
Sudah lama Kanya tidak melakukan pertunjukan. Terakhir kali lakon yang dimainkan sudah empat tahun lalu. Ketika dia mengikuti kegiatan makrab yang diadakan oleh jurusan saat dirinya sudah semester akhir.
Saat itu, Kanya diminta juniornya untuk mengisi pensi yang diselenggarakan pada malam terkahir makrab jurusan. Selebihnya Kanya tak pernah lagi berakting di atas panggung teater yang dulu jadi sebagian dari kehidupan masa remajanya.
Kini, dia harus berakting di depan banyak orang untuk menjauhkan Carol dari kekasihnya. Kanya tak akan tinggal dial ketika perempuan itu dengan ganjennya mencoba menggoda Araz di depan banyak orang.
Kanya menghela napas panjang. Menyimpannya dalam perut sebelum berjalan ke arah meja satu dengan penuh percaya diri.
Dia tahu yang sedang dilakukan sekarang adalah hal paling murahan sekaligus memalukan. Tapi, tak ada hal lain yang terpikirkan oleh Kanya, bagaimana cara mengusir duo centil itu dari samping Araz kecuali dengan tindakan nekat.
Sementara Hanung yang sejak tadi memperhatikan perilaku Kanya, mulai tertarik dengan apa yang bakal dilakukan oleh anak buahnya itu. Lelaki itu bersiap menjadi pemeran pendukung apabila diperlukan.
Huft...
Kanya menghela napas sekali lagi. Dia semakin mantap melangkah ke arah sang kekasih yang masih menjadi rebutan Carmen dan Carol. Meski kedua perempuan itu tak sedikit pun mendapat perhatian dari Araz.
Bahkan para karyawan yang lain mulai berbisik dan melirik kesal pada Carol dan Carmen.
"Ck, apaan sih mereka tuh? Ganjen banget jadi cewek. Nggak lihat kalau Pak Araz nggak nyaman gitu?"
Kanya mendengar salah satu karyawan bagian periklanan sedang berbisik dengan salah satu teman yang duduk di sampingnya. Tidak jauh dari tempat duduk Destia.
"Ck, emang dasarnya udah ganjen. Mau gimana lagi," ucap Destia ikut berkomentar.
Kanya yang mendengar percakapan para perempuan itu sempat melirik.
"Kalau menurut gue nih ya, nggak ada cewek di sini yang cocok sama, Pak Araz. Kecuali satu nama," lanjut Destia.
Ucapan perempuan itu membuat Kanya berhenti melangkah. Dia penasaran dengan kalimat yang selanjutnya akan diucapkan oleh Destia.
"Siapa? Jangan bilang elo!"
"Gila. Ya, nggaklah. Yang pantes buat Pak Araz tuh, cuma Kanya."
Dengan cepat, Kanya melangkah dari tempatnya berhenti sementara. Perempuan itu tak lagi tertarik dengan obrolan Destia dan yang lain. Kini, dia fokus dengan apa yang sedang direncanakan.
"Kok gitu? Kenapa Kanya?"
Sayup, Kanya masih bisa mendengar orang-orang itu bercengkrama.
"Iyalah, memang ada cewek lain yang seperfect dia? Udah cantik, pinter, sifatnya baik pula. Coba sebut kalau ada cewek lain yang lebih baik dari dia?"
__ADS_1
"Ehm...kayaknya emang bener sih kata lo, Des. Ibaratnya nih, Kanya bisa handle pekerjaan semua orang. Tapi, belum tentu kita bisa kerjain kerjaan Kanya."
"Iya bener juga sih."
"Nah, kan. Emang paling pas kalau Pak Araz tuh disandingin sama Kanya."
Obrolan Destia dan yang lain masih saja terdengar oleh Kanya saat dia tiba-tiba kehilangan keseimbangan dan jatuh tak jauh dari tempat duduk Araz.
Dia benar-benar kehilangan keseimbangan. Tidak seperti apa yang sedang direncanakan.
Beruntung, dengan sigap Araz bangkit dari tempat duduknya dan menangkap tubuh perempuan itu sebelum jatuh ke lantai.
"Kamu nggak apa-apa, Nya?" tanya laki-laki itu sambil mendekap pundak Kanya dengan erat.
"Saya nggak apa-apa, Pak."
"Yakin?"
"Iya, saya nggak apa-apa. Yakin, Pak."
Di tengah adegan dramatis yang terjadi, Hanung ikut bangkit dari tempat duduknya dan ikut memeriksa kondisi Kanya.
"Ya ampun, Nya. Kok lo bisa jatuh gitu sih? Lo beneran nggak apa-apa? Wajah lo pucet banget, Nya," ucap laki-laki itu dengan wajah panik.
Ya, sang kepala editor itulah yang membuat Kanya hampir terjatuh saat perempuan itu berjalan melaluinya. Hanung dengan sengaja meluruskan kakinya begitu Kanya lewat.
Beruntung Araz dengan sigap menangkap Kanya, sebelum sang kekasih benar-benar jatuh.
"Aku nggak apa-apa kok, Mas," ucap perempuan itu, meskipun dalam hati ingin sekali memaki Hanung.
"Nggak apa-apa gimana? Wajah kamu pucet banget, Nya. Udah Raz, kamu bawa aja Kanya balik. Biar aku yang urus sisanya di sini."
"Nggak apa-apa nih?"
"Iya udah, nggak apa-apa. Tinggalin aja. Kali aja Kanya butuh ke rumah sakit," ucap Hanung semakin membuat suasana menjadi panik.
Ingin sekali Kanya membantah laki-laki itu. Tapi, saat melihat raut wajah Carol dan Carmen yang tampak kesal akibat ulah Hanung, membuat Kanya mengurungkan niatnya.
Dengan sengaja Kanya meringankan berat tubuhnya dan berpura-pura tampak lemah. Araz yang masih menahan berat tubuh Kanya, cukup sigap menahan perempuan itu agar tak terjatuh.
"Kayaknya kamu memang perlu ke rumah sakit," ucap Araz dengan raut khawatir yang tak bisa disembunyikan dari wajahnya.
__ADS_1
"Sa...saya...."
"Udah diem. Jangan bawel. Kita ke rumah sakit sekarang. Gimana, masih bisa jalan?"
"Memang kalau nggak bisa, Pak Araz mau gendong saya?" ucap Kanya yang bahkan tidak menyadari ucapannya sendiri.
"Ya, tentu saja. Bukannya itu yang harus kulakukan?" Araz balik bertanya.
Belum sempat Kanya memberikan tanggapan, dengan sigap Araz langsung membopong tubuh perempuan itu dan membawanya keluar ruangan setelah meminta izin pada yang lain.
"Gue titip sisanya sama lo, Nung. Sori semua, aku harus meninggalkan tempat lebih dulu. Enjoy dan selamat menikmati makanannya," ucap lelaki itu berpamitan pada anak buahnya.
Sementara tindakan Araz yang memperlakukan Kanya dengan sangat istimewa, membuat semua mata tertuju pada mereka.
Bahkan tidak sedikit yang tampak terkejut dengan sikap Araz yang di luar kebiasaannya.
Biasanya lelaki itu terlihat tidak tertarik dengan perempuan mana pun yang berusaha menggodanya. Tapi kali ini, dengan terang-terangan Araz menunjukkan perhatiannya pada Kanya.
Dari meja dua yang kebanyakan diisi oleh para karyawan perempuan, terutama Destia dan yang lain, terdengar sorakan cukup keras.
"Nah kan, apa gue bilang. Pak Araz tuh paling cocok sama Kanya," ucap perempuan itu tanpa kendali.
"Ya ampun, astaga. Jantung gue. Kanya yang digendong, kenapa gue yang berdebar?" sahut yang lain. Masih dari meja dua.
"Pak Araz, aku juga mau dong diperhatikan," sambung yang lain.
Namun, Araz tak ambil pusing dengan ucapan para karyawan. Lelaki itu justru berbisik pada Kanya dan membuat wajah si perempuan memerah.
"Mereka kayaknya dukung kita tuh. Gimana, aku bilang sekalian ya, kalau aku nggak bisa perhatiin mereka karena cuma ada kamu di hati dan pikiranku," ucap Araz sambil mengeratkan gendongannya pada Kanya.
Wajah perempuan itu kian memerah. Namun, Kanya tak bisa berbuat apa pun demi melancarkan aksi di luar skenario yang sudah dia rencanakan.
"Diem, berarti iya kan? Oke, aku bakal bilang sama mereka."
Tanpa bisa dicegah, Araz menghentikan langkah kakinya dan menghadap ke arah para anak buahnya yang masih bersorak meneriaki mereka berdua.
"Sori ya, Gais. Aku harus buat kalian kecewa. Aku udah jadi milik Kanya dan aku nggak bisa kasih kalian kesempatan buat mendekat," ucap Araz benar-benar mengumumkan hubungannya dengan Kanya di depan semua orang.
Seketika ruangan menjadi semakin riuh. Berbagai reaksi ditunjukkan atas keterkejutan para karyawan MediaPena.
Namun, Araz hanya membalas dengan senyuman dan kembali melangkah keluar ruangan.
__ADS_1
"Mampus sudah," ucap Kanya dalam hati. Dia tak sanggup membayangkan dengan apa yang bakal terjadi.