Pulang

Pulang
Cemburu


__ADS_3

Renjana Alcatraz


Wajah Kanya berubah pucat sesaat setelah menatap layar gawai. Tubuh perempuan itu bergerak gelisah di sampingku. Seperti ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Mungkinkah dia yang selalu sibuk dalam benak perempuan itu? Melihat sikapnya yang begitu gelisah, aku yakin lelaki itulah yang lagi-lagi menyita perhatian juga pikiran Kanya.


Tanpa bisa kukendalikan, aku merasakan nyeri yang kerap kali datang jika melihat Kanya dekat dengan lelaki itu. Bahkan sekadar melihatnya menerima pesan entah panggilan dari Putra seperti sekarang. Tak bisa kupungkiri, aku cemburu jika Kanya memikirkan Putra hingga menyita seluruh perhatiannya. Dadaku sesak hingga ingin meledak.


Namun apa yang bisa kulakukan? Aku tak memiliki hak atas diri Kanya. Siapa aku berani memintanya untuk tidak memikirkan Putra? Aku hanya orang asing yang kebetulan menyukainya, lantas memaksa perempuan itu pulang dengan dalih menemaniku meliput bahan tulisan. Selebihnya aku bukan siapa-siapa yang bisa meminta Kanya mengikuti keinginanku.


Tetap saja, aku tak bisa melihatnya begitu gelisah. Bahkan kakinya tak berhenti bergerak. Sesekali ia menempelkan ujung gawai di keningnya. Lucu juga melihat kepanikan perempuan itu. Namun aku tak tega membiarkannya berlama-lama larut dalam kekalutan pikirannya.


Aku menepuk lutut Kanya pelan dan mengulurkan air mineral dalam tumbler. Sebisa mungkin mempertahankan ujung bibirku agar tetap tersenyum. Meskipun dalam hati bergejolak menahan cemburu yang tak mampu kukendalikan.


"Minum dulu biar tenang. Kalau pikiran lagi kacau, kadang apa yang kita lakukan justru nggak sesuai harapan," kataku sok bijaksana entah mendapat kekuatan dari mana.


Perempuan itu balas tersenyum dan menerima tumbler yang kuulurkan.


"Makasih, Mas," ucapnya setelah meminum air dari tumbler milikku. Wajah Kanya tak lagi tegang seperti sebelumnya.


"Sori kalau aku sok tahu, tapi ada kalanya kita harus berani menghadapi kenyataan meski menyakitkan, Nya," kataku lagi walaupun tidak yakin dengan masalah yang sedang dihadapi Kanya. Aku hanya bersikap sok tahu dan mengira-ngira apa yang sebenarnya terjadi. "Nggak ada salahnya 'kan lebih berani ambil risiko?"


"Apa menurut Mas Aldo seperti itu?"


Aku refleks mencubit pipi Kanya dengan gemas saat memanggilku dengan sebutan Aldo. Bagaimana dia bisa begitu iseng menggodaku dengan terus menerus memanggilku Aldo? Aku harus membuat perhitungan dengan Hanung karena telah membocorkan hal memalukan itu pada Kanya. Lihat saja, dia begitu puas tertawa meski mengeluh kesakitan akibat kucubit pipinya.


"Aduh, sakit Mas."


"Biar, salah sendiri masih panggil aku Aldo. Namaku Araz, Kanya. Kalau kamu menganggap Alcatraz terlalu menyeramkan."


Bukannya jera, Kanya justru tertawa menanggapi pernyataanku.


"Sori Mas, kadang otak suka bebal kalau udah jadi kebiasaan," godanya semakin membuatku gemas dan ingin mencubitnya sekali lagi. Namun ia segera menghindar sebelum tanganku menyentuh pipinya. "Aku telepon teman dulu ya, Mas," katanya sebelum menjauh.


Aku tersenyum sinis. Telepon teman, heh? Jelas aku tahu siapa teman yang dimaksud Kanya. Siapa lagi kalau bukan Putra. Jika itu orang lain, aku yakin Kanya tak akan menjauh. Serahasia apa pembicaraan mereka sampai aku tak boleh mendengarnya? Meski begitu, samar-samar aku bisa menebak pembicaraan mereka melalui ucapan Kanya yang terdengar samar-samar.


"Dan kita terlalu pengecut untuk melawan arus yang terlalu deras. Biarkan saja gue atau lo tenggelam sekalian..."

__ADS_1


Aku tak mampu lagi mendengarkan pembicaraan mereka. Hatiku semakin perih jika terus bertanya-tanya apa saja yang mereka bicarakan hingga membuat raut wajah Kanya begitu serius. Bahkan aku tak tertarik untuk mengajak Kanya ngobrol setelah ia mengakhiri panggilannya.


Selama perjalanan pun tak ada hal yang kami obrolkan. Aku mendadak bisu saat menyadari jika Kanya masih tinggal dalam dunia masa lalunya. Belum masa depannya. Dan diriku semakin merasa tersisihkan, sebab aku tak pernah ada dalam dunia yang dibangun Kanya.


***


Hari mulai gelap ketika aku membuka mata. Tepat saat gawaiku berdering dan menampilkan nama Hanung di layar. Sedikit malas aku menggeser tombol berwarna hijau. Menyapa Hanung dengan suara serak akibat baru bangun.


"Ada apa, Bro?"


"Masakin makan malam dong. Gue di depan pintu apartemen lo nih."


"What? Are you kidding me?"


"Udah nggak usah drama. Cepet buka pintu."


Masih setengah sadar aku beranjak dari tempat tidur. Membukakan pintu untuk sahabatku yang sering iseng dengan tiba-tiba muncul di depan pintu.


Benar saja, Hanung sudah berdiri dengan wajah secerah mentari pagi. Di samping lelaki itu, berdiri bocah lelaki berumur empat tahun yang mewarisi 90 persen wajahnya. Bahkan hampir separuh sifatnya juga menurun dari Hanung.


Lihat saja, dia begitu fasih melontarkan pertanyaan yang sudah jelas diajarkan oleh ayahnya. Namun aku tak bisa membalasnya dengan tonjokan atau cubitan, mengingat bagaimana menggemaskannya sosok bocah tiga tahun itu. Menyebalkan sekali bukan.


Sementara sang ayah hanya tertawa lebar menanggapi pertanyaan anaknya kepadaku. Merasa hebat karena sudah mengajarkan hal yang luar biasa terpuji.


"Hemm, Abi, kalau besok lagi Ayah ngajarin buat tanya kayak gitu, jangan mau ya. Nanti Abi dibilang anak nakal loh," kataku sambil jongkok di depan pintu agar sejajar dengan anak Hanung. Sang ayah masih saja belum berhenti tertawa.


"Nggak apa-apa kok Om. Abi mau doain kalo kencan Om Ayaz sama Tante Anya behasil. Makanya Abi tanya Om Ayaz."


"Pinter ngeles juga nih bocah. Lo ajarin apa aja sih anak lo, Nyet?"


"Nggak ngajarin apa-apa gue. Udah ah, masuk yuk. Tamu lo biarin berdiri di depan pintu mulu."


"Salah sendiri jadi tamu nggak punya sopan," omelku sambil membuka pintu lebih lebar agar Abi dan ayahnya bisa masuk. Sementara aku menutup pintu, Hanung meletakkan barang bawaannya di dapur dan menyiapkan peralatan memasak. Sedangkan Abi sudah berkutat depan TV dan mencari saluran kartun. Dia sudah terbiasa menyalakan TV sendiri. "Serius lo ke sini mau makan?"


"Iyalah. Udah gue belanjain nih, Madame. Masakin capcay buat kami ya."

__ADS_1


"Gue baru aja pulang, Nyet. Dateng-dateng ngerepotin aja lo," ucapku sambil mengambil alih dapur dari Hanung. Membiarkan lelaki itu lebih lama lima menit saja, aku yakin bisa membuat dapurku yang rapi menjadi porak-poranda.


Aku memang sering memasak sejak tinggal sendiri. Apa lagi jauh dari orang tua. Siapa yang bisa kuandalkan jika bukan diriku sendiri? Lumayan menghemat pengeluaran juga. Karena tahu cita rasa masakanku tak diragukan, Hanung sering datang ke apartemen dan memaksaku memasakkan makanan untuknya tiap kali ada kesempatan. Sebab, dia paling parah jika menyangkut urusan dapur.


"Tumben lo ke sini ajak Abi juga. Emang Sinta ke mana?"


"Justru aneh kalau Sinta ikut gue ke sini. Lagi tugas dia. Penerbangan internasional."


"Oh..."


Aku hanya ber-oh saja menanggapi ucapan Hanung. Istri Hanung - Sinta, berprofesi sebagai seorang pilot di sebuah maskapai penerbangan milik pemerintah. Bukan profesi yang biasa mungkin bagi perempuan, tapi bukan berarti tidak ada perempuan yang menggelutinya. Sinta salah satunya. Terkadang jam terbang tinggi membuat perempuan itu harus rela meninggalkan anak dan suaminya demi memenuhi kewajiban mengantar penumpang hingga selamat sampai tujuan.


Namun terkadang aku merasa kasihan dengan Abi. Dia sering dibiarkan sendirian bersama babysitter maupun kakek-neneknya ketika Hanung dan Sinta berangkat bekerja. Terkadang itu yang membuat Abi mandiri dibandingkan anak seusianya.


"Jadi lo gimana sama Kanya? Udah jauh-jauh sampai ke ujung barat Jawa Timur lo, masa nggak ada perubahan?"


Sambil menyiapkan bahan dan memotong sayuran, aku menceritakan pada Hanung tentang sosok laki-laki yang masih rapat dalam kotak kenangan Kanya. Sahabatku itu hanya menyimak sambil sesekali mengemil kripik singkong yang sempat kubeli sebelum balik dari Tuban. Hingga aku mengakhiri ceritaku yang menggebu-gebu.


"Lo cemburu?" tanggapan Hanung pada akhirnya. Senyum mengejek jelas tercetak di raut mukanya.


"Ya menurut lo?"


"Rasain lo sekarang. Dulu lo hina-hina gue karena cemburu sama temennya Sinta, nah ini lo malah sama mantan pacarnya." Hanung tertawa puas menanggapi keluhanku. Dengan kesal aku melempar potongan wortel ke arah lelaki itu. "Tapi menurut gue, itu justru bisa jadi peluang buat lo, Raz."


"Gimana caranya? Dia aja kelihatan cinta mati sama Putra."


"Meski gitu dia milih pergi dari Putra 'kan? Itu berarti dia ingin menata ulang hidupnya tanpa Putra kali Raz. Kesempatan buat lo 'kan bisa sembuhin luka Kanya."


"Menurut lo gitu?"


"Iyalah."


Aku merenungi ucapan Hanung sambil merebus sayuran bahan capcay permintaan lelaki itu. Terlalu banyak tanya yang berdesakan di kepalaku perkara Kanya.


Apa benar yang diucapkan Hanung tentang Kanya? Apa benar masih ada kesempatan untuk tinggal di hati Kanya yang masih dikontrak oleh Putra? Tak masalah jika hanya kontrak yang bisa berakhir sesuai kesepakatan. Lantas bagaimana jika hati Kanya ibarat sertifikat rumah yang sudah diatasnamakan Putra? Apa aku juga masih punya kesempatan? Memikirkan itu membuat hatiku kembali nyeri.

__ADS_1


Menyebalkan bukan, sekalinya jatuh cinta aku sudah dihadapkan oleh sesuatu yang pelik.


__ADS_2