
Hari ini sedikit mendung, tetapi tidak turun hujan. Anginnya lumayan kencang. Kata ibuku kalau mendung, tetapi ada angin kencang, maka tidak akan hujan. Sudah sering gagal prediksinya karena aku sering bertemu dengan hujan dan angin kencang di saat yang bersamaan.
Seperti biasa, hari ini tidak terjadi apa-apa. Heri sudah tidak mengganggu lagi. Abang-abang kelas yang sedang pendekatan ke Ami tidak pernah muncul lagi karena aku tidak pernah membalas pesan mereka. Aku tidak tahu apakah aku termasuk kejam karena tidak merespons mereka, tetapi, mereka tidak akan ada di masa depan Ami. Bahkan Ami berpacaran dengan orang lain semasa SMA. Putra juga masih seperti itu. Selalu ambigu. Aira juga masih seperti itu. Selalu ikut campur. May juga masih seperti itu. Dekat dengan Putra.
Aku mungkin salah. Hari ini mereka bertiga sedikit berbeda. May tiba-tiba menjadi pendiam. Aira yang selalu merasa ogah setiap melihat Putra dan siap ingin meledak. Dan Putra yang terlihat biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa. Jangan-jangan, Putra sudah menceritakan semuanya ke May dan Aira tahu? Kalau aku ingat-ingat lagi, ini mirip dengan kejadian kelas XI dulu. Di saat Putra menceritakan semuanya pada May. Putra juga mengatakan padaku untuk berhenti menjodohkan mereka karena ia suka dengan cewek lain. Saat itu, aku juga marah dan May terlihat sedih. Ini sama sekali dengan situasi yang dulu. Sebulan kemudian Putra akan memiliki pacar baru, yaitu Anisa. Apakah akan terjadi seperti dulu?
Aku ingin bertanya langsung kepada Putra, tetapi dia rapat pramuka dari istirahat pertama sampai sekarang. Padahal sebentar lagi pulang sekolah. Susah sekali mengajaknya mengobrol hari ini. Padahal aku penasaran sekali. Aku juga tidak berani bertanya langsung kepada Aira dan May. Takut mereka curiga aku mengetahui sesuatu. Padahal aku juga tidak tahu apa-apa. Mungkin Ami memang menyarankan untuk tidak menceritakan semuanya ke May dulu karena kejadian ini seharusnya tidak terjadi saat ini.
Saatnya pulang sekolah dan Putra belum juga muncul. Mungkin besok saja bertanya padanya. Aira, May, dan Malik juga masih belum pulang. Mereka seperti sedang menunggu seseorang. Aku membereskan buku-bukuku, memasukkannya ke dalam tas. Aku sudah menyandang tas ranselku. Orang yang aku tunggu-tunggu pun muncul.
“Mau kemana kau?” tanyanya sambil berjalan menuju mejanya.
“Pulanglah,”jawabku.
“Kan kita ada kerja kelompok,”balasnya.
“Kerja kelompok?”
“Iya. Tugas Bahasa Indonesia. Sekelompok sama Aira, May, dan Malik,” jelasnya.
Aku sama sekali tidak tahu akan ada kerja kelompok. Tugas bahasa Indonesia apa? Mereka pasti membuat janji sebelum aku menjadi Ami. Aku duduk kembali di kursiku.
“Mau ngerjain di mana?” tanya Aira ketus.
“Di sana aja. Di mejamu,”jawab Putra.
Wah ini mah aku benar-benar marah dengan Putra. Aku akan menjadi ketus kalau sedang marah dan membentak.
Aku berjalan menuju meja Aira. Kami menggabungkan meja Aira dan May sehingga kami lebih leluasa untuk menulis dan berdiskusi. Aira tetap duduk di kursinya, dekat jendela. Di samping kiri Aira ada May. Di samping May ada Malik. Putra duduk di samping kanan Aira dan di samping Putra adalah aku. Suasananya sungguh tidak bersahabat. Tinggal menunggu siapa yang akan meledak terlebih dahulu. Aira menahan emosi dan Putra juga sudah gerah dengan sikap Aira yang ketus.
Selama satu jam membuat naskah drama bahasa Indonesia seperti sedang berada di kelas dosen killer. Serba salah. Diam salah, ngomong apalagi. Putra dan Aira selalu adu urat dari tadi dan Putra yang selalu mengalah. May juga diam saja dan selalu mengiyakan pendapat Aira. Malik sesekali memberikan pendapat, tetapi dengan nada yang hati-hati. Sedangkan aku memperhatikan diriku yang sedang menahan emosi dan kesal. Aku baru sadar aku seram juga ketika menahan amarah dan kesal. Semuanya menjadi salah. Tidak boleh disenggol sedikit pun karena akan diketusin.
Akhirnya selesai juga diskusinya. Diskusi satu jam serasa satu hari. Tidak lagi aku kayak gini kalau aku sudah kembali ke masa depan. Menyebalkan.
“Siapa yang mau ngetik naskahnya?”tanya Malik.
“Putra aja sama May,”jawab Aira.
Aku pun menatap Putra, Aira, dan May. Telinga Putra sudah merah. Dia sedang menahan emosi.
“Aku aja sendiri,”ucap Putra.
“Berdua aja biar lebih cepat,”balas Aira.
“Nggak usah. Sendiri aja biar nggak repot,”tolak Putra sambil merapikan bukunya.
“Kalian kan rumahnya dekat. Apanya yang repot?”balas Aira.
Astaga. Keras kepala sekali aku dulu. Putra menatap Aira tajam. Aku tahu dia tidak suka dengan sikap Aira yang sekarang. Jujur saja, aku juga tidak suka. Aku seharusnya tidak terlalu ikut campur dengan masalah May dan Putra.
“Aku aja ya, Aira Putri,”ucap Putra berusaha meredam amarahnya.
“Iya, biarin Putra aja, Ra,”ucapku untuk melerai perengkaian mereka. Aku tahu aku tidak akan berhenti sebelum Putra mengatakan iya kalau tidak ada yang melerai. Aira diam dan merapikan bukunya. May permisi pulang terlebih dahulu. Sifatku yang keras kepala itu pasti membuat May sedih juga. Aku membuatnya terlihat menyedihkan. Aku sadar aku juga salah.
Putra kembali ke mejanya untuk menyimpan buku-bukunya ke dalam tas. Aira sedang keluar kelas. Dia ke toilet. Malik juga pergi ke koperasi sekolah. Aku berjalan menuju meja Putra.
“Mau sama-sama nggak ke parkiran?”tanyaku ke Putra.
__ADS_1
“Nggak bawa motor,”jawabnya.
Yaah. Padahal aku ingin bertanya tentang May dan Aira. “Tumben,”balasku.
“Sengaja. Biar bisa jalan bareng,”balasnya.
“Jalan sama siapa?”tanyaku.
“Yang dari tadi nahan emosi biar nggak marah-marah,”jawabnya.
Deg. Itu Aira. Itu aku. Tepat saat itu, Aira kembali dari toilet. Aku pun permisi pulang terlebih dahulu. Aku membiarkan mereka berdua di sana agar mereka bisa menjelaskan sikap mereka hari ini. Putra juga sepertinya ingin mengobrol dengan Aira. Berdua. Baru sampai seperempat jalan, aku baru ingat kunci motor aku letakkan di laci mejaku tadi. Aku pun kembali ke kelas. Baru sampai pintu kelas, aku mendengar Aira yang berbicara dengan penuh amarah dan Putra juga yang terlihat kesal. Aku berhenti dan berdiri di belakang pintu. Mereka menutup pintu sedikit agar tidak ada yang mendengarnya mungkin.
“Kalau nggak suka, kenapa terus dideketin? Kenapa terus dikasih harapan?” Itu suara Aira.
“Nggak dikasih harapan. Dia minta tolong ya aku bantu, Ra,”jawab Putra dengan tenang.
“Kan kau udah tau May suka samamu. Kenapa nggak bilang dari dulu? Dia juga nggak akan berharap kalau kau bilang dari dulu,” balas Aira penuh amarah.
“Kan aku udah bilang jangan jodohin aku terus sama May. Kau terus jodohin,”balas Putra.
“Jadi salah aku karena jodohin kalian?”
“Aku udah bilang aku nggak suka tapi kau masih ngotot juga. Aku udah menghindar dari May, tetapi kau dekatin lagi.”
“Itu karena kau kayaknya nyaman sama dia.”
“Kayaknya kan? Pernah kau tanya aku nyaman atau nggak?”
Aira terdiam. Suara Putra juga tidak terdengar lagi.
“Aku bilang yang sejujurnya ke May biar dia nggak berharap lagi. Biar dia bisa cari yang lain,” ucap Putra.
Putra tidak menjawab.
“Aku dengar pas kau ngobrol sama Ami kemarin. Kau suka cewek lain, kan?”tanya Aira lagi.
Putra terkekeh, lalu menjawab pertanyaan Aira. “Iya. Aku suka cewek lain. Aku udah bilang samamu juga.”
“Siapa?”tanya Aira tidak sabar.
Putra diam lagi. Selama 1 menit tidak ada suara Aira maupun Putra.
“Rahasia. Tapi suatu saat aku pasti akan cerita samamu,”jawab Putra.
“Nggak usah,”balasku.
“Tapi aku tetap ingin cerita. Nanti tapi ya,”balas Putra lembut.
Aku tidak menyangka dia berbicara selembut ini. Kejadian ini mirip sekali dengan kejadian yang terjadi di kelas XI. Hanya saja saat itu kami tidak berdua. Ada teman-teman yang lain di kelas. Akan tetapi, aku meluapkan amarahku saat itu dan dia juga menahan amarahnya. Ia menang. Ia bisa menahan amarahnya. Sedangkan aku, aku masih tetap marah padanya besoknya. Besoknya. Besoknya lagi. Sampai ia memiliki pacar.
Air mataku menetes. Dia berjanji padaku untuk menceritakan semuanya, tetapi hanya aku yang tidak tahu apa-apa. Aku tidak tahu waktu bukan aku yang memilikinya saat itu. Waktu bisa saja berhenti kapan saja. Andai aku tahu, aku akan sedikit egois. Aku akan menghabiskan banyak waktuku bersamanya. Berdua saja. Apakah May benar? Putra memang menyukaiku. Kalaupun benar, kenapa sakit sekali? Bukannya aku harus bahagia? Karena cintaku tidak bertepuk sebelah tangan.
Aku mengurungkan niatku untuk masuk ke kelas. Aku berjalan menuju toilet sekolah dan menangis di sana. Aku menangis tanpa suara. Rasa sakit dan merasa bersalah berkumpul di dadaku. Sesak sekali. Semesta memang suka melihatku menangis.
*****
Aku menikmati hembusan angin di depan wajahku. Membelai rambut Ami yang panjang sepunggung. Meletakkan kedua tanganku di pembetas jembatan layang ini dan membiarkan air mataku mengalir. Aku tidak bisa menangis di rumah Ami. Aku takut orang tuanya curiga. Aku sampai di rumah Ami pukul 4 sore. Aku langsung menuju kasur dan menenangkan hatiku. Tidak berhasil. Aku masih ingin menangis. Aku permisi keluar sebentar ke orang tuanya Ami. Aku mengatakan aku ingin membeli sesuatu di minimarket.
__ADS_1
Di sinilah aku sekarang. Di jembatan penyeberangan yang terletak di gang rumah Putra. Di sini juga tempat yang membuat waktunya berhenti dan waktuku masih terus berjalan. Takdirnya berhenti dan takdirku masih terus berlanjut. Dia ada di rencana masa depanku dulu. Dan aku harus mengubah rencana itu.
Menghapuskannya meskipun aku tidak ingin karena aku harus terus berjalan. Aku belum tahu kapan waktuku akan berhenti. Yang aku tahu, aku harus terus berjalan karena Tuhan tidak akan suka. Dia juga tidak akan suka jika aku terus berjalan di tempat. Pada akhirnya, doa yang aku berikan setiap aku merindukannya. Berharap dia akan bahagia. Aku juga akan berusaha bahagia.
Memori-memori indah bersamanya masih terus berjalan silih berganti di kepalaku. Semuanya. Memori-memori itu yang membuat dia hidup dan aku juga hidup. Air mataku masih terus mengalir. Aku berusaha menenangkan diriku dengan menikmati suasana malam ini. lampu-lampu kenderaan yang membentuk cahaya warna-warni. Lampu-lampu jalan yang kesepian. Kenderaan di sini lebih sedikit daripada di Depok. Bahkan bisa dihitung dengan jari. Orang-orang juga jarang menggunakan jembatan penyebrangan ini. Hanya hitungan jari yang sering lewat. Aku sudah mulai tenang. Air mataku sudah berhenti mengalir.
“Ngapain di sini?”
Suara itu. Suara yang membuatku menangis hari ini.
“Kau ngapain?”tanyaku balik dengan ketus.
“Ini kan dekat rumahku. Wajarlah aku di sini. Lah kau, ini kan lumayan jauh dari rumahmu,”jawab Putra.
“Lagi cari angin,”balasku seadanya. Aku menahan diriku untuk tidak menangis.
Dia tidak membalas lagi dan ikut berdiri di sampingku. Dia melihat ke jalan sambil menikmati angin yang membelai rambut hitamnya. Aku memperhatikannya dengan hati-hati. Mencoba merekam seperti apa wajahnya dan ekspresinya agar aku tidak lupa. Indah sekali laki-laki ini.
“Kau ada masalah dengan Aira dan May?”tanyaku memberanikan diri. Apapun jawabannya. Aku harus siap mendengarnya. Lebih cepat lebih baik.
“Aku menceritakan semuanya ke May. Aku bilang aku nggak suka samanya,”jawab Putra.
“Terus May bilang apa?”
“Dia tau. Dia tau aku nggak suka dia. Dia berusaha buat aku suka samanya, tetapi nggak berhasil,” jawab Putra lagi yang masih memandang jalan di depannya.
“Terus kalau Aira?” tanyaku hati-hati.
“Aku juga bilang samanya aku nggak suka sahabatnya. Aku suka cewek lain dan dia marah. Makanya ketus dia hari ini. Lagi nahan emosi,”cerita Putra.
Dia mengalihkan pandangannya dari jalan dan menatapku ketika membicarakan Aira. Wajahnya tidak menunjukkan kalau dia tidak suka dengan sikap Aira hari ini. Melainkan sebaliknya. Matanya terlihat bersinar ketika membicarakannya.
“Aira emang keras kepala,”ucapku lirih.
“Sangat,” balasnya sambil tersenyum kepadaku, lalu mengalihkan pandangannya ke jalan.
Aku tidak membalasnya lagi. Dia juga diam.
“Tapi aku suka,”ucapnya.
Deg. Tanganku tiba-tiba saja dingin dan jantungku berdegup lebih kencang. “Suka?”
“Iya. Aku tetap aja suka samanya. Sama si Aira,” jawabnya.
Ingin rasanya aku memeluk laki-laki di depanku ini dan mengatakan aku juga menyukainya. Aku mencintainya. Aku masih tetap mencintainya meskipun kami tinggal di dunia yang berbeda sekarang. Air mataku mengalir. Aku segera menghapusnya agar dia tidak curiga.
“Aku harus gimana, Mi? Gimana caranya buat dia suka samaku?”tanya Putra tetap memandang jalan di depan.
“Kenapa kau nggak jujur sama Aira?” tanyaku.
“Dan menghancurkan persahabatan mereka. Aku tahu Rara juga bakalan milih May daripada aku. Dia pasti lebih milih sahabatnya,”jawabnya.
Aku tidak bisa membendung air mataku lagi. Aku menangis dalam diam. Sesak sekali rasanya dada ini, tetapi aku harus menahannya. Nafasku seakan ingin berhenti menahan rasa sesak ini.
“Makanya aku berpikir. Setelah lulus SMA, aku akan tembak. Aku akan menjalin hubungan yang serius dengannya. Nggak main-main. Setelah lulus SMA. Aku harus sabar. Dia juga nggak mau pacaran. Dia juga janji sama orangtuanya untuk nggak pacaran sampai lulus SMA. Dia... si Rara... ada di rencana masa depanku,”ceritanya.
Aku sudah tidak bisa menahannya lagi. Aku meluapkan semuanya. Aku tidak bisa lagi menahan suara tangisku. Aku menangis meraung-raung. Aku juga berada di rencana masa depannya dan semesta tidak menyukai rencana kami. Setelah aku menyadari aku mencintainya dulu, aku juga berusaha menahan perasaanku demi menjaga perasaan May. Setelah lulus SMA, aku akan menceritakan perasaanku padanya. Pada laki-laki yang berada di depanku ini. Kami memiliki rencana yang sama.
__ADS_1
Aku masih terus menangis. Aku berjongkok dan meletakkan kepalaku di lutut. Aku mendengar Putra menanyakan kenapa aku menangis, tetapi aku tidak menjawab. Aku hanya ingin menangis hari ini. Menangisi takdir yang tidak bisa aku ubah seberapa kuat aku berdoa. Darinya, aku mengetahui bahwa cinta tak harus selalu bersama. Tak harus selalu menyapa. Tak harus selalu menatap. Cinta dapat tumbuh semakin dalam dan dalam meskipun yang tertinggal hanya salah satunya. Meskipun tidak bisa mendengar suaranya. Meskipun tidak bisa menatap wajahnya. Meskipun tidak bisa mendengar balasannya setiap kali aku bercerita. Cinta masih bisa tumbuh semakin dalam.
Putra berjongkok dan menepuk bahuku. Aku masih terus menangis. Aku mendengar dia tertawa kecil melihatku menangis seperti anak kecil yang kehilangan mainan kesukaannya. Ya, aku memang kehilangan. Kehilangan waktuku bersamanya. Biarkanlah aku menangis sepuasku. Biarkanlah aku menikmati tepukan dibahuku. Aku memohon padaMu.