Pulang

Pulang
Waktu Paling Tepat Melupakan Kenangan


__ADS_3

Renjana Kanya


Hujan mengguyur tubuhku. Kenyataan bahwa alamat rumah yang dikirim Mas Hanung sama persis dengan alamat yang diberikan Damar, membuatku tak bisa berpikir jernih. Jadi apa sebenarnya? Mereka bersaudara? Jika memang iya, mengapa Araz tak langsung cerita kepadaku dan justru menghindar? Ia bahkan bertanya apakah aku akan membencinya jika mengetahui hubungan lelaki itu dengan Arez.


Air mataku mengalir. Bercampur air hujan yang semakin deras membasahi tubuhku. Juga hatiku. Ada kecewa yang diam-diam menyayat perasaanku. Apakah semua ini hanya rekayasa Araz? Atau... apa sebenarnya yang diinginkan lelaki itu? Apa ia hanya berniat bermain-main denganku?


Teringat lagi perkataan tetangga samping rumah Arez jika kedua orang tuanya sedang berada di Jakarta. Anak pertama keluarga itu sedang sakit. Jadi maksudnya, Araz menghilang selama dua minggu ini karena sakit? Jika memang begitu, tetap tidak bisa menjelaskan di mana keberadaan Arez sekarang. Apakah ia turut ikut keluarganya menemani Araz? Jika memang benar Araz sakit sekalipun, kenapa Mas Hanung justru memintaku untuk menemui Araz di rumahnya?


Meski hujan masih mengguyur bumi dengan derasnya, aku memaksa menelepon Mas Hanung demi segera mendapat jawaban atas menghilangnya Araz, hubungan lelaki itu dengan Arez, dan mengapa Mas Hanung memintaku untuk mengunjungi rumah temannya itu. Tak lama, dering nada sambung digantikan sapaan khas Mas Hanung. Suara riang Abi menjadi backsound yang menandakan jika lelaki itu sedang berada di rumah.


"Gimana, udah ketemu sama Araz?"


"Mas Hanung sengaja mau ngerjain gue atau gimana sih?" tanyaku menahan tangis agar Mas Hanung tidak curiga dengan suaraku yang serak.


"Lah, maksudnya gimana Nya, ngapain gue ngerjain lo?"


"Mas Hanung nggak tahu kalau Araz lagi sakit?" Lama, tidak ada jawaban dari seberang. "Hallo, Mas! Mas Hanung masih di sana 'kan?"


"Sori, sori, barusan Abi minta diambilkan sesuatu. Jadi gimana tadi?"


"Gue tanya, apa Mas Hanung nggak tau kalau Araz lagi sakit?"


"Araz sakit? Di mana dia sekarang?" suara terkejut Mas Hanung terdengar tidak dibuat-buat. Sepertinya lelaki itu memang tidak tahu jika Araz memang sakit. Lantas apa tujuannya memintaku mengunjungi rumah Araz?


"Mas Hanung beneran nggak tahu?"


"Ya nggak lah, gimana gue bisa tahu kalau Araz aja nggak bilang sama gue? Dia bilang kalau mau ke rumah orang tuanya di Bandung. Makanya gue minta lo cek ke sana sekalian ajak balik. Kita mau bikin proyek bareng, tapi dia sama sekali nggak bisa dihubungi. Trus di mana dia sekarang?"


"Kata tetangganya, orang tua Mas Araz ke Jakarta nengok anak pertama mereka yang sakit."


"Oke, gue cek ke temen kantor dia. Kita bakal jenguk sama-sama kalau lo udah balik ke Jakarta. Jangan ujan-ujanan sambil nangis, yang ada lo juga ikutan sakit," kata Mas Hanung membuatku terkejut. Aku tersenyum samar, lupa jika orang itu memiliki kecenderungan emphat pada orang lain.


"Sori Mas, ini nggak ada kaitannya sama Araz, tapi gue penasaran, apa Mas Hanung tahu siapa Arez?"


Di seberang Mas Hanung menghela napas panjang. Sebelum akhirnya mengatakan,"Kalau itu biar Araz yang jelasin sama lo. Oke? Terkadang ada batas yang nggak boleh dilanggar dalam pertemanan. Urusan Arez terlalu pribadi buat Araz, dan gue nggak punya hak untuk cerita sama lo."


Sambungan telepon terputus. Menyisakan sesak yang semakin menderu dalam hatiku. Sedang air mata kembali tumpah bersama hujan yang tak lagi menyisakan kenangan.


Heh, aku tersenyum sinis. Siapa bilang jika hujan melulu soal mengenang. Bagiku hujan adalah waktu melupakan kenangan. Tidak hanya tentang luka, tapi juga kecewa yang mendera jiwa. Sebab bagiku percuma, mengenang saat hujan hanya akan menumpuk beban pikiran. Masa kini saja sudah begitu melelahkan, apalagi ditambah masa lalu yang datang bertalu-talu. Bagiku hujan paling tepat adalah untuk menyembunyikan air mata.


Aku menatap rumah bergaya jengki itu untuk terakhir kali. Membawa serta harapan yang pupus tentang pertemuan yang sudah sejak lama kumimpikan. Namun sebelum melangkah pergi, mataku menangkap bayangan Putra yang kini sudah berdiri di sampingku. Lelaki itu pun basah kuyup. Bahkan ia tampak biasa saja meski berada di tengah hujan yang turun begitu derasnya.

__ADS_1


Ternyata cuma gue yang masih terluka sendirian. Menyiksa hati dengan dendam tanpa berkesudahan.


Tubuhku pasrah saat Putra membawaku masuk ke sebuah mobil van hitam yang berhenti di seberang jalan. Teringat lagi pesan Damar dan Almira agar aku berdamai dengan Putra. Mungkinkah ini waktunya?


Bukankah hujan adalah waktu paling tepat melupakan kenangan? Mungkin aku memang harus melupakan kenangan bersama Putra yang menyakitkan.


***


"Sori, gue janji nggak bakal bikin keributan atau nyusahin lo. Dia orang penting buat gue," ucap Putra sesaat setelah masuk mobil van hitam yang dikendarai lelaki setengah baya.


Di sebelah lelaki itu duduk perempuan muda yang mungkin selisih dua tahun lebih muda dariku. Ia bersikap tak acuh pada Putra dan mengalihkan pandangannya. Mengamati bulir hujan yang jatuh membasahi jendela.


"Gue yakin dia tuh sebenarnya cemburu," bisik Arlan di telinga Putra yang tertangkap jelas oleh pendengaranku.


"Nggak usah ngaco deh kalo ngomong."


Meski ada nyeri yang menyusup diam-diam, aku tetap bersikap seolah tak peduli. Bukankah aku sudah berjanji untuk melupakan semua kenangan pahit bersama Putra dan berdamai dengan perasaan sakit itu? Aku bisa mulai mencobanya untuk tidak cemburu pada perempuan muda itu.


"Sori, gue ngerepotin kalian," kataku disambut antusias oleh Arlan. Dari semua anggota Nada Sumbang, aku memang paling dekat dengan Arlan sekalipun dia yang paling akhir bergabung dalam band.


"Santai aja Nya. Lo suka banget sih main hujan-hujan. Udah gede juga," goda Arlan membuatku tersenyum. "Eh, kenalin dia Vika, manajer Nada Sumbang. Mumpung kita belum begitu terkenal, mau minta tanda tangan dulu nggak lo?"


"Otak butuh dimandiin biar gak meledak kepanasan. Ntar aja deh nunggu kalian punya album. Biar gue sekalian jadi fangirling," kataku setelah berkenalan dengan Vika.


"Oh ya, hujan sepertinya juga ampuh menghapus kenangan," imbuhku seketika sambil melirik perempuan itu. Aku ingin tahu bagaimana reaksinya, tapi Vika sama sekali tak tertarik mengalihkan pandangannya dari bulir air hujan.


Ucapanku justru membuat Putra urung menyampirkan jaket untuk menyelimuti tubuhku. Padahal aku tak bermaksud menyindir lelaki itu. Aku hanya ingin tahu bagaimana reaksi Vika terhadap kalimatku.


"Pakai ini, badan kamu udah menggigil," kata Putra hampir tak terdengar saat menyerahkan jaketnya yang beraroma matahari berpadu dengan aroma coklat dan mint. Masih sama seperti dulu. Tidak, ini bukanlah daftar list yang harus dilupakan. Sebab di masa depan aroma Putra akan terus tercium selama kami tak saling bermusuhan, lagi.


"Sa ae lo, Nya. Bukannya hujan dan kenangan jatuhnya bersamaan ya? Btw, lama nggak ketemu, makin cantik aja lo." Arlan masih menggencarkan godaannya. Dari dulu mulut Arlan memang suka tak terkontrol jika sudah bertemu dengan orang yang membuatnya merasa nyaman.


"Oh ya? Makasih deh, nggak rugi perawatan gue selama ini," kataku sekenanya. Menghadapi Arlan tak perlu berpikir serius seperti menyelesaikan soal matematika. "Btw, makasih loh Nggit, udah cari tahu alamat gue ke Audya. Berkat lo, gue sering dapat kiriman nggak terduga."


Arlan tertawa menanggapi pernyataan tajamku. Aku tahu lelaki itu pasti bersekongkol dengan Putra untuk mengirimkan berbagai macam paket yang kuterima sejak dua minggu lalu. Mulai bunga yang berakhir di tempat sampah maupun makanan ringan hingga berat yang ujungnya kuberikan pada satpam.


Sementara Anggit yang duduk di belakang bersama Arlan dan lainnya, hanya tersenyum kikuk. Bassist Nada Sumbang itu mungkin tak pernah menyangka jika akan mendapat pukulan telak dariku secepat ini.


"Sama-sama, Nya," balas Anggit mati gaya. Jelas ia tak sanggup membalas ucapanku. Alfian dan Danu yang melihat ekspresi Anggit tak bisa menyembunyikan tawa mereka.


"Kan, gue bilang juga apa, hati-hati lo kalau berurusan sama Kanya. Ini malah seenaknya kasih alamat ke singa yang sok jinak," kata Arlan di antara derai tawa. "Tuh, lihat sendiri 'kan dia nggak bisa bantu lo kalau udah diposisi kayak gini."

__ADS_1


Senyumku semakin lebar. Membuat Putra tak berhenti melirikku dengan senyum mengembang.


"Kangen gue sama kalian, sumpah. Berapa tahun sih kita nggak ketemu?"


"Seabad kali, nggak ngerasa lo?" komentar-komentar tajam Arlan hanya kubalas senyuman. Bahkan aku tak sungkan untuk tertawa.


"Thanks, Ar. Perhatian banget lo sama gue, sampai seabad nggak ketemu masih lo ingat juga. Btw, selamat ya buat single perdana kalian. Gue udah dengerin, masih aja bucin nih." Komentarku saat ingat jika Nada Sumbang telah resmi bergabung dengan lebel dan baru saja mengeluarkan single perdana.


"Sendirinya juga belum bisa move on gitu."


"Eh, gue jomlo karena pilihan Ar, bukan kutukan."


"Oh, jadi selama ini lo ngutuk si bucin itu biar jomlo seumur hidup?" Alfian ikut berkomentar dan menahan tawa saat melihat ekspresi wajah Putra. Lelaki itu terlihat salah tingkah meski ia berusaha untuk menyembunyikannya.


"Maybe, yah walau nggak harus seumur hidup juga sih."


Putra hanya terdiam saat aku melontarkan kalimat sindiran yang jelas kutujukan kepadanya. Tak ada komentar sedikit pun yang terucap dari bibirnya. Sampai aku mengajukan pertanyaan dengan suara lembut tanpa nada sinis yang biasa kulakukan selama dua tahun terakhir.


"Gimana, si vokalis nggak mau ngasih klarifikasi nih?" tanyaku justru membuat Putra mencubit punggung tangannya. "Nggak usah berlebihan gitu kali. Gue bukan orang yang nggak tahu caranya berterima kasih."


"Gue belum nemu muse yang baru," komentar Putra membuat personil Nada Sumbang lainnya tak bisa menahan tawa.


"Muse? Lo kata desainer." Mulut usil Arlan tak mau berhenti komentar.


"Ya apa yang tepat coba, emang gue slalu mikirin dia kalau bikin lagu."


"Ngaku juga akhirnya. Astaga," celoteh Danu saat mendengar pengakuan Putra. Sepertinya lelaki itu terjebak dengan semua bualannya kepada personil Nada Sambung.


"Makasih pengakuannya vokalis. Gue capek. Kita damai aja yuk. Masalah yang gue hadapi nggak akan ada habisnya selama Tuhan masih kasih gue kesempatan hidup. Belum lagi ketambahan masalah lo yang udah karatan saking lamanya."


Aku tahu, bukan hanya Putra yang terkejut mendengar pernyataanku, melainkan seluruh anggota Nada Sumbang yang berada dalam mobil van. Betapa mereka menjadi saksi kisah romantis yang berakhir tragis karena pernikahan kedua orang tua kami. Bagaimana hancurnya kami saat tak mampu menghadapi takdir yang begitu menyiksa. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk berdamai dengan rasa sakit ini ketika jauh dari rumah. Jauh dari tempatku bersembunyi selama ini.


"Gimana? Mumpung banyak yang jadi saksi."


"Ikhlas nih kalau kita cuma sebatas kakak-adik?" tanya Putra membuatku tersenyum.


"Damai aja dulu paling penting. Urusan ikhlas nggak ikhlas, itu bisa dipikir belakangan."


Putra refleks menarik tubuhku dalam pelukannya. Sementara Arlan dan yang lainnya bersorak atas perdamaian dua anak manusia yang cukup lama menanggung derita.


"Makasih, Nya. Gue tahu, gue masih banyak kekurangan. Tapi gue janji bakal jadi kakak yang baik buat lo," ucap Putra masih mendekap tubuhku. Tak lagi sama seperti dulu. Sebab detak jantungku tak lagi berdegup kencang. Begitu pun detak jantung Putra yang terdengar normal.

__ADS_1


Aku tersenyum. Ternyata cinta sebagai perempuan dan laki-laki sudah lama hilang.


__ADS_2