Pulang

Pulang
Yang Merusak Mood


__ADS_3

Renjana Putra


“Woi, salah mulu dari tadi. Itu lagu lo sendiri yang ciptain loh, kok bisa salah lirik mulu? Heran gue. Lagi mikirin apa sih?” bentak Arlan keras menegur Putra yang kehilangan konsentrasi sejak latihan dimulai. Laki-laki itu menekan tuts-tuts keyboard dengan kesal hingga menimbulkan bunyi yang mengganggu.


“Ya siapa suruh dia muncul di depan gue!” kata Putra tak kalah keras.


“Nggak usah kekanakan lo. Jangan nuduh orang lain buat kesalahan yang lo bikin sendiri!”


“Ya tapi kan kesepakatan kemarin nggak gitu. Dia baru boleh muncul kalau kita berangkat tour Jawa Timur.”


Arlan kehilangan kesabaran. Laki-laki itu berjalan ke arah Putra dan mencengkram kerah kemejanya. Tangannya mengepal hingga buku-buku jemarinya terlihat. Sementara Putra menatap tajam tanpa gentar.


Angel yang menjadi pemicu pertengkaran dan hampir saja melerai ketegangan di antara sang vokalis serta keyboardist Nada Sumbang itu, dicegah Alfian untuk tidak terlibat sementara waktu. Arlan yang perfectionist tak bisa menerima apa pun alasan yang membuat kekacauan dalam Nada Sumbang. Sedangkan Putra paling tidak suka jika kemauannya tidak dituruti. Mereka sama-sama salah. Untuk itu Alfian meminta Angel untuk tidak terlibat.


Pagi tadi, Arlan memutuskan agar Angel melihat latihan mereka. Tujuannya sebenarnya baik. Agar perempuan itu terbiasa dengan keperluan Nada Sumbang. Tentu susah menyiapkan segalanya bagi lima orang laki-laki dengan berbeda karakter dan kemauan. Arlan lupa, jika mood Putra bisa rusak seketika jika kemauannya tidak dituruti. Vokalis Nada Sumbang itu yang meminta agar Angel mulai bekerja saat tour Jawa Timur tiga hari lagi, tetapi justru sang leaderlah yang meminta perempuan itu untuk datang.


Sebenarnya sebelum latihan, mereka sudah hampir berdebat. Namun, Arlan tak menanggapi cibiran Putra yang jelas-jelas ditujukan padanya. Arlan menghemat tenaga untuk berlatih hari ini, tetapi justru Putralah yang memperkeruh keadaan hingga membuat sang keyboardist benar-benar murka.

__ADS_1


“Kenapa lo marah? Lo suka sama, Angel, makanya lo belain sampai segininya? Sejak kapan lo bertindak nggak sesuai kesepakatan?” tantang Putra menjadikan Arlan semakin kehilangan kesabaran. Dengan sekuat tenaga dia mendorong tubuh Putra sampai laki-laki itu jatuh terjengkang.


“Jaga mulut lo! Ini sama sekali nggak ada urusannya sama perasaan pribadi gue. Harusnya lo ngaca, karena ini urusan pribadi lo sendiri. Lo yang nggak suka Angel ada di sini. Bukan kita!”


“Nah kalau tahu gue nggak suka dia ada di sini, kenapa kalian masih sepakat dia muncul sebelum waktunya?” Suara Putra meninggi. Dia sudah berdiri dan menantang Arlan yang masih terbakar amarah.


Tubuh Angel yang masih ditahan oleh Alfian, mulai berkeringat dingin. Wajah perempuan itu semakin memutih menahan takut. Khawatir kalau-kalau Putra dan Arlan benar-benar baku hantam saat melihat mereka sudah berdiri saling menantang. Dia tak menyangka jika keberadaannya hari ini justru memicu pertengkaran antara Putra dengan Arlan. Padahal sebelum dia datang ke tempat latihan, dia berjanji pada dirinya sendiri agar berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi Nada Sumbang. Namun, justru dia yang mendapat sambutan baik hingga membuat tubuhnya gemetar ketakutan.


“Nggak selamanya kita mesti nurutin kemauan lo terus, Put. Kita ini kelompak, bukan lo sendirian.”


Wajah Putra melunak saat mendengar ucapan Arlan. Meski tak sepenuhnya luruh, setidaknya amarah mulai berangsur menurun. Putra menyadari keegoisannya yang sering kali membuatnya dengan Arlan berselisih pendapat. Tidak jarang mereka beradu argumentasi hingga hampir saling tonjok hanya demi menyamakan persepsi. Namun, itu semua akan segera berlalu setelah salah satu menyadari kesalahannya. Seperti saat ini.


Mereka berpelukan. Begitu pula dengan Alfian, Danu dan Anggit. Tak lama, tawa mereka berderai memenuhi ruangan.


Angel yang masih berdiri gemetar, hanya mampu melorotkan tubuhnya ke lantai dan bersandar pada drum. Wajah perempuan itu masih pucat.


Memang, dia sering mendengar jika Putra dan Arlan kerap kali berselisih paham, tetapi dia tak pernah menyangka jika tingkatan mereka beradu argumen sampai hampir baku hantam. Bagi Angel, ini pertama kalinya dia melihat seseorang saling berteriak dan menuding satu sama lain. Parahnya dia adalah pemicu dari semua kekacauan itu. Sekalipun pertengkaran itu tak lebih dari sepuluh menit.

__ADS_1


"Sori, Ngel, ke depannya lo pasti bakal sering nemuin adegan serupa. Tapi lo nggak perlu khawatir kok, kita nggak pernah benar-benar berantem. Ya kecuali kalau ada yang nekat bertindak kelewatan sih," ucap Alfian begitu suasana sudah mulai menghangat.


"Gue bisa lebih murka dari tadi kalau apa yang gue mau nggak sesuai keinginan. Tentang apa pun itu. Kalau perlu, catat! Gue nggak mau kejadian serupa terjadi lagi. Kalau gue minta lo jangan mendekat, jangan sampai muncul di hadapan gue barang seujung hidung pun. Lo tahu, peristiwa sekecil apa pun itu kalau bukan keinginan gue, bakal ngerusak mood. Paling nggak selama dua hari ke depan. Jadi jangan coba-coba bantah ucapan gue," kata Putra dengan nada tegas seolah mengibarkan bendera perang.


"Put ... ."


"Plis Lan, ini urusan gue sama Angel. Gue udah bilang 'kan, dia boleh jadi manajer Nada Sumbang, tapi bukan berarti dia bisa jadi manajer gue," ucap Putra keras kepala. Arlan hanya menggelengkan kepala menanggapi pernyataan laki-laki itu.


"Dasar kepala batu. Ya udah kali Ngel, kalau dia nggak mau diurus, biar dia urus dirinya sendiri. Kalau dia teriak karena lupa taruh mic atau barangnya yang lain, ya udah nggak usah diurusin. Biar dia tahu rasa," kata Arlan tak kalah serius dengan ucapan Putra. Mereka saling melirik tajam. "Ya impas 'kan? Katanya nggak mau Angel jadi manajer lo? Ya udah gitu aja."


"Ya tapi kan urusan mic itu sama Nada Sumbang, Lan."


"Mulai deh ribetnya kayak cewek," celetukan Danu membuat Putra melirik tajam ke arahnya. "Salah omongan gue? Nggak 'kan? Emang mulai ribet kayak cewek 'kan?"


"Tahu ah. Kalian nggak ngerasain di posisi gue sih."


"Astaga Put, heran deh gue sama lo. Sukanya bikin ribet diri sendiri. Udah deh, mending kita lanjut latihan aja." Alfian ikut membuyarkan perdebatan tidak penting di antara mereka. "Udah Ngel, kalau Putra emang nggak mau diurusin, biarin aja. Kan jadi berkurang beban kamu ngurusin kami. Tahu nggak, di antara kami tuh, Putra yang paling susah diurus."

__ADS_1


"Kok kalian jadi nyudutin gue sih?"


"Ya lo yang mulai sendiri!" jawaban kompak teman satu bandnya membuat Putra kehilangan kata-kata. Demi menekan ego yang kian memuncak, Putra mengambil mic dan mulai menyanyi saat iringan musik teman-temannya sudah mulai harmoni.


__ADS_2