
Haiii ... Semangat pagiii!!! Pulang update lagi nih. Jangan lupa tinggalkan kesan kalian di kolom komentar dan klik like-nya ya! Sangat berterima kasih kalau kalian mau vote novel ini dan kirim hadiah juga buat Yoru biar makin rajin update ceritanya. ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤
So, enjoy for reading!! 😊😊
...****************...
Tangan Alcatraz gemetar. Di tangannya masih tergenggam surat-surat yang ditinggalkan adik semata wayangnya itu. Surat yang baru saja dia baca merupakan surat terakhir yang ditulis oleh Aksa sebelum akhir masa hidupnya. Selain surat itu masih ada beberapa lembar surat lain yang membuat air mata Araz semakin deras. Sepertinya, Aksa menuliskan surat itu setiap kali merindukan sang kakak dan tidak ada balasan dari Araz saat ia mengirimkan pesan atau menjawab panggilan teleponnya.
Seperti selembar surat yang saat ini masih berada dalam genggaman tangan Araz dan membuat air mata laki-laki itu kian rebas.
Hyeong, apa kau begitu sibuk sampai tak membalas pesan yang aku kirim? Padahal aku ingin bercerita tentang banyak hal padamu, tapi sepertinya kau begitu sibuk sampai mengabaikan pesan yang aku kirimkan.
Huft, kau tahu Hyeong, Appa marah-marah karena kamu tidak mau menuruti nasihatnya. Begitu kata Appa pada Amma saat bertanya kenapa selalu marah pada Hyeong. Padahal Hyeong juga tidak sedang mendengarkan omelannya.
Hahaha ... Aku tertawa dari kamar. Kamu tahu Hyeong, Appa sangat mudah marah, tapi juga mudah sekali luluh saat Amma mengingatkan jika Appa tidak tahu bagaimana sifat laki-laki itu, seperti Hyeong-lah sifatnya. Ya, aku juga merasa seperti itu. Kalian berdua sangat mirip. Hari ini juga, kalian masih terlihat sangat mirip bagiku.
Ah, harusnya aku mengatakan langsung pada Hyeong apa yang menyebabkan Appa marah.
Hyeong, Appa sangat khawatir saat tahu Hyeong lagi-lagi turun ke jalan. Ikut berdemo dengan kondisi Hyeong yang tidak baik-baik saja. Appa tidak sepenuhnya melarang Hyeong ikut demo dan membela hak-hak rakyat kecil. Kata Appa, dia juga melakukannya saat masih muda. Appa mengkhawatirkan kondisi Hyeong yang tidak sepenuhnya fit. Ah, aku jadi bertanya-tanya, kapan Hyeong tidak membuat Appa khawatir dan lebih membatasi ruang gerakku karena takut hal yang sama juga akan terjadi padaku.
__ADS_1
Harusnya aku menyalahkan Hyeong, karena Hyeong, Appa jadi lebih membatasi aktivitasku. Tapi aku tidak bisa marah pada Hyeong. Huffttt ... aku pun berniat marah-marah pada Hyeong kalau menjawab panggilan teleponku, ternyata Hyeong bahkan tidak membaca pesanku. Keterlaluan.
Araz beralih pada lembar surat yang lainnya. Tangan laki-laki itu masih gemetar. Dan air mata tak juga kering dari telaga matanya.
Hyeong, apa kali ini kamu juga sibuk? Sebenarnya apa yang Hyeong cari sampai bekerja keras seperti itu? Apa Hyeong balas dendam dengan perlakuan Appa? Sebenarnya apa yang ingin Hyeong tunjukkan? Tanpa menunjukkan apa pun, Hyeong tetaplah yang terbaik di mata siapa pun. Appa hanya tak mau mengakuinya sebab ego orang tua itu terlalu tinggi. Sama seperti Hyeong.
Ah, menyebalkan. Aku bosan di rumah terus. Tidak ada teman ngobrol yang asyik. Amma dan Appa juga sedang sibuk mempersiapkan restauran yang baru. Aku di rumah sendirian. Masa aku menghabiskan waktu cuma dengan membaca dan melukis?
Sepertinya aku juga mulai gila. Aku berharap Doraemon muncul dari masa depan dan bisa memberikan apa pun yang aku mau. Punya Hyeong pun percuma. Hyeong tidak berguna.
Semakin Araz membaca surat dari Aksa, semakin laki-laki itu tertampar oleh kenyataan. Betapa jahatnya dia selama ini menjadi figur seorang kakak bagi Aksa. Namun, ia tetap menuntaskan aktivitasnya membaca surat-surat dari sang adik.
Ya, Hyeong bodoh. Hyeong mana pernah tahu perasaanku yang ingin selalu berada di sisimu. Hyeong tidak pernah mengerti kalau aku ingin seperti adik lainnya yang selalu diperhatikan sang kakak. Sedangkan Hyeong? Hyeong hanya sesekali menghubungiku. Itu pun jika Hyeong tidak memiliki kegiatan yang hampir ada setiap hari. Menyebalkan. Tapi, Amma selalu bilang kalau aku tidak boleh pada Hyeong.
Kata Amma, Hyeong memiliki kehidupan sendiri yang pantas diperjuangkan dan aku tidak boleh terlibat dalam urusan sentimental semacam ini, tapi aku juga merindukan Hyeong. Jadi, Hyeong, kapan pulang?
Aku sakit, Hyeong. Setiap malam aku melihat orang-orang asing berdiri di sampingku. Seakan mereka menunggu waktu untuk menjemputku. Meski aku menolak, mereka selalu menawarkan rasa damai setiap kali bisa membuat mataku terpejam. Aku takut Hyeong. Aku takut tidak bisa bertemu Hyeong sebelum pergi dan mengatakan betapa aku menyayangi Hyeong. Melebihi rasa sayangku pada Appa ataupun Amma.
Tubuhku seakan tak sanggup lagi untuk bertahan, Hyeong. Aku ingin bertemu Hyeong sebelum kesempatan yang diberikan Tuhan benar-benar habis. Hyeong, untuk terakhir kalinya aku ingin bertemu dan memeluk Hyeong. Apakah keinginanku akan terkabul? Tapi, jika memang keinginanku tak terwujud sekalipun, aku tidak akan menyesal sebab aku telah menuliskan surat ini pada Hyeong. Harusnya Hyeong pun juga merasakan hal yang bukan?
__ADS_1
Sebelum kesempatan itu benar-benar habis, aku ingin bertemu Hyeong. Aku ingin Hyeong memelukku sama seperti saat aku sakit dulu. Aku ingin berbagi rasa sakit itu kepada Hyeong, meski Hyeong juga merasakan sakit yang sama. Tapi bersama Hyeong bisa membuatku kuat dan tidak takut pada apa pun. Termasuk kematian yang diam-diam sudah menungguku untuk pulang.
Membaca surat yang ada di tangannya, membuat Araz tak sanggup lagi menahan getar dalam dada. Surat yang ditulis oleh Aksa membuatnya merasakan sakit yang amat luar biasa.
Dulu, bagi Alcatraz setiap kali Aksa merengek meminta ini itu padanya selalu ditanggapi dengan dingin. Terlebih ketika dia sudah memutuskan untuk keluar dari rumah. Laki-laki itu jarang sekali mengabulkan permintaan adiknya. Bahkan untuk sekadar pulang ke rumah saat akhir pekan. Kini, Araz baru tahu, betapa jahatnya ia di masa lalu karena telah membuat Aksa merasa kesepian. Ia bahkan tega membuat adiknya merasa sendirian.
Kini ia tahu betapa sang ayah begitu marah dan selalu mengatakan jika dia anak yang tidak berbakti. Anak yang tidak tahu terima kasih atau apa pun kalimat makian yang sang ayah lontarkan kepadanya. Kini Araz tahu, mengapa sang ibu selalu memintanya pulang bahkan membuat alasan agar sang anak mau menyempatkan waktu agar bertemu. Di balik itu semua, ada pengharapan sang adik yang ingin bertemu dengannya. Sementara Araz hanya memberi makan egonya sendiri tanpa memikirkan perasaan mereka.
Tidak ada gunanya menyesal saat ini bukan?
Alcatraz tersenyum kecut. Ia menghapus air mata yang jatuh membasahi pipinya. Rasanya sangat tidak pantas menangisi keadaan saat ini. Sedangkan dia selalu menyia-nyiakan kesempatan yang pernah ada.
Meski begitu, Alcatraz tak henti membaca tumpukan surat yang telah ditulis oleh adiknya. Laki-laki itu ingin menyelami perasaan Aksa. Menyelami perasaan yang selama ini dia abaikan. Sementara di sampingnya, Kanya hanya sanggup merangkul pundak Araz yang masih belum bisa meredakan tangisannya.
"Aku nggak pernah tahu kalau dia begitu menderita. Aku salah, Nya. Aku salah karena udah mengabaikan dia. Harusnya sebagai kakak, aku bisa melindungi dan membuatnya bahagia. Tapi yang ada, aku justru nggak pernah peduli sama apa yang dia rasakan," ucap Araz lirih. Suaranya yang berat menandakan jika ada hal yang begitu menyakitkan dalam hati Alcatraz.
Kanya menepuk pelan pundak Araz. Ia tak hendak mengatakan apa pun, sebab ia tahu Araz hanya butuh pendengar. Kanya tahu jika laki-laki itu hanya membutuhkan tempat untuk berkeluh kesah. Bukan menerima komentar yang justru akan membuat perasaannya semakin buruk.
"Harusnya aku lebih banyak meluangkan waktu dengannya," ulang Araz dengan suara yang semakin menyayat hati.
__ADS_1
Betapa menyesalnya laki-laki itu atas kehilangan Aksa. Hingga Kanya dapat merasakan pedih dalam hati Araz yang kian menguat. Namun, tak ada yang Kanya bisa lakukan saat ini selain memeluk laki-laki itu, seperti Araz memeluknya ketika perempuan itu rapuh dan terluka. Mereka membagi kesedihan bersama dalam isak tangis yang tertahan.