Pulang

Pulang
Rahasia


__ADS_3

Renjana Alcatraz


"Besok kita ke tempat Arez ya. Sekarang masih hujan. Kasihan Araz pasti juga..."


"Bunda," kataku sambil menyentuh pundak bunda sebelum perempuan setengah baya itu melanjutkan kalimatnya. Aku menggeleng agar bunda tak menceritakan apa pun tentangku pada Kanya. Termasuk ketidaksempurnaan yang selama ini tersembunyi di balik tulang rusukku. "Biar Araz yang kasih tahu Kanya tentang Araz, Bunda."


"Tapi Nak..."


"Bunda."


"Baiklah, bagaimanapun Kanya harus tahu keadaan kamu lebih dulu."


Aku tersenyum menanggapi pernyataan perempuan itu. Sedangkan Kanya menatapku lekat sebelum bertanya dengan suara bergetar. Mungkin ia merasa dipermainkan. Atau apa pun itu sebab merasa dirinyalah satu-satunya orang yang tidak tahu apa yang sedang kami bicarakan.


"Emang Mas Araz kenapa?" tanya Kanya sambil menatapku tajam.


"Oh ya Bun, bukannya Arez menitipkan sesuatu buat Kanya? Bunda simpan di mana?"


Aku tak bermaksud tidak mengacuhkan Kanya, tapi menceritakan keadaanku saat ini sama saja membuka jalan untuk bercerita tentang Arez. Namun aku belum siap sepenuh hati jika harus menceritakan tentang Arez pada Kanya. Maka aku memilih memasuki kamar Arez untuk mencari sebuah kotak yang rencananya akan diberikan pada Kanya saat wisuda. Sementara itu bunda dan ayah mengobrolkan banyak hal pada Kanya sambil menunjukkan album foto lelaki itu.


Tanpa sadar air mataku mengalir. Kehangatan di ruang keluarga itu mengusik sisi sensitif dalam hatiku. Di balik pintu yang kubiarkan sedikit terbuka, aku menangis tersedu tanpa suara.


***


Pintu kamar Arez terbuka. Kanya melangkah masuk setelah menutup pintu lebih rapat. Tanpa kusadari hampir setengah jam aku bersembunyi di kamar Arez dengan dalih mencarikan benda yang ingin diberikan lelaki itu kepada Kanya. Padahal aku tahu pasti di mana letak kotak itu disimpan.


Perempuan itu kini menatapku lekat. Sorot matanya tajam. Seolah menuntut penjelasan. Dengan langkah tanpa gentar ia berjalan ke arahku. Menyisakan jarak yang hanya satu rengkuhan tangan.


Degub jantungku berdetak semakin tak beraturan. Berada di dekatnya saja membuatku gugup. Apalagi ia berdiri sedekat ini denganku. Jika saja ia mendongak menatapku, aku bisa merasakan hembusan napasnya.


"Ternyata kamu bukan cuma penjara yang menakutkan, tapi juga soal matematika yang susah dipecahkan. Aku sama sekali nggak suka matematika. Menyebalkan. Rumit dan harus butuh ketelitian juga kesabaran untuk menyelesaikannya. Kenapa terus berbelit-belit sih? Kamu matematika, tapi juga bahasa yang memiliki seribu makna meski hanya satu klausa."


"Apa?"


"Aku cuma mau tahu di mana Arez, Mas. Ada begitu banyak kata maaf yang nggak sempat aku sampaikan. Ada beribu penyesalan yang harus kukatakan. Tolong pertemukan aku dengan Arez. Dia baik-baik aja 'kan? Dia bukan adik Mas Araz yang udah meninggal 'kan?"


Aku menghela napas panjang sebelum memejamkan mata demi mengusir penat yang tiba-tiba menyerang. Bagaimana aku menjelaskan kerumitan ini?


"Kanya... "

__ADS_1


"Di mana Arez sekarang, apa kita beneran nggak bisa nemuin dia sekarang?"


"Kamu nggak akan bisa membantah Bunda atau Ayah, Kanya, kita pergi sama-sama besok."


"Kalian nggak sedang mempermainkan aku kan?" tanya Kanya penuh selidik.


Aku tersenyum simpul menjawab pertanyaan Kanya. Perempuan itu masih saja diselimuti pikiran buruk tentangku.


"Kamu boleh menganggapku mempermainkan kamu, Kanya. Tapi mereka berdua adalah orang-orang tulus yang pernah aku kenal." Aku menghela napas panjang sebelum melanjutkan kalimatku. "Aku sudah taruh titipan Arez buat kamu di atas ranjang. Sori, aku keluar dulu. Kamu bisa istirahat sebentar," kataku bermaksud meninggalkan Kanya sendirian.


Namun perempuan itu justru menarik tubuhku dan memelukku dari belakang. Punggungku terasa panas oleh air mata.


"Apa selain soal matematika dan bahasa, Mas Araz juga sejarah yang dibelokkan? Kenapa susah sekali buat memahami Mas Araz? Aku..."


Kanya tak melanjutkan kalimatnya. Ia terisak sambil memeluk punggungku. Erat. Sangat erat. Aku bahkan tak sanggup melepasnya untuk merengkuhnya dalam pelukanku.


"Kanya kamu mau dengar ceritaku sebelum ketemu Arez besok?"


Aku merasakan Kanya mengangguk. Lantas berlahan melepaskan pelukannya. Kuamati wajahnya yang sembab karena air mata. Apa kehadiranku dalam hidupnya semakin membuat perempuan itu menderita?


"Dengar, kamu ingat cerita Hanung saat aku mendapat julukan Aldo?"


Kanya mengangguk.


Lagi-lagi perempuan itu hanya mengangguk. Sementara aku hanya mampu menghela napas sebelum memintanya duduk di tempat tidur yang telah lama tak digunakan.


***


Aku menghela napas panjang sebelum menceritakan sebuah rahasia yang selama ini rapat kusimpan. Kecuali dengan Hanung, tentu saja. Sebab lelaki itu yang melihat kondisi terparahku pada suatu masa.


Sekali lagi aku menghela napas panjang sebelum berkata," Aku terlahir dengan kelainan pada bagian organ jantungku yang belum terbentuk sempurna. Sejak berumur tiga tahun, tanda-tanda itu sering muncul dan membuatku semakin sering keluar masuk rumah sakit. Aku tumbuh dengan berbagai perawatan medis agar membuat jantungku tetap berfungsi sebagaimana mestinya."


Sejenak aku berhenti. Mengamati wajah Kanya yang tampak terkejut mendengar ceritaku.


Lanjutku,"Bahkan ketika anak-anak lain seusiaku bisa berlari, berkejaran, atau melakukan apa pun yang mereka suka dengan teman sebaya, aku lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit. Mengontrol kondisi jantungku secara rutin dan berakhir dengan menelan cairan pahit agar detak di balik tulang rusukku itu tak berhenti.


Sedangkan ketika anak lain dengan leluasa mengikuti pelajaran olahraga, bisa dipastikan tempatku berada di tepi lapangan. Menatap iri teman-temanku yang memiliki jantung sehat dan bisa berlarian. Kalaupun harus berolahraga, aku hanya boleh mengikuti gerakan-gerakan ringan yang disesuaikan dengan kondisi tubuhku.


Ritme itu terus berlanjut hingga aku kelas tiga SMP. Meski begitu, aku bersyukur masih bisa bersekolah layaknya anak-anak lain. Walaupun dengan berbagai keterbatasan aktivitas."

__ADS_1


Sesekali aku melirik ke arah Kanya yang khusyuk mendengarkan ceritaku. Perempuan itu menatapku dengan pandangan yang tak sanggup kujelaskan. Hanya air matanya yang mengalir di pipi, tanpa bersuara.


"Itu pula sebabnya ayah tak mengajakku serta ketika harus sering berpindah tugas sebagai kepala polisi. Ia tak ingin aku kecapekan lantas membuat badanku menjadi drop. Lagipula kondisi lingkungan yang asri dan jauh dari polusi semakin baik untuk tetap menjaga kesehatanku.


Hingga menginjak satu SMA saat ayah harus berpindah tugas lagi ke Jakarta, aku memaksa ikut. Awalnya ayah menolak. Ia bersikeras agar aku tetap tinggal di Solo dengan keadaan lingkungan yang baik. Namun ia lantas berpikir, mungkin di kota besar bisa menemukan dokter spesialis yang bisa menyelamatkan hidup anak tertuanya.


Memang ayah menemukan dokter spesialis yang lebih hebat dengan peralatan kedokteran yang lebih modern. Rutinitasku keluar masuk rumah sakit secara berkala pun masih berlanjut. Namun aku juga memiliki aktivitas lain yang lebih menantang semenjak mengenal Hanung. Kamu tahu 'kan, Hanung tipikal orang yang susah diam terlalu lama?"


Kanya merespon pertanyaanku dengan anggukan kepala. Dia benar-benar hanya mendengar, tanpa berniat menginterupsi cerita yang kusampaikan dengan suara bergetar. Heh, bahkan saat mengingat kisah hidupku yang tersisa hanyalah rasa sakit yang semakin menghimpit.


"Teman semasa SMA-ku itu mengenalkan pengalaman baru yang sebelumnya selalu menjadi angan-anganku belaka. Mulai datang ke sekolah telat hingga harus dijemur di lapangan upacara, dikejar guru ketika bolos pelajaran, sampai ikut tawuran antar pelajar.


Awalnya aku mengira kondisiku baik-baik saja. Aku masih bisa bernapas teratur meski beban kerja jantungku meningkat. Namun aku keliru. Itu justru awal bencana yang sengaja kubuat sendiri.


Kelas 2 SMA aku menjalani operasi pertamaku. Para dokter itu melakukan sesuatu pada jantungku agar nyawaku terselamatkan. Apa pun yang mereka lakukan, aku tak mau tahu. Setelah operasi selesai pun aku tak mau mendengar tentang kondisiku. Hanya saja aku merasa semakin baik setelah operasi dan terlena dengan kenakalan-kenakalan remaja pada umumnya.


Puncaknya saat aku kuliah semester lima. Beban kerja jantung yang kupaksakan di luar kapasitasnya membuat kondisiku kembali memburuk. Aku harus kembali keluar masuk rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan. Semua aktivitas berat dihentikan. Ayah benar-benar mengawasiku dengan ketat. Bahkan semua kegiatan kampus termasuk aktivitasku dipergerakan dihentikan. Aku kembali menjalani kehidupan kanak-kanakku yang membosankan.


Namun kerusakan pada jantungku semakin parah. Satu-satunya yang bisa menyelamatkanku hanyalah transplantasi jantung. Itu pun tak bisa dilakukan secara instan seperti kita mencari donor darah ke PMI. Aku harus menunggu sampai batas waktu yang tidak ditentukan.


Sebelum itu, mereka kembali memperbaiki kerusakan jantungku melalui operasi. Bekas sayatan yang dulu pernah dilakukan saat aku kelas 2 SMA, dibuka lagi dengan metode penyembuhan yang sama.


Sejak saat itu, aku mulai menuruti kata ayah jika masih ingin hidup sesuai dengan kehendakku sendiri. Jauh dari pantauan orang tua, sebab ayah sudah dipindahkan ke Bandung sampai masa pensiunnya."


"Aku..." Kanya tak melanjutkan kalimatnya dan hanya menatapku. Air mata tak juga mengering di pipinya.


"Ya?"


"Boleh aku melihat bekas lukanya?"


Deg. Sesaat aku merasa jantungku tak berdetak. Pertanyaan Kanya sukses membuat jantungku berdebar tak karuan sesaat kemudian. Bukan debar yang selama ini kurasakan hingga membuatku sering keluar masuk rumah sakit, tapi debar yang lain. Debar yang disertai efek kupu-kupu terbang di dasar perutku.


"Kamu yakin?" tanyaku dengan suara tercekat di kerongkongan. Kanya hanya mengangguk.


Perlahan aku membuka kancing kemejaku. Rasanya bukan hanya badanku yang mendadak panas, melainkan wajahku juga. Bagaimana bisa Kanya dengan entengnya memintaku menunjukkan bekas luka operasi itu?


Astaga, berhenti mikir mesum di saat seperti ini Araz. Dia cuma mau lihat bekas lukamu. Bukan... Oh, stop mikir mesum.


Namun sebelum aku membuka kancing ketiga, Kanya menghentikan gerakan tanganku. Perempuan itu menatap tepat ke mataku. Jarak yang begitu dekat membuat kami bisa merasakan hembusan napas satu sama lain.

__ADS_1


Bisiknya hampir tanpa suara,"Jangan tunjukkan sekarang! Aku nggak tahu apa yang akan terjadi kalau Mas Araz..."


Sebelum Kanya menyelesaikan kalimatnya, aku mencium bibir perempuan itu. Kami saling berbagi kerinduan dalam diam. Juga ciuman yang semakin dalam.


__ADS_2