
Kanya diperbolehkan pulang begitu keadaannya sudah membaik. Meski masih menahan rasa nyeri di perutnya, gadis itu memaksakan diri agar diperbolehkan pulang oleh dokter.
Tiga hari terhitung sejak Kanya masuk rumah sakit akibat insiden penusukan itu. Ia mulai bosan. Oleh sebab itulah ia memaksakan diri untuk pulang ketika memasuki hari ketiga.
Beruntung kondisinya sudah mulai membaik dan membuat dokter yang menanganinya memberikan izin pulang. Sekalipun luka di perutnya belum benar-benar kering.
"Harusnya kamu istirahat aja dulu di rumah sakit sampai benar-benar pulih," ucap Araz yang menjemput Kanya dari rumah sakit dan mengantarnya pulang.
"Nggak ah, Mas. Nggak ada yang bisa aku kerjain kalau terus-terusan di rumah sakit," bela Kanya sedikit mengeluh ketika berbicara.
"Memang apa yang bakal kamu lakuin di rumah?"
"Ya ... " Kanya tampak berpikir.
Sama saja, di rumah pun tak ada hal yang bisa dia lakukan. Selama ini kehidupan Kanya hanya dihabiskan untuk bekerja, bekerja, dan bekerja.
Satu alasan yang membuatnya bekerja keras setiap waktu. Kanya ingin melupakan luka yang selama ini menyiksa batinnya.
Kini, luka itu perlahan mulai pulih dan ia kehilangan banyak momen dalam hidupnya selain bekerja.
"Ya juga sih. Nggak ada yang bisa aku kerjain juga kalau di rumah," ucap Kanya tak lagi membela diri.
Araz yang berada di sampingnya tampak tersenyum. Lelaki itu melirik ke arah sang kekasih yang terlihat menggemaskan di matanya.
"Nah, kalau sama aja nggak ada yang bisa dikerjain, kenapa nggak istirahat di rumah sakit aja?" Araz mengulang pertanyaan yang sama.
"Oh!" Kanya berseru tiba-tiba. Araz yang sedang menyetir sampai kaget dibuatnya.
"Ada apa?" tanya lelaki itu agak panik.
"Aku tahu apa yang bisa kulakukan kalau di rumah dan nggak bisa kulakukan di rumah sakit."
"Apa?"
__ADS_1
"Makan makanan yang dimasak, Mas Araz," ucap Kanya penuh percaya diri.
Ucapan perempuan itu sontak membuat Araz tertawa.
"Ternyata kamu paling bisa bikin alasan ya?" ucapnya menahan tawa.
Senyum membingkai wajah ayu Kanya. Ia menoleh ke arah sang kekasih yang kembali fokus menyetir.
"Hehe ... Mas Hanung bilang, aku harus cerdas dan bisa mencari setiap celah kalau mau menghadapi para pejabat yang lebih bisa cari alasan."
"Sesat. Mana ada teori kayak gitu?"
"Haha ... tapi cukup efektif kok. Buktinya aku bisa dapat wawancara eksklusif bersama beberapa pejabat tinggi negara dengan memanfaatkan trik dari Mas Hanung."
"Ck, kalian benar-benar sesat," komentar Araz. Meski begitu, tetap saja ia tertawa.
"Tapi Mas Araz ketawa aja tuh," balas Kanya dengan senyum mengembang di wajahnya.
"Itu karena apa yang kamu lakuin sama Hanung benar-benar sesat," ujar Araz tidak mau kalah.
Tak ayal, pertanyaan perempuan itu membuat Araz tertawa. Jadilah, mobil dipenuhi oleh canda mereka. Hingga yang dikendarai Araz memasuki kawasan apartemen tempat tinggal Kanya.
"Kita sudah sampai," ucap lelaki itu sambil memarkir mobil di basement.
"Huft ... akhirnya sampai rumah juga." Kanya tersenyum lebar.
Perempuan itu bergegas turun dari mobil dan membiarkan Araz membawa perlengkapannya. Ia segera menuju lift. Sedangkan Araz masih tertinggal di belakang.
"Hati-hati, Nya," tegur lelaki itu saat melihat Kanya berlompatan seperti anak kecil.
Perempuan itu bahkan tak terlihat mengeluh sedikit pun, meski luka di perutnya belum benar-benar kering.
Padahal selama berada di rumah sakit, ia sering kali mengeluhkan jika luka di perutnya masih terasa sakit. Bahkan beberapa waktu lalu.
__ADS_1
Namun, begitu turun dari mobil, Kanya sama sekali tak terlihat jika sedang sakit.
Araz hanya menggelengkan kepala ketika Kanya sama sekali tak mendengarkan ucapannya. Perempuan itu masih saja berlompatan sepanjang menuju lift yang berada basement.
Setidaknya Araz bersyukur melihat wajah Kanya kembali ceria setelah mengalami kejadian buruk akibat ulah Cassandra.
Ting!
Pintu lift terbuka tepat saat Araz berdiri di samping sang kekasih.
Bersama mereka masuk ke dalam elevator yang akan membawa keduanya ke lantai tujuh.
Tidak butuh waktu lama, lift yang membawa mereka sampai di lantai tujuan keduanya.
Seperti sebelumnya, Kanya berlompatan dengan wajah cerah. Ia sama sekali tak terlihat memiliki beban. Bahkan saat membuka pintu unit apartemennya.
"Hemm ... yang terbaik memang cuma di rumah," ucap perempuan itu begitu masuk ke dalam rumah.
Senyum membingkai wajah Araz.
"Gimana, udah seneng sekarang?" tanya lelaki itu pada sang kekasih.
"Emang sebelumnya aku nggak keliatan kalau seneng?"
"Nggak tuh. Wajah kamu keliatan banget kalau lagi murung."
Senyum Kanya merekah.
"Sekarang udah nggak dong."
Perempuan itu menatap sekeliling ruangan yang sudah lama dia tinggalkan. Ya, tiga hari meninggalkan tempat utamanya selama tinggal di Jakarta, membuatnya sedikit gusar.
Kini, Kanya kembali merasakan nyaman.
__ADS_1
Memang benar istilah yang mengatakan bahwa home sweet home.