Pulang

Pulang
Dia Berhak Lebih Bahagia


__ADS_3

Renjana Putra


Membuka mata dan menemukan wajah orang yang disayangi merupakan sebuah kenikmatan. Apalagi ketika raga menahan sakit dan jiwa terasa gersang laiknya musim kemarau yang menggugurkan dedaunan. Begitupun bagi Putra, hatinya mendadak sejuk saat retina matanya menangkap wajah Kanya meski perempuan itu tampak khawatir.


Wajahnya tersenyum. Menghapus setitik air mata yang jatuh di ujung kedua mata milik Kanya. Meski badannya terasa sakit saat ia mencoba bergerak. Melihat air mata Kanya semakin membuatnya lemah tak berdaya.


"Hei, ada apa? Jangan nangis, aku baik-baik aja," kata Putra berusaha menenangkan perempuan yang kini telah dianggap sebagai adik kandungnya sendiri. Meski jika ia boleh jujur, masih ada perasaan mendamba pada Kanya.


"Gimana lo bilang baik-baik aja, badan lebam semua gini," kata Kanya merajuk sambil menghapus air mata yang mengalir di wajahnya.


"Lihat, aku udah baik-baik aja," tunjuk Putra sambil berusaha bangun dari tidurnya.


"Kenapa bisa kayak gini sih?"


Putra tak ingat pasti kejadian yang baru saja ia alami. Yang pasti, menjelang pukul 02.00 dini hari tadi, gawainya berdering. Nama sang manajer muncul di layar gawai setelah ia mengabaikan panggilan ketiganya. Putra hanya berpikir jika perempuan yang telah mengurusnya dan anggota Nada Sumbang yang lain itu, telah mengalami kejadian buruk. Terlebih, nomor ponsel sang manajer mendadak tak aktif saat ia mencoba menghubungi kembali.


Lelaki itu mengingat ulang pembicaraannya dengan Vika beberapa hari lalu. Mereka sedang berada di studio latihan saat Vika mengompres ujung bibirnya yang lebam. Mata perempuan itu sembab. Seperti habis menangis semalaman.


"Kenapa?" tanya Putra tak benar-benar peduli. Ia tahu jika Vika memandangnya sebagai pria, bukan lagi artis yang harus diurus segala keperluannya. Dan ia tahu, tak mungkin membalas perasaan perempuan itu.


"Nggak apa-apa." Perempuan itu pun menjawab sekadarnya. Namun, melihat lebam di ujung bibir Vika, lelaki itu menduga jika telah terjadi sesuatu.


"Kalau ada hal yang perlu dibagikan, kamu bisa cerita sama aku," kata Putra mencoba sedikit bersimpati. Meski tahu akhirnya hanya membuat Vika terluka saat perempuan itu tahu bahwa Putra tak bisa membalas perasaannya. Ia masih tak ingin terlibat dalam kisah percintaan apa pun sejak putus dengan Kanya. "Sori, apa seseorang udah berbuat ... jahat sama kamu?" lanjut Putra setelah mencoba mencari kata yang tepat atas kecurigaannya.


Waktu itu Vika tak menjawab. Hingga dua hari kemudian perempuan itu muncul dengan luka lebam yang lebih serius meski sudah menutupinya dengan make up. Vika akhirnya bercerita jika ayah tirinya telah berbuat kasar selama ibunya tidak berada di rumah. Lelaki itu sering memukulnya ketika Vika tak mau memberinya uang untuk membeli bir. Bahkan semakin parah ketika sang ayah dalam pengaruh alkohol.


Maka begitu mendapat telepon menjelang pukul 02.00 dini hari, Putra bergegas bangun. Pikirannya kacau. Jelas ia tahu bagaimana rasanya menjadi korban kekerasan dan tak sanggup bicara lantang. Lelaki itu tak mau jika Vika mengalami trauma sama seperti dirinya.


Menahan rasa kantuk dan hawa dingin yang menusuk, Putra memutuskan keluar dari basecamp - setelah sehari sebelumnya mereka berlatih hingga hampir tengah malam dan tak kuat kembali ke apartemen. Arlan yang tertidur di ruang tamu segera terjaga saat mendengarnya memutar anak kunci. Ia bertanya ke mana Putra akan pergi dan lelaki itu tak banyak bicara.


"Masa lo mau nemuin Kanya pagi-pagi buta gini? Katanya udah move on?" goda Arlan hanya ditanggapi senyuman kaku oleh Putra.


Episode percintaan Putra dan Kanya sudah lama tamat. Mereka pun telah sepakat. Namun, demi membungkam mulut Arlan, Putra hanya tersenyum agar semua segera tuntas. Ia mulai khawatir jika telah terjadi sesuatu pada Vika.


Benar saja, Putra melihat kondisi rumah sudah kacau balau saat tiba. Melawan rasa takutnya sendiri, lelaki itu berusaha menghalangi pria separuh baya yang mengayunkan tongkat baseball ke segala arah dengan membabi buta. Sedang Vika berusaha melindungi ibunya. Mereka meringkuk di sudut ruangan dan saling berpelukan. Sembunyi di bawah meja. Tampak ketakutan. Wajah mereka memar, juga berdarah di beberapa bagian.

__ADS_1


Putra berhasil menjauhkan pria itu dari Vika dan ibunya. Bahkan ia sempat melayangkan pukulan hingga membuat pria itu jatuh tersungkur. Namun, serangan panik datang di waktu yang tak tepat. Bagaimanapun kekerasan yang ia lihat membangkitkan kembali kenangan usang dalam kotak memorinya. Trauma masa lalu atas kejadian serupa dengan cepat menguasainya. Putra kehilangan keseimbangan dan jatuh terjengkang. Momen itu digunakan si pria tengah baya untuk membalas dendam.


Selanjutnya, Putra tak tahu apa yang terjadi. Ketika bangun, ia sudah berada di kamar inap akibat mimpi buruk yang tiba-tiba menyerang. Tak lama kemudian Kanya muncul dan memeluknya. Memberikan rasa nyaman yang dengan cepat menyebar dan membuatnya tenang.


Putra kembali tertidur. Baru bangun setelah terpejam entah berapa lama. Begitu bangun sosok Kanya yang pertama kali tertangkap retina.


"Kalian udah jadian?"


Itu pertanyaan yang pertama kali muncul saat Putra merasa lebih baik. Ia tak bisa menutup mata jika telah terjadi sesuatu di antara Kanya dan Araz saat melihat lelaki itu bersama dengan adiknya.


"Daripada itu, bisa lo jelasin maksud semua ini?" kata Kanya justru balik bertanya sambil menunjuk lebam di beberapa bagian tubuh Putra yang terbuka. Lelaki itu hanya menarik ujung bibirnya sekilas.


"Cie, masih khawatir nih?" goda Putra sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Ya menurut lo? Gimana coba nggak khawatir kalau tahu kondisi lo kayak gini? Adek macam apa gue kalau sampai tega liat kakaknya dipukulin orang. Lagian kok bisa-bisanya sih lo sampai kayak gini? Mau uji kekuatan? Baru berantem sama Araz aja udah kambuh semaleman, ini lagi, sampai masuk rumah sakit."


"Tunggu, dari mana kamu tahu kalau aku kambuh setelah berantem sama, Araz?" tanya Putra penuh selidik.


"Menurutmu?"


"Iya, siapa lagi orang yang begitu ketakutan dan panik setiap kali lihat lo sakit kalau bukan, Om Eka."


"Dan kamu. Makasih ya Nya, udah mau balik peduli sama aku. Meski dengan status yang berbeda, cuma kamu yang bisa jadi tempat melabuhkan segala resah. Kamu masih tempat aku pulang, Nya."


Entah apa yang mendorong Putra mengatakan hal itu. Namun, mengucapkannya kini benar-benar merasa tanpa beban. Bohong jika Putra tak lagi berdebar saat bertemu Kanya hingga beberapa waktu lalu. Putra masih berharap jika mereka bisa seperti dulu. Jauh di dalam hatinya, Putra masih berharap Kanya menjadi kekasihnya, tapi kini debar itu seolah lenyap tak berbekas. Sekalipun ia tak bisa berbohong jika Kanya memang benar-benar tempat pulang.


"Nanti lo juga pasti bakal ketemu sama tempat lo pulang yang sebenarnya. Vika mungkin?" goda Kanya membuat wajah Putra tampak muram.


"Nggak kayak gitu, Nya. Dia sama aku punya kemiripan. Ibunya menikah lagi dan ayah tirinya cuma suka mabuk-mabukan, terus main kasar. Aku ngerasa kami punya kesamaan dalam hal ini, makanya aku peduli sama dia."


"Dengan mengorbankan badan lo sebagai sasaran amuk ayahnya?"


"Dia minta tolong aku, Nya. Gimana aku bisa nolak kalau aku ingat kondisi aku dulu dan nggak ada seorang pun yang nolongin. Jelas aku nggak akan tega lakuin itu. Ngebiarin dia sendirian lewatin masalah yang dihadapi."


"Terus? Kan ada Arlan, ada yang lain juga. Kenapa dia minta tolong kamu?"

__ADS_1


Nada suara Kanya mulai meninggi. Putra tahu jika perempuan di depannya kini sedang cemas dan melampiaskannya dalam bentuk amarah.


"Aku nggak sengaja pernah lihat wajah dia luka akibat dipukuli ayahnya. Makanya aku minta ke dia kalau terjadi hal yang sama nggak perlu sungkan minta bantuan. Aku juga nggak tahu kalau ternyata bakal jadi kayak gini."


"Ck, ini nih, sok mau jadi pahlawan, tapi nggak lihat gimana kondisi diri sendiri. Terus gimana kalau udah gini?"


"Kalau udah gini berarti bisa istirahat dong. Lo kira nggak capek kerja mulu tiap hari? Buat siapa juga belum jelas," kata Putra sambil menata tumpukan bantal di punggungnya agar terasa lebih nyaman. "Btw, gimana itu ceritanya kalian bisa jadian? Udah beneran move on nih?"


"Dih, lo kira gue masih berharap sama lo?"


Tawa Putra berderai. Meski lagi-lagi meringis menahan nyeri akibat luka yang belum mengering.


"Nya, nggak usah bilang Papa ya. Aku nggak apa-apa kok. Bakal panjang urusannya kalau Papa sampai tahu masalah ini," kata Putra saat mengingat bagaimana watak orang tuanya.


Eka pasti akan menuntut ayah tiri Vika karena telah berani memukuli anak semata wayangnya - yang seharusnya sebentar lagi akan memiliki seorang bayi mungil dan seorang anak yang telah tumbuh dewasa.


"Gue juga nggak niat kasih tahu sih."


"Hei, maafin Papa ya. Aku tahu ini berat buat kamu sih, tapi ... bukankah mereka juga berhak bahagia?"


Kanya tersenyum sinis mendengar pernyataan Putra yang lebih terdengar seperti pertanyaan. Lelaki itu menatap perempuan yang justru memilih mengamati jatuhnya air dari slang infus. Seperti menghindari tatapan demi tak ingin menunjukkan jika masih ada amarah yang tersimpan untuk mereka.


"Masih tetap nggak mudah ya maafin mereka?" tanya Putra saat Kanya lebih lama membisu.


"Entahlah, perkara mereka beda sama kita. Duh, udah deh nggak bisa mikir gue," elak Kanya menghindari pertanyaan lelaki itu.


Putra tak ingin memaksa. Ia tahu, sulit bagi Kanya memaafkan sumber rasa sakit yang telah bertahun melukai hatinya. Pun meski orang-orang itu tahu di mana Kanya sebenarnya berada, tak pernah sekalipun datang kepadanya dan meminta perempuan itu pulang. Jika Putra berada diposisi yang sama, belum tentu ia mampu setegar Kanya.


"Btw, gue cari Araz dulu ya. Lapar, dari pagi belum makan. Bisa mati gue nanti," kata Kanya benar-benar menghindar.


"Ya udah, ajakin sini kalau selesai makan. Bagaimanapun dia bakal jadi adik gue," kata Putra sok galak.


Kanya hanya membalas dengan tatapan sinis lantas beranjak dari tempat duduk di samping Putra. Sementara lelaki itu hanya tergelak juga merintih bersamaan.


Kamu memang berhak lebih bahagia, Nya. Begitupun mereka. Bagaimanapun aku juga sayang mereka. Tunggu saja, aku pasti akan membawa pulang.

__ADS_1


__ADS_2