
Renjana Kanya
Benar saja dugaanku, Almira masih menunggu kami tiba. Sedikit pun ia tidak mau memejamkan mata padahal kondisi perutnya semakin membesar dan butuh banyak istirahat. Alhasil Damarlah yang uring-uringan padaku. Meski begitu tetap saja suami Almira itu memelukku erat saat kami tiba. Dia bahkan memelukku lebih lama ketimbang Almira yang merasa tidak nyaman akibat perutnya yang makin membesar.
"Lo tuh bisa nggak sih, nggak kasih kejutan sama kita. Beberapa minggu nggak kasih kabar, tahu-tahu udah jadian saja sama Araz. Padahal sebelumnya takut, khawatir yang inilah, itulah. Sekarang tiba-tiba pulang, sambil nangis bilang kalau mau nginap di sini," komentar Damar tanpa jeda saat mengikuti aku dan Araz masuk ke ruang keluarga.
Rumah besar itu tentu saja sudah sunyi. Orang tua Almira pun tidak terlihat. Mungkin, sudah terlelap sejak tadi. Walaupun begitu, rasa hangat tetap kurasakan setiap kali berkunjung ke rumah ini.
"Tumben Anya, pulang. Ada tugas liputan lagi?" Almira bertanya tidak kalah antusias.
Bagi teman yang tumbuh dewasa bersamaku itu, jika aku pulang berarti dia punya teman ngobrol yang bisa diganggunya 24 jam. Bahkan jika perlu, aku bisa berfungsi sebagai kaki tangannya untuk melakukan hal yang dia mau.
Namun, menyadari wajahku yang mendung, Almira paham jika telah terjadi sesuatu. Sekalipun aku belum mengatakan pada mereka apa alasanku pulang kali ini.
"Semua baik-baik saja 'kan, Nya?"
Damar ikut penasaran dengan kebisuan yang menyelimuti kami secara tiba-tiba. Aku tersenyum kaku. Tidak tahu harus merespon bagaimana pertanyaan mereka. Sedang Araz hanya sanggup memegang pundakku untuk menyalurkan kekuatan. Meski pada akhirnya, air mataku tumpah juga dan memeluk Almira.
"Ada apa sih, Bang?" tanya Damar semakin penasaran. Dia tidak sanggup menekan lebih lama rasa penasaran yang mengganggu pikirannya. Sementara aku masih terisak dalam dekapan Almira.
"Mama Kanya, dibawa ke rumah sakit kemarin. Papa Putra bilang kalau kondisinya sekarang tidak cukup baik. Kandungannya terganggu akibat benturan saat beliau terjatuh. Kemungkinan operasi bakal dilakukan kalau kondisi keduanya semakin memburuk. Makanya Papa Putra minta Kanya buat pulang. Tapi aku rasa, kalian yang lebih paham bagaimana Kanya sama Mamanya," cerita Araz mewakili aku menjawab pertanyaan Damar.
__ADS_1
Mendengar pernyataan Araz, Almira semakin menguatkan pelukannya. Tangan lembut perempuan itu membelai rambutku. Sekalipun ia berusaha menguatkan, tetap saja ia tidak bisa menyembunyikan air matanya. Kami menangis sambil berpelukan. Hingga aku merasakan pelukan lain yang lebih kekar dan hangat. Damar.
"Gue tahu lo pasti nggak bakal mau dengar ini sekarang, tapi sebagai sahabat lo, gue minta, gue mohon sama lo, Kanya. Temui Tante Sukma. Gue nggak bakal minta lo ke sana sekarang. Kita tunggu sampai besok. Kita bakal sama-sama antar lo. Menjadi kekuatan buat lo. Jadi tempat lo bersandar. Tapi lo harus janji satu hal sama gue, lo harus mau temui Tante Sukma.
Lo harus bisa terima kenyataan, Kanya. Bagaimanapun, Tante Sukma adalah ibu yang sudah melahirkan lo. Sekalipun lo mau menafikkan hal itu, nggak akan pernah bisa. Karena kenyataannya memang Tante Sukma adalah Mama lo."
Suara Damar yang sayup-sayup terdengar telingaku, seperti mantra magis yang sengaja dia ucapkan untuk membuka pikiranku. Rasa sejuk tiba-tiba mengguyur seluruh tubuhku. Ada beban yang seakan perlahan memuai. Berganti tangis yang semakin keras demi melepaskan perasaan sakit, kecewa, mungkin juga dendam yang sudah terlalu dalam membeku dalam jiwa.
"Sudah, sekarang istirahat dulu saja. Kalian pasti lelah setelah perjalanan jauh. Besok, kita antar kamu ke rumah sakit menemui Tante Sukma."
Pelukan Damar mengendur. Begitu pun dengan Almira. Perempuan itu menatap wajahku dan menghapus air mata yang membasahi pipi. Bibirnya memaksa tersenyum.
"Kamu pasti bisa, Anya. Kamu punya hati yang luas untuk meminta maaf pun menerima maaf dari Tante Sukma. Sudah, jangan nangis lagi ya. Malam ini aku bakal tidur sama kamu."
"Sudah, jangan ngomong gitulah. Kayak sama siapa saja. Mas, antar Mas Araz ke kamarnya ya. Biar aku temani Kanya malam ini."
Damar hanya mengangguk membalas pernyataan Almira. Laki-laki yang sebentar lagi bakal menjadi bapak itu, mengantar Araz ke kamar tamu yang sudah disiapkan. Sedangkan aku dan Almira menuju kamar lain yang sering kugunakan menginap setelah kedua sahabatku itu menikah.
...***...
Mataku belum juga bisa terpejam. Jam di layar gawaiku menunjukkan pukul 04.00. Harusnya aku bisa tidur nyenyak akibat lelah setelah perjalanan jauh, tapi nyatanya mataku belum juga bisa terpejam. Ucapan Putra, Araz, Damar, Om Eka hingga Almira bergantian berebut tempat dalam kepalaku.
__ADS_1
Mereka mendukungku untuk menemui mama. Menyelesaikan masalah yang selama ini membuat kami sama-sama terluka, tapi terlalu gengsi untuk mengakuinya. Lagi-lagi memang itulah kenyataan yang sedang kami hadapi. Mungkin memang benar jika kita sama-sama egois dan keegoisan itulah yang melukai kami.
Namun, ucapan Almira justru yang paling mengangguku. Benarkah aku memiliki hati yang luas untuk memberi maaf? Atau mungkin juga memaafkan?
Aku ragu. Aku ragu jika sanggup melakukan hal yang Almira percayakan kepadaku. Sedang aku saja terlalu pengecut untuk mengakui jika aku pun ikut andil dalam perkara ini. Aku juga bersalah dan egois dengan tindakanku yang memilih kabur dari rumah.
Jika saja ayah masih hidup, bisa jadi beliau juga kecewa kepadaku. Kecewa dengan sikapku yang justru memperburuk semua masalah yang sedang kuhadapi. Sebab beliau selalu berpesan agar tidak menghindari masalah, tetapi menghadapinya dengan berani.
Ayah. Tiba-tiba saja air mata kembali mengalir saat mengenang laki-laki yang menjadi cinta pertamaku itu. Dulu, saat aku bertengkar dengan nama, ayah selalu menjadi orang pertama yang menenangkanku. Memberi pemahaman bagaimana mengerti mama dengan segala sikap perfeksionisnya. Memberi pemahaman bagaimana menerima mama dengan sikap sok mengaturnya. Membuat rencana-rencana agar aku dan mama bisa kompak meski pada akhirnya hanya satu dari sepuluh rencana yang terlaksana dan berhasil membuat kami sama-sama tertawa.
Rasanya masa-masa itu sangat menyenangkan. Toh pada suatu masa, aku pun bisa saling melengkapi dengan mama saat ayah lebih dulu pergi meninggalkan kami. Aku bisa melakukannya. Namun, mengapa sekarang rasanya begitu sulit menerima sikap wanita itu?
"Ayah, kalau saja Ayah masih hidup, apa yang bakal Ayah lakukan untuk mendamaikan kami? Apa Ayah juga bisa merasakan kecewa yang dirasakan, Kanya? Atau Ayah akan memihak pada Mama, kali ini?
Kanya nggak tahu harus berbuat apa, Yah. Kanya nggak tahu harus bersikap bagaimana. Rasanya begitu sakit. Tapi mereka juga nggak salah saat mengingatkan Kanya, buat meminta maaf terlebih dulu sama Mama. Biar gitu rasanya berat banget, Yah."
Aku terisak. Menumpahkan segala rasa yang berkecamuk. Hingga kurasakan pelukan Almira merengkuh tubuhku. Memberikan rasa hangat yang lama kurindukan.
"Tidak ada salahnya meminta maaf terlebih dahulu, Anya. Apalagi pada perempuan yang sudah melahirkan kita. Kamu kuat ya. Aku yakin kamu pasti bisa lalui semua ini."
"Gue nggak bisa bohongin perasaan gue sendiri kalau ini terlalu menyakitkan, Mir."
__ADS_1
"Iya, aku paham maksud kamu, Nya. Coba terima semua dengan lapang dada ya. Aku tahu ini sulit, tapi aku percaya kamu pasti bisa. Percaya sama aku, kamu pasti bisa lewati semua ini. Kamu kuat. Dan Tuhan pasti sayang banget sama kamu karena masih diberi kesempatan untuk memperbaiki segalanya."
Air mataku semakin tidak terbendung. Aku meringkuk dalam pelukan Almira. Berharap pagi segera datang dan waktu membawaku bertemu dengan mama. Entah apa yang terjadi nanti. Aku harus mempersiapkan diri sejak saat ini.