
Renjana Putra
Alarm yang berbunyi nyaring memaksa Putra membuka mata. Rasanya dia baru saja tertidur, tetapi jam di layar gawai sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi. Bahkan Arlan ditemani Anggit sudah siap mengemas barang-barangnya selama di rumah sakit. Mereka juga tampak membawa koper miliknya.
"Gue tahu sih, Anya segitu berpengaruhnya buat lo, sampai-sampai insomnia gara-gara mikirin dia, tapi ingat juga kalau hari ini lo ada penerbangan jam 10.00."
Putra menguap menanggapi pernyataan Arlan. Teman satu bandnya itu, bisa menjadi sangat bawel dan menyebalkan jika berurusan dengan keberangkatan. Sudah mirip emak-emak rempong yang tidak boleh meninggalkan barang sekecil apa pun itu.
"Lo kok bisa-bisanya sih dapat jatah libur di situasi genting gini?"
Anggit yang semula hanya diam, kini ikut berkomentar heran. Sebab, band mereka sedang sibuk-sibuknya promo single perdana yang itu jelas sangat menyita waktu. Bahkan saat Putra tergeletak di rumah sakit pun, mereka masih tetap promo meski tanpa kehadiran sang vokalis. Namun, kini sang vokalis itu justru diizinkan pulang oleh pihak manajemen.
"Lan, lo aja deh yang jelasin. Gue mau mandi," jawab Putra masih malas bergerak dari tempatnya berbaring. Slang infus sudah dilepas sejak tadi malam. Kepulangan Putra hari ini sebenarnya hanya untuk memudahkan urusan administrasi saja.
"Dia pulang bukan berarti bebas, Nggit. Kita bakal tour promo di Jawa Timur. Dia berangkat lebih awal saja."
"Serius? Berarti gue juga ada kesempatan pulang dong?" tanya Anggit antusias.
Semenjak berkarier di ibu kota dan memutuskan untuk kontrak dengan label yang cukup ternama, kegiatan Nada Sumbang memang tidak lagi seperti saat mereka masih dikenal sebagai band indie. Jadwal mereka begitu padat. Apalagi bertepatan dengan peluncuran single perdana mereka. Anggit yang notabene anak mama, sudah merengek ingin pulang sejak dua bulan yang lalu. Tepat saat tiga hari saat mereka pindah ke Jakarta.
"Dasar bocah," ledek Arlan tidak dipedulikan oleh Anggit.
Sementara Putra hanya tertawa melihat kelakuan kedua temannya itu. Laki-laki itu bergegas masuk kamar mandi saat Arlan mengingatkan jika jarum jam masih terus bergerak dan tidak mungkin mau menunggu.
***
"Gitu mau naik kereta, di Bandara saja ada fans yang sudah nungguin," kata Arlan saat mobil van yang mengantar mereka ke bandara berhenti di tempat penurunan penumpang.
Di luar, terlihat beberapa orang remaja yang membawa spanduk bertuliskan dukungan mereka pada Nada Sumbang. Ada juga yang membawa banner yang memampang wajah Putra. Poster dengan personil lengkap pun tak luput jadi barang bawaan mereka.
"Gue nggak ngerti kalau kita sekarang jadi seterkenal ini," ucap Putra heran.
Ya, dia tahu kalau awal kemunculan mereka membuat negeri ini heboh. Lima orang laki-laki tampan dengan kualitas bermusik yang tidak kalah bagus jika dibandingkan band-band papan atas, tentu dengan mudah dapat menyita perhatian. Apalagi sebelumnya mereka sudah memiliki penggemar saat masih bermusik indie. Namun, Putra hanya tidak menyangka jika reaksi fans akan sejauh ini. Dari mana mereka tahu jika sekarang dirinya, Arlan, dan Anggit sedang berada di bandara.
__ADS_1
Bahkan sejak keluar dari rumah sakit tadi, mereka berusaha mati-matian untuk menghindari para fans yang berkumpul. Mereka harus keluar satu per satu demi tidak menarik perhatian. Dan, sekarang jumlah fans yang berkumpul di bandara lebih banyak jika dibandingkan di rumah sakit tadi.
"Ini 'kan perjalanan pribadi, mereka kok bisa tahu sih?" tanya Putra penasaran.
"Kekuatan fans, Put. Mereka bisa lakuin apa saja demi ketemu idola," jawab Arlan. Laki-laki itu memantau keadaan kalau-kalau ada celah yang bisa dimanfaatkan.
Mereka sengaja menolak pengawalan dari manajemen karena menganggap respon penggemar tidak akan seheboh ini. Ternyata mereka keliru.
"Kayaknya lo mesti turun sendiri deh, Put. Kalau kita bertiga turun semua, bakal kelihatan mencolok." Arlan berkomentar saat melihat tidak ada peluang bagi mereka bergerak bersamaan.
"Jadi berasa kayak idol. Di tempat umum sudah nggak bisa leluasa," komentar Anggit yang dari tadi hanya diam menatap kerumunan penggemar di koridor keberangkatan bandara.
"Hahaha ... ya 'kan memang lo idola buat mereka, Nggit."
"You know what i mean. Maksud gue, ini semua terlalu tiba-tiba. Ada rasa nggak nyaman," keluh Anggit membuat Arlan dan Putra tersenyum.
Di antara mereka berlima memang cuma Anggit yang suka gugup saat berada di hiruk-pikuknya dunia hiburan. Dulu sebelum mereka mengepakkan sayap lebih tinggi pun, Anggit selalu merasa kesusahan jika ada fans yang terlalu berani mendekatinya. Dia akan lebih cenderung menghindar. Berbeda dengan Putra ataupun Arlan yang dengan mudah meladeni para fans. Bahkan ketika mereka bertingkah kelewatan.
"Ya sudahlah, gue turun sendiri saja. Kalian balik sana. Seenggaknya kalau sendiri lebih mudah melarikan diri daripada bertiga," kata Putra sambil menyiapkan penyamarannya.
"Wish you luck. Kalau ada yang nekat tarik-tarik lo, injak saja kakinya. Gue berharap sih, mereka nggak sadar kalau itu lo," ucap Arlan sambil menahan tawa. Meski sok tegar, laki-laki itu tahu, sebenarnya Putra juga sedikit gugup. Apalagi jika berhadapan dengan tipikal fans yang suka bertindak seenak mereka.
"Tulus banget ngomongnya," kata Putra sarkas membuat Arlan tidak bisa menahan tawanya. Laki-laki itu masih tertawa saat Putra menjabat tangannya dan Anggit bergantian, lalu keluar dari mobil van. "Thanks sudah nganterin gue. Sampai jumpa di tour minggu depan. Salam buat Alfian sama Danu."
"Jaga diri lo. Jangan lupa itu bekas luka dikasih make up kalau nggak mau berurusan sama Om Eka," suara Anggit masih terdengar saat Putra keluar dari mobil.
"Iya, berisik. Sudah sana balik. Bisa ngundang perhatian kalau kalian masih di sini," ucap Putra ketika Anggit membuka separuh jendela mobil. Sedangkan dua makhluk di dalam mobil itu tertawa mendengar ucapan Putra.
"Bye, Put. Take care ya."
Putra menarik napas panjang. Langkahnya pelan sambil sesekali memantau keadaan di mana saja ada para fans yang menunggunya. Dia bisa bernapas lega saat bisa melewati koridor keberangkatan tanpa menarik perhatian. Mobil yang dikendarai Arlan sudah menghilang saat dia menoleh ke belakang. Sialnya, hal itu membuat Putra kehilangan keseimbangan dan menabrak seseorang tanpa sengaja.
"Putra?" teriak perempuan yang baru saja ditabraknya saat Putra menoleh. Wajah perempuan itu tidak asing bagi Putra, tetapi dia tidak bisa mengingat sebuah nama untuk perempuan itu. "Lo Putra, 'kan?"
__ADS_1
Terlambat. Putra tidak bisa mencegah perempuan itu agar tidak menyebut namanya dengan lantang. Dan benar saja, teriakan perempuan itu menyebar hingga menarik perhatian orang-orang di sekitar mereka.
"Eh, Putra di sana!"
"Putra, di sana!"
"Sumpah, Putra beneran di sini!"
Suara-suara para fans saling sambung menyambung saat menyadari keberadaan Putra di antara mereka. Bahkan beberapa sudah ada yang berlari ke arahnya.
"Sial," umpat Putra. Refleks dia menarik tangan perempuan yang baru saja ditabraknya dan mengajaknya berlari menghindari serbuan fans.
"Kita ngapain lari sih?"
"Menurut lo, kalau bukan karena lo teriak-teriak sebut nama gue, kita juga nggak bakal lari."
"Lah, memang kenapa mesti menghindari mereka. Memang lo artis?" tanya perempuan itu membuat Putra jengkel.
Siapa sih perempuan ini? Seenaknya bikin keributan, sudah gitu nggak tahu situasi pula. Umpat Putra dalam hati. Meski begitu dia tetap menanggapi pertanyaan perempuan itu.
"Semua orang di negeri ini juga tahu siapa gue. Bisa-bisanya lo nggak kenal siapa gue. Hidup di gua lo?"
"Ya aku tahu kamu, Putra. Pacarnya Kanya, 'kan? Terus ngapain juga kamu ngajakin aku lari?"
Langkah Putra mendadak berhenti. Mereka berbelok ke koridor arah toilet dan mendorong tubuh perempuan itu ke dinding di belakangnya. Demi menghindari para fans Putra mengambil sikap seperti orang yang sedang berciuman dengan perempuan asing berada di bawah kungkungannya. Tidak peduli perempuan itu bergerak gelisah di bawah tubuhnya yang hanya berjarak beberapa centimeter.
"Ke mana sih? Tadi gue yakin dia belok ke sini!"
"Dih, siapa sih, nggak ada akhlak ciuman di sini."
"Jelas bukan Putra, sih. Udah yuk, cari di tempat lain."
Putra baru melepaskan diri dari perempuan itu saat rombongan fans sudah berlalu pergi. Wajah perempuan yang tidak asing yang masih belum terpikirkan namanya itu, menatap Putra dengan tajam. Jelas sekali kemarahan terpancar di wajahnya.
__ADS_1
"Sori, gue nggak ada pilihan lain buat menghindari para fans."
Tidak ada kata. Perempuan itu pergi dari hadapan Putra dengan wajah menahan amarah yang semakin pekat. Meninggalkan perasaan bersalah dalam hati Putra.