
Renjana Putra
Suara gebukan drum, petikan gitar dan bas, denting keyboard, berpadu dengan suara khas milik vokalis Nada Sumbang masih terdengar hingga menjelang tengah malam. Peluh yang membasahi tubuh mereka meski di dalam ruang ber-AC belum menyurutkan semangat. Bahkan semakin malam mereka semakin giat berlatih.
Apalagi saat Kanya tiba-tiba muncul sambil membawakan kotak pizza untuk mereka. Canda tawa mereka pecah. Mengenang masa-masa awal karier Nada Sumbang yang masih sering manggung dari kafe ke kafe dan Kanya yang sering mendampingi mereka serta mengurus segala kebutuhan band jika ada waktu luang dan main ke Yogyakarta. Ralat, sebenarnya perempuan itu hanya menunggui Putra, tetapi semua anggota band juga ikut merasakan bagaimana perhatiannya Kanya. Seperti saat ini, ketika Kanya tiba-tiba muncul sambil membawa dua kotak pizza, meski wajah perempuan itu terlihat tak secerah biasanya.
"Yosh! Selesai juga akhirnya. Rehat dulu yuk!" ajak Arlan sambil meregangkan otot-otot tangannya yang kaku.
Sementara anggota band yang lain secepat mungkin menaruh alat mereka dan berlari ke arah Kanya yang baru saja memanasi pizza dengan microwave di rumah Anggit. Memang ketika datang tadi, Nada Sumbang memutuskan untuk fokus latihan dulu. Jadilah pizza yang dibawa Kanya sudah dingin saat mereka hampir selesai berlatih. Makanya perempuan itu berinisiatif untuk memanaskan pizza yang dia bawa sebelum Nada Sumbang benar-benar rehat.
"Kalau ada manajer macam dia sih gue juga mau. Paling tahu apa yang dibutuhkan artisnya," ucap Danu yang paling doyan makan di antara anggota Nada Sumbang. Kanya tertawa.
"Itu sih enak di lo kali, Dan. Gue tekor kalau lo minta makan yang enak-enak mulu."
"Eh iya, kenapa nggak lo aja sih yang jadi manajer kita, Nya?" tawar Alfian sambil menyelonjorkan kakinya di atas sofa. Menindih tubuh Anggit yang tengkurap.
"Nggaklah. Bisa mati muda gue ngurusin orang-orang kayak kalian."
"Nggak mungkinlah. Yang ada lo justru makin awet muda soalnya banyak ketawa sama kita," kata Arlan yang duduk di samping Kanya. Laki-laki yang duduk paling dekat dengan perempuan itu, merangkul bahu Kanya. Arlan sengaja melakukannya hanya demi melihat respon Putra yang katanya sudah mencoba merelakan kisah di antara mereka benar-benar berakhir.
"Ar, tangan lo. Jauhin nggak dari, Anya!" ancam Putra sambil melempar bantal sofa ke arah Arlan.
"Kenapa sih? Anya juga nggak apa-apa gue peluk. Iya nggak, Nya?"
"Iya sih. Lagian lo ini. Nggak bakal ngaruh gimana-gimana sama gue. Ya, anggap saja fans service."
__ADS_1
"Anya, kok malah belain Arlan!" protes Putra melototkan matanya.
"Lah, terus gue mesti gimana? Memang nggak masalah mau peluk juga. Selama itu Arlan, nggak akan mengubah apa pun. Iya nggak, Lan. Kan sudah gue bilang juga, Kak, anggap saja fans service." Kanya bersikukuh dengan pendapatnya.
"Mana ada kayak gitu. Pinggir nggak lo, Ar!"
Ancaman Putra justru membuat Arlan tersenyum samar. Hampir tak terlihat. Dia tahu, kali ini Putra mencoba menjadi abang yang baik buat Kanya. Bukan sebagai mantan pacar yang overprotektif karena cemburu buta. Sebab jika itu Putra yang dulu, pasti akan segera menghampirinya dan memisahkan jarak antara Arlan dan Kanya. Bahkan dia tidak segan adu kekuatan jika ada seseorang yang berani menyentuh Kanya, seujung kuku sekalipun. Namun, sekarang Putra hanya menggertak tanpa benar-benar berniat memisahkan mereka.
"Kanya saja nggak keberatan, kok lo yang sewot sih," pancing Arlan masih tidak beranjak dari tempat duduknya. Dan, Putra benar-benar hanya melemparkan bantal sofa lainnya pada Arlan. "Dih, galak banget sih lo jadi abang. Mana ada yang mau PDKT sama Kanya kalau lo galak kayak macan. Yang ada mereka bakal lari saat tahu sifat asli lo."
"Enak saja bilang nggak ada yang PDKT sama gue." Kali ini Kanya yang melayangkan protes saat Arlan menyinggung soal perempuan itu.
"Memang lo sudah punya pacar?" tanya Alfian yang lebih banyak diam dan menjadi pengamat saat teman-temannya bercanda. Hanya sesekali dia ikut tertawa ketika yang lain membahas hal-hal yang konyol.
"Wah, lo kira gue belum punya pacar?" Bukannya menjawab, Kanya justru mengajukan pertanyaan yang membuat Alfian menggelengkan kepala. Heran dengan sikap Kanya yang sudah lama tak pernah dilihatnya.
"Eh, enak saja. Kok 15 sih, kurang banyak itu. Ada kok kalau 25."
"Makin malam makin kacau nih pembicaraan. Sudah yuk, pulang!" ajak Putra sambil bangkit dari sofa.
"Yah, main kabur saja lo berdua. Nggak, kalian belum boleh balik dulu. Kita mesti ngobrol serius sama Kanya soal tawaran jadi manajer."
"Benar kata Danu, Put. Kita mesti bicara serius soal manajer." Anggit menimpali ucapan Danu. "Kalau menurut gue, Kanya orang yang tepat buat jadi manajer kita. Soalnya, dia yang paling tahu kita dan cepat tanggap mesti gimana setiap kali dalam situasi mendesak."
"Gue satu suara sama Danu dan Anggit." Alfian mendukung kedua temannya.
__ADS_1
Sementara Arlan dan Putra saling bertukar tatap. Tatapan Arlan seolah mengisyaratkan jika dia pun setuju dengan pendapat ketiga temannya dan memohon pada Putra agar membujuk Kanya. Sedangkan Putra merasa dilema, sebab yang bersangkutan terlihat tidak nyaman berada di posisinya saat ini.
"Kalian nggak mau dengar pendapat, Kanya? Kalian bisa saja merasa Kanya orang yang tepat buat jadi manajer kita, tapi dia sekarang 'kan juga ada kerjaan. Mana boleh kita minta dia buat jadi manajer tanpa memikirkan pendapat dia."
"Iya makanya kita perlu ngomong, Putra. Mumpung ada Kanya sekalian." Danu merasa gemas dengan sikap Putra yang terkadang sedikit lambat berpikir dalam situasi tertentu.
"Tunggu deh, mumpung pembicaraan kalian tentang gue semakin melebar ke mana-mana, gue ngomong saja sekarang. Sori, gue nggak tertarik buat jadi manajer kalian. Gue suka kerja bareng kalian seperti saat SMA atau kuliah dulu. Ngurus keperluan kalian. Ngatur jadwal manggung kalian dan lain sebagainya, tapi bukan berarti gue mau jadi profesional di bidang ini. Ini bukan passion gue gais. Gue cuma suka saja sering bareng kalian dulu. Lagian bukannya sudah ada Vika, ya?"
Danu menghela napas. "Setelah kejadian kemarin harusnya lo ngerti dong apa yang terjadi sama cewek itu."
"Maksudnya?"
Tidak ada yang menjawab pertanyaan Kanya. Mereka terdiam. Sampai akhirnya Putra yang membuka suara.
"Vika diberhentikan sama manajemen artis kami. Mereka menawarkan sama kami buat cari manajer sendiri atau disediakan sama perusahaan dengan risiko pekerjaan yang jelas nggak bisa kami hindari ke depan. Makanya kami ingin benar-benar orang terpercaya yang mengurus kami."
"Kasihan juga Vika, pasti nggak mudah buat dia melewati semua ini."
"Yang datang marah-marah sama Vika, bisa simpati juga ternyata." Sindir Arlan membuat Kanya melotot.
"Ya kan beda suasana, Kakak Arlan!"
"Jadi gimana, lo beneran nggak mau jadi manajer kami, Nya?" Alfian terlihat tak bersemangat saat mengajukan pertanyaannya.
Kanya menghela napas. Wajahnya terlihat menyesal saat mengucapkan,"Maaf nih, gue benar-benar nggak bisa bantu kalian. Sori ya. Atau perlu gue carikan teman? Ada sih teman SMA gue dulu yang ngurus band-band indie di Jakarta gitu. Mungkin dia bisa. Kebetulan dia lagi pulang ini. Mau gue pertemukan kalian? Putra juga sudah pernah ketemu kok. Anaknya agak pendiam sih, tapi sekalinya ketemu yang satu frekuensi bisa asik banget ngobrolnya."
__ADS_1
Putra menyimak pembicaraan Kanya. Dia mulai tertarik saat perempuan itu menyebutkan seorang temannya yang pernah bertemu dengan Putra. Mungkinkah dia perempuan yang dijumpainya di bandara?
Jika memang iya, betapa sempitnya dunia ini. Namun, entah mengapa, Putra berharap tebakannya tidak benar kali ini. Bagaimana bisa orang yang tidak tahu bahwa dia vokalis Nada Sumbang - band yang sedang naik daun dan diidolakan hampir di seluruh nusantara - bakal jadi manajer artis mereka.