Pulang

Pulang
Gelisah


__ADS_3

Renjana Putra


Semalaman Putra tak bisa memejamkan mata. Lelaki itu terus memandangi layar gawainya. Membaca pesan yang baru saja dikirim Anggit menjelang pukul 12.00 malam usai latihan. Akibatnya Putra sama sekali tidak bisa tidur karena memikirkan apa yang harus ia lakukan besok saat bertemu dengan Kanya.


Apakah perempuan itu masih bersikeras menghindarinya? Apakah perempuan itu akan memakinya? Atau justru perempuan itu sama sekali tidak peduli terhadapnya? Bagaimana jika Kanya mengusirnya bahkan sebelum ia sempat menyapa? Bagaimana jika ternyata Kanya sudah tidak menempati gedung apartemen itu? Bagaimanapun Audya terakhir mengirim paket sudah sejak enam bulan lalu. Bahkan pikiran Kanya tak bisa ditebak apa yang akan dilakukan selama satu bulan ke depan.


Begitu banyak pertanyaan yang menggangu pikiran Putra. Membuat lelaki 26 tahun itu tak juga dapat memejamkan mata meski jam di dinding kamar yang ia huni bersama Arlan telah menunjukkan pukul 01.30 dini hari. Putra gelisah menanti esok yang terasa lebih lama dari biasanya. Bahkan selama ini, ia merasa malam kurang panjang dan tahu-tahu pagi cepat sekali menjelang.


Putra menatap ranjang di sampingnya yang ditempati oleh Arlan. Lelaki itu sudah jatuh tertidur sejak tadi. Bahkan sebelum Putra menuntaskan ritual mandinya. Seolah tanpa beban pikiran yang mengganggunya.


Rumah yang sekaligus menjadi basecamp Nada Sumbang itu, memang hanya memiliki tiga kamar. Jadi harus ada yang mau mengalah berbagi tempat tidur dengan personil lain. Awalnya Putra menginginkan kamarnya sendiri, tapi Arlan memaksa cowok itu untuk berbagi kamar. Untung kamar itu berukuran cukup luas. Jadi mereka bisa memasukkan dua ranjang berukuran sedang tanpa harus berbagi tempat tidur pula.


"Ar, woi Arlan. Nyenyak banget sih tidur lo."


Iseng, Putra memanggil Arlan yang jelas-jelas sudah pulas. Ia bahkan bangun dari posisi rebahannya dan menggambari wajah Arlan dengan spidol, untuk mengusir kebosanan menanti pagi.


Mungkin seperti ini yang dirasakan sosok yang digambarkan Noah Band - saat itu masih menggunakan nama Peterpan dan menjadi soundtrack film Alexandria yang diperankan oleh Julie Estelle - dalam lagunya yang berjudul Menunggu Pagi.


Apa yang terjadi dengan hatiku


Kumasih di sini menunggu pagi


Seakan letih tak menggangguku


Kumasih terjaga menunggu pagi


Malam begini, malam tetap begini

__ADS_1


Entah mengapa pagi enggan kembali


Huufftt... napas Putra semakin sesak saat menirukan lagu itu dalam hatinya. Keisengannya menggambari wajah Arlan sudah hilang. Ia kembali merebahkan badan di busa kasur dan menatap langit-langit kamar. Kegelisahan belum juga memudar dari hatinya. Justru semakin menguat seiring detik jam yang terus bergulir, tapi terasa lambat saat dirasakan.


Putra menegakkan punggung. Bangun dari posisi berbaringnya dan melangkah menuju balkon kamar yang menghadap ke halaman samping. Sunyi. Namun hatinya gaduh menyebut nama Kanya yang justru membuat lelaki itu semakin gelisah.


Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan kotak rokok. Sudah lama sebenarnya ia berhenti merokok. Awalnya pun ia hanya iseng mencoba saat SMA, tapi keburu ketahuan Kanya dan tak pernah menyentuhnya lagi. Sesekali ia merokok saat kuliah untuk mengusir penat yang terlalu pekat. Namun akhir-akhir ini kebiasaan itu muncul lagi. Demi meringankan beban dalam pikirannya yang tak bisa semudah itu ia bagi dengan orang lain. Kecuali Noah, sepupunya.


Putra menghisap kuat-kuat asap rokok dan membiarkannya memenuhi rongga paru-paru. Lantas menghembuskannya lewat mulut sambil sesekali membentuknya menjadi lingkaran yang lantas hilang di udara. Berulang. Sampai tanpa terasa ia telah menghabiskan tiga batang rokok dalam sekali duduk. Sudah melebihi batas perjanjiannya dengan diri sendiri.


"Kenapa sih lo, kepikiran Kanya lagi?"


Tiba-tiba Arlan sudah berdiri di samping Putra dan merebut kotak rokok dari tangan lelaki itu. Arlan ikut duduk di pembatas balkon dan menikmati kesunyian pukul 02.00 dini hari sambil menghisap rokok hasil rampasan. Wajahnya masih penuh dengan coretan spidol akibat ulah Putra. Namun Putra bersikap seolah tak terjadi apa-apa meski susah menahan tawa.


"Eh, gue mendadak nemu ide buat nulis lagu," kata Arlan sambil turun dari pembatas balkon. Ia berjalan ke arah kamar dan mengambil gitar akustiknya yang sudah butut.


Hati Putra mendadak basah. Lelaki itu tahu pasti sejarah gitar butut yang saat ini dalam pangkuan Arlan. Gitar itu dulu pemberian dari ibu Arlan sebagai hadiah ulang tahun ke-10 sebelum beliau meninggal dunia. Keluarga Arlan memang termasuk yang menggeluti musik sebagai profesi. Ibunya dulu penyanyi terkenal meski setingkat provinsi. Sedangkan ayahnya seorang pemain band. Wajar kan, jika Arlan pun sudah menggeluti musik sejak usia dini.


"Dinda, mengapa kau siksa hatiku. Perih yang kurasakan selalu. Bisakah kau pergi bersama bayangmu.


Jangan lagi kau siksa batin ini. Kuhanya ingin tersenyum lagi. Meski tanpa kamu di sini."


Arlan mengulang notasi musik dari awal dan menyanyikan lagu yang jelas hanya untuk menyindir Putra. Namun Putra seolah tak peduli dan mengikuti lirik lagu yang diciptakan instan oleh Arlan. Mereka bernyanyi sambil sesekali saling bertukar keluh.


Hingga tanpa terasa Putra menitikkan air mata. Suatu peristiwa yang jarang sekali terjadi jika bukan saat melakukan konseling dengan Noah. Arlan bahkan sampai terkejut melihat bagaimana rapuhnya Putra yang selama ini ditutupi oleh sifat garangnya.


"Gue nggak tahu, gimana bisa terkadang orang tua bisa bersikap seegois itu," kata Putra di antara isak tangisnya. Arlan yang salah tingkah hanya mampu menghentikan petikan gitarnya dan menatap wajah Putra yang berubah sendu. "Mereka mengambil keputusan apa pun yang mereka mau dengan dalih demi kepentingan anak. Kalau kasusnya kayak gue sama Kanya, apa mereka juga masih berdalih demi kepentingan kami. Anak-anak mereka?"

__ADS_1


"Sori Put, bukannya gue nggak punya rasa empati, tapi gue takut keliru kalau jawab pertanyaan lo."


Putra tersenyum. Ia sendiri kaget bagaimana bisa dengan mudah mengucapkan kalimat yang bahkan ia tahan mati-matian agar tak terlontarkan di depan Noah.


"Gue juga heran kenapa bisa ngomong gini sama lo. Padahal gue sama sekali nggak pernah ngomong gini sama Noah."


"Tapi gue tanya serius deh, mau lo sama Kanya gimana sih sebenarnya?"


"Ya gue mau sampai akhir sama dia lah. Tapi gue bisa apa, Ar? Orang tua kita nikah dan mereka bentar lagi bakal punya anak. Apa gue bakal tega lihat si baby yang nggak punya dosa apa-apa harus dipisahkan sama ayah dan ibunya? Gue broken home, Ar. Dan gue nggak mau kalau adik gue juga ngerasain hal yang sama. Sakit banget rasanya tumbuh tanpa orang tua lengkap."


"Kalau itu gue juga tahu sih, meski kasus kita beda. Emang berat banget tumbuh tanpa orang tua lengkap. Kita dipaksa mengerti keadaan secara timpang."


"Nah, itu sebabnya gue nggak mau kejadian sama bakal calon adik gue. Gimanapun itu benih ayah kandung gue yang dititipin di rahim mamanya Kanya. Gue punya tanggung jawab juga buat ikut menjaga. Tapi gue juga nggak bisa nerima kenyataan kalau Kanya harus jadi adik gue sekalipun nggak punya ikatan darah. Masyarakat kita masih tabu dengan hal kayak gitu seandainya gue maksa harus tetap sama Kanya sampai akhir."


Arlan menepuk pundak Putra. Menyalurkan kekuatan agar temannya itu mampu melewati masalah yang sudah bertahun-tahun tak juga tuntas, akibat sumber masalahnya selalu melarikan diri setiap kali ingin diajak menyelesaikannya.


"Kalau lo ketemu Kanya, apa yang bakal lo sampaikan?"


"Gue mau minta maaf karena di masa lalu gue nggak bisa meminta mereka dengan tegas untuk berpisah. Gue nggak bisa janji bakal berhenti mencintai Kanya sebagai perempuan, tapi gue akan mencoba jadi kakak yang baik buat dia. Juga buat adek gue yang masih dalam kandungan. Setidaknya cuma itu yang gue pikir sekarang. Lo tahu rasanya Ar, hati gue semakin sakit karena menjauh dari Kanya. Gue juga pengen bahagia dengan Kanya meski dengan cara yang berbeda."


"Yakin lo bisa memosisikan diri lo jadi kakak yang baik buat, Kanya?"


"Gue nggak tahu, tapi gue akan berusaha. Yang gue sesali Ar, gue selalu memaksa dia buat kawin lari tanpa pernah mendengar pendapatnya tentang hal itu. Seolah-olah itu keinginan kita dan bukan keegoisan gue. Gue baru sadar sekarang. Kanya nggak butuh tinggal di luar negeri atau di mana pun yang jauh bareng gue, yang dia butuhkan cuma tinggal di dekat ayah dan juga mamanya. Tapi gue justru menjauhkan Kanya dari mereka berdua. Gue pengen ajak dia pulang, Ar. Ke tempat sesungguhnya. Bukan di samping gue."


Arlan mendengarkan dengan seksama keluhan hati Putra yang selama ini disimpan rapi seorang diri. Jelas saja lelaki itu tak bisa cepat move on dari Kanya, sebab permasalahannya begitu kompleks. Bahkan menjadi salah satu alasan mengapa Kanya tak pernah mau pulang.


"Sori gue nggak bisa kasih saran apa-apa sama lo, Put. Gue bahkan nggak tahu mau komentar kayak gimana lagi."

__ADS_1


Putra tersenyum. Ia menonjok pelan pundak Arlan sambil berucap,"Lo udah mau jadi pendengar gue malam ini aja, gue udah bersyukur."


Senyum keduanya semakin lebar. Putra benar-benar bersyukur, di ujung gelisahnya ia menemukan obat penawar justru di saat yang tak pernah terduga sebelumnya. Arlan telah membuat sebagian penat dalam pikirannya berkurang. Meski ia tidak tahu dan tidak bisa menebak apa yang akan terjadi besok ketika bertemu dengan Kanya. Setidaknya menjelang subuh, ia ingin merasakan sejenak tidur lelap.


__ADS_2