
Keributan yang disebabkan oleh Putra berakhir ketika Araz berjalan memasuki lobi kantor. Dengan cepat Kanya mendorong tubuh sang kakak sambung menjauh dari lobi tempat mereka dikerumuni para fans sang vokalis Nada Sumbang.
Sebelum kedua orang itu bertemu, Kanya lebih dulu mengajak Putra ke ruangannya. Perempuan itu sengaja melakukan hal tersebut agar sang kakak sambung tidak sembarangan menyapa sang kekasih.
Perlu Kanya beri penegasan bahwa tidak ada seorang pun di MediaPena yang tahu jika dia dan Araz sedang berpacaran. Kecuali Hanung tentu saja.
Kalau Putra sampai menyapa laki-laki itu dengan asal - seperti yang biasa dia lakukan - lelaki itu bukan hanya bisa menyebabkan keributan untuk kedua kali pagi ini. Melainkan juga pasti sukses menjadikan Kanya sebagai public enemy.
Para perempuan itu pasti tak lagi menatap Kanya dengan sorot mata memuja atau apa lun itulah istilahnya. Berkat Putra, Kanya berhasil membuat citranya menjadi lebih baik. Tentu saja dia tidak mau jika harus menjadi bahan pembicaraan lagi.
Apalagi dengan gelar yang harus dia sandang sebagai pelakor. Amit-amit. Kanya sama sekali tidak pernah membayangkan hal itu terjadi.
Maka, sebelum dia kembali menjadi sorotan banyak orang, akan lebih aman jika kedua orang itu bertemu di tempat yang sepi.
"Ini ruangan kamu? Kok masih sepi?"
"Ini jam berapa, Monyet? Jam kerja mulai pukul delapan.
Lo tuh, pagi-pagi udah bikin ribut di kantor orang. Nggak sadar lagi kalau ini masih pagi banget."
"Wow...baru jam segini aja lantai dasar udah ramai banget tuh. Rajin-rajin juga ya pegawai MediaPena."
Kanya mendengus kesal. Ucapan Putra membuatnya menyadari apa yang menjadikan para kaum hawa di lantai dasar begitu antusias berangkat kerja dan sampai tiga puluh menit sebelum jam kantor mulai.
Alasannya hanya satu, mereka tidak bisa melewatkan begitu saja pemandangan indah yang terjadi setiap pagi.
Ya, apalagi kalau bukan kedatangan CEO MediaPena yang jadi idola semua orang. Mengingat hal itu membuat Kanya semakin kesal.
Kalau saja dia bisa mengatakan pada semua orang bahwa Alcatraz yang sedingin es tapi berjiwa matahari itu adalah kekasihnya.
Atau jika perlu, Kanya ingin memberikan label pada lelaki itu bahwa dia adalah milik Kanya.
Namun, tentu saja hal itu tidak bisa dilakukan.
Menjadi anak emas Hanung saja sudah membuatnya diterpa gosip murahan. Bagaimana kalau dia mengumumkan pada semua orang bahwa Araz adalah kekasihnya?
Sudahlah, Kanya tidak bisa membayangkan hal itu terjadi. Bisa dipastikan, dia akan benar-benar menjadi public enemy.
"Hei, kok kamu malah bengong sih?"
"Ck, udahlah. Bahas hal lain aja. Emang ngapain lo ke sini pagi-pagi?" Kanya mengulang pertanyaannya.
__ADS_1
"Oh, aku baru sampe tadi pagi, terus mampir sini. Cuma mau kasih titipan dari Mama, sih. Dia bawain oleh-oleh buat kamu," ucap Putra sambil menyerahkan paperbag pada Kanya.
Perempuan itu juga baru menyadari jika sang kakak sambung membawa bungkusan sejak tadi.
"Apaan nih isinya?"
"Sambal ikan asap, krupuk udang, kripik...nggak tahu deh sama apalagi. Ada sambal ikan cakalang juga kayaknya. Kesukaan kamu."
Sepasang mata perempuan itu berbinar begitu mendengar ucapan sang kakak sambung.
"Wah...baik banget sih kakak gue ini. Tahu aja kalau gue pengen banget makan masakan Mama. Apalagi sambel ikan asapnya nih."
Mata Putra menyipit saat mendengar pengakuan perempuan itu.
"Kenapa lo?"
"Nggak. Heran aja, kenapa kamu tiba-tiba bilang kangen masakan Mama? Lagi ngidam lo?"
"As..." Hampir saja Kanya mengumpat dengan kasar. Namun ucapan itu bisa dicegah sebelum benar-benar terucap.
"Nggak gitu juga goblok! Asal mangap banget sih kalau ngomong!" protes Kanya dengan wajah kesal.
"Haha...ya kali aja, Nya. Tapi...aku yakin sih, A...."
"Yaelah, emang kenapa sih? Kan dia juga pacar lo, kenapa nggak boleh sebut nama segala?" tanya sang vokalis Nada Sumbang dengan kening berkerut.
"Ck, udahlah. Nggak usah banyak protes. Pokoknya lo nggak boleh sebut namanya kalau lagi di sini."
"Emang nggak ada yang tahu?"
"Nggak ada. Bisa jadi musuh semua orang gue kalau ada yang tahu. Lo muncul tiba-tiba kayak tadi aja, udah bikin gue diserang banyak orang. Apalagi kalau tahu gue pacaran sama dia. Habis sudah. Beneran bakal jadi musuh semua orang gue," keluh perempuan itu sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.
Sedangkan Putra hanya bisa berdecak melihat sikap Kanya. Rasanya masih sangat aneh, tapi dia yakin akan segera terbiasa.
Putra sudah berjanji akan melepaskan perempuan itu dan berdamai dengan masa lalu mereka. Dia tidak boleh lagi mengorek-ngorek masa lalu yang hanya akan membuatnya menderita.
"Eh iya, ini kok dua banget sih oleh-olehnya? Satu doang juga nggak bakalan habis gue makan sendiri," ujar perempuan itu ketika melihat dua paperbag yang baru saja diserahkan oleh Putra.
Laki-laki itu tersentak. Ucapan Kanya membawanya kembali ke alam sadar.
"Menurut kamu? Jelas buat calon mantu lah."
__ADS_1
"Heh?!" Kanya terkejut begitu mendengar ucapan sang kakak sambung.
"Gila apa gimana sih si Mama. Ada-ada aja kasih ginian segala."
"Nih anak makin lama makin nggak terkontrol ya kalau ngomong. Udah gue elo, gue elo, masih juga ngatain Mama, gila. Kualat baru tahu rasa kamu."
"Eh, nggak gitu juga maksud gue. Tapi, ngapain si Mama bawain buat dia juga. Kan belum tentu dia juga suka makanan ginian."
"Elah, kan aku udah bilang kalau ini tuh buat calon mantu. Mama bilang gitu. Katanya, yang satu buat calon mantu. Jadi, kamu juga harus gitu nanti kalau bilang sama dia."
"Heh?!" Kanya kembali terkejut.
"Dih, kenapa sih? Emang gitu Mama bilangnya. Kalau nggak percaya, coba aja tanya sendiri.
Lagian kamu tuh, sehari sekali ngabarin Mama masa nggak bisa sih? Dia tuh selalu tanya kabar kamu loh tiap hari."
Kanya merasa bersalah setelah mendengar pernyataan Putra. Dia memang sudah berbaikan dengan sang mama. Dia juga sudah berjanji jika akan sering memberi kabar pada wanita itu. Namun, faktanya tidak semudah itu.
Kanya memiliki segudang aktivitas setiap hari yang terkadang membuatnya lupa untuk makan. Apalagi hanya sekadar memberi kabar?
"Iya deh, nanti gue kabarin Mama, sekalian bilang makasih."
"Tanyain juga tuh, bener nggak Mama bilang kalau ini buat calon mantu," goda Putra membuat Kanya salah tingkah.
"Udah dong. Gue geli dengernya, Nyet. Calon mantu, calon mantu mulu lo," kata Kanya demi mengalihkan rasa malunya akibat digodain oleh Putra.
"Ciee...si adik, sok-sokan malu, tapi aslinya mau."
"Apaan sih, Put. Nggak lucu ah. Sebel nih gue." Mulut Kanya memang berucap kasar, tapi wajah perempuan itu tak bisa berbohong bahwa dirinya salah tingkah.
"Haha...tuh kan, sok-sokan sebel, tapi berharap dia cepet-cepet lamar."
"Ish, apaan sih Putra! Udah, balik sana lo!"
"Dih, ngusir."
"Ya ini udah mulai jam masuk kerja, Put. Bentar lagi bakal rame orang. Lo mau bikin kehebohan lagi?"
"Haha...bilang aja kalau lo mau menghindar."
"Ish...apaan sih. Udah deh, cepet sana balik. Lo bakal bikin heboh semua orang kalau terus-terusan di sini," usir si perempuan sambil mendorong sang kakak sambung keluar dari ruangan.
__ADS_1
"Haha...iya, iya. Jangan lupa, oleh-oleh buat calon mantu dikasih ke orangnya," goda Putra benar-benar membuat wajah Kanya merah padam sekarang.