
Pada akhirnya, amarah yang menguasai Araz luntur tak berbekas saat Kanya mengucapkan selamat ulang tahun yang belum selesai kepadanya. Pikiran buruk yang semula memasung benak Araz berlahan mulai mengendur. Otaknya tak lagi tegang. Kanya, entah mengapa selalu bisa membawa luka juga penawar di saat yang bersamaan.
Andai saja gadis dalam pelukan Araz itu tahu, bagaimana kacaunya dia satu hari ini saat tahu kekasihnya justru sedang makan siang bersama sahabatnya tanpa memberi kabar terlebih dahulu. Juga bagaimana kacaunya dia saat eomma tiba-tiba menelepon dan mengucapkan selamat tahun yang bahkan Araz sendiri lupa jika sekarang tanggal 20 Februari.
Pikiran Araz semakin penuh sesak oleh hal-hal yang melumpuhkan syaraf otaknya. Terlebih ketika eomma memintanya pulang ke Bandung demi merayakan ulang tahunnya. Araz semakin tidak bisa berpikir jernih dan memilih melarikan diri daripada harus mengonfirmasi langsung pada Kanya ataupun Hanung tentang apa yang sebenarnya terjadi. Dan kini, semua lara yang menyiksa selama satu hari ini, sirna dalam pelukan Kanya. Ya, walau tidak bisa ia mungkiri, masih ada perasaan yang mengganjal dalam hatinya. Meski begitu, setidaknya Araz sudah merasa lega. Itu yang terpenting.
Sementara Kanya yang masih dalam pelukan Araz, menepuk pelan punggung laki-laki itu. Dia tahu, ada sesuatu yang telah terjadi hingga memancing amarah Araz yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Meski begitu, bibir perempuan itu masih saja terkunci. Kanya ingin, Araz sendiri yang menceritakan kepadanya tentang apa yang terjadi. Namun, hampir limabelas menit mereka berpelukan tetap tak ada kalimat yang terucap dari bibir Araz. Mereka sama-sama bisu. Sibuk dengan pemikiran yang bising berlarian dalam kepala mereka.
Terutama Kanya. Perempuan itu menebak-nebak, kemungkinan apa yang terjadi pada kekasihnya. Adakah pekerjaannya hari ini tidak sesuai rencana? Atau adakah peristiwa yang berkaitan dengan ulang tahunnya dan membuat Araz marah? Mungkin, sebab Kanya tidak tahu bahwa hari ini ulang tahun Araz barangkali. Tapi jika memang benar perkara sesederhana itu membuat Araz begitu marah, betapa tidak dewasanya dia. Padahal Kanya yang paling tahu, Araz bukanlah tipe laki-laki manja yang kekanak-kanakan. Lagipula ini sudah bukan lagi waktunya mendebatkan hal semacam itu. Pasti ada hal lain yang telah terjadi pada Araz hingga dia tampak begitu marah.
"Ada yang mengganggu pikiran, Mas Araz?" tanya Kanya pada akhirnya. Dia tidak betah harus berdiam diri lebih lama.
Laki-laki itu masih saja diam. Hanya napasnya semakin terdengar lebih teratur. Tidak seperti sebelumnya yang siap meledak di saat yang tidak bisa ditentukan. Mungkin, kalau saja Kanya tidak tepat menghadapinya, amarah di kedua mata Araz bisa saja benar-benar membakarnya.
"Oke, aku tunggu Mas Araz sampai mau bercerita," imbuh Kanya saat Araz tidak juga bersuara. Perempuan itu tidak mau terburu-buru. Masih ada waktu. Masih banyak waktu untuk meredam emosi yang bersarang di kedua mata Araz.
"Sebentar saja ya. Biarkan aku memelukmu sebentar lagi." Itu kalimat yang kemudian diucapkan Araz setelah sekian lama memeluk tubuh Kanya.
"Iya, baiklah. Mas Araz bisa selama mungkin meluk aku kok."
Tangan Kanya masih menepuk lembut punggung Araz. Dia juga menggumamkan sebuah lagu yang secara random muncul dalam benaknya. Napas Araz semakin tenang.
"Aku marah pada diriku sendiri," ucap Araz lagi setelah kebisuan lama menyelimuti mereka.
__ADS_1
"Kenapa? Memang apa yang bikin Mas Araz marah sama diri sendiri?"
Perlahan diurainya pelukan Araz pada Kanya. Laki-laki itu menatap kedua mata kekasihnya yang terlihat begitu tulus mencintainya. Araz semakin merasa bersalah telah mengabaikan gadis itu. Bahkan membiarkannya menunggu lama ketika harus pulang. Namun, gejolak dalam hati Araz tidak seluruhnya sirna begitu saja. Masih ada tersisa rasa curiga saat mengingat pertemuan Kanya dengan Hanung yang tanpa sengaja diketahuinya.
"Gosip di kantor makin hari makin nggak terkendali. Aku pengen melakukan sesuatu buat kamu, tapi yang ada aku justru termakan gosip murahan yang mereka sebarkan tentang kamu sama Hanung."
Mata Kanya membulat saat mendengar pengakuan Araz. Ditatapnya laki-laki yang kini menunduk di atas kemudi. Menghindari pandangan Kanya yang tampak tidak percaya.
"Mas Araz cemburu sama gosip yang udah disebarkan Carol?" Pertanyaan Kanya membuat Araz semakin menunduk dalam. "Mas Araz cemburu sama Mas Hanung? Tapi kan Mas Hanung itu teman baik Mas Araz. Kok bisa sih?"
"Justru karena Hanung teman baikku, aku makin nggak bisa mengendalikan perasaan ini karena aku tahu betul gimana dia."
"Ya, memang sih, Mas Hanung jelek banget track record-nya, tapi kan ... ."
Kanya menghela napas. Tidak ia teruskan kalimatnya yang rumpang. Bukan itu yang ingin Araz dengarkan dari Kanya. Bukan alasan ataupun pembelaan yang justru terkesan menyudutkan. Perempuan itu tahu betul. Orang cemburu memang tidak bisa berpikir logis dengan logika. Dan, Kanya tidak mau memperparah keadaan Araz.
"Mas, ada satu hal yang perlu Mas Araz tahu. Sejak pertama kali ketemu Mas Hanung, dia sudah menganggapku sebagai anak didik. Sebagai adik kalau di luar jam kantor. Kadang juga sebagai sahabat di saat-saat tertentu. Ya, memang, terkadang dia suka menggoda dengan pujian-pujian sinting semacam kamu keliatan cantik pakai warna cerah atau rambut kamu bagus kalau dikuncir kuda. Tapi ya itu cuma pujian basa-basi yang nggak ada artinya apa-apa. Lagipula Mas Hanung juga sering melakukan hal itu pada cewek yang dijumpainya 'kan? Tapi mana ada dia berniat untuk benar-benar berkencan setelah menikah dengan Mbak Sinta?"
Araz tak menjawab pernyataan Kanya. Memang apa yang diucapkan perempuan itu tidak keliru. Bahkan Araz merasa malu dengan sikapnya yang begitu kekanak-kanakan. Hanya saja, perasaan kesal itu tetap saja tak mau segera pergi. Masih bergelayut manja di tempurung otaknya dan membuatnya semakin terlihat seperti orang bodoh.
"Satu hal yang perlu Mas Araz yakini saat ini. Aku menyanyangi Mas Araz. Bukan, aku cinta Mas Araz. Nggak mudah untuk memulai sebuah hubungan lagi setelah apa yang aku alami selama ini. Mas Araz paham betul apa yang aku maksud. Jadi, mana mungkin aku bisa tergoyahkan sama Mas Hanung? Toh kalaupun memang niatnya mau sama Mas Hanung, udah dari dulu juga 'kan aku PDKT-in," ucap Kanya setengah bercanda agar kebekuan di antara mereka segera mencair. Namun, wajah Araz masih tampak kaku meski amarah tak lagi menari di kedua matanya. "Atau ada hal lain yang ingin Mas Araz dengar?"
Laki-laki itu tampak ragu-ragu. Namun, jika tidak segera diselesaikan hanya semakin membuatnya penasaran. Dan itu, jelas hanya membuat hubungan mereka semakin memburuk. Jadi, Araz memutuskan untuk bertanya daripada harus memendam rasa cemburu yang tidak pada tempatnya. Lagipula, dia masih membutuhkan Hanung. Terlebih, dia begitu membutuhkan Kanya untuk tetap di sampingnya.
__ADS_1
"Aku tadi siang tidak sengaja lihat kamu makan bareng Hanung sama Abi. Dan, itu membuatku tidak nyaman setelah mendengar gosip yang makin santer berkembang di kantor. Maaf, kalau aku justru menghindari kalian."
Kanya tidak menduga jika pertemuannya yang tanpa sengaja telah melukai Araz dan membuat laki-laki itu semakin berpikir negatif, setelah mendengar gosip murahan yang sama sekali tidak penting. Meski begitu, perempuan itu tidak tampak terkejut sedikit pun. Itu semakin membuat Araz merasa bersalah karena telah berpikir buruk tentang kekasih dan sahabatnya.
"Tadi siang aku gagal ketemu narasumber. Random aja pilih kedai kopi dekat kantor narasumber yang aku temui. Ternyata ketemu Mas Hanung sama Abi yang lagi makan siang. Kalau tahu gitu, kenapa Mas Araz nggak nyapa aja sih. Kan jadinya nggak perlu berpikiran negatif yang justru bikin lelah hati."
"Maaf, aku salah."
"Eh tapi nggak apa-apa ding. Kalau tadi Mas Araz nyapa kita, Mas Hanung juga nggak bakal bisa kasih tahu kalau Mas Araz hari ini ulang tahun." Senyum Kanya mengembang. Garis lengkuk di wajah perempuan itu menular pada Araz meski masih seujung bibir.
"Jadi kamu nggak tahu hari ini ulang tahun aku kalau nggak dikasih tahu sama Hanung?" tanya Araz terdengar gemas. Tidak lagi meredam amarah seperti sebelumnya.
Tawa Kanya semakin lebar. "Ya maaf, aku bukan petugas sensus penduduk sih. Sini peluk lagi, buat kado ulang tahun."
Garis lengkuk di bibir Araz pun semakin lebar. Dipeluknya lagi gadis manis itu sambil dikecupnya pipi juga keningnya berulang-ulang.
"Mas Araz ih. Udah. Jadi, mau langsung balik atau turun dulu nih?" tanya Kanya menghentikan serangan Araz yang membuatnya geli.
"Kita rayain di suatu tempat aja yuk."
"Ke mana?"
"Bandung."
__ADS_1
"Eh?"
Tanpa menunggu persetujuan Kanya, Araz menyalakan mesin mobil, lantas berlalu dari lantai basement apartemen perempuan itu. Tekadnya sudah bulat, dia harus segera mengenalkan Kanya pada kedua orang tuanya.