Pulang

Pulang
Sekali Saja


__ADS_3

Renjana Putra


Putra bisa merasakan, tatapan tajam menusuk di balik punggungnya. Namun, dia tidak peduli. Saat ini, laki-laki itu hanya ingin memeluk Kanya. Melabuhkan semua perasaan khawatir, cemas, penat, juga rindu yang bercampur menjadi satu. Pelukannya semakin erat. Sedangkan debar di balik tulang rusaknya tidak bisa berkhianat. Membuat perasaan laki-laki itu semakin menghangat.


"Putra, gue nggak bisa napas," kata Kanya menginterupsi saat Putra semakin mengencangkan pelukannya.


"Bodo, sebentar lagi. Aku masih kangen," ucap Putra membuat Araz yang semula hanya diam saja, menjadi bereaksi. Laki-laki itu melepaskan pelukan Putra dari tubuh Kanya.


"Maaf, Kanya harus istirahat. Kalau mau reunian, nanti saja. Tunggu Kanya, boleh pulang."


Sudut bibir Putra mengembang. Dia tahu, bukan perkara Kanya harus istirahat yang membuat Araz menariknya menjauh dari pelukan perempuan itu, tetapi obrolan tadi malamlah pangkal masalahnya. Jelas, genderang perang sudah ditabuh oleh Araz sejak Putra melangkah masuk ke ruang rawat inap Kanya. Bahkan dengan jelas, Araz menunjukkan sikap peperangan itu dengan melindungi miliknya dari jangkauan Putra.


Mungkin Putra memang bodoh saat mengakui pada Araz jika laki-laki itu masih menyimpan perasaan untuk Kanya. Bukan sebagai saudara, melainkan sebagai mantan kekasih yang sudah berbagi banyak hal selama delapan tahun.


"Sori, kalau gitu aku jenguk Mama, dulu. Sehat-sehat, Anya. Kalau kamu tumbang gini, gimana kamu bisa jagain, Mama. Kamu harus segera sembuh," kata Putra sambil menepuk puncak kepala Kanya.


Sedang perempuan itu masih sama seperti dulu. Dia akan mengerjap menggemaskan jika ada seseorang yang menepuk puncak kepalanya. Mengingatkan Putra pada anak kucing yang membutuhkan perlindungan. Tanpa sadar, laki-laki itu tersenyum. Tulus. Tak lagi merasakan nyeri yang diam-diam merajam hatinya.


"Iya, lo juga harus ketemu, Viktor. Dan lo bisa lihat gimana miripnya dia sama kita," ucap Kanya tanpa ada beban.


Kenyataan lagi-lagi menampar Putra. Sebelum hatinya semakin perih, dia memutuskan untuk segera pergi dari ruangan Kanya.


"Oke, aku juga pasti bakal nyapa, Viktor."


Putra melangkah lesu keluar dari ruangan Kanya, tepat saat Eka berjalan di koridor menuju ruang rawat inap putri sambungnya. Melihat wajah suntuk Putra, membuat pria dewasa menjelang tengah baya itu, menatapnya penuh selidik. Eka semakin heran saat melihat Putra tidak seantusias saat bercerita padanya jika sudah berbaikan dengan Kanya beberapa waktu lalu.


"Hei, Jagoan. Gimana, sudah selesai temu kangennya?" goda Eka membuat wajah Putra justru semakin keruh.


Tidak biasanya Putra mengabaikan candaan Eka. Meski Eka tipikal pekerjaan keras, tetapi dia termasuk sosok ayah maupun kepala keluarga yang selalu menunjukkan perhatian untuk keluarganya. Tidak jarang melalui candaan ringan yang memancing tawa. Bahkan ketika perang dingin terjadi di antara mereka, Eka selalu mencoba memberi perhatian kepada Putra. Pun pada Kanya, walaupun perempuan itu lebih banyak tidak peduli dengan apa yang sudah diupayakannya.


"Ada apa sih, kalian berantem?" tanya Eka membuat Putra menghembuskan napas panjang kali ini.


"Nggak, Pa. Bukan apa-apa. Bukan hal yang penting juga sih sebenarnya." Putra mencoba tersenyum meski hatinya terasa ngilu.


Dari awal dia sudah berkomitmen untuk melihat keluarganya bahagia, meski dia harus menanggung rasa sakit sendirian. Maka biarlah dia yang merasakan nyeri itu, asalkan melihat semua orang bisa tersenyum. Toh, hal terpenting baginya kini sudah mendapatkan kebahagiaannya. Kanya. Dialah yang terpenting. Perempuan itulah yang setiap saat dia pikirkan kebahagiaannya.


"Lihat, wajah kamu kusut gitu. Masih bisa bilang baik-baik saja?" tanya Eka melebarkan senyum di wajah Putra.


"Papa kok nggak percaya sih kalau Iky, baik-baik saja. Serius Pa, Iky nggak apa-apa. Mungkin kecapekan saja."

__ADS_1


Demi meyakinkan Eka, laki-laki itu menggunakan nama panggilan kecilnya untuk dirinya sendiri. Iky. Senyum Putra kini terlihat lebih tulus. Nama itu, selalu Eka gunakan jika keduanya terlibat perdebatan dan mengharuskan mereka membicarakan hal yang serius. Pun nama itu juga yang selalu meluluhkan hati Putra setiap kali Eka memanggilnya. Serupa mantra.


Eka menepuk pundak anak sulungnya - karena dia saat ini memiliki dua anak yang lain - sebelum masuk ke ruang tempat Kanya dirawat.


"Kanya sudah boleh pulang hari ini. Kamu juga pulanglah dulu. Biar Papa di sini jagain Mama kalian."


Putra mengangguk. Saat punggung Eka menghilang di balik pintu, laki-laki itu berjalan ke arah ruang ICU. Menemui Sukma yang masih belum juga sadar dari komanya.


Lama, Putra memandang tubuh wanita yang terlihat semakin kurus dari terakhir kali dia melihatnya. Sekitar dua bulan yang lalu. Bahkan dalam tidurnya pun, wajah itu tampak begitu lelah. Seolah beban yang dia tanggung tak bisa terlupakan dan tercetak jelas dari raut mukanya. Hati Putra semakin terluka.


Dulu, Sukmalah salah satu alasan mengapa dia menerima pernikahan Eka dengan wanita itu. Terlepas wanita itu sering bertentangan dengan Kanya mulai hal sepele hingga serius, Sukma adalah sosok ibu yang selalu dirindukan Putra. Laki-laki itu selalu iri setiap kali Sukma mencurahkan seluruh kasih sayang juga perhatiannya pada Kanya. Dia juga ingin merasakan hal yang sama. Bahkan hanya sekadar makan malam yang dihidangkan sendiri oleh wanita itu. Makanya, Putra dulu sering kali main ke rumah Kanya hanya demi menikmati masakan Sukma yang memang sangat lezat.


Di masa depan, Putra ingin Sukma menjadi ibu mertua yang baik baginya. Meski tidak bisa menggantikan sosok ibu - yang bahkan sudah dilupakan wajahnya - setidaknya kehadiran Sukma selalu bisa mengisi kekosongan itu. Namun, Sang Maha justru membuat skenario lain dalam kisah yang dijalaninya.


Sebenarnya hubungan Putra dan Sukma pun baru-baru ini mulai membaik. Saat Putra sudah merasa benar-benar rela jika memang seharusnya begitulah yang terjadi. Sang pembuat skenario sekaligus sutradara yang lebih mutlak menentukan aktornya harus bagaimana. Percakapan mereka mengingatkan masa-masa saat dia masih menjadi kekasih Kanya. Sikap Sukma pun masih sehangat dahulu. Sosok ibu yang dirindukan Putra selalu melekat pada Sukma. Meski awalnya canggung setelah dua tahun lebih mengabaikan kebaikan wanita itu.


"Halo, Ma. Apa kabar? Lekas sembuh ya. Aku kangen sama, Mama," ucap Putra sambil menggenggam tangan Sukma. "Maafin Putra ya, Ma. Aku kira perasaanku buat Kanya sudah benar-benar pupus, tapi nyatanya aku masih baper sama dia. Nggak mudah juga buat lupain kenangan yang sudah delapan tahun terlewati. Hehe ... bahkan Mama juga yang jadi saksi gimana kita mulai pacaran dari SMA sampai lulus kuliah.


Rasanya kadang masih terasa aneh, Mama yang dulu aku bayangkan jadi mertua aku, justru jadi Mama sambung aku. Tapi nggak apa-apa kok Ma, aku yakin perasaanku buat Kanya sebentar juga hilang. Kalau seandainya pun nggak bisa hilang atau mungkin terlupakan, aku cukup menyimpannya dalam hati saja 'kan. Aku cukup bahagia melihat kalian semua sanggup tertawa. Terlebih jika itu semua karena aku. Aku juga merasa lega kok, Ma."


Putra menghapus air yang menggenang di ujung matanya. Entah mengapa dia mendadak menjadi melankolis setelah dua tahun lebih menguatkan niat demi kebaikan semuanya. Kehadiran Kanya, penerimaan maaf dari perempuan itu, membuat batinnya justru kembali bergejolak.


Air mata semakin deras mengalir di pipi laki-laki itu. Dia berusaha tegar. Dia berusaha semua baik-baik saja selama ini. Asalkan dia bisa kembali dekat dengan Kanya. Sebagai apa pun itu. Namun, kenyataannya Putra tidak bisa setegar itu. Apakah benar jika laki-laki memang lebih susah move on dibanding perempuan?


Putra menghela napas, sebelum akhirnya memutuskan untuk keluar dari ruangan Sukma.


***


Pada akhirnya kamar berpintu putih di samping kamar Putra itu berpenghuni untuk pertama kalinya setelah dua tahun dibiarkan kosong. Kanya - si pemilik kamar - memutuskan benar-benar pulang saat keluar dari rumah sakit sore tadi. Senyum semakin tak bisa dihindarkan dari wajah Putra. Dia lega, akhirnya si anak hilang itu mau juga pulang setelah berkelana mengikuti kata hatinya.


Putra melirik jam di layar gawainya. Pukul 10.00 malam. Araz sudah izin untuk masuk kamar sejak pukul 09.00 tadi. Katanya, besok dia harus balik ke Jakarta untuk mengurus proyek kerja sama dengan Hanung. Sedangkan Kanya masih asyik di depan televisi sampai saat ini. Sementara Putra yang lebih menghindari peperangan dengan Araz, memilih masuk kamar bersamaan dengan laki-laki itu. Dia tidak mau kekasih Kanya itu semakin curiga kepadanya.


Sialnya, mata belum juga mau terpejam meski sejak tadi Putra sudah berusaha untuk tidur. Terlebih Putra bukanlah tipikal orang yang bisa tidur teratur. Melek hingga larut malam sudah jadi kebiasaannya. Alhasil, kini laki-laki itu hanya bisa berbaring di tempat tidur tanpa melakukan apa pun.


"Sial, gue haus pula. Males banget keluar. Pasti Araz juga gelisah nggak bisa tidur. Alasannya saja tidur duluan, padahal diam-diam pasti nguping di balik pintu kamar," kata Putra berperasangka buruk pada Araz. "Kanya juga ngapain jam segini masih nonton TV sih? Jangan-jangan ketiduran."


Putra memutuskan keluar kamar saat mengingat kebiasaan Kanya yang sering ketiduran saat menonton TV. Dulu, dialah yang bertugas memindahkan Kanya ke tempat tidur saat mereka menghabiskan waktu kencan dengan menonton film di rumah. Huftt ... Putra menghela napas panjang. Sepertinya Putra memang harus benar-benar bisa merelakan keadaan saat ini jika tak ingin dihantui kenangan.


Benar saja dugaan Putra. Kanya tertidur di depan televisi yang masih menyala. Laki-laki itu memandang wajah Kanya yang tampak damai dalam tidurnya. Tidak ada yang berubah dari wajah Kanya sejak sekolah dasar kecuali semakin cantik saat ini. Hmm ... lagi-lagi kenyataan menampar kesadaran Putra. Yang kenal sudah lama pun belum tentu berjodoh dalam percintaan. Putra tertawa hambar.

__ADS_1


"Nya, Anya, bangun. Pindah ke kamar gih. Di sini dingin, kamu nanti bisa masuk angin," kata Putra sambil mengguncang pelan tubuh Kanya. Dan begitulah Kanya, tidak mungkin mudah terbangun jika sudah tertidur pulas meskipun masih bisa diajak berdialog walau dengan mata terpejam.


"Nggak, gue tidur sini saja."


"Hemm ... kebiasaan kamu masih saja nggak berubah. Pindah kamar sana. Masa aku yang harus pindahin kamu ke kamar kayak dulu? Nggak mungkin banget 'kan."


"Kenapa nggak? Kan lo sekarang Kakak gue. Hehe ... Kak, gendong gue ke kamar dong."


"Kamu tuh tidur apa mabuk sih. Heran deh."


Putra baru saja akan mengabulkan permintaan Kanya, jika tidak mengingat ada Araz. Laki-laki itu lantas mengetuk pintu kamar tamu. Berharap Araz belum tidur dan bisa memindahkan Kanya ke kamarnya. Namun, hingga menit berlalu tidak ada jawaban dari Araz.


"Gini amat cobaan orang mau move on," kata Putra lirih sambil mengamati tubuh Kanya yang membuat tubuhnya gemetar. Wajar bukan, Putra laki-laki dewasa yang masih normal secara seksual. Dan, tubuh Kanya selalu bisa menggodanya. "Setan!"


Putra mengumpat pelan. Sebelum bertindak kebablasan dia berlalu dari ruang keluarga dan kembali ke kamarnya. Mengambil selimut untuk menutupi tubuh Kanya yang hanya menggunakan crop tee dan hot pans sebelum akhirnya memindahkan perempuan itu ke kamarnya.


"Lain kali jangan pakai pakaian minim kayak gini dong. Kamu sengaja ngundang Araz apa gimana sih?"


"Araz nggak mungkin ngelakuin itu. 'Kan dia bukan lo."


Kata-kata Kanya membuat Putra tertampar. Meski mereka hanya melakukannya sekali, tetap saja penyesalan itu tidak pernah hilang sampai sekarang. Apalagi dengan kondisi mereka saat ini.


"Maafin aku ya, Nya. Nggak guna banget aku jadi cowok."


"Udah terjadi, nggak usah disesali. Toh gue juga mau."


Senyum Putra mengembang. Bukan pembicaraan mereka yang membuat laki-laki itu tertawa, tetapi kebiasaan lucu Kanya yang bisa diajak berbicara saat sedang tertidur. Momen-momen itu membangkitkan kembali kenangan yang pernah terlewati dalam benak Putra. Betapa menggemaskannya Kanya saat tertidur dan berbicara di waktu yang bersamaan.


"Selamat tidur, Jiwaku. Mimpi indah ya." Putra mengelus kepala Kanya sebelum keluar dari kamar perempuan itu. Namun, ucapan Kanya selanjutnya membuat Putra membeku.


"Mimpi indah juga my Guardian Angel."


Sebutan yang meluncur dari bibir Kanya membuat Putra benar-benar kehilangan kendali. Dipandanginya wajah Kanya yang masih terpejam.


Putra membelai wajah Kanya yang tertidur pulas. Air matanya mengalir perlahan. Putra menangis. Batinnya kembali terasa nyeri. Dia bisa begitu dekat dengan Kanya, tetapi tidak pernah bisa memilikinya lebih dari status hubungan mereka saat ini. Rasanya begitu menyakitkan. Mungkin inilah yang disebut dengan istilah sakit, tetapi tidak berdarah.


"Aku nggak masalah kalau setelah ini kamu bakal membenciku lagi. Aku nggak peduli jika setelah ini kamu pergi menjauh lagi. Aku nggak peduli apa pun itu. Aku cuma mau bilang kalau aku sayang sama kamu, Nya. Masih sama seperti dulu. Nggak ada yang berubah dan belum pernah berubah. Aku masih mencintai kamu. Jiwaku.


Maafin aku, Nya. Aku ... sekali ini saja. Biarkan setelah ini aku bisa merelakan kamu pergi dari hidupku, sebagai perempuan yang aku cintai."

__ADS_1


Laki-laki itu mendekatkan wajahnya ke bibir Kanya. Putra mengecup bibir perempuan itu cukup lama. Dan, bibir itu membalas ciuman Putra. Mereka berbagi ciuman dengan derai air mata.


__ADS_2