
Renjana Alcatraz
Langkah kami ringan menuju ke tempat parkir. Lagi-lagi perempuan itu menempuh perjalanan hampir empat jam seorang diri. Saat kutanya kenapa tidak diantar sopir, jawabnya agar kita bisa menikmati waktu bersama dengan lebih leluasa.
"Menikmati dengan leluasa gimana nih maksudnya?" godaku membuat pipi perempuan itu bersemu merah.
"Bukan perkara yang aneh-aneh, Mas. Ya maksudnya kita bisa ngobrol lebih santai. Lebih terbuka. Nggak perlu malu atau canggung kayak kalau diantar Pak Ratno."
Senyum tipis di sudut bibirku merekah. Kupandangi wajah Kanya yang menunduk malu saat mengucapkan kalimat itu. Perempuan itu, suatu saat terlihat sok kuat menantang kehidupan, terkadang tersungkur lemah di atas tanah, lebih banyak terlihat masa bodoh dan cuek dengan lingkungan sekitar, dan akan memilih diam ketika sedang marah atau terluka, tetapi lebih banyak malunya jika membicarakan hal yang sedikit menyinggung soal kehidupannya.
Berbagai ekspresi yang dia tunjukkan selalu membuatku gemas. Terlebih saat dia terlihat menunduk malu-malu jika membicarakan tentang perasaannya. Seperti saat ini. Aku tidak tahan untuk tidak mengecup pipinya yang memerah. Maka tanpa persetujuan perempuan itu, aku memeluk Kanya dan mencium kedua pipinya setelah sebelumnya mencubitnya karena gemas.
"Mas Araz," protesnya dengan raut terkejut seolah tanpa persiapan menghadapi tindakanku yang tiba-tiba. Aku tertawa. Baru kali ini aku melihat Kanya kaget oleh perkara yang berbeda.
"Kenapa, Sayang? Hemm ... ?" tanyaku membuat pipi Kanya semakin memerah.
"Ihh ... aku bukan anak kecil loh."
Tawaku berderai. Kanya tak mau dianggap jika dirinya memang imut dan menggemaskan, tetapi sikapnya selalu membuatku ingin mencubit pipinya.
"Memang harus anak kecil doang yang boleh dicubit pipinya."
"Ihh ... sekalipun anak kecil juga nggak bolehlah. Enak saja main cubit-cubit pipi."
"Hemm ... nggak boleh ya, tapi kalau menggemaskan kayak gini siapa yang nggak pengen cubit sih?" Iseng aku menggoda Kanya dengan mencubit pipinya lagi. Perempuan itu merengut dan membuang muka ke arah lain.
"Nggak lucu ih, Mas."
Sungguh, menggoda Kanya merupakan hal yang paling menyenangkan. Apalagi jika dia sudah mulai cemberut dan uring-uringan. Rasanya aku justru semakin ingin menggodanya.
"Tapi kamu lucu banget, gimana dong?"
Kanya menoleh ke arahku dengan tatapan galak. Sikapnya yang demikian justru membuat senyumku semakin lebar.
"Mana ada orang segede gini dibilang lucu? Mas Araz sih ngarangnya kelewatan."
"Memang kamu itu lucu, Kanya. Gemesin. Nggak sadar ya?"
Tatapan Kanya semakin galak. "Nggaklah. Orang memang nggak lucu," katanya kemudian sambil menjulurkan lidah.
"Tuh, kayak gitu nggak mau dibilang lucu?"
"Ah, tahulah. Balik yuk, kelamaan di tempat parkir dikira kita lagi mesum lagi. Kan nggak lucu orang media muncul jadi headline berita karena ketahuan mesum," ucap Kanya sambil memberengut. Dia terlihat kesal akibat aku godain sejak tadi.
"Biarin, mumpung nggak ada orang ini."
"Mas Araz, jangan aneh-aneh deh!"
Tawaku berderai. Sungguh menggoda Kanya kini menjadi kebiasaan baru yang mengasyikkan buatku. Apalagi respon perempuan itu selalu membuatku tertawa lepas. Bersamanya aku menemukan dunia yang selama ini hanya terlihat putih abu-abu.
"Nggak aneh-aneh, Nya. Memang kita lagi ngapain sih? Hayoo ... ."
__ADS_1
Kanya menunduk. Menyembunyikan wajahnya yang memerah. Aku tahu. Meski suasana gelap, aku bisa melihatnya dengan jelas. Wajahnya yang semakin menggemaskan saat dia tersipu.
"Ya sudah, pulang yuk! Tapi sebelum itu, mau makan di mana kita?" tawarku sambil menstarter mobil dan meninggalkan area parkir bandara.
"Sebentar, aku ada tempat yang ingin kukunjungi."
Dengan cekatan Kanya mengambil gawai dan membuka aplikasi map. Lalu menunjukkan sebuah kafe di sekitar daerah Ketintang. Cukup jauh jika ditempuh dari Juanda. Hampir setengah jam. Tapi melihat wajahnya yang mendadak penuh harap, membuatku tak tega menolaknya. Padahal aku yakin, perut Kanya pasti sudah berontak minta diisi.
"Nggak ada pilihan lain?"
Kanya menggeleng sebagai jawaban.
"Kenapa pengen banget ke sana?"
"Lihat review-nya di medsos bagus-bagus sih. Terus, aku punya misi," kata Kanya sambil memutar tubuhnya hingga menghadap ke arahku.
"Misi?"
"Iya, waktu Mas Araz mengajak aku ke tempat Mas Altar sama Mbak Senjani, aku lihat satu lukisan yang dibuat bukan sama Mas Altar."
"Ya, dan?"
"Nah, jawabannya ada di kafe yang mau kita kunjungi."
"Memang gimana konsepnya tuh?" tanyaku fokus menatap jalanan dan Kanya bergantian.
Perempuan itu tampak merenung sesaat sebelum menjawab pertanyaanku.
"Hemm, jadi kafenya tuh didesain sekaligus sama galeri lukis gitu. Cuma nggak kayak punya Mas Altar."
"Nah, lukisan yang sama yang ada di tempat Mas Altar, adanya di kafe ini, Mas Araz. Ya nggak sama sih, tapi dilukis sama orang yang sama. Ada beberapa malah. Makanya aku penasaran."
"Sama pelukisnya?"
"Bukan, tp sama lukisannya."
Aku manggut-manggut mendengar penjelasan Kanya. Sebelumnya aku tidak pernah tahu jika perempuan itu memiliki ketertarikan juga terhadap lukisan. Bahkan saat kuajak ke galeri milik Altar Adhyaksa - pelukis muda yang terkenal dan semakin naik daun itu - Kanya lebih antusias bertemu Senjani. Istri Altar yang juga seorang penulis novel. Dan sekarang, Kanya tiba-tiba mengajak ke sebuah kafe yang jauh dari tempat kami saat ini hanya demi melihat lukisan yang dimaksudkan.
"Oke, bisa saja sih kita ke sana, tapi apa kamu nggak lapar? Lumayan loh perjalanannya. Hampir 30 menit. Bisa tahan?"
"Tadi waktu aku nunggu Mas Araz, sudah sempat makan kok. Yah, walaupun sekarang sudah lapar sih, tapi aku masih bisa tahan kok."
"Hemm ... ya sudah deh kalau gitu. Deal ya, kita ke sana."
"Oke."
Kanya tersenyum sumringah mendengar jawabanku. Senyum perempuan itu menular. Sudut bibirku mengembang. Mata Kanya yang ikut tersenyum membuatku jatuh semakin dalam. Apa pun asalkan membuat tawa itu terus terukir di bibirnya, aku rela melakukannya. Sebab, bersamanyalah aku menemukan dunia yang selama ini kucari.
***
Neon box bertuliskan Omah Kayoe menyambut kami ketika turun dari mobil. Bangunan itu 100 persen dari kayu. Bahkan jika biasanya kafe memiliki sekat-sekat kaca, tidak dengan Omah Kayoe. Termasuk lantai kafe tersebut.
__ADS_1
Di samping pintu masuk ada kolam kecil dengan gemericik air. Koi berwarna-warni berenang tenang di rumah mereka yang terbuat dari bebatuan alam. Interior kafe terlihat sederhana dengan meja kursi berbentuk lingkaran. Ada juga yang berbentuk persegi panjang dengan kursi panjang pula. Meski begitu kafe tetap terlihat ramai. Mungkin karena tempatnya yang mengingatkan kita pada rumah yang nyaman.
Saat pertama kali masuk ke dalam kafe, kita bisa menangkap sebuah lukisan yang dipasang di belakang meja kasir. Aku bisa mengenali siapa pembuat lukisan yang diberi judul Rehat dengan gaya khasnya dalam memainkan warna-warna pastel.
"Ini, lukisan Mas Altar?" tanya Kanya yang kini berjalan di sampingku. Perempuan itu pun sepertinya juga dengan mudah menebak siapa pembuat lukisan yang terpajang di belakang meja kasir.
"Iya, kelihatan dari permainan warnanya," kataku sambil menggandeng tangan Kanya untuk mencari tempat duduk yang masih tersisa.
Kami memilih kursi di bagian luar kafe yang menghadap ke arah taman. Namun, sebelum itu, Kanya berjalan memutari kafe yang memajang beberapa lukisan perempuan dengan kepala sedikit terpenggal. Jika tidak terpenggal, pasti wajah sosok perempuan yang digambarkan hanya separuh dan dari kepalanya digambarkan kebisingan kota, hutan terbakar, ataupun luas samudra yang bergejolak. Seluruhnya perempuan dan hanya digambarkan separuh badan.
Kanya berdiam diri cukup lama di depan setiap lukisan. Seolah terseret masuk dalam imajinasi pelukisnya. Seluruhnya ada sekitar tujuh lukisan dengan nuansa yang sama. Aku baru kali ini melihatnya dan luput dari pengamatanku jika lukisan yang sama juga ada di tempat milik Altar.
Kulirik sudut kanvas yang dibubuhkan tanda tangan. Rinjani. Nama itu seperti tidak asing, tetapi aku lupa pernah menemukannya di mana.
"Selamat malam, Kak. Ada yang bisa kami bantu?"
Seorang perempuan berseragam kafe menyapa kami. Pawakannya tinggi kurus. Meski tak setinggi Kanya. Rambutnya panjang bergelombang dan kulitnya agak eksotis. Ia mengenakan bandana yang senada dengan warna seragamnya. Benar-benar wajah yang tidak asing. Hanya saja aku masih tidak ingat di mana kami pernah bertemu sebelumnya.
"Hmm, kami mau lihat lukisannya sebentar, Mbak," jawab Kanya dibalas senyuman perempuan itu.
"Ya, silakan dinikmati, Kak. Memang kafe ini juga dijadikan sebagai ruang pamer. Nanti bisa panggil saya kalau mau pesan."
Saat perempuan itu hampir melangkah pergi, aku baru ingat siapa dia.
"Mau kenalan sama pelukisnya nggak?" tanyaku pada Kanya yang masih asyik menatap lukisan di depannya. Perempuan itu menoleh dengan mata berbinar.
"Boleh, memang dia ada di sini?"
Kanya balik bertanya. Terlihat jelas jika dia begitu antusias. Aku tersenyum menjawab pertanyaan Kanya dan memanggil pegawai berseragam kafe yang baru saja berlalu dari hadapan kami.
"Mbak, maaf mengganggu waktunya. Bisa ngobrol sebentar?" tanyaku membuat perempuan itu menoleh dan mengernyitkan kening.
"Ya, ada yang bisa saya bantu, Mas?"
"Pacar saya mau ketemu sama Mbak Rinjani. Dia tertarik sama lukisan yang dibuat Mbak Rinjani. Mbak, ada waktu?" kataku membuatnya terkejut. Namun, segera mengulas senyuman ramah.
"Boleh, kebetulan saya juga masih agak longgar," balasnya sambil mengajak kami ke bangku kafe yang berada di luar dan menghadap langsung ke arah taman.
"Mbak Rinjani ini pelukisnya?" tanya Kanya bersemangat tanpa basa-basi. Sedang perempuan yang terpaut tiga tahun lebih tua dari Kanya itu mengulas senyum sambil menjabat tangan kami bergantian.
"Iya, saya yang ngelukis kebanyakan lukisan di sini."
"Wah, kok bisa ya, saya mengagumi dua orang sekaligus dengan nama yang hampir sama. Satunya pelukis, satunya novelis," komentar Kanya membuatku tersenyum.
Dia tidak tahu saja, jika dua orang yang memiliki nama hampir sama dan dikaguminya itu, juga memiliki kisah percintaan dengan orang yang sama. Altar Adhyaksa. Pantas saja aku merasa tidak asing. Ternyata Rinjani adalah salah satu pelukis yang awal kemunculannya diorbitkan oleh Altar dan aku sempat menulis profilnya untuk La Fammes.
Sedang Rinjani terlihat salah tingkah menanggapi pernyataan Kanya tentang sebuah nama. Jelas dia tahu siapa novelis yang disebutkan oleh Kanya.
"Ya, mungkin itu cuma kebetulan saja," jawab Rinjani pada akhirnya. Sepertinya dia menutupi fakta bahwa mengenal sosok yang dimaksud Kanya.
"Oh ya Mbak, saya boleh bertanya-tanya sedikit 'kan tentang proses melukis Mbak Rinjani?"
__ADS_1
"Boleh saja sih. Silakan saja."
Sebentar saja kedua perempuan itu sudah saling akrab. Dan, aku hanya menjadi penonton di antara mereka. Meski begitu, aku tetap menikmati duniaku yang di dalamnya ada Kanya.