Pulang

Pulang
Ternyata Dia Juga Bisa Cemburu


__ADS_3

Renjana Alcatraz


Tak menunggu lama ketika Putra mengatakan di mana Kanya berada, aku keluar dari ruangan itu. Terlebih saat lelaki itu mengatakan jika Kanya sedang makan di kantin bersama seorang dokter. Pikiranku tak karuan. Entah mengapa aku memiliki firasat jika itu Dokter Bella. Dan, sebelum perempuan itu membuat ulah, aku harus menemukan mereka.


Dengan langkah cepat, aku menyusuri koridor menuju lift yang terletak paling ujung. Sementara letak kantin di rumah sakit ini berada di lantai satu. Aku tak cukup kuat jika harus melewati tangga darurat. Meski kondisi badanku semakin membaik, aku tak mau membuang energi. Sebab aku yakin betul, aku akan membutuhkan lebih banyak energi setelah ini.


Laju lift selalu terasa lamban jika kita ingin segera bergegas. Mungkin, ini dulu yang dirasakan Kanya saat pertama kali bertemu di kantor tempat dia bekerja. Perempuan itu menggerutu akibat lift yang dirasanya seperti siput berjalan yang entah kapan akan sampai tujuan. Pun aku sekarang. Baru kali ini merasakan betapa laju lift begitu menyebalkan.


Ting ...


Lift telah tiba di lantai tujuanku. Bersamaan dengan aku yang keluar, Dokter Bella masuk ke dalam lift dengan wajah bersinar cerah. Aku tahu tabiatnya, pasti telah terjadi sesuatu.


"Cerah amat wajah Dokter, nggak habis menghancurkan rumah tangga orang 'kan?" tanyaku tanpa basa-basi. Senyum justru semakin lebar menghiasi wajah perempuan itu.


"Nggak ada, memang nggak ada kerjaan lain selain gangguin pacar orang?" kata Dokter Bella mengulum senyum. Aku tahu, ada yang disembunyikan Dokter Bella.


"Dok, saya bukan anak kecil lagi. Suka banget sih godainnya. Jatuh cinta baru tahu rasa loh."


Mendengar pernyataanku, Dokter Bella hanya tertawa. Lalu menepuk pundakku sebelum membiarkan pintu lift tertutup.


"Harimu akan berat anak muda."


Aku sempat mendengar perempuan itu bicara sebelum lift benar-benar tertutup. Sial, firasatku benar, pasti Dokter Bella telah melancarkan serangan saat bertemu dengan Kanya. Perempuan itu, masih saja suka menjahiliku dan menganggapnya sebagai hiburan yang menyenangkan.


Saat menyadari sempat tertahan akibat ulah Dokter Bella, aku kembali menyusuri koridor rumah sakit menuju ke arah kantin. Gerombolan Kanya bersama personil Nada Sumbang yang kulihat pertama kali. Mereka sibuk bercanda dan saling melempar jokes. Meski Kanya tampak murung jika dibanding biasanya.


Huft ... aku menarik napas panjang sebelum akhirnya mendekat ke tempat Kanya dan kumpulan lelaki yang tanpa mereka sadari telah menjadi pusat perhatian. Padahal di tempat umum, tetapi tak ada seorang pun di antara mereka yang mencoba menyembunyikan identitasnya. Sementara Kanya tampak santai saja meski diam-diam telah ada yang mengabadikan momen mereka.


"Sori, boleh gue pinjem Kanya sebentar?"


Kalimat itu akhirnya terucap juga meski sesaat kerongkonganku terasa tercekat. Arlan yang paling cepat menoleh. Lelaki itu tersenyum dan memberi kode pada Kanya yang tampak tak memedulikanku. Padahal aku yakin, perempuan itu mendengar suaraku.


"Nya, dicari pangeran lo tuh."

__ADS_1


"Pangeran dari Hongkong! Ngaco aja ah." Suara Kanya terdengar jutek. Membuatku semakin yakin jika Dokter Bella pasti sudah mengatakan sesuatu.


"Nya, sori ganggu waktu kamu, tapi kita harus pulang sekarang. Nanti aku antar kamu lagi kalau perlu nungguin Putra."


Kanya menoleh ke arahku. Wajahnya jelas menahan amarah. Sementara personil Nada Sumbang mulai mundur teratur saat melihat kemarahan di wajah perempuan itu.


"Sori Bro, kayaknya kita mesti balik dulu. Hati-hati, dia lebih galak dari macan kalau sedang marah," ucap Arlan sebelum benar-benar pergi.


Sebagai balasan, Kanya melempar gumpalan tissu digenggamannya pada Arlan. Lelaki itu hanya tertawa sambil menyusul ketiga temannya yang sudah pergi.


"Nya, sori kalau ada salah, tapi ... "


"Ngapain ke sini? Bukannya kamu ada janji mau ketemu sama Dokter Bella?" tanya Kanya jutek. Dia mengalihkan pandangan saat aku duduk di depannya.


"Dokter Bella?"


"Iya, kamu tadi di atap juga ketemu sama dia 'kan? Tadi aku ketemu sama Dokter Bella. Dia bilang sama aku kalau selesai makan, kalian janjian mau ketemu dan entah melakukan aktivitas apa."


Harusnya aku tak boleh tersenyum. Namun, wajah Kanya justru semakin menggemaskan ketika marah. Rasanya aku ingin mencubit kedua pipinya saja. Arlan keliru, dia bukan macan ketika marah, tetapi kelinci imut yang justru seolah meminta perlindungan.


Perempuan itu berbeda. Dia justru dengan tegas mengatakan unek-uneknya dan itu membuatku lega. Lebih mudah menjelaskan kesalahpahaman ini serta bagaimana tabiat Dokter Bella yang sering menggodaku sejak remaja.


Tanpa sadar ujung bibirku mengembang. Tak bisa kusembunyikan tawa yang sedari tadi kusimpan di balik bibirku yang mulai bergetar.


"Kok malah ketawa sih?"


"Makasih ya," ucapku sambil meraih jari jemari Kanya. Aku duduk di hadapan perempuan itu dan menepuk punggung tangannya.


"Buat apa bilang makasih?"


"Udah cemburu sama Dokter Bella."


"Hah?"

__ADS_1


"Kok hah, sih."


"Ya maksud kamu apa aku cemburu sama Dokter Bella. Nggak tuh. Aku nggak cemburu sama dia. Wajar sih kalau kamu lebih tertarik sama dia. Udah cantik, pinter, dokter pula. Ya siapa yang nggak suka sama dia coba," ucap Kanya justru semakin membuatku gemas. Meski dia menyangkal jika cemburu dengan Dokter Bella, sikapnya justru semakin terlihat jelas. "Kenapa ketawa sih?"


"Kamu lucu kalau lagi ngambek."


"Ihh, siapa juga yang ngambek! Nggak tuh. Mas Araz yang kegeeran bilang aku cemburu dan whatever apalah itu. Orang aku ...."


Belum sempat Kanya menyelesaikan kalimatnya, aku mengecup sekilas bibir perempuan itu. Wajahnya yang semula jutek, seketika melunak meski sempat terkejut. Semu merah muda menjalar di kulit pipinya. Bagian yang paling kusuka saat perempuan itu terlihat malu.


"Mas Araz, kenapa dicium sih? 'Kan malu dilihat orang."


"Biar, biar aja semua orang tahu kalau kamu itu perempuanku. Milikku yang udah bersegel. Mrs. Araz."


"Iihh ... ya nggak cium di tempat umum juga."


"Oh, jadi maunya di tempat yang nggak ada orang nih," godaku membuat wajah Kanya semakin bersemu. Aku tertawa melihatnya salah tingkah.


"Eh, tapi itu belum menjawab pertanyaan ya, memang Mas Araz pacaran juga sama Dokter Bella?"


"Dulu, aku memang sempat suka sama Dokter Bella. Waktu masih SMA. Jelas aja ditolak. Iya kali dokter muda dengan prestasi gemilang kayak Dokter Bella mau pacaran sama anak ingusan. Waktu kuliah juga, aku sempat nembak Dokter Bella lagi karena menganggap sudah dewasa, tapi lagi-lagi aku ditolak sama dia. Dia bilang, aku udah dia anggap seperti adiknya sendiri. Suatu ketidakmungkinan kalau kami sampai pacaran. Ya, walau sebenarnya ada sedikit gosip yang menyebar waktu itu sih."


Ceritaku terhenti. Kuperhatikan raut wajah Kanya yang kini tampak penasaran dengan apa yang selanjutnya terjadi. Tak ada lagi sisa kemarahan. Hanya binar cinta di matanya yang diam-diam kureguk hingga tandas.


"Gosip apa?" tanya Kanya pada akhirnya ketika kami terlalu lama membisu.


"Ya, banyak yang menganggap kami pacaran, sepasang kekasih, atau semacamnya. Padahal perlakuan Dokter Bella semata-mata bentuk kasih sayang kakak ke adiknya. Atau mungkin justru dokter pada pasiennya. Walau dalam hal ini juga bisa dibilang berlebihan sih. Tapi Dokter Bella nggak pernah menganggap aku sebagai lelaki. Di matanya aku cuma bocah yang asyik buat dibercandain."


"Oh ...."


"Apa tuh, responnya cuma oh doang. Udah cerita panjang lebar loh."


"Ya kalau mau dikomentari panjang lebar itu namanya kritik, Mas."

__ADS_1


Dengan gemas, aku mengacak-acak rambut Kanya. Perempuan itu hanya memberengut walau matanya tak bisa berbohong jika dia suka diperlakukan seperti itu.


"Aku cinta kamu, Kanya. Baik dulu, sekarang, maupun kelak ketika aku dilahirkan kembali. Menjadi apa pun itu, aku akan tetap mencintai kamu."


__ADS_2