Pulang

Pulang
Season 2 #Dia yang Menangis dalam Pelukan Perempuannya


__ADS_3

lMereka duduk di beranda makam Aksa dalam waktu cukup lama. Saling bersandar dan bergenggaman tangan. Meresapi keadaan sekitar yang terasa hening, juga menikmati sepoi angin yang berhembus dari lereng perbukitan. Bangunan yang terletak di sudut halaman belakang rumah Bagaskara itu, memang disiapkan untuk pemakaman keluarga. Namun, ironisnya justru anggota keluarga termudalah yang terbaring di sana lebih dulu.


Menghadapi kenyataan yang begitu pilu, air mata Araz kembali rebas. Laki-laki itu kembali tenggelam dalam penyesalannya. Jika berada di makam Aksa, Araz selalu tidak sanggup memaafkan kebodohannya di masa lalu. Kenangan-kenangan buruk itu masih memasungnya. Itu pula yang membuat dia jarang - bahkan hampir tidak pernah - pulang ke rumah orang tuanya. Araz selalu dibayangi mimpi buruk tentang Aksa. Sekalipun, Aksa tentu sudah memaafkan kesalahannya itu. Namun, tetap saja bukan hal mudah melupakan kesalahan fatal yang pernah dilakukan bagi Araz.


Sementara Kanya masih terpaku pada makam Aksa yang tampak beku di hadapan mereka. Meskipun makam dari batuan pualam itu berhiaskan bunga lili putih yang tampak selalu segar, tidak mengurangi kesan dinginnya. Buah-buahan yang tersedia di atas sebuah cawan, berbagai benda yang sepertinya disukai oleh mediang selama hidup, hingga sebuah potret seorang laki-laki remaja dalam balutan setelan jas hitam, menyita perhatian Kanya. Satu hal yang perempuan itu kagumi dari keluarga Bagaskara, bagaimana mereka sanggup hidup berdampingan dengan damai dalam perbedaan dan saling menghormati atas pilihan masing-masing.


Sebelumnya, Kanya tidak pernah merasakan langsung, sampai dia berada di rumah keluarga Bagaskara dan mendengar lantunan lagu pujian yang mengalun lembut berpadu dengan suara Araz yang sedang membaca kitab suci pagi tadi. Atau mungkin ajakan Araz untuk mengunjungi makam adiknya, meski laki-laki itu mendoakan dengan cara yang berbeda. Kanya merasakan kedamaian yang selama ini belum pernah dia rasakan. Bukan berarti selama ini Kanya menjalani hidup sebagai intoleran, tetapi baru kali ini dia merasakan berada di tengah perbedaan yang belum pernah dia rasakan. Hati Kanya terasa begitu sejuk. Walaupun juga terasa ngilu saat melihat bagaimana terpuruknya Araz ketika mengenang adik semata wayangnya.


Jemari tangan mereka yang masih saling bertautan, seakan mengantarkan sinyal yang mereka rasakan. Kanya menepuk pelan punggung tangan Araz yang terasa dingin dalam genggamannya.


"Mas, maaf kalau aku lancang mengatakan hal ini, tapi aku juga nggak tahan melihat Mas Araz tiba-tiba kehilangan semangat kayak gini. Aku nggak tahu pasti bagaimana perasaan Mas Araz. Aku juga pernah kehilangan orang yang berharga dalam hidup ini, sekalipun dengan kondisi yang bersama sama Mas Araz. Setidaknya, aku sedikit paham rasa kesakitan itu. Aku juga nggak tahu apakah ini tepat untuk kondisi Mas Araz saat ini, tapi bukankah selama kita masih hidup setiap masalah akan selalu datang dan pergi? Itulah hal yang membedakan kita dengan orang-orang yang lebih dulu pergi. Paham maksud aku nggak sih? Jadi ... "


Kanya menggantung kalimatnya saat melihat air mata rebas di pipi Araz. Dia tidak tahu bahwa laki-laki itu kembali menangis, setelah sempat merasa tenang beberapa waktu lalu. Perempuan itu jadi merasa bersalah. Seharusnya dia tidak berbicara selancang itu, seakan paling tahu apa yang Araz rasakan.


"Maaf," gumam Kanya.


Perempuan itu lantas menarik Araz dalam dekapannya dan membiarkannya menangis. Kanya bisa merasakan, betapa rapuhnya lelaki itu. Dia yang selama ini tampak tegar di balik senyumannya. Dia yang selama ini selalu menghibur saat dirinya terluka. Dia yang selalu bersikap dewasa dengan menyembunyikan perasaan lelah bahkan kecewa di balik candaannya. Dia yang selalu menjadi tempatnya bersandar, ternyata juga memiliki sisi lemah yang selama ini tidak pernah ditunjukkan. Jika sekarang laki-laki itu menunjukkannya di hadapan Kanya, tentu beban yang dia rasakan sudah tak sanggup dipendam sendirian.


"Kami pernah berjanji, kalau Aksa merasa sedikit lebih sehat dan bisa bernapas tanpa bantuan oksigen dalam waktu cukup lama, kami akan mengunjungi hal-abeoji dan menikmati liburan yang cukup panjang di Pulau Jeju. Tapi, sebelum janji itu terpenuhi, aku justru dengan sengaja menjadi sosok kakak yang tidak baik bagi Aksa. Padahal hari itu berkali-kali dia memintaku untuk pulang. Hari itu dia berkali-kali meneleponku. Tapi aku justru mengabaikannya. Seandainya ... seandainya ... "

__ADS_1


Tangisan Araz semakin pecah. Ia tersengal dalam pelukan Kanya. Dada laki-laki itu terasa begitu nyeri saat mengingat kebodohannya di masa lalu. Namun, apa pun yang dia lakukan saat ini, tidak akan bisa mengembalikan adiknya yang sudah kembali pada bumi. Apa pun usahanya tetap tidak akan bisa membawanya kembali pada masa lalu. Hal itu semakin membuat batin Araz tersiksa. Kenyataan yang belum sanggup dia terima, justru membuatnya tak sanggup berjalan tanpa meninggalkan penyesalan. 


"Mas Araz, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Kanya pada akhirnya setelah mereka terdiam cukup lama. Hanya tersisa suara tangis Araz yang semakin melemah.


"Apa pun," gumam Araz hampir tak bersuara.


"Maaf, tapi aku ingin tahu, sosok seperti apa Aksa di mata Mas Araz? Maaf kalau pertanyaanku justru membuat Mas Araz mengingat kembali soal Aksa. Aku hanya ingin tahu."


Mendengar pertanyaan sekaligus pernyataan dari Kanya, laki-laki itu mengendurkan pelukannya. Dipandanginya potret seorang laki-laki remaja yang terpajang di atas batu nisan di hadapan mereka. Pandangannya menerawang. Dia tidak hendak menjawab pertanyaan Kanya, tetapi dia juga ingin menceritakan bagaimana Aksa kepada kekasihnya.


Cukup lama Araz termenung. Mengingat kembali adik lelaki yang bertaut delapan tahun lebih muda darinya. Banyak hal yang ingin dia ceritakan pada Kanya, tetapi dia tidak tahu harus memulainya dari mana. Sebab, ketika mengingat Aksa hanya kenangan tentang kebodohannyalah yang tersisa.


Laki-laki itu menatap kekasihnya dan mengangguk pelan. Apa pun, akan Araz kabulkan jika hal itu bisa membuat perempuannya merasa bahagia, meskipun dia sendiri kini merasa sesak yang teramat menyiksa dalam hatinya. Mungkin dengan begitu pula, Araz bisa mengawali ceritanya tentang Aksa.


"Hemmm ... dia lebih suka memanggil Mas Araz dengan sebutan Hyeong, tapi Maz Araz lebih suka dipanggil Mas karena udah lama tinggal di Solo." Tebakan Kanya membuat laki-laki itu terkejut.


"Bagaimana kamu tahu?" tanya Araz penasaran.


"Ya 'kan namanya juga tebakan, Mas," jawab Kanya dengan senyum lepas di wajahnya. Seakan merasa puas karena tebakannya tidak keliru.

__ADS_1


"Jangan-jangan benar kata Hanung kalau kamu itu cenayang?"


"Ish ... bukan, Mas. Justru Mas Hanung tuh yang cenayang. Bisa baca pikiran orang."


"Tapi Hanung bilang, intuisi kamu sering tepat sasaran."


"Ya 'kan, berarti jelas, intuisi aku yang tajam. Bukan karena aku cenayang."


Senyum Araz rekah. Benar juga kata Kanya. "Jadi, setajam apa intuisi kamu soal, Aksa?" tantang Araz penasaran.


Membicarakan hal random dengan Kanya, selalu bisa mengembalikan perasaan Araz yang memburuk menjadi lebih baik. Laki-laki itu sebenarnya hanya ingin melabuhkan penat yang selama ini dia pendam sendirian, di tempat yang memang seharusnya dia sandarkan.


"Hemmm ... aku yakin sih, kalian kompak dalam beberapa hal, tapi juga sangat bertolak belakang. Kalau aku jadi Aksa, aku pasti akan menjadikan Mas Araz sebagai role model dalam banyak hal. Dia juga begitu bukan?"


Araz tak langsung menjawab pertanyaan kekasihnya. Memang, semasa hidupnya, Aksa dan dirinya sangat kompak dalam membuat Bagaskara naik pitam. Apalagi baru sejak SMA mereka tinggal bersama karena Araz sebelumnya tinggal dengan saudara ayahnya di Solo. Tidak jarang mereka dihukum berdua karena melakukan kenakalan remaja pada umumnya dan sering membuat mereka mendapat masalah. Seperti mencoret bangku taman, atau dengan sengaja memecahkan jendela tetangga saat bermain lempar bola di halaman.


Meski begitu, Aksa selalu saja kagum dengan kakak semata wayangnya. Itu jarang rasa kagumnya dia tunjukkan secara terang-terangan. Walaupun terkadang, Araz juga sering berpesan pada Aksa jika adiknya itu harus hidup lebih baik dibanding dengan dirinya. Terlebih saat Araz mulai masuk kuliah dan adiknya tumbuh menjadi remaja laki-laki yang sering kali meniru perbuatan kakaknya.


"Sepertinya tebakanku kali ini benar lagi. Aksa pasti sesayang itu sama Mas Araz. Jadi, sekarang aku dengan yakin bisa menebak, kalau Aksa tidak ingin melihat kakak yang dia sayangi menyalahkan dirinya sendiri atas kepergian yang sudah digariskan. Mas Araz udah yakin, pernah berbicara dari hati ke hati sama Aksa setelah dia pergi? Seharusnya aku sih yakin, pasti ada hal yang Aksa katakan untuk terakhir kali pada Mas Araz. Seperti Arez yang menitipkan banyak cerita pada Mas Araz. Aku yakin Aksa juga pasti melakukan hal sama karena dia benar-benar menyayangi Mas Araz sepenuh hati."

__ADS_1


Air mata Araz kembali rebas. Setelah bertahun kepergian adiknya, kenapa dirinya baru memikirkan hal itu setelah Kanya mengatakan kepadanya? Dipeluknya perempuan itu dengan erat. Seperti bocah, Araz menumpahkan segala bentuk kesedihannya dalam pelukan Kanya.


__ADS_2