
Renjana Kanya
"Kamu, benar nggak bisa jadi manajer Nada Sumbang ya?"
Pertanyaan itu meluncur dari bibir Putra saat kami dalam perjalanan pulang dari rumah Anggit. Sebenarnya aku membawa mobil sendiri saat menyusul ke rumah Anggit tadi, tetapi karena sudah larut malam, Putra memaksa untuk meninggalkan salah satu mobil dan pulang bersama. Aku menyetujuinya, mengingat mata rasanya sudah tidak bisa melek.
Putra mengemudikan mobil dengan kecepatan rendah. Jalanan kota begitu sepi sebab ini sudah pukul 12.00 malam lebih. Apalagi Tuban termasuk kota kecil, meski dilewati jalur nasional antar kota antar provinsi.
"Ya, aku tahu kamu punya mimpi dan keinginan lainnya, tapi, jadi manajer Nada Sumbang juga pernah menjadi impian kamu waktu itu. Bagaimanapun dari SMA kamu yang bantuin Nada Sumbang sampai bisa dikenal banyak orang dan manggung di kafe-kafe maupun acara-acara. Kami nggak mungkin lupain itu sih, Nya."
Aku tersenyum mendengar ungkapan Putra. Mana bisa aku melupakan kenangan itu. Berawal dari keisenganku menawari ayah untuk mengundang Nada Sumbang di acara yang digelar kantornya, membuat tawaran semakin banyak berdatangan. Meski aku sempat berdebat dengan ayah jika yang kulakukan itu merupakan tindakan nepotisme. Namun, Nada Sumbang membayarnya dengan kualitas bermusik meraka yang bagus dan membuat tamu undangan mengacungi jempol. Sejak saat itu mereka sering diundang untuk mengisi acara kenegaraan di kabupaten maupun acara-acara penting lainnya.
Sebelumnya mereka memang sudah pernah manggung di satu atau dua kafe, tetapi saat aku memberanikan diri mempromosikan mereka lewat media sosial, jadi semakin banyak undangan yang datang. Itu awal mula aku dinobatkan sebagai manajer Nada Sumbang yang bertugas mengatur jadwal mereka. Tidak hanya itu, bahkan mereka bergantung sampai hal terkecil sebelum persiapan manggung dan lain sebagainya.
Mana bisa juga aku lupa, pernah memarahi kru panggung yang teledor saat mempersiapkan alat band sebelum tampil. Stik drum milik Danu patah akibat kelalaian kru. Sialnya, Danu yang biasanya selalu membawa stik cadangan, hari itu pun lupa tidak membawanya. Saat itu juga aku meminta panitia mengubah susunan acara demi mendapatkan pengganti stik drum Danu yang patah. Tidak peduli mereka pun protes jika tindakanku merusak susunan acara yang sudah tersusun. Tindakan mereka juga sudah merugikan Nada Sumbang.
Juga peristiwa-peristiwa lain yang tidak pernah kulupakan sampai saat ini. Itu pula yang membuatku lebih senang berlibur ke Yogyakarta saat libur kuliah. Sebab aku bisa ikut ke mana pun Nada Sumbang manggung. Bahkan setelah berpisah dengan Putra sekalipun, justru momen-momen bersama merekalah yang paling kurindukan. Sialnya aku juga harus menghindari mereka demi tidak ingin bertemu dengan Putra.
Dulu, aku memang menganggapnya sebagai hal menyenangkan karena selalu bisa dekat dengan Putra. Apalagi dengan begitu bisa membuatku bertambah pengalaman dan menjadikan masa-masa remajaku semakin berwarna. Namun, saat ini jelas aku tidak bisa melakukannya.
__ADS_1
Pertama, tidak mungkin kan kedekatan jarak dan waktu membuat usaha kami untuk saling menerima kenyataan jadi ternodai hanya karena saling bertemu? Kedua, ada tawaran yang masih mengganggu pikiranku, meskipun tawaran menjadi manajer Nada Sumbang juga sempat membuatku ragu menerima tawaran itu. Ketiga, aku tidak bisa melukai perasaan Araz lebih dari ini - dengan masih menyimpan nama Putra sebagai sosok yang pernah kucintai. Bagaimana reaksinya jika tahu aku menjadi manajer Nada Sumbang dan membuatku dengan Putra semakin akrab?
Huufftt ... setelah Araz meneleponku tadi, tak lama dia mengirimkan pesan. Agak panjang.
Katanya,"Maafkan aku, Kanya. Ternyata aku nggak bisa. Aku nggak bisa menerima kenyataan jika kamu masih menyimpan nama Putra di hati kamu. Namun, bagaimanapun itu, aku akan berusaha menerima kenyataannya. Meski begitu, maaf, aku nggak bisa menahan rasa cemburu aku. Aku nggak bisa menerima kenyataan saat memikirkan kalian semakin akrab, tapi gimana bisa hal itu nggak mungkin terjadi? Sedangkan kalian terikat sebagai saudara tiri. Maafkan aku, Kanya. Aku sayang kamu. Maaf jika perasaan ini egois hanya ingin kamu memilikiku saja. Bukan yang lainnya."
"Aku yakin sih, Nada Sumbang bisa semakin bersinar kalau kamu yang jadi manajernya. Ya, kami memang sudah punya manajemen artis yang menaungi kami sih. Tapi meski begitu 'kan masih tetap butuh manajer yang ngurus kami."
"Kak, aku berterima kasih sih, kalian begitu percaya sama gue. Bahkan Ayah juga, sampai memohon sama gue buat dampingi lo. Tapi lo tahu 'kan, keputusan gue nggak mungkin berubah?"
Putra menghela napas saat mendengar ucapanku. Mobil yang dikendarainya berhenti di perempatan jalan saat lampu lalu lintas menyala merah. Laki-laki itu menyandarkan kepalanya sesaat di setir mobil. Sebelum akhirnya menoleh ke arahku dan menatap lekat.
"Apa karena kita? Sori, aku nggak bermaksud kepedean atau semacamnya, tapi kalau ingat antusias kamu yang dulu, rasanya kamu berbakat banget melambungkan nama Nada Sumbang. Apalagi lewat postingan kamu di akun media sosial. Kamu akui atau nggak, itu salah satu upaya yang bikin Nada Sumbang makin dikenal orang dengan ribuan pertemanan pada saat itu. Dan, aku yakin kita bisa melebihi saat itu - atau bahkan saat ini mungkin - kalau kamu yang mengurus kami."
"Ya, karena menurut aku, cuma kamu yang pas. Lihat sendiri 'kan, belum ada setengah tahun, jangankan setengah tahun, tiga bulan saja belum genap, kami sudah kehilangan manajer dengan peristiwa yang nggak mungkin terlupakan."
"Itu sih salah lo sendiri yang sok jadi pahlawan tengah malam," ucapku sewot Putra membahas peristiwa beberapa hari yang lalu saat terjadi insiden pemukulan oleh Ayah Vika. "Tapi, Vika benar-benar nggak apa-apa tuh?"
"Aku belum sempat ketemu lagi sama dia. Maksudku setelah manajemen memutus kontrak kerja sama dia. Terakhir kali kami ketemu, dia meminta maaf dan manajemen belum mengambil tindakan setegas itu. Aku kira juga nggak bakal sampai setega itu sih. Tapi ternyata justru lebih tegas dibanding apa yang aku bayangin."
__ADS_1
"Terkadang lo terlalu positive thinking sama suatu hal sih. Jadi nggak keprediksi apa yang bakal terjadi kalau tindakan ini atau itu yang diambil. Yang penting jalan saja dulu, risiko pikir belakang."
Putra tertawa. Lampu lalu lintas sudah berganti warna dan roda mobil yang dikemudikan Putra kembali menggilas jalanan berdebu.
"Tapi kalau boleh tahu, apa sih yang membuat kamu menolak tanpa berpikir dulu? 'Kan pekerjaan kita bakalan seru, Nya."
"Iya, menurut lo sudah pasti seru, tapi gue nggak bisa Terima tawaran ini, Kak."
"Iya makanya, kasih aku penjelasan dong."
Aku menghela napas. Sambil menatap jalanan yang lengang aku bercerita pada Putra apa yang membuatku mengambil keputusan ini. Tentu bukan alasan pertama maupun ketiga. Aku cukup mengatakan alasan kedua dan itu sudah membuat Putra puas.
"Iya sih, itu dunia kamu sekarang. Apalagi, Araz lebih butuh dukungan kamu saat ini. Pasti berat buat Araz menghadapi kenyataan yang nggak gampang."
"Iya makanya itu, Kak. Jadi nggak apa-apa 'kan kalau orangnya bukan gue yang jadi manajer kalian? Yakin deh, teman yang mau gue kenalin ke kalian lebih profesional dibanding gue. Dia juga lebih cekatan, gesit, pokoknya bakal cocok banget deh sama kalian."
"Yakin ada yang lebih hebat dibanding, Kanya?" kata Putra bermaksud menyindir. Aku tertawa menanggapinya. Sebab pernyataan itu sering aku lontarkan dulu untuk menghadapi suasana yang butuh tanggapan satir.
"Yakinlah. Dulu gue juga sering belajar sama dia soal mengurusi keperluan artis ini dan itu. Dia juga sudah aktif sejak SMA kok."
__ADS_1
"Memang siapa sih dia?"
"Nanti juga bakal tahu," kataku sok misterius. Padahal aku tidak yakin betul apa dia mau menerima tawaranku. Sebab, ada kisah yang tidak bisa aku ceritakan sekarang.