
Kata orang, nama lelaki itu terkesan kuat dan mencekam. Siapa pun pasti akan langsung mengingat bagaimana seramnya penjara yang terletak di tengah pulau dan dikelilingi oleh lautan luas itu. Namun, bagi Kanya, nama itu memiliki daya magis dan terkesan misterius dengan menyembunyikan banyak misteri yang belum terungkap sepenuhnya. Kanya ingat, dia pernah menjuluki Alcatraz serupa matematika yang penuh rumus rumit di tubuhnya. Dan, Kanya paling tidak suka dengan pelajaran berhitung itu. Sejak dulu. Itulah yang membuatnya memilih menggeluti bahasa dengan segala kerumitannya asalkan tidak perlu berhadapan dengan angka.
Kini, bagi Kanya, Araz bukan lagi matematika dengan seluruh rumus sukar yang tak pernah dipahami perempuan itu. Araz menjelma aksara kuno yang masih terus dikaji oleh peneliti hingga hari ini. Sebab, begitu banyak misteri yang belum juga terpecahkan.
Bukan tanpa alasan Kanya menyamakan laki-laki itu dengan aksara kuno. Begitulah adanya. Araz menjelma aksara kuno saat Cassandra muncul tiba-tiba di rumah orang tua laki-laki itu. Sedikit sekali kata yang diucapkan laki-laki itu saat Kanya bertanya tentang sepupu perempuan Araz. Bukan karena Araz tak ingin menjelaskan siapa Cassandra, melainkan laki-laki itu tampak begitu hati-hati saat menjelaskannya pada Kanya. Kehati-hatiannya itulah yang membuat Kanya justru merasa jika ada hal yang disembunyikan oleh Araz. Terlebih ketika Araz membiarkannya duduk berdua dengan Cassandra.
"Jadi, lo anak buah di kantor baru, Araz?" tanya Cassandra memecah lamunan Kanya.
"Iya," jawab Kanya singkat.
Mereka sedang berada di gazebo yang terletak di halaman belakang rumah orang tua Araz yang menghadap langsung ke arah perkebunan milik keluarga itu. Sedangkan anggota keluarga yang lain terlihat sibuk memetik sayuran dan buah yang tumbuh subur di kebun mereka.
__ADS_1
Awalnya, Kanya juga membantu orang tua Araz memetik beberapa buah stroberi yang sudah mulai masak dan sayur-mayur sambil membicarakan tentang Cassandra. Namun, tiba-tiba cewek itu menyusul ke kebun belakang dan memaksa Araz untuk bicara berdua dengannya. Meski sikap Cassandra membuat Araz terlihat tidak nyaman, tetap saja laki-laki itu mengiyakan keinginan sepupunya, lantas meminta Kanya untuk menunggu di gazebo.
Selepas pembicaraan kedua orang itu - yang tampak mencurigakan bagi Kanya - Araz menghampiri Kanya dan meminta kekasihnya untuk beristirahat di gazebo saja, sementara dia melanjutkan aktivitas paginya bersama sang ayah. Kanya menduga, ada pembicaraan yang tak boleh dia dengar di antara kedua laki-laki lintas generasi itu. Meski terlihat seperti saling bermusuhan, kedua laki-laki itu sebenarnya sangat terikat erat. Maka, Kanya mengiyakan permintaan Araz dan memberikan mereka waktu untuk mengobrol berdua. Sialnya, kesempatan itu dimanfaatkan Cassandra untuk mendekatinya.
Sejujurnya, sejak pertama kali bertemu perempuan itu, Kanya merasa sudah tidak nyaman. Terlebih saat perempuan itu menyebut sesuatu tentang 'calon istri' yang belum dia ketahui maksudnya sampai saat ini. Dan, saat Kanya bertanya pada Araz pun, laki-laki itu tidak juga memberikan jawaban.
"Pasti lo duluan 'kan yang nembak, Araz? Ya, siapa sih yang nggak bakal suka sama dia. Udah ganteng, pinter, punya perusahaan sendiri pula. Ya, wajar aja kalau banyak yang naksir sama dia. Tapi, satu hal yang perlu lo tahu, selamanya lo itu cuma bakal jadi pacar dia doang. Karena jodoh Araz, sudah ditentukan sejak dia lahir. Sayangnya itu bukan lo," ucap Cassandra lagi.
Kali ini jelas sekali jika pertanyaan sekaligus pernyataan itu bermaksud merendahkan Kanya. Namun, satu hal yang Cassandra tidak tahu, Kanya sama sekali tidak terpengaruh oleh ucapan perempuan itu. Meskipun, tidak bisa dimungkiri jika Kanya benar-benar kesal terhadap sikap Cassandra.
Sungguh, Kanya tidak ingin terlihat jika tampak kesal dengan perempuan itu. Sebab Kanya tahu, itulah maksud Cassandra sebenarnya. Dia ingin memancing amarah Kanya di depan kedua orang tua Araz agar terlihat buruk. Namun, tak akan mudah bagi Cassandra untuk mengintimidasinya begitu saja. Perkara tekanan, Kanya sudah cukup berlatih dengan Hanung selama bertahun-tahun. Dan, atasan sekaligus teman juga sosok yang sudah dianggap sebagai abang selama di Jakarta itu, telah menyatakan Kanya lulus ujian ketahanan mental. Jadi, dia tidak akan kalah begitu saja dari Cassandra.
__ADS_1
"Lo tahu gue 'kan? Cassandra Cessa Lee. Generasi ketiga dari anak pertama keluarga Lee. Yang artinya bokap gue adalah pewaris utama peninggalan harta benda kakek gue. Gue ratu dalam keluarga Lee. Gue yang menjaga agar harta kekayaan keluarga Lee nggak jatuh ke tangan orang yang salah. Dan sebagai ratu, gue harus memiliki calon pangeran yang tepat. Lo tahu apa artinya? Araz, dia calon pangeran gue. Jadi, jangan pernah berharap lo bisa hidup bersama Araz selamanya, karena sejak gue lahir, kita udah diikat dalam tali perjodohan."
Senyum mengembang di bibir Kanya. Air mukanya sama sekali tidak terlihat gentar. Dia justru menatap Cassandra tepat di kedua bola matanya. Ada sorot cemburu yang terpancar jelas di kedua mata perempuan itu. Namun, Kanya masih terlihat begitu tenang.
Kanya mengakui, Cassandra memang definisi ratu yang sempurna untuk sebuah kerajaan yang dibangun oleh keluarga Lee seperti yang diucapkan perempuan itu. Dia cantik, lekuk tubuhnya begitu sempurna, sorot matanya tegas juga lembut secara bersamaan - meski kini diliputi perasaan cemburu yang tak bisa disembunyikan. Tidak hanya itu, dia juga memiliki tingkat percaya diri yang tak bisa ditandingi oleh Kanya. Dan, Kanya meyakini sepenuh hati, jika Cassandra adalah perempuan yang cerdas. Namun, terlepas dari itu semua, satu hal yang tidak diketahui Cassandra, jika Kanya pun memiliki tekad yang kuat untuk tidak melepaskan apa yang telah dia miliki saat ini. Alcatraz Algol Sirius. Laki-laki yang telah menyita seluruh dirinya.
"Well, gue paham dengan apa yang udah lo omongkan, tapi satu hal yang perlu lo ketahui, gue nggak akan semudah itu mengalah. Sekalipun gue bakal tahu akhir hubungan ini seperti yang udah lo bilang. Ya, lo emang ratu dalam kerajaan yang udah dibangun sama kakek lo. Lalu gue? Gue emang bukan ratu atau putri dari sebuah kerajaan mana pun, tapi satu hal yang perlu lo ketahui, gue terlahir sebagai manusia yang juga memiliki perasaan yang sama seperti yang lo rasakan buat Araz. So, gue nggak akan mundur begitu saja, sekalipun lo gunakan seluruh kekuatan keluarga lo buat meruntuhkan tekad gue.
Oh, satu hal yang perlu lo tahu, bukan gue yang nembak Araz duluan, tapi dia yang minta gue buat jadi kekasihnya. Gue kira, lo kenal Araz lebih dari siapa pun 'kan? Artinya lo tahu apa maksud perkataan gue 'kan?"
Kanya sama sekali tak mengalihkan tatapannya dari Cassandra saat mengucapkan kalimatnya yang agak panjang. Perempuan itu bisa menangkap dengan jelas perubahan raut wajah sepupu Araz yang tampak begitu kesal. Sebelum meninggalkan Kanya sendirian di gazebo halaman belakang, dia sempat mengancam yang hanya ditanggapi Kanya dengan senyuman.
__ADS_1
"Lo pasti bakal menyesal!"
"Gue yang bakal lebih menyesal kalo nggak pernah berjuang untuk hal yang pantas dipertahankan," ucap Kanya dalam hati. Tepat tak lama kemudian, Araz menghampirinya dengan keranjang anyaman bambu yang penuh buah dan sayuran.