Pulang

Pulang
Awal Keretakan (I)


__ADS_3

Renjana Putra


Putra terbangun saat mendengar alarm berbunyi nyaring. Pusing di kepalanya masih belum hilang meski sudah mereda dibandingkan tadi malam. Ia mengamati telapak tangannya yang masih terasa hangat seakan digenggam lama oleh seseorang.


Mimpi tadi malam berputar lagi dalam ingatannya. Putra melihat Kanya datang. Perempuan itu terlihat khawatir meski tak luput memarahinya. Kanya bahkan rela duduk di sampingnya semalaman dan menggenggam tangan Putra.


Lelaki itu tersentak saat menyadari sesuatu. Ia menyibak selimut dan berlari keluar kamar. Mencari siapa pun orang yang masih tersisa di rumah. Ah, ia bahkan melupakan jika sekarang hari Minggu yang artinya tidak ada seorang pun yang berangkat bekerja.


Langkah lelaki itu melambat saat retina matanya menangkap sosok perempuan muda sedang duduk di meja makan bersama papa dan mama tirinya. Senyumnya mengembang. Ternyata yang dia rasakan tadi malam bukanlah mimpi. Kanya benar-benar datang dan menemaninya semalaman.


Tergesa Putra menuruni anak tangga dan berharap perempuan itu adalah sosok yang dia bayangkan. Senyum masih mengembang di wajahnya yang masih lebam. Namun seketika raut mukanya berubah kecewa saat menyadari perempuan itu bukan Kanya.


"Cindy? Ngapain lo pagi-pagi udah ke sini?"


Perempuan itu tersenyum. Harusnya mampu membuat lelaki mana pun terpikat. Selain cantik, senyum tiga jari yang menjadi ciri khas perempuan itu juga meninggalkan lesung pipi yang menambah pesonanya. Namun bagi Putra, tidak ada yang lebih penting saat ini kecuali Kanya.


"Hei, aku dengar dari Om Eka kamu sakit. Jadi aku memutuskan ke sini buat jenguk kamu. Eh ini malah ditawarin sarapan bareng."


Putra melirik ke arah pria yang sedang menyuapkan nasi goreng ke mulutnya. Rahangnya mengatup keras. Mata lelaki itu menyorot tajam seolah menunjukkan jika ia tidak suka dengan apa yang sudah dilakukan papanya.


"Di mana Anya?"


Pertanyaan Putra membuat semua orang di meja makan menghentikan aktivitasnya. Termasuk perempuan menjelang 45 tahun yang selalu tampil cantik meski sederhana. Pembawaannya yang luwes dan elegan tak mampu menyembunyikan raut terkejut di wajahnya.


Putra tersenyum sinis. Melihat reaksi dua orang tua di meja makan itu membuatnya semakin yakin jika yang terjadi tadi malam bukanlah mimpi. Kanya memang benar-benar datang.


"Jadi benar dia ada di sini 'kan? Kalian membiarkan dia pergi begitu saja? Sebenarnya apa sih yang kalian inginkan? Kalian senang membuat anak-anak kalian menderita?"


"Putra! Jaga bicaramu!"


"Harusnya biarkan aku mati sekalian, daripada meminta Anya datang tapi membiarkannya pergi lagi. Kalian memang benar-benar orang tua egois. Dan satu lagi, berhenti menjodohkan aku dengan Cindy. Kalian yang lebih tahu siapa perempuan yang kuinginkan."


Tanpa berkomentar lebih panjang, Putra berbalik menuju kamar dan mengambil kunci mobil. Ia tahu harus ke mana mencari Kanya.


***


Sia-sia, Putra tak menemukan Kanya ketika sampai di rumah Almira. Perempuan itu bilang, Kanya sudah berangkat ke Juanda diantar Pak Pras sejak pukul 07.00 pagi tadi. Pesawatnya berangkat pukul 12.40 WIB. Mengingat jarak tempuh hingga mencapai empat jam, Kanya memutuskan berangkat pagi dan lebih baik menunggu di bandara. Daripada harus terjebak macet hingga membuatnya ketinggalan penerbangan.

__ADS_1


Putra melirik jam di pergelangan tangannya. Sudah pukul 08.30. Tidak akan mungkin bisa memburu waktu jika dia memaksakan menyusul Kanya. Kalaupun terburu, belum tentu Putra masih mempunyai kesempatan untuk mencegah Kanya untuk tinggal lebih lama.


"Kalau gue boleh tahu, lo punya alamat dia di Jakarta nggak?"


"Sori Put, dia sama sekali nggak pernah cerita sama gue tinggal di mana sekarang. Terakhir gue tahu alamatnya itu setahun yang lalu. Katanya sekarang udah pindah lagi. 'Kan lo juga tahu sendiri dia kayak gimana orangnya. Ini juga kalau nggak gue paksa, dia nggak bakal mau datang."


Putra termenung menanggapi pernyataan Almira. Memang Kanya bukanlah sosok yang mudah dipahami. Apa lagi ditaklukkan. Sifat perempuan itu bisa menjadi sekeras batu jika menginginkan sesuatu.


"Nomor dia masih sama 'kan?" tanya Putra sebelum memutuskan pergi dari rumah Almira. Perempuan itu hanya mengangguk pasrah sambil mengantar kepergian Putra dengan wajah sendu. "Makasih ya, Mir. Gue pamit dulu."


"Sabar ya Put, gue rasa Kanya hanya butuh lebih banyak waktu. Hubungan kalian begitu rumit dan aku tahu itu nggak mudah. Termasuk buat Kanya."


Senyum paksa menghiasi bibir Putra. Lelaki itu tak menanggapi ucapan Almira dan memutuskan benar-benar pergi.


Selama di dalam mobil, Putra hanya bengong dan menyetir tanpa tujuan. Pikirannya kacau. Segala ingatan tentang Kanya tumpang-tindih. Berebut tempat mana yang lebih dulu ingin muncul ke permukaan hingga membuat kepalanya mau pecah.


Lelaki itu menepikan mobilnya di tepi jalan. Ia membuka jendela dan menatap Laut Jawa yang membentang di depannya. Ingatan tentang Kanya kembali mengusik pikiran Putra dan menyeret lelaki itu ke masa lalu. Masa yang menyebabkan kehancuran hubungannya dengan Kanya.


"Nya, Papa ngajak kita makan malam. Katanya dia mau kasih pengumuman ke keluarga besar dan ngundang kamu sekalian. Dia pengen kenal sama pacar anaknya," kata Putra bersemangat saat menyampaikan kabar itu pada Kanya. Sedang perempuannya hanya tersenyum kikuk menanggapi ajakan Putra.


"Lah, 'kan udah kubilang Papa pengen kenal sama pacar anaknya. Kita pacaran udah delapan tahun loh, wajar 'kan kalau dia penasaran."


"Tapi..."


"Udah, nggak usah gugup. Ada aku 'kan. Kak Noah juga kayaknya datang deh. Ada Kakek sama Om Roni juga. Kamu 'kan udah kenal sama mereka."


Memang selama pacaran dengan Kanya, Putra sudah mengenalkan perempuan itu kepada beberapa anggota keluarganya. Meski papanya yang sibuk bekerja di luar kota itu menjadi satu-satunya orang yang belum mengenal Kanya. Namun Putra yakin, sebagaimana kakek, paman, tante hingga sepupunya, papanya pun pasti akan menyukai Kanya.


Perempuan itu cantik, wawasannya luas, dari keluarga terpandang meski ayahnya sudah meninggal dunia satu tahun yang lalu, dan tahu caranya bersikap di hadapan orang tua meski tidak termasuk sosok yang feminim. Sudah sangat pantas jika ia menjadi nyonya yang bersanding di samping Putra.


"Ini banyak keluarga kamu yang datang loh, Put. Serius kamu ajak aku?"


"Iyalah. Nanti aku jemput kamu di rumah."


Malamnya Putra benar-benar menjemput Kanya di rumahnya. Perempuan itu masih saja mempunyai alasan untuk menolak meski pada akhirnya menuruti kemauan Putra setelah diiming-imingi ice cream.


Rumah kakek Putra mendadak ramai malam itu. Mereka sedang berkumpul di taman samping rumah dan menggelar garden party. Biasanya hanya Om Roni yang menemani kakek Putra dari pihak papanya. Kini hampir seluruh keluarga besar berkumpul. Membuat Kanya merasa minder dan ingin melarikan diri dari sana secepatnya.

__ADS_1


Putra menggenggam erat tangan Kanya agar perempuan itu tak melarikan diri. Dia mengajak Kanya mendekati papanya dan mengenalkan secara resmi sebagai kekasih.


"Pa, ini perempuan yang sering aku ceritain. Namanya Kanya."


"Halo, Om. Selamat malam."


"Wah cantik ya. Memang pinter kamu cari pasangan, Put. Nikmati pestanya ya. Jangan sungkan. Anggap aja rumah sendiri."


"Dia udah sering ke sini, Pa. Nggak usah dikasih tahu juga udah krasan (betah)."


Papa Putra tertawa menanggapi pernyataan anak semata wayangnya. Hingga pandangan pria itu tertuju pada wanita yang baru saja datang. Begitu pun dengan hampir separuh tamu undangan tak terkecuali Putra dan Kanya.


"Nak, dia calon ibu tiri kamu," kata papa Putra membuat tubuh lelaki itu membeku. Begitu juga dengan Kanya yang berdiri di sampingnya.


"Maksud Papa, apa?"


"Maksud Om, apa?"


Pertanyaan itu meluncur bersamaan dari mulut Putra dan Kanya. Mereka tak mampu mencerna dengan baik apa yang baru saja disampaikan oleh papa Putra. Atau lebih tepatnya menyangkal fakta jika pendengaran mereka tidak salah.


"Ya, dia calon istri Papa. Dia akan jadi Mama buat kamu."


Saat itu juga, Kanya berlari meninggalkan tempat acara. Tak ia pedulikan panggilan Putra. Bahkan wanita yang baru datang itu sama terkejutnya saat melihat Putra dan anaknya berada di tempat yang sama.


"Papa tahu nggak sih, Tante Sukma itu ibunya Kanya. Papa mau menghancurkan hubungan kami dengan cara konyol kayak gini?"


"Apa? Tapi... bagaimana..."


"Kayaknya orang suruhan Papa udah salah kasih informasi. Aku kejar Kanya sekarang dan pastikan setelah aku kembali, Papa nggak melanjutkan niat Papa menikahi Tante Sukma."


"Papa nggak bisa Putra."


"Pa, Papa benar-benar mau menghancurkan hubunganku sama Kanya?"


"Papa sangat mencintai Tante Sukma sejak dulu. Bahkan sebelum Papa ketemu dengan Mama kamu."


Mata Putra menyorot tajam. Tanpa mendengar alasan papanya lebih panjang, lelaki itu meninggalkan tempat pesta dan mengejar Kanya.

__ADS_1


__ADS_2