Pulang

Pulang
Season 2 #Gosip


__ADS_3

Sesuai yang dikatakan Sinta, perempuan itu benar-benar datang ke kantor pada keesokan harinya. Namun, tidak ada skenario berebut suami macam sinetron yang sering beterbangan di layar kaca. Cukup dengan kemunculan Sinta dan kemesraannya bersama Hanung di depan para anak buahnya, membuat mereka terdiam. Tidak lagi membicarakan tentang isu skandal yang sebelumnya santer ditujukan pada Kanya. Tapi itu hanya sementara.


Sementara.


Ya, setelah kemunculan Sinta, dua minggu kemudian, isu tentang Kanya dan Hanung kembali merebak. Gadis itu semakin menjadi uring-uringan. Tidak hanya pada Carol dan Carmen yang menjadi patner kerjanya - sekaligus sumber gosip bermula, tetapi juga kepada seluruh karyawan MediaPena yang bisa-bisanya termakan oleh isu murahan yang mereka sebar.


"Gue nggak habis pikir deh sama kalian, itu mulut bisa lebih kreatif sedikit nggak sih?"


Pada puncak kekesalannya, Kanya kembali beradu mulut dengan Carol. Mereka baru saja selesai istirahat makan siang saat bersisipan di lobi kantor. Carol dengan lantang menyerukan pada Kanya dan menyebut perempuan itu sebagai pelakor. Alias perebut laki orang.


Sumpah, seketika Kanya begitu membenci orang yang pertama kali menggunakan istilah pelakor. Kesannya sebagai perempuan tidak ada baik-baiknya. Bahkan untuk disematkan pada perempuan yang benar-benar telah merusak rumah tangga orang lain pun, istilah itu bagi Kanya masih terlalu kejam. Terlebih ketika sebutan yang sama dilontarkan kepadanya yang jelas-jelas tidak memiliki affair seperti yang dituduhkan Carol.


Seketika, Kanya menghadang Carol dan Carmen - yang entah sejak kapan tiba-tiba menjadi sahabat sejatinya - di lobi kantor. Raut Kanya terlihat jelas menunjukkan kalau dia sedang marah.


"Kenapa lo yang marah? Siapa juga yang ngatain lo," balas Carol. Meski mulutnya begitu tajam, setiap kali berhadapan dengan Kanya, dia selalu was-was. Takut insiden di kamar mandi beberapa minggu lalu, terulang kembali.


Kanya tersenyum kecut. Ditatapnya Carol dengan pandangan menantang.


"Gue heran aja sih sama lo, udah tukang sebar gosip, nggak bertanggung jawab sama ucapannya sendiri lagi. Heran juga gue, kok perusahaan masih aja mau sih pertahanin karyawan kayak lo, yang kemampuan berbicaranya lebih baik daripada ketrampilan menulisnya. Lagian ini bukan perusahaan infotainment. Ngerasa lucu aja gue."


Carol mulai terpancing dengan ucapan Kanya. Bagi Carol, perempuan itu tidak berhak menentukan apakah dirinya masih dibutuhkan atau tidak di MediaPena.

__ADS_1


"Bukan keputusan lo juga 'kan gue masih dipertahankan atau nggak di perusahaan ini!"


Pernyataan tegas Carol membuat Kanya tertawa. Perempuan itu hanya tidak tahu siapa orang yang menahan CEO perusahaan media yang baru berdiri beberapa bulan ini, agar tidak memecatnya. Kalau saja Kanya tidak ingat betapa susahnya mencari pekerjaan saat ini, tentu dia dengan senang hati saat Araz mengatakan jika dirinya bisa merumahkan Carol. Kanya masih memiliki empati. Dia tidak ingin seseorang kehilangan pekerjaannya hanya karena urusan pribadi.


"Kalau lo nggak lebih banyak tahu, mending tutup mulut. Belajar, biar otak nggak tumpul. Lo di sini wartawan yang meski tangguh menghadapi segala situasi yang bakal terjadi. Bukan wartawan gosip yang nyebar info sana-sini, tapi cuma kebohongan doang. Kalaupun lo mau jadi wartawan gosip, lo tetap butuh kroscek, udah bener belum berita yang lo sebar? Biar jatuhnya nggak jadi hoax," kata Kanya penuh penekan pada kalimat. Sebelum dia pergi dari hadapan Carol, dia membuka tas ranselnya dan mengeluarkan sebuah buku yang sudah lumayan kumal akibat sering dibaca. Lalu melemparkannya dalam dekapan Carol. "Nih belajar dulu kode etik dasar jurnalistik, biar nggak jadi wartawan bodong."


"Apaan sih cewek itu," gerutu Carol kesal begitu Kanya meninggalkan lobi untuk janji temu dengan seorang narasumber.


Diam-diam, tanpa sepengetahuan mereka sepasang mata milik Araz telah mengamati kejadian yang baru saja terjadi. Awalnya dia ingin keluar untuk bertemu pihak sponsor yang tidak bisa diwakilkan, tetapi langkahnya terhenti saat melihat perdebatan antara Kanya dengan Carol. Lagi-lagi dengan topik yang membuatnya merasa tidak nyaman.


Araz tahu semua itu hanya gosip murahan. Namun, tetap saja ada perasaan cemburu setiap kali mendengar berita miring tentang Kanya dan sahabatnya itu. Araz percaya Kanya. Terlebih dia mempercayai Hanung sebagai sahabatnya. Dia tahu, Hanung mantan play boy yang hanya bisa bertekuk lutut pada satu wanita. Sinta.


Laki-laki itu tidak pernah lupa bagaimana perjuangan Hanung untuk mendapatkan istrinya. Mulai dari hal kecil sampai hal tidak masuk akal yang diajukan Sinta sebagai syarat sebelum menerima lamaran Hanung. Ya, Hanung langsung melamar Sinta tanpa melalui proses "pacaran ribet" yang selalu diucapkan sahabatnya itu, tetapi juga hal yang sering dilakukannya. Mana mungkin masih tergoda oleh Kanya yang sudah dia anggap sebagai adiknya.


"Senyum-senyum mulu lo dari tadi, Bro. Angin apa nih yang buat lo bahagia?" tanya Hanung saat menyambut Araz dengan hangat begitu tiba di ruangannya. Hanung baru saja memimpin rapat redaksi untuk materi peliputan, sementara Araz sudah menunggu di ruangan laki-laki itu sejak 30 menit berlalu. "Ketemu cewek cantik lo?" tanya Hanung lagi.


Tebakan Hanung tepat sasaran. Mereka memang sudah berteman sejak SMA. Jadi sudah hafal sifat masing-masing. Apalagi bergelut di bidang yang sama membuat mereka masih sering bertemu dan bertukar kebiasaan. Wajar jika Hanung langsung bisa menebak perubahan wajah Araz. Terlebih Hanung juga yang menjuluki Araz dengan sebutan manusia es. Itu karena sikap dinginnya pada para perempuan yang berusaha mendekatinya.


"Bawahan lo, ada yang bikin gue tertarik," jawab Araz.


"Wait, bawahan gue? Siapa nih? Tumben-tumbenan juga lo tertarik sama cewek. Gimana ciri-cirinya?"

__ADS_1


Tawa Hanung hanya ditanggapi Araz dengan senyuman salah tingkah. Waktu itu, Araz pun tidak tahu pasti apa penyebabnya bisa begitu tertarik dengan Kanya. Hanya saja, jantungnya berdetak tidak berirama sampai ia khawatir apakah harus menjalani pengobatan yang begitu melelahkan sekali lagi. Atau kutukan Arez kepadanya memang benar bekerja. Bahkan ekspresi wajah, gestur, hingga parfum beraroma campuran buah berries yang digunakan Kanya pada saat itu masih melekat dengan jelas. Sampai saat ini.


"Dia lumayan tinggi, 173-an mungkin. Badannya nggak kurus-kurus amat, nggak gemuk juga. Imbanglah sama tinggi badannya. Rambutnya dipotong model bob sebahu."


"Hem, Kanya nih pasti. Yakin gue itu pasti Kanya. Wajar sih kalau lo tertarik sama dia. Dia itu nggak cuma cantik, dari wajahnya juga udah keliatan kalau dia cerdas dan pekerja keras. Ulet juga. Kalau gue belum punya istri udah gue gebet juga tuh cewek. Mata lo awas juga sama yang berkualitas."


"Ya daripada lo pacarin, 'kan mending gue ngomong dulu sama lo. Kenalin gih."


"Beneran lo suka sama dia?"


"Elah, gue sebelumnya memang nggak pernah jatuh cinta, tapi hati gue nggak sebeku Kutub Utara juga kali."


"Iya, nanti gue kenalin deh. Lagi sibuk-sibuknya pemilu nih. Ganggu kerjaan ntar. 'Kan beda deadline sama lo."


"Sialan, gitu juga perlu waktu segala."


"Iyalah, biar nggak ditolak dengan mudah. Percaya sama gue."


Kata-kata Hanung saat itu tanpa tedeng aling-aling menyebutkan kalau ia juga tertarik dengan Kanya. Apalagi, dia juga tidak segera mengenalkan Kanya dengannya. Sampai dia harus sering membuat alasan agar bisa ke kantor Hanung, hanya demi berjumpa dengan Kanya. Atau diam-diam menyisipkan cola di meja kerja perempuan itu.


Pikiran buruk tiba-tiba memasung benak Araz. Tubuh laki-laki itu seketika lumpuh. Dada Araz bergemuruh. Jadi, apakah benar Hanung memang tidak pernah sekalipun mencoba merayu Kanya? Hanya saja, benteng pertahanan Kanya terlalu kuat untuk dirobohkan oleh Hanung. Atau jangan-jangan memang ada kisah yang mereka sembunyikan dengan begitu sempurna? Terlebih saat mendengar cerita Kanya jika mereka sering menyusun puzzle bersama di antara waktu senggang menjelang deadline.

__ADS_1


Pikiran Araz semakin kacau. Dan, dia benar-benar berharap hal itu tidak pernah terjadi.


"Gosip sialan!" gerutu Araz sebelum memutuskan untuk keluar dari gedung MediaPena.


__ADS_2