
Emosi Alcatraz sudah lebih tenang ketika ayah dan ibunya memasuki kamar Aksa. Mereka bergegas naik ke kamar anak mereka saat mendengar tangisan Araz dan memastikan apa yang telah terjadi. Namun, betapa terkejutnya saat mendapati anak sulung mereka menangis tersedu dalam pelukan Kanya meski sudah semakin tenang.
"Apa yang terjadi, Nak?" ucap Bagaskara lembut sambil memeluk sang anak. Mendapat perlakuan dari sang ayah membuat Araz kembali menitikkan air mata. Ia tersedu dalam pelukan Bagaskara dan mengucapkan maaf atas kesalahan yang diperbuatnya selama ini.
"Maafkan Araz, Yah. Maafkan Araz jika selama ini membuat kalian susah. Maafkan, Araz."
Bagaskara mengeratkan pelukannya. Ditepuknya kepala sang anak dengan lembut dan mengatakan jika dirinya ataupun sang ibu selalu memberikan kelapangan untuk selalu memaafkannya.
"Maaf selalu ada buat kamu, Nak. Ayah dan ibumu selalu memaafkan segala kesalahan yang telah kamu lakukan. Begitu juga dengan Aksa."
Laki-laki yang telah lebih dari separuh abad itu masih menepuk lembut kepala Araz. Bagaskara juga mengatakan kalimat-kalimat lembut yang bisa menghibur sang anak. Seakan Araz bocah lima tahun yang sedang merajuk. Ya, bagaimanapun di mata Bagaskara, Araz tetaplah bocah yang tak juga tumbuh dewasa.
Memang, Bagaskara menyimpan amarah pada anak sulungnya. Terlebih Alcatraz tumbuh menjadi sosok yang tidak bisa diatur dan mudah berontak. Dia memiliki sifat yang tidak mau terkekang dan seolah sanggup melawan kekejaman dunia tanpa campur tangan orang tuanya. Apalagi hubungan mereka tidak begitu baik, sebab sejak kecil Alcatraz tidak pernah tinggal bersama kedua orang tuanya. Hal itu membuat hubungan sang anak dan ayah semakin memburuk. Laki-laki itu juga tidak bisa menahannya setiap kali berhadapan dengan Araz. Namun, semua itu dia lakukan semata-mata karena Bagaskara menyayangi anaknya. Sangat menyayanginya hingga dia tidak ingin sang anak terluka.
Meski begitu, seperti yang Bagaskara katakan, jika dia selalu memiliki hati yang luas dan kelapangan untuk memaafkan segala perlakuan Alcatraz. Bagaskara tidak pernah menyimpan dendam pada sang anak meski amarah selalu yang pertama kali muncul saat melihatnya. Dan, saat ini, ketika melihat Araz menangis seakan menanggung beban yang begitu menyakitkan, tentu saja membuat Bagaskara tutur hancur merasakan kesedihan sang anak. Walaupun laki-laki paruh baya itu tidak tahu apa yang menyebabkan sang anak begitu terluka.
"Sudah, hentikan, Nak. Jangan lagi menangis dan membuang energi untuk hal yang sudah berlalu. Aku sudah memaafkanmu dan kamu hanya perlu bersikap lebih baik untuk membuktikan penyesalanmu," ujar Bagaskara masih sambil memeluk Alcatraz.
Sedangkan sang ibu yang sejak tadi hanya memperhatikan mereka, diam-diam terisak sambil menggenggam tangan Kanya.
__ADS_1
Selama ini, wanita itu selalu dalam posisi sulit di antara sang anak dan suaminya yang tidak pernah akur. Haneul tahu, jika masing-masing dari mereka sama-sama memiliki ego yang tinggi. Setiap kali Haneul berusaha untuk mendamaikan mereka, selalu saja ada hal yang membuat keduanya mencari alasan untuk menolak. Terlebih anak sulungnya. Alcatraz selalu memiliki seribu satu alasan untuk menolak permintaan sang ibu. Apalagi sejak Aksa meninggal. Tak ayal hubungan keduanya semakin memburuk.
Haneul merasa lega ketika pagi tadi mereka sudah berbicara layaknya anak dan ayah. Saling membuka diri dengan mengatakan perasaannya masing-masing. Namun, Haneul tidak pernah menyangka jika masih ada luka dalam diri sang anak yang belum sembuh. Atas perasaan bersalah dengan sikap keras kepalanya selama ini. Terlebih lagi, wanita itu tidak pernah benar-benar tahu apa yang menyebabkan Araz hingga menangis sedemikian keras. Seakan rasa sakit itu menusuk dalam hati yang paling dalam.
"Araz nggak bisa memaafkan diri Araz sendiri, Yah. Araz nggak bisa." Laki-laki yang telah berkepala tiga itu kembali menangis keras. Dia seakan tak berdaya dalam pelukan sang ayah.
Pemandangan yang menyakitkan itu, membuat kedua orang tuanya termasuk Kanya turut merasakan rasa sakit yang mendera Alcatraz. Namun, tak ada yang sanggup mereka lakukan kecuali mendampingi Araz sampai dia siap mengatakan rasa sakit yang dirasakannya.
Sebenarnya, Kanya bisa saja mengatakan apa yang terjadi. Namun, perempuan itu memilih diam. Dia tidak ingin terlibat terlalu jauh dalam persoalan yang dihadapi Alcatraz. Bukan karena dia tidak peduli, tetapi Araz harus menghadapinya dengan caranya sendiri. Terlebih untuk memperbaiki hubungan yang telah retak dengan ayahnya.
"Katakan, Nak, katakan pada Ayah sebenarnya apa yang telah terjadi? Apa yang membuatmu menangis demikian pilu?"
Kini, Bagaskara tahu apa yang menyebabkan anak sulungnya itu terlihat sangat terluka.
"Siapa bilang kamu bukan kakak yang baik untuk, Aksa? Kamu ... ."
Laki-laki itu pun kehilangan suara. Bagaskara menghela napas panjang. Sang ayah menyadari jika dia memiliki andil yang cukup besar dalam persoalan ini. Bagaskara menyadari sikapnya yang terlalu keras pada Araz hingga membuat anak sulungnya itu cenderung ingin pergi dan tidak merasa betah di rumah. Dalam hal ini, dia memiliki andil cukup besar karena telah memisahkan sang kakak dengan adiknya.
"Nak, maafkan Ayah, jika selama ini membuatmu tidak nyaman berada di rumah. Maafkan Ayah yang seakan selalu mendorongmu untuk keluar rumah. Maafkan Ayah. Tapi kamu tahu, Nak, kamu adalah kakak yang terbaik bagi Aksa. Kamu selalu menjadi kebanggaan Aksa bahkan sampai akhir masa hidupnya. Sungguh, kamu adalah kakak pantas bagi Aksa, Araz."
__ADS_1
"Araz nggak ada di samping Aksa saat dia membutuhkan Araz, Yah. Araz nggak pernah tahu betapa Aksa menderita seorang diri. Seharusnya Araz bisa menemani Aksa dan melakukan banyak hal bersamanya walaupun dari rumah saja. Tapi Araz nggak punya banyak waktu buat Aksa. Araz lebih mementingkan ego Araz sendiri dan nggak pernah memikirkan perasaan Aksa."
Laki-laki itu semakin tergugu dalam pelukan sang ayah. Ia tak sanggup meredam rasa sakit yang mendera dalam dadanya saat mengetahui fakta betapa Aksa sangat membutuhkannya.
"Araz, dengarkan ucapan Ayah," kata Bagaskara sambil melepaskan pelukan Araz. Laki-laki itu memegang kedua pundak sang anak dan menatapnya. Sorot matanya tegas. Wibawanya sebagai seorang purnawirawan jenderal kepolisian sangat terasa dan membuat Araz terdiam seketika. "Setiap diri manusia selalu memiliki penyesalan yang akan dibawanya sampai kapan pun. Tapi itu tidak lantas membuat kita jadi patah. Justru penyesalan itu membuat kita tumbuh semakin kuat. Penyesalan itu memberikan kita pelajaran untuk memperbaiki diri dan menjadi pribadi yang semakin baik. Dan, Ayah tegaskan kepadamu, kamu adalah seorang kakak yang baik bagi Aksa. Terlepas kamu memiliki banyak waktu luang atau tidak bersama Aksa, tapi Ayah bersaksi bahwa kamu adalah kakak yang terbaik. Kamu tahu Nak, apa yang dikatakan Aksa sebelum meninggalkan kita selamanya?"
Bagaskara menghela napas panjang sebelum kembali mengatakan,"Ayah, aku sayang Mas Araz. Jangan marah kalau dia pulang ke rumah. Mas Araz yang mengajarkan banyak hal pada Aksa. Entah Mas Araz sadar atau tidak, tapi Aksa selalu menjadikan dia sebagai panutan. Aksa ingin selalu bersama Mas Araz, tapi Tuhan juga menginginkan Aksa. Katakan pada Mas Araz kalau dia tidak usah merasa bersalah. Aksa marah sama Mas Araz, tapi bukan berarti Aksa nggak sayang. Aksa sayang sekali sama Mas Araz. Makanya, Ayah jangan marah sama Mas Araz biar dia mau pulang. Biar dia sering menjenguk Aksa meski sudah menjadi abu. Sampaikan juga rasa terima kasihku pada Mas Araz ya, Yah. Terima kasih karena Mas Araz sudah menjadi kakak Aksa yang terbaik."
Mendengar ucapan sang ayah, Araz tak lagi sanggup membendung air matanya. Kristal bening dari telaga mata Araz kembali rebas. Ucapan sang ayah semakin membuat laki-laki itu merasa bersalah.
"Araz, Ayah mengatakan ini bukan untuk membuat kamu semakin merasa bersalah, tapi Ayah ingin kamu tahu betapa Aksa menyayangimu dan tidak pernah sekalipun memiliki pikiran untuk menyalahkanmu. Jadi, Ayah hanya minta satu hal padamu saat ini, Nak. Teruslah bertahan hidup, teruslah tumbuh, demi Aksa yang sudah lebih dulu pulang pada Tuhan, Nak. Kita hanya perlu mengikhlaskan yang sudah pergi dan tetap bersyukur sebab Tuhan masih memberikan kesempatan pada kita berupa nikmat sehat. Ya, Araz? Kamu paham maksud Ayah, bukan? Tidak masalah kamu memiliki rasa bersalah, tapi jangan sampai itu merampas hal lain dari hidupmu, Nak. Yakinkan, jika Aksa bangga memiliki kakak sepertimu. Itulah yang perlu kamu ingat tentang Aksa. Jika dia sangat menyayangimu lebih dari apa pun yang ada di dunia ini."
Meski tangis Araz tak juga reda, setidaknya ia sudah cukup mampu mengendalikan diri. Laki-laki itu memeluk sang ayah dan menenggelamkan wajahnya lebih lama dalam pelukan Bagaskara. Sedangkan kedua perempuan lintas generasi yang sejak tadi memperhatikan mereka, saling berbagi pelukan dan menguatkan. Tak bisa dimungkiri, hati kedua perempuan itu amat sakit melihat Araz yang terisak dalam pelukan sang ayah.
...****************...
Haiiii ... maafkan yang masih menyajikan bab yang mengandung bawang. Ini asli nulisnya sambil mewek. Padahal sebelum-sebelumnya masih stay cool sok nggak terbawa suasana, tapi mewek juga pas ngetik part ini.
Semoga perasaan itu juga sampai pada kalian. Wajib komen buat kalian yang baca part ini sambil nangis. ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
__ADS_1