Pulang

Pulang
Season 2 #Ikut Aku Pulang


__ADS_3

Wajah Kanya tersenyum cerah. Perempuan itu begitu menikmati makan malam yang dimasak oleh Araz.


Ada berbagai macam menu yang memanjakan lidah serta perut Kanya.


Makanan di rumah sakit terasa hambar, katanya. Itulah mengapa dia ingin buru-buru pulang. Bagaimanapun masakan sang kekasih lebih enak dibandingkan semua jenis makanan yang dihidangkan selama di rumah sakit.


Sekalipun ruangan yang digunakan Kanya termasuk kelas VVIP. Tetap saja tidak memengaruhi rasa makanan yang disajikan.


"Kenyang?" tanya Araz sambil memperhatikan Kanya yang tengah mengelap mulut menggunakan tissu.


Ada bekas saus yang menempel setelah ia menikmati ayam saus teriyaki buatan Araz.


Senyum perempuan itu makin rekah. Jangan ditanya, tentu saja dia kenyang setelah makan dalam porsi besar. Masakan Araz benar-benar tak bisa dilewatkan.


"Ya, dong. Ini baru yang namanya makan," komentar Kanya, lalu meneguk es kuwut yang dihidangkan bersamaan dengan jenis makanan terhidang di atas meja.


"Memang selama ini kamu nggak makan?" Araz bertanya dengan nada menggoda.


"Ya, Mas Araz kan tahu sendiri. Mana ada masakan yang terasa nikmat kalau di rumah sakit.


No garam, no MSG. Hambar tahu nggak." Kanya mengeluh dengan raut muka terlihat menggemaskan.


Araz yang memperhatikan perempuan itu tak tahan untuk tidak menciumnya. Dengan gemas, lelaki itu mencium pipi Kanya hingga membuat sang kekasih terkejut.


"Mas Araz," protes Kanya justru membuat Araz tertawa.


"Salah siapa kamu gemesin."


"Ish. Udah ah, aku mau beres-beres dulu." Kanya sengaja menghindar.


Bisa bahaya urusannya jika mereka bertahan lebih lama di satu meja.


"Eh, mau ke mana?" tanya Araz sambil meraih tangan perempuan itu.


Kanya tak peduli dan melepaskan genggaman tangan Araz.

__ADS_1


"Ke dapur. Mau beres-beres. Kan udah bilang barusan," ucap Kanya berusaha terus menghindar.


"Nanti dulu, Nya. Ada hal yang mau aku bicarain sama kamu," cegah Araz, tapi tak dipedulikan oleh Kanya.


Perempuan itu tetap berdiri dari kursinya dan mengemasi piring-piring kotor dari atas meja.


"Oke, kita ngobrol setelah aku taruh piring kotor di dapur. Nggak lama juga kok," dalih Kanya membuat Araz tertawa.


Jelas sekali bukan itu yang membuat Kanya cepat-cepat kabur. Perempuan itu khawatir jika kecupan gemas yang baru saja dilakukan oleh Araz, bakal berlanjut pada adegan yang lebih intim.


Araz hanya menggelengkan kepala. Menertawakan dirinya sendiri dan juga Kanya.


***


Cukup lama waktu yang digunakan Kanya untuk membereskan piring kotor bekas makan malam mereka. Perempuan itu sengaja melakukannya agar tak segera bertemu dengan Araz.


Hingga lelaki itu merasa tak sabar dan menyusul Kanya ke dapur.


"Kamu bikin candi apa gimana sih, Nya?" tanya Araz mengagetkan perempuan itu.


"Eh, Mas Araz bikin kaget aja," ucap perempuan itu setengah terlonjak.


"Aku nungguin kamu dari tadi. Lama banget. Kupikir kamu bikin candi semalam suntuk."


Kanya mendelik ke Araz.


"Nggak lucu!" Perempuan itu menanggapi.


Araz hanya tersenyum simpul, lalu mengajak Kanya ke ruang santai yang sekaligus menjadi ruang tamu.


Lelaki itu mendudukkan Kanya di sofa dan menatapnya sorot mata serius.


"Kok Mas Araz ngeliatin aku gitu banget? Kita mau ngobrolin apa nih?" ujar Kanya sedikit khawatir.


Sejak mengenal Araz, baru kali ini perempuan itu melihat sang kekasih menunjukkan raut muka serius. Bagaimanapun hal itu membuat Kanya merasa cemas.

__ADS_1


Ia curiga, hal penting yang ingin disampaikan Araz berkaitan dengan hubungan mereka. Terutama setelah peristiwa penusukan yang melibatkan Kanya.


Sementara Araz tak mengatakan apa pun. Lelaki itu meraih tangan Kanya dan menggenggamnya dengan erat. Bahkan ketika Kanya bertanya untuk kedua kali, Araz tetap tak mengatakan apa pun.


"Mas, jangan bikin takut dong," keluh Kanya mulai tak sabar.


Sikap Araz membuat peret itu kian cemas.


"Mas Araz ih. Mau ngomongin apa sih?" ulang Kanya untuk ketiga kali. Namun, Araz tetap saja tak memberikan tanggapan.


Hingga beberapa menit berlalu, Araz tampak menghela napas panjang. Setelah meyakinkan dirinya sendiri, ia memulai percakapan di antara mereka.


"Ini berkaitan dengan apa yang dilakukan Cassandra padamu. Aku minta maaf. Aku ... "


Tak sempat Araz menyelesaikan kalimatnya, sang kekasih meminta lelaki itu untuk tak lagi melanjutkan ucapannya.


"Jangan katakan apa pun soal itu, Mas. Aku nggak mau mempersoalkan terkait, Cassandra.


Aku menganggap itu sebagai kecelakaan dan Mas Araz nggak perlu minta maaf. Itu bukan salahmu."


"Ya, aku tahu. Tetap saja aku harus bertanggung jawab, Nya. Karena ulah Cassandra kamu justru menerima akibat perbuatannya."


Kanya tersenyum simpul.


"Memang gimana Mas Araz mau bertanggung jawab?"


Lelaki itu membulatkan tekad setelah menghela napas.


"Ikut aku pulang, Nya. Cuma itu cara yang bisa kulakukan untuk menebus kesalahanku."


Kening Kanya berkerut. Ia tak bisa memahami maksud ucapan Araz.


"Maksudnya?"


"Kita pulang ke Seoul. Kita temui kakek dan katakan padanya bahwa kita nggak mungkin terpisahkan.

__ADS_1


Aku butuh persetujuanmu. Ayo, kita pulang bersama!"


__ADS_2