong untuk menghubungi supervisor kamu. Supervisor kamu dan teman-teman yang lain sempat menjenguk kamu beberapa kali. Dia minta segera dihubungi jika kamu sadar,”jawabnya.
Aku menepuk tanganku karena teringat sesuatu. “Ah iya. Kenapa kamu ingin merawatku? Dokter yang menanganiku kan awalnya bukan kamu,”tanyaku.
“Nggak usah tepuk tangan juga, Ai,” ucapnya sambil tertawa melihat tingkahku yang aneh. Kebiasaanku jika sedang teringat sesuatu.
“Karena menurutku, itu cara Tuhan menjawab pertanyaanku. Sejak saat itu aku tahu, aku harus menghabiskan hidupku dengan orang ini, dengan kamu,”lanjutnya.
Aku mulai tertarik dengan pembicaraan ini. Aku harus menyingkirkan rasa maluku dan rona-rona merah di wajahku. Aku harus tahu semuanya.
“Apa pertanyaanmu?”tanyaku.
“Rahasia,”jawabnya.
“Kaaaaan. Kataku juga apa. Mana mau kau ceritain semuanya. Aissh,”balasku. Ketika aku sudah memakai aksen Medan, maka tingkat kekesalanku sudah berada di ambang batas. Wajahku pasti sudah seperti Angry bird sekarang.
“Sorry, sorry, sorry. Santai dong kau. Nggak usah ngegas,”balasnya dengan aksen Medan juga.
“Yah kamu duluan yang mulai. Kamu suka mancing-mancing sih biar saya kesal.”
“Soalnya pipi kamu jadi gembung, terus wajah kamu jadi merah,”balasnya yang diiringi oleh kekehan.
Sesaat kemudian, dia memutar tubuhnya ke arah jendela dan melihat jalanan yang mulai sunyi. Hujan rintik-rintik masih saja turun. Aku memperhatikan wajahnya dari samping. Dia sebenarnya tampan sekali. Siapa pun yang melihatnya pasti akan menyukainya. Tidak ada cacat sama sekali di wajah itu. Hidung yang mancung, mata yang besar, alis mata yang tebal, dan bulu matanya yang panjang. Wajahnya sangat maskulin. Ada sedikit jenggot-jenggot tipis di dagunya. Oh iya, dagunya juga berbelah membuat ketampanannya sempurna. Aku yakin dia bisa menjadi model atau artis jika dia mau. Dia juga bisa menikahi wanita siapa saja jika dia mau. Kenapa dia ingin sekali menikah denganku?
“Kamu tahu kapan pertama kali kita bertemu?”tanyanya. Dia masih memandang jalanan.
“Umm sehari sebelum saya kecelakaan, di rumah kamu,”jawabku.
“Kamu mungkin iya, tetapi saya bukan,”balasnya.
“Hah? Terus kapan?”
Dia memutar tubuhnya menghadapku, lalu tersenyum. “Satu tahun lalu di jembatan penyebrangan dekan kantormu. Hari kesepuluh Ramadhan di malam hari.”
Aku mengerutkan keningku dan mengingat kembali kejadian-kejadian tahun lalu pada bulan Ramadhan. Aku merasa tidak pernah berkenalan dengan laki-laki di bulan Ramadhan. Dia salah orang sepertinya.
“Kok bisa? Saya nggak ingat. Kamu salah orang kayaknya,”balasku.
“Mau diceritain nggak nih?”tanyanya dengan raut wajah sewot karena aku memotong ceritanya tadi.
“Oke. Silakan,”balasku sambil membuat gestur tangan.
Dia tertawa sebentar, lalu melanjutkan ceritanya. “Waktu itu, aku sedang jogging.”
“Jogging kok malam-malam?” Aku memotong ceritanya lagi.
__ADS_1
Dia memicingkan matanya tanda dia tidak suka aku mengiterupsi ceritanya.
“Sorry,”ucapku lirih.
Dia melanjutkan ceritanya kembali. “Saya ingin menikmati angin malam Depok, lalu menaiki jembatan penyebrangan yang di depan kantormu. Hanya ada kamu di sana padahal itu sudah pukul 9. Saya berpikir kamu cukup pemberani di sana sendirian. Lalu, saya berdiri tidak jauh di sampingmu. Saya menikmati pemandangan jalanan Depok dan hembusan angin mengenai rambutku. Lalu, saya tiba-tiba mendengar suara umpatan. Kamu sedang mengumpat.”
“Kapan saya mengumpat? Saya nggak mengumpat ya.” Aku membela diriku. Nada suaraku menjadi tinggi karena merasa difitnah.
Bintang tertawa, lalu melanjutkannya. “Tapi kamu emang lagi mengumpat, Ai. Saya masih ingat orang yang buat kamu kesal.”
“Siapa?”tantangku.
“Pak Jono. Atasan kamu bukan?”
Skak mat. Ini fakta. Pak Jono adalah manager YesDokter dan dia yang sering memanggilku ‘Air’. Aku memang sering beradu pendapat dengannya.
“Tapi cara mengumpat kamu lucu. Bukannya mengumpat dengan kata-kata yang buruk, kamu malah mengumpat dengan kata-kata yang memuji. Pak Jono saya tahu bapak ganteng dan pintar. Istri bapak juga cantik. Anak bapak juga lucu-lucu. Tetapi bapak akan lebih bersinar lagi kayak lampu jalan itu kalau bapak baik sama saya. Saya tahu saya rakjel dan Bapak adalah Sultan. Kamu mengumpatnya kayak gitu. Saya langsung tertawa dan mencoba melihat ekspresi wajah kamu saat itu.” Dia tertawa lagi mengingat kembali kejadian itu.
Aku sudah ingat. Pak Jono selalu beranggapan pekerjaanku tidak bagus dan selalu memberikanku tugas-tugas lapangan, seperti melakukan wawancara dengan dokter. Aku bisa wawancara dengan 3 dokter dalam sehari dulu. Kata Mba Sarah itu karena Pak Jono menyukai kinerjaku dan percaya padaku. Namun tetap saja membuatku kesal. Sampai sekarang, Pak Jono masih sering membuatku kesal.
“Kamu nggak tahu penderitaanku saat itu. Saya bahkan harus lembar 3 hari berturut-turut. Orang lain taraweh, saya malah lembur,”ucapku. Mengingat kejadian itu kembali membuatku menjadi kesal.
Bintang menghentikan tawanya. “Dapat dilihat dari cara kamu mengumpatnya. Tanganmu mengepal dan meninjukannya ke pinggir jembatan,”lanjutnya.
“Terus? Apa yang membuat Tuhan menjawab pertanyaanmu?”tanyaku.
Bintang menatap mataku lumayan lama. “Saat itu aku berdoa untuk diberikan kebahagiaan kepadamu dan meminta untuk bertemu denganmu lagi. Padahal aku tidak tahu kamu siapa saat itu,”jawabnya.
Aku terdiam. Laki-laki ini selalu bisa membuatku terdiam dengan jawabannya. Aku merasa air mulai menggenang dipelupuk mataku. Aku terharu. Dia hanya ingin menikmati suasana malam Depok dan berakhir dengan mendoakan kebahagiaanku. Aku terharu ada orang yang mendoakanku diam-diam ketika orang tersebut tidaklah siapa-siapa.
“Kenapa mendoakanku?”tanyaku lirih.
“Karena kamu membuatku tersenyum. Lalu, Tuhan menjawab doaku. Saya bertemu lagi denganmu di rumah. Mama sebenarnya sudah sering bercerita tentangmu. Saya tidak tahu Aira yang mama maksud adalah Aira yang saya lihat di jembatan penyebrangan tahun lalu. Lagi, saya tidak sadar berdoa untuk bertemu denganmu. Kali ini Tuhan menjawab doaku lebih cepat.”
Bintang menghentikan ceritanya. Dia memandangku, melihat bagaimana reaksiku. Lalu, ia kembali melanjutkannya.
“Saya sedang ingin menikmati jalanan Depok dari jembatan penyebrangan di depan kantormu. Saya melihatmu di sana di malam sebelum kecelakaan itu. Saya ingin menyapa, tetapi kamu sedang menangis. Saya penasaran apa yang membuatmu menangis saat itu, tetapi saya hanya bisa menatapmu saja. Dalam hati saya bertanya kepada Tuhan. Bolehkah saya membagi kehidupan saya dengan wanita ini? Saya ingin hidup dengan wanita ini dan mendengar semua keluhannya. Lagi, Tuhan menjawabnya dengan cepat. Saya melihat kamu di UGD. Kamu penuh darah. Saya panik sekali. Aku tersadar, mungkin ini cara Tuhan menjawab pertanyaanku. Apakah ceritaku sudah menjawab rasa penasaranmu, Ai?” Dia menyelesaikan ceritanya.
Aku tidak tahu harus merespons seperti apa. Aku hanya terdiam dan terharu. Aku bahkan tidak berani memotong ceritanya. Aku tidak menyangka laki-laki ini selalu meminta petunjuk Tuhan bila berkaitan denganku. Apa ada yang lebih romantis dari cerita ini?
“Saya tidak tahu harus mengatakan apa,”jawabku.
Dia tersenyum dan berdiri dari kursinya. Dia berjalan menuju kursiku. Lalu, dia mengelus rambutku ringan. Dia menatap mataku yang sedang menatapnya juga. “Kamu pasti kaget. Saya mengerti. Yang penting kamu tahu saya bukan main-main.” Dia mengalihkan pandangannya ke jalanan.
“Sekarang, boleh saya yang bertanya?”tanyanya. Dia memutar tubuhnya yang tadinya menghadap ke jalanan menjadi ke arahku.
“Silakan,”jawabku.
“Siapa Putra?”tanyanya.
Deg. Aku terkejut mendengar pertanyaannya. Kenapa dia bisa tahu? Aku tidak pernah menceritakan tentang Putra ke siapapun.
“Awalnya saya tidak ingin menanyakan tentangnya padamu, tetapi itu membuat saya tidak bisa tidur nyenyak.”
“Kamu tahu dari mana nama itu?”tanyaku. Nada suaraku mungkin terdengar lirih dan bergetar. Aku sempat melupakannya sepanjang perbincangan kami tadi.
Bintang mengangkat kursinya dan meletakkannya tepat di sampingku. “Kamu sering menyebut namanya saat kamu koma, tetapi tidak jelas. Malam itu kamu menyebut namanya, lalu kamu akan menangis. Semalam juga seperti itu.”
“Dia... dia sahabatku,”jawabku. Aku meremas-remas tanganku.
“Di mana dia sekarang?”tanya Bintang lagi.
“Sudah meninggal.” Aku menjawabnya lirih.
Aku meremas-remas tanganku lebih keras untuk menahan rasa sesak di dadaku yang tiba-tiba saja muncul. Aku menundukkan kepalaku.
“I’m sorry to hear that,”ucapnya.
Bintang melihat kelakuanku yang berbeda dari biasanya. Aku biasanya bisa mengontrol perasaanku dan melawannya kembali dengan percaya diri. Akan tetapi sekarang, aku seperti anak kucing yang membutuhkan perlindungan. Aku tidak bisa menceritakannya sekarang. Aku belum siap untuk membagikan kisah yang bahkan orangtuaku dan sahabatku tidak mengetahuinya.
Aku menatap wajahnya dan hendak membuka mulutku. Bintang tiba-tiba saja memotongku. “Jangan dipaksakan. Tidak usah sekarang. Ceritakan saat kamu sudah siap. Saya bisa menunggu,”ucapnya.
Aku menatap wajahnya yang masih menatapku. “Terima kasih,”ucapku. Tiba-tiba saja air mataku sudah mengalir dipipiku.
“Maaf,”lanjutku. Aku segera menghapus air mataku dengan tangan kananku.
Dia tidak mengatakan, tetapi tatapannya belum lepas dariku. “I’m with you.” Dia meraih tangan kiriku dan mengaitkannya dengan tangan kanannya. “I’ll hold your hand like this,”lanjutnya.
Aku menarik nafasku dan berusaha menghentikan air mataku dengan keras. Kemudian, aku berusaha tersenyum. “I’m okay now. Thanks,”ucapku.
Bintang mengarahkan tangannya ke rambutku dan membelainya. “If you can’t accept the pain, you can’t heal, Ai. Terima, biarkan, dan sembuhkan. Itu prosesnya. Jadi, tidak usah pura-pura tegar. Kan saya udah bilang, saya ingin mendengar semua keluhanmu. Jadi, saya juga tidak masalah untuk melihat air matamu. Saya akan membantumu.”
“Membantu apa?”tanyaku.
“Membantumu sembuh.”
“Kalau tidak berhasil?”
“Kita belum mencoba.”
“Kamu tidak mencintaiku. Iya, kan?”tanyaku. Aku tahu dia tertarik ingin menghabiskan hidupnya denganku, tetapi aku juga tahu tidak ada cinta di sana. Dia mungkin hanya kasihan atau dia hanya ingin melindungiku seperti seorang ayah atau abang. Tidak secepat itu untuk jatuh cinta.
“Bukan tidak, tetapi belum,”jawabnya.
Raut wajahku berubah menjadi tidak ramah.
Ada sorot mata kemarahan dan kekecawaan di sana. Aku tahu dia sepertinya juga mengalami sakit hati yang panjang. Dan aku tidak tahu apakah hatinya sudah sembuh.
“Tetapi saya mencoba untuk mencintaimu,”lanjutnya setelah melihat raut wajahku yang sedang marah.
“Ini tidak akan berhasil,”balasku sambil mengibaskan tangan kananku.
Raut wajahnya berubah dingin. “Kita belum mencobanya. Apa yang kamu takutkan?”tanyanya.
“Saya takut akan berhasil pada salah satu saja bukan keduanya,”jawabku. Aku membuat nada suaraku setegas mungkin.
Bintang menatapku sinis. “Kamu takut saya
yang akan jatuh cinta padamu dan kamu tidak?”tanyanya. Lalu, ia melanjutkan,
“Tenang saja, Ai. Saya tidak mudah menyerah. Saya akan memastikan kita berdua akan sama-sama jatuh cinta.”
Aku menghembuskan nafasku lelah. Sudah jam berapa sekarang? Rasanya aku ingin membaringkan badanku karena terlalu banyak menggunakan perasaanku hari ini.
“Bukan kamu. Saya. Saya takut saya yang akan jatuh cinta dan kamu tidak,”balasku.
“Apa yang membuatmu berpikir seperti itu?”tanyanya.
Aku mengalihkan pandanganku ke langit. Aku berusaha menenangkan pikiranku dengan memandang langit yang begitu luas itu. Cukup membantu. Bintang menunggu jawabanku. Aku mengetahuinya karena ia tidak melepaskan tatapannya dariku.
“Karena semesta sangat suka bercanda denganku. Aku sembuh dan mungkin akan terluka lagi,”jawabku.
“Kamu suka sekali membuat kesimpulan sendiri. Menduga-duga apa yang akan terjadi padahal kamu belum mencobanya, belum menceritakannya. Semesta akan mendukungmu jika kamu berusaha. Semuanya tergantung padamu. Bagaimana kamu menyikapi rencana semesta tergantung padamu. Apakah harus terus bersedih atau belajar. Tidak ada yang sudah ahli tentang masalah hidup. Hidup adalah pengalaman pertama semua orang. Wajar jika kamu belum terbiasa, menangis, bersedih, dan sakit. Itu karena kamu memiliki perasaan.”Dia menyelesaikan ceritanya tentang hidup dengan senyuman kecil dibibirnya. Wajahnya sudah tidak dingin lagi.
Aku tidak menjawab apapun, tetapi aku sedang mempertimbangkan ucapannya. Aku mungkin terlalu penakut dan pesimis untuk mencoba hal-hal baru dalam hidupku. Aku terlalu lama terpuruk dalam masa lalu sehingga ketika seseorang mengulurkan tangannya kepadaku, aku menjadi ragu. Padahal, apa salahnya aku mencoba?
“Saya sudah pidato keren gini, setidaknya ada tepuk tangan kek,”ucapnya mencoba mengalihkanku.
“Hehe,”balasku.
“Ah nggak seru,”balasnya dan berdiri dar kursinya. “Sekarang sudah jam setengah dua belas. Saatnya tidur. Saya minta maaf membuat kamu begadang. Besok kita sambung lagi,”lanjutnya.
Dia ingin membantuku berjalan menuju ranjang, tetapi aku menolaknya. Aku ingin berjalan sendiri supaya aku lebih lancar. Sesampainya di tempat tidur, dia membantuku memperbaiki taing infus agar aku lebih nyaman. Lalu, dia menyelimutiku. Aku sudah menolaknya, tetapi dia tidak mengindahkan perkataanku. Lalu, dia mengambil salah satu kursi yang di dekat jendela dan duduk di sampingku.
“Kamu ngapain di sini? Kami balik ke ruangan kamu saja nggak apa-apa kok,”suruhku.
“Saya nanti akan tidur di sofa.”
“Ya udah. Sana ke sofa,”balasku.
“Nanti setelah kamu tidur,”balasnya.
Aku tidak membalasnya lagi. Aku menutup mataku. Kalau dia di sampingku terus, aku tahu aku tak akan bisa tidur. Aku tidak suka dilihatin saat aku tidur. Akan tetapi, demi gengsiku yang selangit, aku membiarkannya saja.
“Bukan kamu yang akan jatuh cinta duluan, tetapi saya yang akan jatuh cinta duluan, Ai,”ucapnya. Dia masih berada di sampingku.
“Iya, sepertinya memang begitu,”balasku, tetapi aku tidak membuka mataku.
“Jadi, kamu setuju?”tanyanya.
Aku membuka mataku dan menatapnya. “Tetapi tanpa status. Tidak ada embel-embel pacar atau calon suami. Saya ingin pendekatan yang natural,”jawabku.
“Deal,”balasnya.
Bintang berdiri dari kursinya. “Karena saya tahu kamu tidak akan bisa tidur kalau saya masih di sampingmu, maka saya akan pindah ke sofa meskipun sebenarnya saya masih ingin di sini.”
Dia menatapku sebentar dan menggigit bibir bawahnya. Dia seperti sedang ingin melakukan sesuatu, tetapi sedikit ragu. Dengan secepat kilat, dia menunduk dan mengecup keningku. “Have a sweet dream. Good night.” Lalu, dia berjalan ke sofa. Sebelum aku mengatakan sesuatu, dia sudah memotongku.
“Harus ada stempelnya biar sah,”ucapnya.
“Alesan,”balasku. Dia masih bisa mendengarnya dan membalasnya dengan kekehan.
__ADS_1
Pada akhirnya, aku menerimanya. Apakah akan berhasil atau tidak? Semuanya tergantung kepada kami berdua. Jika kami memberikan usaha maksimal kami, kemunginan keberhasilannya akan tinggi. Seperti dengannya, aku akan berusaha membuat hubungan ini berhasil. Mudah-mudahan saja aku tidak berubah pikiran. Bagaimana reaksi Dokter Fani ya saat mengetahui aku dan Bintang ingin mencoba hubungan ini? Padahal, dulu aku sempat bersimpati dengan calon menantunya Dokter Fani.
Sebelum tidur aku berdoa, berikan juga kebahagiaan untuknya, Tuhan. Biarkan aku mencintainya dan biarkan dia mencintaiku. Aku.... aku... juga ingin mencintai seseorang lagi.