
Akhir pekan yang sibuk. Sedari pagi Araz sudah memintaku bersiap-siap. Padahal jam di dinding kamarku masih menunjukkan pukul 06.00 pagi. Sementara laki-laki itu sudah sibuk di dapur entah sejak kapan. Ketika aku bangun, harum masakan sudah tercium dari dapur dan membangkitkan selera makanku. Sejak aku kembali ke Jakarta berat badanku sepertinya sudah naik tiga kilogram dari terakhir kali aku menimbang. Itu karena Araz tidak mengizinkan aku sampai kelaparan.
Seperti halnya hari ini. Tadi malam dia memutuskan untuk tidur di apartemenku demi menyiapkan bekal untuk piknik kita hari ini. Katanya mumpung hari libur dan ada kesempatan untuk menikmati waktu berdua. Makanya dia mengajak aku piknik. Aku hanya mengiyakan tanpa bermaksud menolaknya. Bagaimanapun aku tidak akan sanggup menolak ajakan Araz yang berusaha tetap membuatku senang, meskipun akhir-akhir ini dia disibukkan dengan berbagai urusan kantor yang tidak bisa ditinggalkan dan harus dia sendiri yang menghandelnya.
"Mas Araz masak apa sih? Enak banget aromanya? Jadi lapar nih," kataku demi menghindari permintaannya untuk mandi. Ini masih jam 06.00 dan seharusnya masih ada setengah jam untuk menikmati waktu tidurku.
"Nggak ada kata lapar, mandi dulu, siap-siap, baru kita sarapan," tegas Araz masih sibuk di belakang penggorengan. Entah apalagi yang dia siapkan. Wajahnya yang begitu serius menyiapkan bekal terlihat begitu tampan. Sepertinya, aku sekarang mulai tanpa ragu mengakui juga memuji setiap hal yang hal berkaitan dengan Araz. Bahkan, aku pun tidak akan ragu menunjukkan jika aku memang mencintai laki-laki ini.
Iseng, aku berjalan mendekat dan memeluknya dari belakang. Kurasakan tubuhnya menegang. Mungkin juga menghambat aktivitasnya memegang spatula juga penggorengan bersamaan. Meski begitu dia tetap membiarkanku memeluknya. Sedang aku mengintip dari balik punggung Araz apa yang sebenarnya dia masak di atas penggorengan.
"Oh, pantesan baunya harum banget," kataku saat tahu Araz sedang membuat nasi goreng lengkap dengan irisan sosis, bakso, ayam, dan orak-arik telur.
"Iya makanya mandi dulu, Sayang, abis itu kita sarapan. Oke?" ucap Araz sambil melepaskan tanganku dari pinggangnya. Sebelum mendorong tubuhku menjauh, dia mengecup kening dan kedua mataku. "Udah mandi sana, kamu bau tahu."
"Ish, udah tahu bau juga masih dicium aja." Aku menjulurkan lidah sebelum kembali ke dalam kamar dan menuruti permintaan Araz agar segera mandi serta bersiap-siap untuk pergi.
__ADS_1
"Mandinya jangan lama-lama, Nya. Kita mesti menempuh perjalanan jauh hari ini."
Teriakan Araz masih terdengar dari kamarku. Ya, tentu saja terdengar. Apartemen ini tidak sebesar rumah peninggalan Ayah yang kini masih terawat baik oleh Mama dan Ayah Eka. Atau seluas apartemen Araz yang kini sudah menjadi milik Putra. Jadi kangen mereka. Padahal belum ada satu bulan sejak kepulanganku dari kota tempatku tumbuh dan berkembang, tetapi rasanya aku sudah rindu dan ingin kembali pulang. Ironis bukan, padahal sebelumnya aku begitu membenci kata pulang. Jika bukan laki-laki yang sedang memasak itu yang menguatkanku, mungkin aku masih saja kehilangan arah sampai sekarang.
Bertemu dengan Araz adalah keberuntungan bagiku. Dan, memiliki laki-laki itu di sisiku adalah bentuk kasih sayang Tuhan yang tidak pernah kuragukan. Sungguh, aku tidak berlebihan menganggap Araz sebagai wujud kasih sayang yang diberikan Tuhan. Nyatanya memang laki-laki itu hadir di saat aku benar-benar merasa sendiri dan terpuruk oleh keadaan yang tidak sanggup kuhindarkan. Lalu Tuhan mengirimkan bala bantuan lewat wujud Araz yang tentu saja aku syukuri keberadaannya. Jika bukan karena laki-laki itu, mungkin kini aku akan menumpuk sesal.
Ya, sebab aku tidak pernah tahu apa yang akan terjadi seandainya tetap keras kepala dan menolak permintaan Ayah Eka untuk pulang. Bagaimana seandainya Mama tidak selamat dari kecelakaan yang mengharuskannya dioperasi atau sesuatu yang lebih buruk terjadi? Aku tidak bisa membayangkan. Keputusanku untuk pulang memang sudah seharusnya dan tidak bisa kuhindarkan.
"Nya, jangan lama-lama mandinya," suara Araz terdengar lagi. Kali ini lebih dekat. Pasti laki-laki itu masuk ke dalam kamar dan entah menyiapkan apalagi. Padahal ini hanya perjalanan satu hari, tetapi sepertinya Araz begitu memperhatikan seluruh persiapan hingga semuanya tampak sempurna. Paling penting, jangan sampai ada satu hal pun yang tertinggal.
"Tenang aja Mas, aku mandi nggak lama kok. Paling juga sejam lagi baru selesai," candaku membuat laki-laki itu mengetuk pintu kamar mandi.
...****************...
Tidak pernah terbayangkan di pikiranku jika Araz akan mengajakku ke pantai setelah perjalanan hampir dua jam yang cukup melelahkan. Namun, semua itu terbayar saat sampai di tempat tujuan. Tempatnya yang tidak begitu ramai menjadikan suasana pantai semakin nyaman. Apalagi pemandangannya yang memanjakan mata.
__ADS_1
Aku tidak tahu dari mana Araz mengetahui tempat ini, tetapi kuakui jika pilihannya begitu sempurna. Dari tempat kami berdiri saat ini, kami bisa melihat tebing membentang dengan batuan karang yang berdiri kokoh di kejauhan. Meski tidak setinggi tebing yang ada di kejauhan, tempat ini pun cukup tinggi. Perlu menyusuri jalan setapak jika ingin menuju pantai dan bermain ombak yang tampak tenang.
Sementara Araz menggelar tikar dan menyiapkan bekal yang sudah dibawa, aku memilih berjalan-jalan di sekitar tebing dan menikmati semilir angin pantai. Sesekali aku membidik momen yang tidak bisa terlewatkan begitu saja melalui kamera polaroid yang memang sengaja kubawa.
"Nya, sini gih," teriak Araz saat laki-laki itu sudah selesai menyiapkan bekal dan menggelar tikar. Aku tersenyum kepadanya.
"Iya, Mas. Bentar, ada momen yang nggak boleh terlewatkan," kataku begitu tahu Araz sedang duduk dan tersenyum ke arahku. Senyum laki-laki itu semakin lebar saat tahu aku sedang mengarahkan kemera padanya.
"Hobi kamu sekarang jadi tukang motret ya. Coba sini aku lihat gimana hasilnya?"
Aku hanya tertawa menanggapi pernyataan Araz. Sambil menunggu hasil cetak foto di kertas polaroid jadi, aku berjalan ke arahnya. Kupandangi beraneka rupa makanan yang membangkitkan selera. Araz memang paling tahu apa yang aku mau. Kucomot potongan buah stroberi, lalu berbaring di samping Araz yang masih duduk di posisinya semula.
"Ck, memang ganteng banget sih, Mas Araz. Nggak salah kalau dari tadi banyak orang yang ngeliatin ke sini. Sumbernya dari sini ternyata," kataku begitu kertas polaroid semakin jelas menunjukkan gambar Araz.
"Mulai deh, coba mana sini lihat."
__ADS_1
Tawaku berderai. Kutunjukkan hasil jepretanku yang sepertinya juga membuat Araz suka. Kami sama-sama tertawa sambil menikmati potongan buah yang terasa begitu segar mengalahkan cuaca hari ini yang cukup terik. Meski begitu, asal bersama, kami tetap saja bahagia.