Pulang

Pulang
Terima Kasih untuk Semua Kenangan


__ADS_3

Renjana Kanya


Aku masih bersimpuh di atas tanah dengan air mata membasahi pipi. Dadaku terasa sesak. Menumpuk sesal. Ada pula beban yang tak sanggup aku bagi kecuali dengan tangisan.


Araz masih di sampingku. Merangkul pundakku yang entah mengapa justru membuat dadaku semakin nyeri. Menyadari kenyataan bahwa jantung lelaki di depanku - sahabat yang pernah memberi warna di tikungan jalan - kini berdetak di balik rusuk lelaki yang duduk di sampingku. Sementara bunda dan ayah memberi waktu kami berdua untuk lebih lama menyapa Arez. Mereka menunggu di mobil sejak setengah jam lalu. Setengah jam pula aku cuma menangis dan tak sanggup berbagi apa pun dengan Arez.


Lelaki itu, yang sesumbar ingin hidup seribu tahun lagi layaknya "si Binatang ******", justru lebih dulu kembali pada bumi. Memangkas jarak yang begitu dekat dengan kematian. Heh, bukankah pada akhirnya Chairil Anwar juga mati saat usianya baru 26 tahun? Sedangkan Arez mati lebih muda dari panutannya itu. Sungguh ironis bukan?


Kupandangi nisan yang berukir nama Arez. Dalam benakku tergambar jelas sosok lelaki yang memiliki garis wajah selembut bunda dan sorot mata setajam ayah. Hidungnya yang mancung warisan dari sang ayah. Sedangkan matanya yang sipit - meski tak sesipit Araz - merupakan gen yang diturunkan oleh bunda. Warna kulit yang cenderung kuning langsat juga warisan dari sang bunda.


Namun garis lengkung di wajah Arez yang begitu menenangkan itu, sama persis dengan ayah ketika tersenyum. Kini aku baru menyadari senyumanlah yang membuatku selalu kagum pada Arez. Dia serupa matahari terbit yang memberikan kehangatan lewat senyumannya.


"Kanya, kamu cantik kalau senyum."


Heh, bahkan aku bisa mendengar suaranya yang parau tapi justru terdengar seksi. Begitu kata perempuan-perempuan Teater Garasi saat Arez sering menjemputku selepas latihan malam. Beberapa tahun lalu. Tidak hanya suaranya, keseluruhan yang melekat pada Arez memiliki pesona yang tak mampu dihindari setiap anak Hawa. Sedang ia kumbang, yang sialnya menyadari jika dirinya tampan dan sering hinggap demi merayu para kembang.


"Lo tahu nggak, kecantikan lo itu nambah dua kali lipat, eh bukan, bukan, sepuluh kali lipat kalau lo lagi senyum."


Bahkan dia selalu menggodaku dengan kalimat yang sama setiap kali aku terlihat murung.


"Senyum Kanya, senyum. Susah banget sih lo disuruh senyum. Udah gue bilang 'kan, gue udah antre jadi pacar lo kalau Putra mutusin lo. Yah, sekalipun gue nggak yakin dia bakal mutusin lo sih. Dia 'kan bucin sama lo. Tapi seenggaknya senyum dong. Sepet mata gue liat lo murung terus seharian."


Suatu ketika, Arez memaksaku tersenyum padahal ia tahu, aku baru saja bertengkar dengan Putra. Perkara magang yang banyak menyita waktuku hingga membuat Putra berpikir jika aku melupakannya. Bagaimana bisa lupa, jika nama lelaki itu udah melekat di hati juga otakku?


Arez keliru saat bilang Putra bucin sama aku. Pada kenyataannya akulah yang menjadi budak cinta Putra saat itu.


"Kenapa lagi dah, udah murung pagi-pagi gini. Baru juga kemarin ketawa-ketawa sambil teleponan. Kalian berantem lagi? Perkara apalagi? Biar gue tebak, lo ribut soal foto yang diposting Cindy 'kan? Halah, gitu bilangnya modal percaya. Cemburu juga 'kan akhirnya."


"Berisik banget sih lo. Berangkat kuliah sana!"


"Bolos yuk! Kita ke suatu tempat!"


"Ke mana?"


"Dufan."


"Ngapain?"


"Elah Nya, nggak bosen apa lo, tiap hari murung aja. Masih mending juga patung ada senyum-senyumnya. Ke Dufan ngapain, ya mainlah."


"Males. Gue bosen. Nggak ada tempat lain apa?"

__ADS_1


"Sukabumi gimana?"


"Ngapain?"


"Tanya ngapain mulu dari tadi. Udah, mau nggak?"


"Naik motor lo ya?"


"Boleh."


"Ya udah yuk berangkat!"


Hari itu pertama kalinya aku dan Arez berkendara jarak jauh dengan menggunakan motor untuk pertama kalinya. Sukabumi. Tempat yang selanjutnya menjadi pelarian kami jika merasa suntuk dengan hiruk-pikuk Jakarta. Demi menghabiskan waktu memandang Gunung Gede yang menjulang di kejauhan. Hingga suatu ketika kami berada di puncak tertingginya dengan bantuan kawan-kawan Mapala UI yang cukup dekat denganku.


"Nya, kamu tau nggak, dulu Soe Hok Gie sering banget ke sini kalau suntuk."


"Trus kamu bilang gitu sama adek se-almamaternya biar apa? Mau bikin gue terkesan karna lo juga belajar Sejarah?"


"Dih sinis. Ya gue bosen aja, tiap kali ngobrol pasti soal Putra yang kadang un-faedah, tapi harus tetep gue dengerin karna lo butuh telinga."


"Ish, itu juga karna lo yang mancing ya."


"Hahaha... tapi serius deh Nya, gue akhir-akhir ini sering baca tentang Gie. Nggak cuma Chairil Anwar yang mati muda. Gie juga sama. Gimana rasanya ya, kalau kita mati tanpa tahu kalau kita bakal kembali ke bumi?"


"Ya tapi 'kan ada vonis dokter yang bilang usia kita nggak akan lama kalau mengidap suatu penyakit tertentu."


"Lo sakit, Rez? Mau istirahat sebentar?"


"Nggak gitu maksud gue Kanya."


"Ya terus, kenapa kita tiba-tiba bahas soal kematian? 'Kan tadi kita lagi ngomongin soal Gie?"


"Ya gue kagum aja, dia mati muda, tapi namanya dikenang sampai berpuluh tahun kemudian. Chairil juga. Kartini pun sama. Mereka orang-orang pelopor di negeri ini. Emansipasi, Angkatan '45 dalam kesusastraan Indonesia, dan sang demonstran yang menegakkan keadilan kaum tertindas. Lantas gue apa?"


"Beneran deh Rez, lo sakit?"


"Astaga Kanya, gue baik-baik aja. Sumpah."


"Ya terus, kenapa bahas kematian mulu sih? Konon, kita nggak boleh ngomongin kematian kalau naik gunung."


"Oh ya? Kenapa?"

__ADS_1


"Karena kematian bisa menjelma apa aja di alam liar. Lo nggak bakal bisa nebak darimana dia datang. Lagian bukannya lo mau hidup seribu tahun lagi ya?"


"Gue sekarang justru kepikiran omongannya Gie. Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, kedua dilahirkan tapi mati muda dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda. Apa bener bakal seberuntung itu kalau kita mati muda?"


"Ya tergantung apa yang udah lo lakuin selama ini."


"Ya udah, gue bakal donorin semua organ gue yang masih berfungsi kalau mati. Setidaknya kalau gue belum berguna, ada bagian dalam diri gue yang berguna buat orang lain."


Waktu itu aku berpikir semua hanyalah candaan Arez. Lelaki itu memang suka sekali mencandai suatu hal. Termasuk jika dirinya alien dari Planet Zenit yang letaknya jutaan tahun cahaya dari bumi.


Kenangan demi kenangan kini berebut tempat dalam benakku. Sesak. Menjadikan air mata tak kunjung surut juga. Bahkan ajakannya pulang ke Bandung demi mengenal ayah dan bunda juga masih membekas diingatanku.


"Nya, liburan ikut gue yuk. Pulang. Gue kenalin Bunda sama Ayah."


"Lah, emang lo mau lamar gue pake ngenalin ke ortu segala?"


"Oh, lo mau gue lamar? Ya udah ayok, gue sih siap aja."


"Arez, nggak usah mulai usil deh."


"Lah, 'kan lo sendiri yang bilang. Gue sih mau-mau aja nikah sama lo. Gimana, mau nggak?"


"Mau apa?"


"Ke rumah gue Kanya. Ampun deh. Atau lo beneran mau nikah sama gue?"


"Dih, ogah. Gue mau nikah seribu tahun lagi. Biar nyaingin lo yang mau hidup seribu tahun lagi."


"Trus kita bisa nikah."


"Mimpi."


"Tapi gimana kalau lo kelak nikah sama orang yang punya bagian dari diri gue?"


"Makin nggak jelas deh ngomongnya. Udah deh, gue males nanggepin omongan lo."


Namun sebelum aku mengiyakan ajakannya, Arez lebih dulu pergi dari kontrakan tanpa pernah kembali.


"Gue takut nggak bisa pamit dengan cara yang benar seandainya gue beneran pergi."


Napasku tersengal saat tiba-tiba teringat pembicaraan kami sebelum dia pergi. Apakah ini maksudnya jika dia takut tak bisa berpamitan dengan cara yang benar seandainya akan pergi? Tangisku semakin pecah. Ada perasaan sesal yang semakin besar menghadapi kenyataan yang tak pernah kupikirkan.

__ADS_1


"Terima kasih untuk kenangan yang lo tinggalin Rez, sekalipun itu sangat menyakitkan karena gue sadar betapa egoisnya gue selama ini. Maaf. Maafin gue..."


__ADS_2