
Renjana Kanya
Bunyi alat-alat yang menempel di tubuh Mama lagi-lagi membuatku menitikkan air mata. Tubuh wanita itu terbaring lemah di ruang ICU sejak pascaoperasi kemarin. Badannya terlihat kurus dari saat terakhir kali aku melihatnya. Bahkan jari-jarinya yang biasa lentik, kini hanya tersisa kulit dan tulang-belulang. Aku tidak tahu jika luka telah banyak mengubahnya. Betapa aku tega selama ini yang telah menutup mata atas kenyataan jika wanita itu juga terluka. Kami sama-sama memendam lara.
Kupandangi wajah Mama yang masih saja terlihat ayu. Wanita itu - yang sebagian besar mewariskan bentuk wajah, hidung dan juga bibirnya kepadaku - belum juga membuka mata. Meski begitu, Mama begitu damai dalam tidurnya. Seakan tidak terganggu oleh bunyi alat-alat yang seolah menjerit di telingaku.
Terlebih ketika dalam kesunyian malam. Suara alat-alat itu lebih menakutkan dibanding detik jam paling cepat sekalipun. Atau bahkan paling lambat. Detik jam, cepat maupun lambat, tetap terasa menakutkan bagiku jika itu perkara tentang menunggu. Terlebih, jika sedang menunggu sendirian.
Aku memaksa Ayah Eka serta Araz pulang ke rumah dan bersikeras menjaga Mama tadi malam. Meski Ayah Eka berjanji untuk segera menelepon jika Mama telah siuman. Aku tidak mau dengar. Aku ingin yang pertama kali dilihat Mama, apabila wanita itu membuka mata. Atau setidaknya yang disebut namanya saat mata wanita masih terlelap.
Diam-diam aku selalu memohon dan berharap wanita itu segera membuka mata agar aku bisa meminta maaf atas segala kesalahan yang sudah kulakukan. Atas semua keegoisan atau mungkin juga kesalahan-kesalahan yang tidak termaafkan. Dan, Mama masih saja memejamkan mata. Sama sekali tidak terusik dalam tidur lelapnya.
"Ma, nyenyak banget ya tidurnya? Mama nggak kangen sama, Anya? Mama nggak pengen ketemu sama Baby Boy? Ayah minta Anya yang kasih nama. Boleh nggak Anya kasih nama, Victor? Dari kata victory. Sebab dia yang akhirnya jadi pemenangnya, Ma. Semesta terpusat padanya. Semua lara, kecewa atau apa pun itu, rasanya lenyap begitu saja hanya dengan melihat wajahnya."
Aku tersenyum. Menghapus air mata yang belum juga kering di wajahku. Kubelai anak-anak rambut Mama yang menghalangi wajah ayunya. Kerut-kerut di wajah wanita itu pun, tidak mengurangi kecantikan yang menjadi berkahnya selama ini.
"Dia mirip banget sama Putra. Sama Anya juga. Kok bisa gitu sih, Ma? Bentuk wajah, hidungnya yang kecil mancung, juga bibirnya yang mungil, mirip banget sama Anya. Sama Mama juga. Terus bentuk tulang pipinya, matanya, juga sepasang alis yang menaunginya mirip banget sama Putra. Itu artinya, dia mirip sama Ayah.
__ADS_1
Oh iya, Anya sudah menerima maaf dari Om Eka. Anya juga bakal memanggil Ayah mulai sekarang. Nggak apa-apa ‘kan, kalau Anya manggil Ayah dan beda sama Putra ataupun Baby Boy kelak? Anya nggak biasa panggil Papa. Rasannya lidah Anya aneh mengucapkan Papa. Ayah sudah setuju kok kalau Anya panggilnya bukan Papa.
Maafin Anya, ya Ma. Anya selama ini jadi anak yang nggak berbakti sama Mama. Anya keras kepala, tapi itu ingetin sama sifat Mama nggak sih? Dulu juga Ayah sering kali pisahin kita kalau sudah sama-sama kolot saat berdebat. Tapi berkat itu menyadari satu hal, bagaimanapun juga bukankah buah nggak bakal jatuh jauh dari pohonnya?
Mama cepat bangun ya. Jangan lama-lama tidurnya. Jangan lama-lama istirahatnya. Anya, kangen Mama. Anya ... ."
Kalimatku terputus. Aku tidak sanggup lagi melanjutkan kata atas perasaan yang bergejolak dalam dada. Mataku mengabur. Air mata lebih cepat menguasai diriku.
Kesedihan itu merayap cepat. Membelengguku hingga tak sanggup bergerak bebas dan selalu menarikku kembali ke sudut ruangan gelap bernama penyesalan. Merontokkan persendianku yang entah sejak kapan tidak sanggup diajak berdiri tegak. Bahkan tubuhku terasa semakin lemas. Hingga aku merasa semua benar-benar gelap dan tubuhku tumbang tanpa ada yang menahan.
***
"Kata dokter, kamu kekurangan cairan. Tekanan darah kamu juga rendah, makanya sampai pingsan. Untung tadi ada suster yang tahu saat mengecek keadaan Tante Sukma. Kamu juga harus istirahat kalau lelah, Kanya. Jangan memaksakan diri."
Araz mengomel saat Ayah pamit untuk ke ruangan Mama setelah sebelumnya memastikan jika aku tidak mengeluhkan apa pun. Hal yang tidak pernah dia lakukan selama ini. Biasanya laki-laki itu selalu tampak tenang dan tidak pernah menunjukkan kebawelannya terhadap suatu hal. Baru kali ini Araz terlihat begitu jengkel saat mengetahui aku tumbang akibat kelelahan. Meski begitu, raut khawatir tidak sanggup ia sembunyikan dari wajahnya.
"Kalau kamu sakit kayak gini, gimana bisa merawat Tante Sukma? Kamu kapan terakhir kali makan-minum sih?"
__ADS_1
"Makan-minum?" Aku mengulang pertanyaan Araz seperti gadis remaja yang mendadak bodoh saat merasakan pertama kali jatuh cinta dan perasaan itu bersambut dengan ajakan kencan dari gebetan.
"Iya, kapan terakhir kali makan atau mungkin minum? Kenapa bisa sampai dehidrasi?" Araz mengulang pertanyaan dengan tidak sabar.
"Kemarin, makan siang sama Mas Araz kayaknya," jawabku polos tanpa rasa berdosa sedikit pun. Sementara Araz dengan gemas mengacak-acak rambutku.
"Tuh kan, gitu gimana mau jagain Tante Sukma kalau sendirinya juga nggak mau jaga kesehatannya?"
Aku tersenyum. Rasanya, setiap hari semakin banyak hal yang aku ketahui tentang Araz. Tentang bagaimana sabarnya laki-laki itu. Tentang keahliannya mengolah bahan menjadi makanan yang lezat. Tentang bagaimana dewasanya saat bersikap. Ketika cemburu pada satu hal. Hingga sikap bawelnya yang baru saja aku lihat beberapa detik lalu.
Melihat ujung bibirku mengembang, Araz menatapku dengan sorot matanya yang teduh, tetapi juga tajam secara bersamaan. Matanya semakin menyipit. Lantas mencubit pipiku.
"Aku sedang marah Anya, aku khawatir sama kamu. Bukan ngajak kamu bercanda. Kenapa malah senyum-senyum sih?"
"Oh ya? Aku baru tahu ini ada orang yang marah justru kelihatan lucu ketimbang serem. Mas Araz nggak salah ekspresi 'kan?" tanyaku membuat Araz semakin menyipitkan mata menatapku. Berusaha terlihat menyeramkan atau mungkin menakutkan di hadapanku yang justru terlihat menggemaskan. Tawaku semakin lebar. "Hahaha ... maaf, maaf, sumpah, Mas Araz nggak pantas ngomel-ngomel kayak gitu. Yang ada juga Mas Hanung tuh yang pantas pajang wajah sok garang gitu. Secara dia kan yang suka marah-marah kalau di kantor. Baik sama aku cuma kalau pesanan puzzlenya datang."
Cup ...
__ADS_1
Ucapanku terhenti. Araz mencium bibirku dan menatapku intens. Tatapan kami saling terkunci. Namun, dia tidak berniat melanjutkan tindakan yang telah memancing kupu-kupu terbang di dasar perutku.
"Kalau sudah mencapai batasmu istirahat, Kanya. Aku nggak mau kamu sakit. Kamu harus selalu sehat buat dukung kesembuhan Tante Sukma," katanya kembali melembut sambil menyelipkan anak-anak rambut di belakang telingaku. Senyum laki-laki mengembang sebelum akhirnya bibir kami kembali bertemu.