Pulang

Pulang
Season 2 #Oleh-oleh Buat Calon Mantu


__ADS_3

Ucapan Hanung terbukti ampuh. Begitu keluar dari ruangan Araz, baik Carol maupun Carmen langsung mendekati Kanya meski dengan wajah menunduk menahan malu.


Kedua perempuan itu meminta maaf pada Kanya di hadapan semua orang. Entah, mungkin itu yang mereka sepakati dengan Hanung ataupun Araz di dalam ruangan sang atasan.


Mereka tidak banyak bicara dan langsung mendekati Kanya yang masih berdiri berdampingan dengan Destia.


Sementara para pegawai yang menunggu di luar ruangan, kembali terbagi menjadi dua kubu.


Kubu pertama tetap mendukung Kanya yang sudah diperlakukan semena-mena oleh Carmen dan Carol.


Sedangkan kubu kedua merupakan kelompok yang menghina perempuan itu, akibat menggunakan jalur orang dalam untuk menyelesaikan masalahnya.


Mereka bukanlah kubu yang membela Carmen dan Carol. Juga bukan bagian dari kubu yang membela Kanya. Melainkan bagian orang-orang yang berpandangan miring terhadap sang kekasih pimpinan tertinggi perusahaan.


"Nah kan, nggak berani angkat muka tuh mereka!" sindir salah satu pegawai.


"Cih, kalau jalur atasan mah beda, Bos. Kalau kita yang kena bully belum tentu sih mereka juga mau membuka mata." Pihak lain menyinggung Kanya. Terutama jika perempuan itu merupakan kekasih sang puncak pimpinan.


Kanya menulikan telinga. Ia semakin tak peduli dengan ucapan orang-orang yang menyudutkannya.


Setidaknya dengan membuat Carmen dan Carol jera saat ini, sudah cukup bagi perempuan itu. Kanya tidak mau serakah dengan berharap berlebihan. Termasuk bagaimana tentang pandangan orang-orang.


Dia memilih tidak ambil pusing. Dan, lebih tidak peduli saat omongan orang-orang semakin tajam.


Sementara Carmen dan Carol kini berdiri di depan Kanya dengan wajah masih menunduk.


Tidak lama kemudian, Hanung dan juga Araz keluar dari ruangan. Keduanya menatap dengan sorot tajam ke arah dia perempuan itu.


Hanung berdeham. Mengalihkan perhatian semua orang. Termasuk Carmen yang melirik dengan skor matanya.


"Gih, tunjukkan keseriusan kalian!" perintah sang kepala redaksi dengan tajam.


Laki-laki itu tak peduli tempat. Bahkan jika perbuatannya membuat para perempuan itu malu.


Mereka memang pantas mendapatkannya.


"Gue minta maaf," sesal Carmen ketika meminta maaf pada Kanya di depan orang-orang.


Meski begitu, sorot matanya tetap tajam. Seakan mengancam Kanya dengan dendam. Tidak seperti orang yang benar-benar telah menyesali perbuatannya.


Tak ada jawaban yang terucap dari bibir Kanya. Itu karena ia menangkap sinyal dari Hanung untuk tetap menutup mulut.


"Gu...gue...bener-bener minta maaf, Nya. Sori," imbuh Carol yang terlihat lebih tulus meminta maaf kepada Kanya ketimbang teman satu kubunya.


Badan perempuan yang lebih mungil dan pendek dari Kanya itu, gemetar ketakutan. Sorot matanya pun tampak resah. Tubuhnya bergerak gelisah.


"Gue udah maafin kalian," ucap Kanya begitu menangkap sinyal dari Hanung untuk bicara.


Kanya tidak paham dengan maksud laki-laki itu, tapi ia ikuti saja permintaan sang kepala redaksinya.


"Baguslah, kalau ini bisa berakhir damai. Buat kalian, tetap masih harus bikin surat permintaan maaf secara resmi. Sekalipun Kanya sudah memaafkan.


Letakkan masing-masing di meja gue sama meja Araz.


Dan, ini penting buat kalian! Tanpa terkecuali. Kalau sampai kejadian serupa terulang lagi, nggak peduli siapa korban ataupun pelakunya, nggak akan ada lagi toleransi.


Baca baik-baik kontrak kerja kalian sebelum bertindak dan bikin ulah! Bikin malu aja!" tegas Hanung membungkam mulut semua orang.


Meski begitu bukan berarti mereka benar-benar bungkam. Faktanya masih ada satu dua karyawan yang saling bisik dan menyindir sikap Hanung.

__ADS_1


"Bubar, balik kerja semua!" pungkas laki-laki itu membubarkan gerombolan di depan ruangan sang pimpinan perusahaan.


...***...


Ting...


Sebuah pesan singkat mengambang di layar ponsel Kanya saat perempuan itu hendak pulang sore harinya.


Ia baru saja mengemasi barang-barang bawaannya yang hendak meninggalkan meja kerjanya saat layar ponselnya berkedip.


Sebuah pesan dari Araz.


Kita pulang bareng ya.


Tulis lelaki itu cukup singkat. Namun, selalu berhasil membuat sudut bibir Kanya mengembang.


Siap, Kapten. Kerjaan aku udah beres nih. Apa kita pulang sekarang?


Balas Kanya.


Wah, rajinnya pegawaiku.


Candaan Araz semakin membuat ujung bibir Kanya mengembang.


Oke deh, kita pulang sekarang.


Balasan dari Araz menyusul tidak lama kemudian.


Siap, Bos. Aku turun sekarang ya. Ada titipan juga buat Mas Araz. Dari Mama.


Ketik Kanya sebagai balasan. Sebelum memasukkan ponselnya ke dalam tas dan tak lagi peduli saat benda itu bergetar. Menandakan jika ada pesan baru yang diterima.


Butuh waktu lima belas menit kemudian saat Araz menyusul turun. Kanya sudah menunggu di lobi dengan perasaan gamang.


Ia bahkan terkejut saat Araz menyapanya.


"Hei, lama nunggunya?" sapa Araz sambil menepuk pundak sang kekasih.


Perempuan itu tersentak dan memukul pelan lengan Araz.


"Bikin kaget aja sih."


"Haha...sori. Abis wajah kamu tegang banget gitu. Gimana? Pulang sekarang?"


"Yok."


Mereka berjalan berdampingan menuju tempat parkir. Suasana kantor sudah sepi. Jadi, lebih leluasa bagi mereka saat menunjukkan kemesraan.


"Sori, hari ini aku benar-benar kacau! Harusnya aku nggak sampai bertindak gegabah. Pasti orang-orang kantor banyak yang nyalahin kamu," ucap Araz begitu mereka sampai mobil.


Mereka sengaja pulang bersama karena memang perempuan itu tidak membawa mobil. Lagipula mereka juga berangkat bersama tadi pagi.


Bedanya mereka sekarang tidak perlu sembunyi-sembunyi jika ingin pulang bersama.


"Nggak perlu minta maaf sih, Mas. Aku udah kebal diomongin banyak orang. Nggak peduli lagi sekarang, mau mereka ngomongin aku di belakang kayak gimana pun.


Mas Araz udah pasang badan juga ini. Sekalian dimanfaatin juga kan?" ucap Kanya dengan senyum mengembang.


"Haha...dasar kamu tuh. Pinter banget sih jawab omongan orang."

__ADS_1


"Hehe...tinggal siapa yang diajak omong aja sih. Kalau orang-orang macam dou racun...."


"Sebentar, duo racun?" potong Araz sebelum perempuan itu menyelesaikan ucapannya.


"Ya?"


"Ya, siapa duo racun?"


"Oh...Carmen sama Carol lah. Siapa lagi."


Araz menahan tawa. "Siapa yang kasih julukan?" imbuhnya dengan kening berkerut.


Ia mulai menstarter mobil dan meninggalkan area parkir MadiaPena.


"Siapa lagi kalau bukan Mas Hanung."


"Haha...pantes. Dia memang paling suka bikin julukan. Jadi, gimana sama mereka? Pasti males ya ngomong sama orang kayak mereka?"


"Ish...males banget. Ibarat kata nih, kalau nggak butuh, aku nggak mau berurusan sama mereka. Tapi...ya mau gimana lagi, kami satu tim. Aneh juga kalau nggak ngomong satu sama lain."


Senyum Araz merekah. Laki-laki itu mengacak-acak rambut sang kekasih yang dianggapnya memiliki hati yang lapang.


"Sabar ya. Aku nggak bisa pecat mereka gitu aja. Perusahaan juga punya aturan yang nggak bisa dilanggar."


"Aku paham kok, Mas. Tadi aja deg-degan banget waktu Mas Araz, panggil mereka."


"Haha...memang kenapa bisa gitu?"


"Aku belum pernah lihat Mas Araz, semarah itu. Jadi agak takut juga. Sambil mikir, kira-kira apa yang bakal terjadi."


"Haha...beruntung sih Hanung lebih dulu masuk dan handle semuanya. Kalau nggak, mungkin aku udah paksa mereka buat mengundurkan diri."


Obrolan di antara mereka terus terjalin sepanjang perjalanan pulang. Ada saja bahan obrolan yang mereka diskusikan.


Sesekali mereka melemparkan candaan di sepanjang perjalanan. Sampai tanpa terasa, mobil yang dikendarai Araz sudah sampai di basemen apartemen Kanya.


"Aku penasaran deh, dari tadi kamu bawa apa sih? Aromanya kayak enak banget gitu," celetuk Araz tiba-tiba.


Kanya menyadari paper bag yang sejak awal berada di pangkuannya.


"Oh...ini, titipan dari Mama."


"Ada buat aku juga?" tanya Araz saat melihat dua paper bag di tangan Kanya.


"Ah...itu...." Kanya kehilangan kata. Dia tak tahu harus menjawab bagaimana.


Sementara Araz masih menunggu dengan sabar.


"Ini, ada satu buat, Mas Araz."


"Mama nggak bilang apa-apa?" tanya Araz begitu sang kekasih memberikan paper bag dari Sukma.


"Ehmm...nggak tuh. Cuma titip buat dikasih ke Mas Araz gitu aja." Jelas Kanya berbohong.


"Yakin?" desak Araz sambil menahan senyum.


"I...iya. Memang kenapa?"


"Nggak ada imbuhan,'ini buat calon mantu, Mama' gitu?" goda Araz membuat wajah Kanya seketika memerah.

__ADS_1


"Putra!" gumam perempuan itu penuh dendam.


Sedangkan Araz hanya menahan senyum di ujung bibirnya.


__ADS_2