Pulang

Pulang
Have a Nice Dream, Kanya


__ADS_3

Renjana Alcatraz


Hampir pukul 05.00 sore ketika kegiatan bakti sosial LF rampung. Wajah-wajah lelah relawan terbalaskan saat para korban banjir mengucapkan terima kasih dengan senyum cerah. Bahkan anak-anak kecil yang tinggal di barak pengungsian seakan tak rela ketika harus berpisah dengan kami. Lebih tepatnya dengan Kanya.


Mereka merengek ketika Kanya berpamitan dan meminta perempuan itu membacakan cerita lebih lama lagi. Mas Andre bahkan berkelekar jika Kanya bisa tinggal di barak sampai anak-anak itu puas bermain dengannya. Tentu saja Kanya menolak. Aku tahu, perempuan itu pasti sangat lelah setelah seharian menjadi pusat perhatian.


"Makasih ya Nya, untung Araz berniat ngajak lo. Kalau nggak, kami nggak tahu bakal gimana ngadepin anak-anak tadi. Padahal udah janji sama mereka kalau bakal ada pertunjukan marionet, tapi malah gagal. Bener-bener tertolong lo bisa menyihir mereka," ucap Mas Andre melepas kepergian kami.


Sebelum mengantarnya kembali ke apartemen, aku memang sengaja mengajak perempuan itu makan bersama dengan tim LF. Dalam hati aku berharap, kelak akan selalu ada momen di mana Kanya hadir sebagai pasanganku ketika ada acara perusahaan. Untuk itu, aku akan mulai latihan dari sekarang.


"Sama-sama Mas Andre, makan malamnya enak. Boleh dong lain kali ditraktir lagi," ucapnya tanpa sungkan.


"Boleh, boleh. Gue juga bakal seneng loh kalau misalkan lo mau datang ke kantor. Santai aja, nggak perlu sungkan. Hanung juga temen gue kok. Dia juga sering bantu pemotretan divisi fashion."


"Oke siap Mas. Nanti pasti mampir deh kalau di sekitar LF. Lumayan bisa minta traktir makan siang," kata Kanya menanggapi tawaran Mas Andre sambil tertawa. Di antara mereka, aku bagaikan benda tak kasat mata yang seolah tak penting kehadirannya.


"Hahaha... Iya deh, penting calling aja kalau mau mampir. Udah sana balik. Lelah banget kelihatannya. Jangan lo ajak mampir-mampir loh, Raz. Anak orang ini. Dihalalin dulu baru diajak pergi-pergi."


"Akhirnya, dari tadi gue berdiri di sini diajak ngomong juga. Beres lah Mas, dia bakal gue antar sampai tujuan. Dijamin aman," kataku sambil menuntun Kanya meninggalkan Mas Andre.


Jika saja kami tetap bertahan, aku yakin lelaki yang sudah memiliki tiga anak itu, pasti akan mengajak Kanya bercerita lebih panjang.


"Huuffttt... lumayan capek juga ternyata," keluh Kanya saat masuk dalam mobil.


"Iyalah, kamu nurutin semua keinginan anak kecil segitu banyak. Sori ya, harusnya ada komunitas marionet yang bisa ringanin beban kamu. Eh, mereka malah batal ikut karena ada urusan mendadak yang lebih penting."


"Nggak apa-apa Mas, daripada aku nggak ngapa-ngapain trus jadi stres. Kan mending juga waktunya digunakan untuk hal yang bermanfaat."

__ADS_1


Sesekali Kanya menguap dan menyenderkan kepalanya. Wajahnya terlihat letih usai bakti sosial yang diselenggarakan LF. Sebelumnya kami tidak menyangka jika anak-anak korban banjir menyukai dongeng yang dibawakan Kanya dan meminta perempuan itu mengulangnya lagi dan lagi. Tak jarang Kanya harus membacakan buku cerita lain untuk memenuhi antusias bocah-bocah itu yang meletup-letup tak pernah surut.


Kuperhatikan wajah Kanya yang kini mulai terpejam di jok samping kiriku. Tak ada lagi wajah bingung yang terlihat imut berbalut piyama beruang yang kujumpai pagi tadi. Ah, jika mengingat peristiwa pagi tadi, rasanya gemas sekali melihat perempuan 25 tahun itu masih menggenakan piyama karakter beruang yang membungkus seluruh tubuhnya.


Tanpa sadar aku tersenyum memperhatikan wajah Kanya yang begitu damai dalam tidurnya. Ia bahkan sampai mendengkur meski pelan. Tubuhnya meringkuk di jok penumpang yang sempit.


Heran, bagaimana ia bisa tidur senyenyak itu padahal ada orang asing di sebelahnya? Bagaimana jika itu terjadi saat ia naik kendaraan umum dan sopirnya bertindak tidak sopan ketika ia tidur? Yah, walaupun itu bisa saja terjadi satu banding sepuluh, tetap saja tak bisa dibenarkan.


Aku menghalau pikiran buruk itu dari benakku. Memikirkannya saja membuat hatiku mendadak panas dan bertekad tak akan membiarkan Kanya naik kendaraan umum sendirian. Apalagi ketika malam hari.


Sesekali aku memperhatikan Kanya bergerak tak nyaman. Mungkin ia merasa kedinginan. Setelah kuamati ia hanya mengenakan kaus abu-abu lengan pendek dan celana jeans ⅞ warna hitam. Di mana ia menyimpan cardigan yang tadi pagi dibawanya?


Tanpa meminta izin, aku mencari cardigan dalam tas Kanya. Namun hasilnya nihil. Aku tak menemukannya di mana pun.


"Nya, cardigan kamu di mana? Biar nggak kedinginan," kataku tanpa bermaksud menganggu tidur nyenyak Kanya. Namun perempuan itu tetap menjawabnya meski dengan mata terpejam.


Meski tertidur Kanya masih menjawab pertanyaanku. Senyumku tertahan. Bagaimana bisa ada manusia seunik Kanya. Ia bahkan bisa diajak berbicara ketika tidur sekali pun. Penasaran aku mencoba mengajukan pertanyaan lain.


"Nya, mau burger nggak? Aku masih lapar kayaknya. Gimana kalau drive thru?"


"Boleh deh Mas, beef burger ya. Nggak usah pakai mentimun."


"Kalau jadi pacarku mau nggak?"


"Nggak ah Mas, ntar aku jadi bahan perundungan AFC lagi. Aku masih mau minta traktir Mas Andre," jawabnya lagi masih dengan mata terpejam.


Aku menahan tawa. Meski begitu tetap saja ia menjaga kesadarannya saat aku bertanya.

__ADS_1


Tanpa mengalihkan fokus pada jalanan di jam macet, aku mengambil jaket yang tersampir di bangku belakang. Aku memang selalu membawa jaket meski lebih banyak tak berfungsi sebagaimana mestinya.


Perlahan aku menyelimuti tubuh Kanya yang tertidur pulas di sampingku. Dengkur halus membuatku yakin jika perempuan 25 tahun itu memang benar-benar sudah terbuai mimpi.


"Have a nice dream, Nya. Semoga ada aku dalam mimpimu," ucapku sambil mengelus anak-anak rambut Kanya yang menutupi mata perempuan itu.


***


Jam mungil di dashboard mobil sudah menunjukkan pukul 11.00 malam. Namun sosok di sampingku belum juga terbangun meski hampir empat jam tertidur. Sementara aku tak tega membangunkannya yang begitu pulas. Meski sebenarnya aku pun tak kuasa menahan kantuk. Jika aku memaksakan memejamkan mata, bisa jadi kami akan tidur di mobil semalaman.


Apa kugendong aja ke apartemennya?


Sejenak aku memikirkan ide untuk membawa Kanya masuk ke unit apartemennya. Kemungkinan terburuk, ia terbangun dan bisa saja menuduhku akan melakukan hal yang bukan-bukan. Namun menunggunya bangun pun tak tahu harus membutuhkan waktu berapa lama. Sedang aku tak tega mengganggu mimpi perempuan itu.


Sudah 30 menit berlalu. Belum ada tanda-tanda Kanya akan segera bangun. Mataku semakin berat menahan kantuk yang tak mungkin kuhindarkan lagi. Maka aku memutuskan turun dari mobil dan menggendong Kanya menuju unit apartemennya.


Masa bodo ketika ia bangun, lalu mendapati dirinya dalam gendonganku. Aku bisa saja berkelekar dengan menyebutnya bayi besar karena masih suka tidur sembarangan. Pikirku mencari alasan jika sampai hal itu benar terjadi. Namun sampai aku membuka pintu apartemen dan menidurkannya di tempat tidur, Kanya sama sekali tak terusik.


Apakah seperti ini gambaran putri tidur dalam dongeng? Yang hanya terbangun oleh ciuman sang pangeran?


Benar-benar. Aku tak menyangka jika Kanya termasuk tipe orang yang *****. Nempel langsung molor.


Setelah membersihkan wajah perempuan itu dengan make up remover - yang berderet di meja rias, aku menyelimuti tubuhnya. Sebentar saja, Kanya sudah begitu pulas.


Sudut bibirku mengembang. Hatiku ikut merasakan kedamaian seperti halnya Kanya dalam tidurnya.


"Selamat malam cinta," kataku tak bisa menahan untuk tidak mengecup keningnya.

__ADS_1


Maka sebelum aku keluar dari kamar perempuan itu, aku mengecup keningnya untuk meredam hasrat yang bergejolak dalam tubuhku. Sudut bibirku masih saja menyimpan senyum untuk perempuan itu.


__ADS_2