
Ketika dirimu mencintai seseorang, kamu akan bertemu dengan segala kemungkinan-kemungkinan. Kamu terkadang berhenti sejenak, lalu ragu. Tetapi cinta memang seperti itu, membuatmu khawatir dan ragu-ragu. Apakah akan ada yang terluka? Apakah aku boleh mencintainya? Apakah aku akan bahagia? Apakah dia juga akan bahagia? Cinta memang akan membuatmu banyak berpikir dan belajar mempertimbangkan. Terkadang mengikuti kata hati. Terkadang mengikuti logika. Tidak ada yang benar. Hati dan logika bisa saja salah dan bisa saja benar. Hati dan logika hanya sebagai alat untuk membentengi diri ketika pilihan itu salah. Dan ketika pilihan itu benar, kita sering melupakannya. Sekedar mengucapkan terima kasih pun tidak. Tetapi, itulah manusia. Pelupa. Mencari kenyamanan karena lelah bernegoisasi dengan semesta. Anehnya, aku juga masih sering bernegoisasi meskipun sering ditolak. Meskipun lelah.
Aku mengitari lapangan basket sekolah ini dengan mataku. Tidak ada maksud apa-apa. Aku hanya tidak tahu harus kemana. Aku merasa canggung di rumah Ami dan tidak ingin menunjukkan raut wajahku yang sedih. Makanya, aku ke sekolah pagi sekali. Kelas juga belum dibuka. Belum terlihat satu siswa pun yang datang. Aku beralasan piket kelas hari ini untuk pergi ke sekolah lebih awal ke orang tua Ami. Mereka tidak menanyakan lebih lanjut lagi. Hanya sekolah satu-satunya tempat yang aku tahu untuk bersembunyi. Dan hanya lapangan basket ini yang aku tahu untuk bersedih. Tidak akan ada orang yang ke lapangan pagi-pagi sekali. Tidak ada yang istimewa di lapangan ini. Sama saja dengan lapangan basket pada umumnya. Hanya saja terdapat pohon kecil di antara 2 tribun yang ada di lapangan.
Aku duduk di salah satu tribun yang tertutupi oleh daun-daun pohon itu. Duduk dengan posisi bersila dan menarik nafas secara perlahan. Aku melakukannya secara berulang untuk menenangkan hatiku dan juga kepalaku. Aku tidak baik-baik saja. Aku tidak tahu harus bersikap seperti apa hari ini ke Putra. Dia pasti menanyakan banyak hal padaku nanti. Aku yakin aku akan menangis lagi. Sial. Aku menjadi lemah sekali. Kepalaku juga sakit sekali seperti ditusuk. Sakitnya hanya hilang sedikit sejak semalam.
Setelah adegan menangis yang tidak sengaja aku lakukan di jembatan penyebarangan semalam, aku tidak menjelaskan apa-apa ke Putra. Aku pergi pulang ke rumah Ami dan menangis di kamarnya. Kepalaku tiba-tiba saja sakit sekali. Sakitnya berbeda dengan sakit kepala biasa, seperti ditusuk dan dipukul. Aku meminum obat warung untuk meredakannya. Sakitnya hanya sembuh sebentar dan muncul lagi. Sampai sekarang aku masih merasakan sakitnya.
Aku menghembuskan nafasku berat dan melihat daun-daun yang berguguran di sekitar lapangan. Anginlah yang membawa daun-daun itu ke sana. Dan lapangan itu tidak keberatan sama sekali. Kenapa cerita kami seperti daun dan lapangan itu? Daun akan gugur ketika waktunya sudah tiba. Lapangan itu tetap menerima daun yang gugur itu. Membiarkan ia tetap di sana. Lalu angin tiba-tiba saja akan membawanya menjauh dari lapangan. Dan lapangan itu tetap menerima saja. Diam dan tidak menahannya.
Apa yang akan terjadi padaku selanjutnya? Setelah aku mengetahui rahasia Putra, apa aku akan kembali ke masa depan? Bolehkah aku menghabiskan waktuku sebentar dengannya sebagai Aira, bukan Ami? Aku berharap semesta akan menyukai rencanaku ini.
Aku melihat beberapa murid sudah mulai berdatangan. Aku harus segera pergi dari sini. Lapangan ini juga akan segera dibersihkan. Aku bangkit dari tribun dan berjalan menuju kelas. Sepanjang perjalanan, aku memperhatikan setiap tempat yang aku lewati. Tempat ini sungguh memberikan kisah sedih untukku.
Aku sudah sampai di kelas, tetapi belum ada siapa-siapa. Aku tidak menuju kursi Ami, melainkan aku menuju kursi Putra. Aku duduk di sana. Lalu, aku melihat mejaku yang berada di dekat jendela. Jelas sekali. Apa yang aku lakukan jelas sekali terlihat dari sini. Dia mungkin memang sering melihatku dari sini. Aku tersenyum mengingat aku pernah memergokinya sedang melihatku dulu. Tidak hanya sekali. Aku sempat bertanya kepada diriku sendiri mengapa Putra sering memandang mejaku. Namun,i aku menghentikannya dan menyimpulkan kalau Putra sebenarnya memandang meja May.
Lamunanku terhenti karena meja tersebut sudah ditempati pemiliknya. Aira memasukkan tasnya ke laci meja. Lalu, mengalihkan pandangannya padaku.
“Tumben pagi kali datangnya, Mi?”tanya Aira.
“Eh, iya. Kirain aku piket hari ini, ternyata nggak,”jawabku. Rasanya aneh berbicara dengan diri sendiri begini. Aku berbicara dengan diriku yang berada di masa lalu.
“Kok, kau duduk di situ?”tanyanya lagi.
Aku baru sadar aku masih duduk di kursi Putra. “Pengen tau aja apa yang bisa kuliat kalau duduk di sini,”jawabku.
“Terus apa yang kau liat?”tanya Aira.
“Kau,”jawabku singkat.
“Aihh. Nggak cuman aku kali,”balasnya. Dia mengalihkan pandangannya dariku dan memutar tubuhnya ke arah jendela. Ntah apa yang dipikirkannya.
“Mi, kau pucat kali loh. Kau nggak lagi sakit, kan?”tanyanya khawatir. Dia menghadapkan tubuhnya kepadaku lagi.
“Pusing sedikit aja, tetapi nggak apa-apa kok,”jawabku.
“Seriusan?”
“Iyaaa,”balasku.
Aira tidak membalasku lagi. Dia mengambil buku tulis dari tasnya dan mulai menuliskan sesuatu di sana. Pasti melanjutkan cerita yang dikarangnya. Tidak lama, Putra pun muncul. Dia membawa tas plastik kecil berisi susu kotak dan sebuah roti.
“Assalamualaikum, kacang arab,”ucapnya sambil berjalan menuju meja Aira.
Kenapa hari ini dia terlihat keren sekali? Dia memakai seragam putih abu dan jaket hitam. Rambutnya tersisir rapi dengan potongan spiky. Yang paling berbeda adalah dia terlihat lega dan bahagia seperti kejadian kemaren bukanlah masalah besar untuknya. Memang bukan masalah besar kalau dipikir-pikir lagi. Masih ada masalah hidup yang lebih besar lagi.
“Assalamualaikum,”ucapnya lagi karena Aira tidak merespons sama sekali.
“Ishh. Apaan sih kau,”balas Aira ketus. Aku memang sangat keras kepala.
“Kalau ada yang salam, jawabnya apaan sih kau, gitu?” balas Putra terkekeh.
“Tergantung,”balas Aira masih asyik menulis di bukunya padahal Putra sudah berada di samping mejanya.
“Nih,”ucap Putra sambil menyodorkan kantong plastik yang dipegangnya tadi ke Aira.
“Apa ini?”
“Susu dan roti.”
“Nyogok ceritanya?”tanya Aira.
“Iya. Biar nggak marah-marah terus. Jelek soalnya,”jawab Putra.
“Dih, kayak yang ganteng aja kau,” balas Aira.
__ADS_1
“Lah emang, kan?”
Aira tidak membalas Putra, tetapi ia menghentikan tulisannya dan memandang Putra. Dia membuat wajahnya seperti sedang syok mendengar jawaban Putra. Lalu, dia mengambil susu kotak dari kantong plastik itu.
“Ada peletnya, kan?” tanya Aira.
“Nggak lah,”jawab Putra.
“Diludahin tapi”
“Nggak. Kan itu belum dibuka.”
“Hasil curian ya?”
“Astaga,” jawab Putra pura-pura tersakiti dengan dugaan Aira. Kemudian, ia tertawa kecil melihat Aira yang meminum susu yang ia berikan. Dia tersenyum lebar.
“Jangan marah-marah lagi yaa,”ucap Putra sambil mencubit pipi Aira yang tembem. Kemudian, ia berjalan menuju mejanya.
“Aihh si begu ini. Dikirainnya nggak sakit apa,”dumel Aira. Putra hanya tersenyum mendengar Aira yang masih ngedumel.
Kenapa mereka manis sekali? Kenapa berbeda sekali dengan apa yang seharusnya terjadi? Waktu itu, aku masih marah dengannya meskipun dia meminta maaf. Aku masih tidak berbicara dengannya sampai dia memiliki pacar sebulan kemudian. Tapi sekarang? Semuanya terlihat baik-baik saja. Aira juga terlihat baik-baik saja. Tidak ada permusuhan sama sekali. Apa aku sebenarnya tidak kembali ke masa lalu? Aku hanya bermimpi sekarang dan mimpi itu berjalan sesuai dengan apa yang aku inginkan? Terus kenapa aku belum juga bangun?
“Kau ngapain di kursiku?”tanya Putra mengancurkan lamunanku.
“Hah? Kau di mejaku aja ya. Lagi pusing kepalaku. Kayaknya lebih enak di belakang aja duduknya,”jawabku.
“Okelah,”balasnya. Dia seperti sedang ingin menanyakan sesuatu, tetapi ragu setelah melihat kondisiku yang pucat.
“Kau nggak kenapa-napa? Kalau nggak sanggup, pulang aja,” saran Putra.
“Sanggup, kok. Tenang aja,”balasku seadanya.
“Umm, Mi. Soal semalam...”
“Jangan tanya apapun. Aku lagi malas cerita,”potongku. Aku sedang tidak ingin membahasnya karena ujung-ujungnya aku harus mengarang alasan aku seperti itu semalam. Kepalaku sedang pusing dan aku sedang tidak ingin memikirkan apapun sekarang. Termasuk apa yang terjadi denganku dan bagaimana aku kembali ke masa depan.
Aku menghembuskan nafasku keras. Aku akhirnya berada di ruangan serba putih ini sekarang. Sehabis istirahat pertama, aku tidak bisa lagi menahan sakit di kepalaku. Aku pun permisi untuk istirahat di UKS sekolah. Meskipun aku sedang rebahan dan meminum obat, sakit di kepalaku hanya sedikit berkurang. Padahal aku sedang tidak memikirkan apapun.
Aku mendengar suara pintu dibuka dan suara kaki yang berjalan ke tempatku.
“Udah minum obat kau?”tanya seseorang. Aku mengalihkan pandanganku yang menatap langit-langit ruangan ini ke sumber suara tersebut.
Hah, si Heri. “Udah,”jawabku.
“Baguslah,”balasnya singkat.
“Kok kau di sini?”tanyaku.
“Kan aku yang piket UKS hari ini,”jawabnya.
Ah iya. Dia kan anak UKS. Aku tidak membalasnya lagi dan dia juga diam. Dia memeriksa perlengkapan obat yang ada di sini.
“Kenapa kau jadi anggota UKS? Kau mau jadi dokter?”tanyaku. Canggung saja, berdua tetapi saling diam.
“Nggak. Biar keren aja sebenarnya,”jawabnya.
“Nyesel gue nanya,”ucapku lirih.
“Nggak usah sok-sokan kayak anak Jakarta kau. Pakai gue-gue segala,”balasnya. Ternyata dia mendengar ucapanku.
“Terserah gue lah mau gimana ngomongnya,”balasku.
“Nggak cocok.”
“Biarin. Bilang aja iri kau. Nggak bisa pake bahasa Jakarta.”
__ADS_1
“Jangan terlalu banyak nonton sinetron kau makanya.”
“Terserah gue.”
Aku dan Heri tertawa bersama karena aku tidak menghiraukannya. “Kalau lagi waras gini, seru juga ya kau,”kataku.
“Kau kiranya gila aku?”balasnya tidak terima sambil duduk di kursi yang tidak terlalu jauh dari ranjangku.
“Sedikit,”balasku tak mau kalah.
“Sialan,”balasnya.
“Umm Her. Percaya kau ada orang yang pernah ke masa lalu?”tanyaku hati-hati.
“Ya nggaklah. Ada-ada aja kau. Mana ada yang bisa kembali ke masa lalu,”jawabnya.
Aku sudah menduga jawabannya. “Kalau misalnya ada. Menurutmu kenapa dia bisa kembali ke masa lalu?”tanyaku lagi.
“Liburan mungkin,”jawabnya.
“Aihhh. Malas kali kalau kayak gini kau.”
“Lagian mana kutau. Umm menyelesaikan sesuatu kali,”jawabnya. “Mungkin ada yang belum selesai atau janji yang belum tertepati dan orang yang diberi janji selalu mengingat itu. Nggak ada yang tahu, kan?” lanjutnya.
“Ohh,”balasku singkat.
“Sinetron apa lagi yang kau tonton? Nggak usah sering-sering nonton sinetron lah,”ujarnya.
“Terserah aku lah. Sibuk kali kau,”balasku.
“Galaknya... istirahat kau sana,”suruhnya. Kemudian, ia pergi meninggalkanku. Dia harus kembali lagi ke kelas.
Bisa jadi aku kembali ke masa lalu untuk memenuhi janji Putra bahwa ia akan menceritakan semuanya padaku. Dia memang menceritakannya meskipun di matanya aku bukan sebagai Aira, melainkan Ami. Namun, aku sudah mengetahuinya. Dia sudah mengatakan semuanya. Dia sudah menetapi janjinya. Supaya aku lebih bebas melangkah dan ringan berjalan maju di masa depan. Sama halnya dengan orang yang sedang putus cinta. Harus menjelaskan alasannya supaya bisa berpisah. Aku juga seperti itu. Aku harus mengetahui kebenarannya supaya aku ikhlas. Dengan begitu, aku tidak bertanya-tanya lagi. Aku juga tidak akan ragu lagi untuk melanjutkan hidupku. Karena aku tahu dia juga pasti ingin aku bahagia.
Suara pintu terdengar dibuka kembali. Paling juga Heri.
“Kukira kau lagi tidur,”ucap seseorang yang sedang aku pikirkan saat ini. Bukan Heri, tetapi Putra.
“Nggak bisa tidur,”balasku.
“Udah enakan kau rasa?”tanyanya.
“Udah nggak sakit kali kepalanya,”jawabku bohong. Kepalaku masih terasa sakit sekali.
“Jangan pikirin apapun dulu. Istirahat aja. Kalau kau mau cerita, bilang aja. Pasti kudengerin,”ucapnya masih berdiri di samping ranjangku.
“Iya. Makasih.”
“Sama-sama.”
“Ummm, boleh aku nanya?”tanyaku hati-hati dan sedikit ragu.
“Nanya apa?”
“Sejak kapan kau suka sama Aira?”tanyaku.
Putra memandangku sebentar. Dia sedang menimbang apakah menjawabnya atau tidak.
“Sejak tes masuk sekolah ini. Aku dan Rara sama tanggal tesnya. Dia ditemani sama orang tuanya dan serius kali belajar rumus matematika dari buku kecil yang dibawanya. Aku nggak nyangka bakalan satu kelas samanya, tetapi aku senang kali. Saat tes itu aku menggumam ‘aku ingin bertemu dengan orang ini lagi, Tuhan’. Aku nggak nyangka doaku dijawab. Aku ketemu lagi samanya dan sekelas,”jawabnya. Senyum tidak lepas dari wajahnya.
“Segitu sukanya kau sama si Aira?”tanyaku lagi.
“Iya. Sangat,”jawabnya. “Udah terjawab? Sekarang kau istirahat. Pucat kali wajahmu,”lanjutnya.
“Iya,”balasku.
__ADS_1
Putra permisi pergi ke kelas padaku dan aku menekan dadaku yang mulai sesak. Laki-laki ini tidak akan ada di masa depanku seberapa ingin aku menginginkannya. Laki-laki ini sangat mencintaiku sama besarnya aku mencintainya. Kami tidak akan bersama. Aku harus menerimanya. Aku kembali ke masa lalu untuk mendengarkan perkatannya ini. Aku sudah mendengarnya. Dan semuanya sudah selesai. Janjinya sudah terpenuhi dan aku sudah tidak bertanya-tanya kepada Tuhan lagi. Aku tahu sudah saatnya aku kembali ke masa depan. Tetapi Tuhan, bolehkah aku menghabiskan sedikit waktuku bersamanya sebagai Aira? Aku ingin berbicara dengannya sebagai Aira. Menyampaikan perasaanku dan menciptakan kenangan yang indah bersamanya. Setelah itu, aku berjanji, aku akan pulang. Kabulkanlah, Tuhan. Aku mohon.