
Renjana Kanya
Otakku seolah tak mau berhenti berpikiran buruk saat Araz mengatakan jika Putra mengalami kecelakaan. Kecemasan yang tak wajar selalu meningkat setiap kali mendengar peristiwa itu terjadi. Apalagi jika dialami orang-orang di sekitarku. Aku pasti teringat kembali peristiwa yang telah merenggut ayah dari sampingku.
Tak bisa kulupakan bagaimana kabar tentang kecelakaan yang menjadikan ayah pergi selamanya. Waktu itu menjelang tengah malam. Aku belum juga bisa terpejam. Sementara Januari masih saja tak mampu mengeram hujan. Suasana sangat mendukung untuk mendengar kabar tentang kematian.
Telepon di ruang tengah berdering. Mama yang menjawabnya, tetapi detik berikutnya perempuan itu berteriak histeris dan membuatku segera berlari menuju lantai satu. Sebelum menjelaskan apa yang terjadi, perempuan itu menangis sambil merengkuhku dalam pelukannya. Berikutnya dia berbisik jika ayah mengalami kecelakaan dan meninggal di tempat. Lututku melemas seketika. Aku tak ingat apa yang terjadi selanjutnya.
Dan kini, bayangan itu kembali muncul. Kemungkinan-kemungkinan buruk selalu membayangiku. Bagaimana jika keadaan Putra cukup parah? Bagaimana jika kemarin menjadi hari terakhirku berbicara dengan Putra? Terlebih ketika Araz tak langsung mengatakannya padaku saat ia mendengar kabar jika Putra kecelakaan dari Arlan.
Rasanya aku ingin segera berlari untuk memastikan semua akan baik-baik saja. Aku berharap orang-orang yang mengevakuasi Putra tangkas menolong lelaki itu tanpa harus mengabadikannya lebih dulu, agar dapat segera terselamatkan. Sungguh, aku tak sanggup membayangkan kehilangan.
Sejak dalam perjalanan sampai ke tempat tujuan, aku tak henti mencemaskan bagaimana keadaan lelaki itu. Jariku tak henti mengetuk-ngetuk layar gawai untuk mengirim pesan pada Arlan. Aku ingin tahu bagaimana keadaan Putra secepatnya. Meski Arlan mengatakan jika dokter sudah menangani Putra dan tak perlu ada yang dikhawatirkan, tetap saja membuatku tak tenang.
Bahkan besok kami berencana BBQ bareng demi merayakan pindahan Putra dari basecamp Nada Sumbang ke apartemennya yang baru. Justru ia mengalami kecelakaan lebih dulu. Apalagi Putra tipikal orang dengan kosentrasi tinggi saat mengemudi. Bagaimana bisa ia mengalami kecelakaan?
Anya
Lan, gimana kondisi Putra? Dia baik-baik aja ‘kan?
Dia nggak gimana-gimana ‘kan?
Hatiku gelisah saat Arlan tak juga membalas pesan yang kukirim. Pikiran buruk lagi-lagi menyergap pikiranku. Tanganku gemetar saat mengirimi Arlan pesan.
Anya
Lan, plis balas, gimana keadaan Putra sekarang? Dia nggak apa-apa?
Tak lama kemudian, gawaiku berpendar. Muncul nama kontak Arlan di layar gawai. Tak sabar aku membaca pesan dari Arlan.
My Destiny ♥
Dia nggak apa-apa, Nya. Jangan panik, oke. Gue udah urus semua yang di sini. Gue kabarin lo buat pastiin kemungkinan dia butuh lo waktu siuman.
Anya
Jadi dia dalam keadaan nggak sadarkan diri waktu di mana ke RS?
__ADS_1
Jika tahu keadaannya seperti itu, lantas bagaimana aku tidak panik? Separah apa kecelakaan yang dialami Putra sampai lelaki itu tak sadarkan diri ketika dibawa ke rumah sakit. Padahal dia selalu berkendara dengan mobil selama di Jakarta. Sedang aku tahu pasti, dia tidak akan membawa mobil dengan kebut-kebutan selama di jalan.
My Destiny ♥
Ya, dokter sedang nanganin Putra sekarang. Bentar lagi juga udah rampung.
Anya
Gimana kejadiannya sih?
My Destiny ♥
Nanti gue certain kalau lo udah sampai sini. Jangan panik! Putra bakal baik-baik aja kok. Percaya sama gue.
Selama sisa perjalanan menuju rumah sakit aku tak bisa duduk tenang di samping Araz. Lelaki itu memaksa mengantarku. Aku tak bisa menolaknya mengingat aku tak mungkin bisa menyetir dalam keadaan panik. Dengan keberadaan Araz bisa membuatku sedikit tenang. Meski lelaki itu lebih banyak diam dan fokus pada kemudi.
***
Aku berlari lebih dulu setelah Araz memarkirkan mobil. Langkahku tergesa menuju ruang IGD tanpa memastikan apakah Putra masih dalam perawatan dokter jaga atau sudah dipindahkan ke ruang perawatan.
Tergesa, aku menyingkap seluruh kain penutup di ruang IGD demi menemukan Putra. Namun, lelaki itu tak kutemukan di mana pun. Tatapan protes dari perawat, dokter, bahkan pasien sekalipun, menatapku tidak suka setiap kali tak kutemukan sosok Putra di balik tirai. Hingga Araz menepuk pundakku dan mengatakan jika Putra sudah dipindahkan ke ruang perawatan.
Apakah aku tanpa sadar sudah membuatnya marah? Atau mungkin kecewa karena membentaknya?
Aku bahkan samar-samar ingat kejadian semalam. Dia sudah dengan begitu perhatiannya padaku dengan menanyakan bagaimana keadaanku yang mendadak tumbang akibat nyeri datang bulan. Namun, aku justru membentaknya dan memintanya diam. Bahkan lagi-lagi, aku mendapati tubuhku berada di atas ranjang ketika bangun keesokkan harinya. Pasti lelaki itu yang telah memindahkan tubuhku ke tempat tidur. Dia tetap begitu sabar menghadapiku.
Apakah mungkin dia benar marah akibat aku membentaknya saat tak segera memberitahu jika Putra mengalami kecelakaan? Atau dia beranggapan jika aku masih memiliki perasaan yang tertinggal pada Putra?
Jika dipikir-pikir, aku belum pernah bercerita padanya apabila sudah berbaikan dengan mantan yang kini menjadi saudara lelakiku itu. Bukan lagi sebagai sosok yang dulu pernah berbagi rasa, tetapi sebagai saudara yang saling mengasihi. Setelah ini, aku harus mengatakannya pada Araz tentang hubunganku dengan Putra yang sebenarnya.
Langkah kami berhenti di ruang Putra dirawat. Aku melihat Arlan dan seorang perempuan yang lebih muda dariku saat memasuki ruang VIP dengan fasilitas lengkap itu. Selain mereka berdua tak ada orang lain.
Arlan yang lebih dulu berdiri. Lantas perempuan yang bernama Vika - jika aku tak salah ingat - itu, mengikuti gerakan Arlan dan membiarkan aku mendekati Putra yang terlihat sedang memejamkan mata.
Detik itu aku sadar saat melihat kondisinya. Putra bukan mengalami kecelakaan, tetapi kekerasan. Wajahnya mengalami luka lebam di beberapa bagian. Juga tangan dan beberapa bagian tubuh lainnya yang terlihat. Bahkan pelipisnya seperti mengalami pukulan benda tumpul.
Amarahku meradang. Kutatap Arlan demi menuntut penjelasan.
__ADS_1
"Ini gimana bisa jadi kayak gini? Lan, dia berantem sama siapa sih?"
Lelaki itu membisu. Dia tampak gugup mendengar pertanyaan yang tiba-tiba terlontar dari bibirku. Sementara Vika yang berdiri di sisi kiri ranjang lelaki itu terlihat pucat. Tubuhnya gemetar ketika aku bertanya Arlan tentang kondisi Putra yang memprihatinkan.
"Gue bisa jelasin, lo tenang dulu."
"Gimana bisa tenang, badan dia lebam semua gini? Gimana juga cara kalian sembunyikan ini dari media?"
"Kanya, plis. Dengerin penjelasan gue dulu," kata Arlan sambil berusaha menenangkanku. Dia menuntunku agar duduk di sofa ruang rawat inap tak jauh dari tempat Araz berdiri. "Nya, lo nggak masalah kalau..."
Arlan melirik ke arah Araz. Aku tahu apa maksud lelaki itu. Dia berpikiran aku tak akan nyaman jika Araz mengetahui cerita tentang Putra. Bagaimanapun, Araz juga pasti akan segera tahu tentang keadaan saudara tiriku itu.
"Nggak apa-apa," tegasku.
"Lo inget Vika?" tanya Arlan membuatku menoleh pada Vika. Apa kaitannya hal ini sama, Vika? Benakku berontak tak terima jika Putra mengorbankan dirinya demi menyelamatkan perempuan itu. Apa pun alasannya. "Putra nolongin Vika dari ayahnya yang pemabuk. Pria itu suka main pukul dan..."
Tanpa menunggu penjelasan Arlan lebih lanjut, aku menghampiri perempuan yang kini semakin berdiri gemetar.
"Jadi lo yang udah bikin Putra babak belur kayak gini? Lo manajer Nada Sumbang 'kan, harusnya lo tahu gimana menjaga aset berharga artis lo," amukku tak mampu mengontrol emosi.
Sejak awal, aku tak suka melihat perempuan itu. Jelas sekali jika dia bermaksud mendekati Putra. Bahkan diawal pertemuan kami, perempuan itu menatapku tak suka saat berbaikan dengan Putra. Dan kini, dia menyeret artisnya sendiri dalam urusan keluarganya.
"Maaf Mbak, saya..."
"Gimana sih kerja lo sebagai manajer sampai bikin artis lo babak belur kayak gini? Jangan mentang-mentang Putra peduli sama lo, lo bisa seenaknya suruh-suruh dia ini dan itu."
"Nya, stop," kata Arlan mencegahku yang hampir saja menamparnya.
"Kenapa harus berhenti? Dia udah lukain artisnya. Harusnya dia bisa bedain mana urusan pribadi sama urusan kerjaan. Lagian gimana sih lo, kenapa nggak bisa cegah Putra buat urusan kayak gini aja? Lo yang tahu gimana keadaan Putra, Lan."
"Sori, gue udah cegah, tapi lo tahu sendiri 'kan Putra kayak gimana?"
"Trus kalau udah kayak gini siapa yang mau tanggung jawab?"
Emosiku tak juga meredam meski Araz mengenggam tanganku.
"Nya, plis. Kita cari udara segar dulu yuk."
__ADS_1
"Nggak Mas, ini harus diselesaikan segera."
"Kanya, ini rumah sakit. Putra gimana bisa istirahat kalau kamu ribut di sini," katanya membuatku luluh. Dia mengajakku ke taman rumah sakit untuk mencari udara yang lebih sejuk.