Pulang

Pulang
Jika Memang Cinta Lantas Mau Apa?


__ADS_3

Renjana Kanya


Putra mengantarku kembali ke kantor tepat lima menit sebelum jam makan siang berakhir. Lelaki itu tanpa berbasa-basi dengan bibir masih mengulum senyum langsung meninggalkan gedung perkantoran tempatku bekerja. Ia sudah mendapat pengakuanku jika tebakannya benar soal aku menyukai Araz.


Mulutku hanya sekadar menjawab iya, saat Putra kembali bertanya apakah aku menyukai Araz ketika perjalanan kembali dari makan siang. Namun setelah sosok lelaki yang semula dengan berat hati kuakui sebagai kakak itu, membuatku kembali berpikir apakah memang mungkin aku jatuh cinta pada Araz? Tentu saja tidak 'kan? Lantas mengapa aku merasakan sesak yang tak dapat kuhindari saat mengingat perlakuan lelaki itu? Lebih tepatnya saat Araz membatalkan kencan secara sepihak.


Heh, bohong jika aku baik-baik saja dan menyangkal perasaanku sendiri. Padahal pada kenyataannya aku tidak baik-baik saja. Aku merasa tak terima Araz memperlakukanku seperti itu. Aku bukan barang yang tak punya perasaan yang bisa semudah itu dibuang saat tak dibutuhkan. Terlebih saat ia memutuskan pergi tanpa pamit. Meski dengan alasan sakit sekalipun. Toh itu pun belum tentu kebenarannya. Siapa yang berani menjamin? Tetangganya yang di Bandung itu? Bisa saja 'kan mereka telah bersekongkol sebelumnya. Meminta sang tetangga membuat alibi seolah-olah orang tua Araz sedang menjenguk anaknya yang sakit di Jakarta. Fakta yang tak sanggup disangkal, Araz memang berniat menghilang sejak awal. Bahkan hingga menjual apartemen miliknya.


"Kusut amat wajah lo, Nya. Bukannya abis makan bareng, Abang?" Vina menyapa saat aku duduk dengan perasaan kesal di balik kubikel.


Dari meja kerjaku, aku bisa mendengar single perdana Nada Sumbang yang diputar secara berulang-ulang. Perempuan itu memang sedang gandrung-gandrungnya dengan Nada Sumbang dan menganggapku beruntung karena menjadi adik vokalis band pendatang baru itu. Meski tahu statusku sebagai adik tiri dan pernah menjadi mantan kekasih di masa lalu. Aku terpaksa menceritakan semuanya pada Vina saat ia tanpa sengaja mempergokiku diantar Putra pada suatu pagi beberapa hari yang lalu. Daripada urusannya semakin runyam dengan berbagai gosip yang berkembang.


Setelah menganggapku sial, Vina tetap saja memandangku sebagai perempuan yang beruntung karena bisa mengenal sekelompok lelaki tampan, yang saat ini sedang menjadi sorotan banyak orang. Tidak sedikit perempuan di negeri ini yang ingin menjadi dekat dengan salah satu dari mereka. Sedang aku mengenal semuanya. Bahkan berstatus sebagai adik tiri sang vokalis. Itu yang digarisbawahi dan disebut berulang-ulang. Sampai aku bosan mendengarnya.


"Tapi beneran deh Nya, lo kusut banget sih akhir-akhir ini? Bukan karena masih cinta sama Abang, kan? Dia udah jadi milik banyak orang Nya. Lo nggak bisa seenaknya, mentang-mentang di masa lalu kalian pernah dekat. Status adik nggak menjamin kalian terjebak dalam cinta lama bersemi kembali alias CLBK."


"Ish, cowok nggak cuma Putra. Makan aja tuh wajah yang lo bilang ganteng," ucapku sebal sambil melempar kulit kacang bekas camilanku tadi pagi. Vina hanya tergelak. Namun sesaat wajahnya kembali serius menatapku.


"Gue beneran tanya nih, lo kenapa kusut gitu sih?"


"Ogah gue jawab. Bukan masalah penting."


"Yeyy... bilangnya gitu, tahu-tahu punya kisah asmara sama vokalis Nada Sumbang," kata Vina un-kontrol. Untung ruangan sedang sepi orang. Hanya ada Deni dan beberapa tim marketing yang sedang sibuk dengan - entah apa itu yang mereka kerjakan.


"Astaga, Vina. Gue lakban juga mulut lo lama-lama. Sekalian aja umumin di papan pengumuman atau muat di halaman pojok artis lo itu. Heran gue, mulut enteng banget dah ngomongnya."

__ADS_1


"Hahaha... ya sori Nya, abis jiwa kekepoan gue meronta-ronta liat wajah kusut lo itu."


Belum sempat aku membalas pernyataan Vina, Mas Hanung muncul di balik pintu ruangannya dan memanggilku. "Nya, ke ruangan gue!"


Ini lagi, apalagi sih? Heran gue, suka banget sih manggil orang. Awas aja kalo bahas soal Araz atau ngajak main puzzle lagi.


Setelah tahu aku juga suka menyusun puzzle, Mas Hanung sering kali memanggilku hanya demi menyelesaikan susunan puzzle yang jumlahnya ratusan keping itu. Bahkan saking seringnya dia memanggilku ke ruangannya, beredar kabar di kalangan divisi iklan maupun marketing jika aku selingkuhan Mas Hanung. Apalagi saat sesekali Abi diajak ke kantor dan langsung nempel padaku tanpa mau lepas. Gosip yang beredar semakin santer. Kalau saja hubunganku dengan Putra terendus juga, entah bagaimana aku akan sanggup melewati hari-hariku di perusahaan ini.


"Ada perlu apa, Mas?"


"Duduk dululah. Gue nggak punya utang sama lo 'kan?"


"Nggak ada sih, tapi Mas Hanung tuh bikin hidup saya nggak lepas dari gosip miring gara-gara sering manggil saya ke ruangan waktu jam kerja."


"Omongan orang masih lo tanggepin. Kayak idup mereka udah bener aja. Udah sini, temenin gue main puzzle. Gue abis beli yang tiga dimensi."


"Udah nggak usah bawel. Suntuk gue."


Meski begitu, aku tetap duduk di kursi depan Mas Hanung yang sedang membongkar mainan barunya. Bagaimanapun aku tertarik untuk menyusun puzzle tiga dimensi berbentuk kerajaan King Arthur's yang memiliki 865 kepingan itu. Aku pun heran, dari mana Mas Hanung mendapatkan puzzle dengan bentuk yang begitu rumit seperti ini.


"Nya, dunia lagi ribut soal penemuan virus jenis baru. Gue mau lo siap-siap dengan kemungkinan terburuk yang akan terjadi satu atau dua bulan mendatang. Pemerintah kita boleh sesumbar saat ini, tapi kita nggak pernah tahu apa rencana Tuhan."


"Iya sih Mas, saya udah baca berita yang mulai bertebaran. Kayaknya kita juga perlu ambil langkah antisipasi. Mengedukasi masyarakat tentang virus ini. Kalau saya jadi menteri sih langsung tutup jalur penerbangan ke maupun dari luar negeri."


"Sinta yang ngerasain langsung gimana orang-orang di luar udah mulai panik begitu virus itu menyerang dengan cepat. Gue sih nggak berharap kita juga bakal ngadepin kondisi yang sama, tapi nggak menutup kemungkinan juga bakal cepat nyebar. Kita bakalan jadi garda terdepan penyebaran informasi kalau kondisi yang nggak diharapkan bakal terjadi. Bener juga sih kata lo, harus ada tindakan tegas kalau udah mulai viral kayak gini."

__ADS_1


"Trus kapan kita rapat redaksi buat bahas masalah ini?"


"Besok kita agendakan deh. Oh ya, tadi gue ketemu Pak Beni, lo diminta bantuin ngisi naskah di laman daring mulai besok. Ada dua reporter yang mengundurkan diri, dan mereka kekurangan tenaga. Jadi dia minta lo nulis di daring juga. Ini bukan tawarn loh, tapi permintaan. Lo tahu apa artinya 'kan?"


Ucapan Mas Hanung sukses membuatku tercekat. Bisa-bisanya orang itu dengan mudahnya mengumumkan hal sepenting ini tanpa pembahasan serius. Bahkan dia mengatakannya sambil menyusun puzzle tanpa meminta pendapatku lebih dulu. Persis seperti titah raja yang harus dituruti kemauannya. Hufftt... makin lengkap saja beban hidupku. Tidak ada yang paling sibuk sebagai reporter kecuali untuk media daring. Dan itu akan segera terjadi dalam hidupku. Mulai besok.


"Kok nggak minta pendapat saya dulu?"


"Kelamaan. Keburu kita nggak dapat berita. Lagian itu juga dibayar per naskah yang masuk. Jadi tetap nggak merugikan lo."


"Iya, tapi makin banyak berkorban waktu, Mas."


"Oh ya, btw gue dapat kabar dari Araz."


Dari semua pembicaraan kami yang melompat-lompat, inilah hal yang paling ingin aku hindari. Pembicaraan tentang Araz yang sudah bosan kubasah entah dengan siapa lagi. Mulai Almira, Damar, Putra hingga Mas Hanung. Sama sekali tak ada yang kuharapkan. Membicarakan lelaki itu hanya membuatku semakin merasa pilu. Sedang aku sudah bosan menangis hanya demi lelaki yang tek jelas tujuannya.


"Nya, lo harus tahu ini," ucap Mas Hanung lagi sambil menimbang-nimbang bagian puzzle yang dia pegang. Lantas menggantinya dengan bagian lain. "Araz beneran cinta sama lo."


Aku hanya tertawa sinis menanggapi pernyataan lelaki itu.


"Serius Nya, dia nggak pernah ngerasain secinta ini sama perempuan."


"Ya kalau cinta, terus mau apa, Mas? Orangnya aja nggak tahu sekarang ada di mana?"


"Kalau orangnya ada di sini gimana?"

__ADS_1


Aku refleks menoleh ke arah sumber suara yang bukan berasal dari Mas Hanung. Tubuhku membeku. Lelaki yang baru saja kami bicarakan berdiri di depan pintu. Tubuhnya terlihat kurus dari terakhir kali aku melihatnya.


__ADS_2