
Renjana Kanya
Personel lengkap Nada Sumbang sudah berkumpul di rumah. Kami masih menunggu Putra yang entah sedang apa di kamarnya. Hampir setengah jam dan dia belum juga muncul. Arlan mulai tidak sabar. Berkali-kali dia memintaku untuk mengecek ke kamar Putra, tetapi berkali-kali pula aku menolaknya. Bukan apa-apa, aku hanya menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Yah, walaupun aku yakin tidak akan terjadi lagi kali ini seperti beberapa waktu lalu.
"Nya, sumpah deh. Lo cek gih abang lo itu. Gue khawatir dia tenggelam di bak mandi," ucap Arlan mulai mengkhayalkan hal yang mustahil.
"Gila! Nggak ah. Malas gerak gue, Ar. Lo saja gih yang ngecek dia."
"Hemmm ... gue tahu nih, lo takut bakal khilaf kalau lihat dia belum pakai baju ya," goda Arlan disambut suitan yang lainnya.
"Mulai ngaco 'kan. Sudah buruan. Hampir jam 07.00 nih. Kemalaman nanti, yang ada obrolan kita jadi nggak tenang."
"Ya sudah, gue cek deh kalau gitu."
Pada akhirnya Alfian yang mengalah dan memastikan keadaan Putra di kamarnya. Tak lama, laki-laki yang malam ini menggunakan kemeja flanel kombinasi warna biru dan hitam lengan panjang itu, berteriak dari lantai dua. Kami yang ada di lantai satu sampai terkejut oleh teriakan Alfian.
"Ada apa sih?" tanyaku was-was. Meski begitu tak juga beranjak dari sofa ruang keluarga.
"Nya, Abang lo lagi jatuh cinta?" tanya Alfian membuatku mengerutkan kening. Begitu juga dengan anggota Nada Sumbang yang lain.
"Gimana sih? Memang dia ngapain?" tanya Danu yang sepertinya paling penasaran dengan ucapan Alfian.
"Mau ketemu calon manajer saja, dia sampai ngeluarin hampir separuh isi almari," teriak Alfian masih dari pintu kamar Putra. Setelahnya laki-laki itu muncul dari balik pintu kamar sambil menjinjing sepotong benda yang membuatku mengalihkan perhatian. "Bahkan sampai ini pun dia pilih yang paling bagus dong."
"Astaga, ngapain dalaman lo tenteng gitu sih, Al." Protesku membuat Alfian tertawa. Sedangkan dari dalam kamar, Putra mengomel meski suaranya tidak jelas sampai ke lantai satu. "Buruan deh kalian. Makin lama nih berangkatnya nanti."
"Hahaha ... sumpah deh sudah kayak cewek lagi jatuh cinta lo. Bingung pilih baju kalau mau nge-date," komentar Alfian kali ini memancing tawa yang lain.
"Iya dia 'kan lebih perempuan dibanding, Anya." Anggit yang sibuk dengan game online-nya pun berkomentar.
"Enak saja. Mana ada kayak gitu." Protesku justru membuat Anggit tertawa.
"Sudah, sudah, makin pada ribut saja kalian. Putra, buruan lo. Jangan sibuk dandan mulu. Kita bukannya mau meet and greet."
Arlan berkata tegas saat situasi teman satu band-nya mulai tidak kondusif. Tidak salah jika dia dipilih sebagai leader. Arlan memang selalu bisa diandalkan dalam situasi apa pun. Termasuk situasi rusuh yang diakibatkan oleh ulah teman-temannya sendiri.
"Iya, gue sudah siap. Alfian ngaco saja sih. Orang lagi boker. Sembarangan saja dia nuduh gue lagi bingung milih baju buat kencan," kata Putra sambil berjalan menuruni tangga. Sementara Alfian yang berjalan di belakangnya tertawa puas. Apalagi laki-laki itu sudah berhasil mencoreng wajah Putra di depan personel Nada Sumbang yang lain.
"Kita ketemu di mana, Nya?" tanya Arlan. Kali ini dia sudah berdiri dari tempatnya duduk dan bersiap keluar ruangan.
"D’Caffe, itung-itung larisin dagangan teman sendiri."
__ADS_1
"Wah, kayaknya bakal seru nih kalau kita bisa sekalian manggung di sana. Boleh nggak ya sama Tante Sari?" Anggit yang lebih akrab dengan Damar dibanding yang lainnya mengusulkan ide yang tiba-tiba sekali. Namun, anggota band yang lain juga terlihat antusias.
"Iya nih, lama nggak manggung rasanya tangan jadi kaku." Danu ikut-ikutan mendukung ide Anggit.
"Eh, nggak ada. Kalian tuh, mau manggung tanpa pengamanan? Kalian muncul di tempat umum berlima gini, sudah pasti bakal bikin suasana heboh. Apalagi mau manggung. Mau bikin rusuh kalian?" omelku mendahului Arlan. Laki-laki itu mengacak-acak rambutku yang sudah tersisir rapi.
"Itu kenapa gue dukung lo buat jadi manajer kami. Lo yang paling tahu situasi kami, Nya."
"Nggak usah mulai deh, Ar. Kalian bentar lagi juga bakal punya manajer kok. Gue yakin sih, dia bisa lebih baik dari gue. Sudah yuk, berangkat. Keburu malam beneran nih kalau kita nggak berangkat sekarang."
Sejujurnya, aku mulai tidak nyaman karena Renata sudah mengancamku sejak setengah jam yang lalu. Jika kami tidak muncul juga dalam waktu dekat, dia bakal pergi dari kafe dan tidak lagi peduli padaku yang katanya tidak bisa menghargai waktu. Dia tidak lagi peduli meski aku memohon meminta bantuannya untuk perkara yang sama. Padahal Putra yang menyebabkan semua kekacauan ini.
...***...
Renata duduk bersama Angel – sepupunya, saat kami sampai di D’Caffe. Beruntung suasana kafe cukup sepi. Hanya ada Renata dan sepupunya serta beberapa orang lain yang memilih duduk di ruangan outdoor. Jadi, keberadaan Nada Sumbang tidak mencuri perhatian saat kami datang. Hanya saja wajah kegirangan Angel tidak bisa disembunyikan saat bersalaman dengan Arlan dan kawan-kawan.
"Ingat, lo tuh di sini sebagai calon manajer, bukan penggemar yang ketemu idolanya. Pisahkan perasaan pribadi sama kerjaan. Jangan bikin malu gue, lo!" kata Renata tegas saat Angel mulai tidak fokus saat diajak berkenalan.
"Iya, Kak. Maaf."
"Hai, Ngel. Lama nggak ketemu, masih ingat aku ‘kan?" sapaku pada perempuan yang lebih muda dua tahun dariku itu. Dia tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Ingatlah, pacarnya Mas Putra ‘kan?" kata Angel polos sambil mengembangkan senyuman. Sedang aku hanya menelan ludah getir mendengar pernyataannya. Sesaat, aku melirik Putra yang sama terkejutnya denganku.
"Eh, maaf, Kak. Aku nggak tahu kalau kalian ... ."
"Sudah, itu nggak penting sekarang. Aku di sini sebagai perantara yang bakal ngenalin kamu sama Nada Sumbang. Pun sebaliknya. Semoga kerja sama di antara kita bisa terjalin ya."
Setelah saling berkenalan, Angel yang terkesan polos dan lugu itu, cepat sekali akrab dengan anggota Nada Sumbang. Apalagi dia juga salah satu penggemar Nada Sumbang bahkan sebelum mereka seterkenal sekarang. Itu menjadikannya cepat akrab dan nyambung dengan obrolan Putra dan kawan-kawan. Bahkan Alfian yang terkenal pelit bicara pun bisa langsung akrab dengan Angel. Aku bersyukur perempuan itu mengiyakan dan tidak menolak tawaran Renata.
"Kayaknya dia cepat akrab sama Nada Sumbang," komentar Renata yang memperhatikan Angel sejak awal.
"Iya, Nada Sumbang memang butuh orang kayak Angel sih. Alfian yang kesannya nggak tersentuh pun bisa cepat akrab sama dia. Mudah-mudahan saja mereka juga klop sama Angel."
"Iya sih. Sebelum ini dia juga sempat jadi manajer band indie di Jakarta bareng gue, tapi gue suruh keluar."
"Kenapa?"
Renata meneguk air mineral langsung dari botol. Lalu menatapku yang masih fokus pada Angel. Energi keceriaan perempuan itu menyebar ke seluruh ruangan dan aku suka melihatnya.
"Dia dilecehkan sama salah satu anggota band. Begitu gue tahu, gue minta dia langsung keluar. Orang-orang kayak gitu itu nggak pantes buat diajak kerja sama."
__ADS_1
"Gila! Terus pelakunya gimana?"
"Dia nggak mau lapor polisi. Padahal kasusnya cukup berat. Kejadiannya sekitar setahun yang lalu. Sebelum Om Lukman mulai sakit-sakitan."
Mendengar cerita Renata, aku semakin kagum pada Angel. Biasanya perempuan yang pernah mengalami pelecehan pasti cenderung pendiam dan menarik diri. Namun, Angel sama sekali tidak memperihatkan itu. Dia tetap ceria seperti yang pernah aku kenal dulu.
"Mudah-mudahan deh mereka bisa bekerja sama."
"Eh tapi, itu kenapa Putra ngeliatin Angel sampai segitunya sih? Dia nggak mungkin tertarik sama Angel ‘kan?"
Mendengar pertanyaan Renata, aku pun mengamati Putra yang tampak serius menatap Angel. Padangan laki-laki itu memang tidak biasa. Semburat merah terlihat samar di pipinya. Mungkin benar kata Renata, Putra tertarik dengan Angel. Atau mungkin, dia perempuan yang sama yang ditanyakannya padaku tadi pagi? Tentang seseorang yang mengaku temanku dan menyebut jika Putra pacarku?
Memang dulu kami pernah bertemu sekali. Itu pun saat kami masih kelas dua SMA. Berarti, Angel masih SMP tingkat akhir. Dan kalaupun kini bertemu lagi, aku yakin Putra pasti sudah lupa. Apalagi, penampilan Angel sekarang banyak berubah. Dengan Renata pun aku yakin, Putra juga lupa jika mereka dulu sering bertemu. Bahkan satu panggung pementasan. Meski tentu saja kami bertemu di belakang layar.
"Gue nggak sangka, orang yang pura-pura nggak kenal gue waktu ketemu, justru yang paling banyak tahu tentang Nada Sumbang. Sori Nya, tapi kayaknya aku nggak bisa kerja sama dengan orang yang munafik," kata Putra tiba-tiba. Dia berdiri dari tempat duduknya dan berjalan keluar ruangan.
"What? Apaan sih maksud dia?"
Aku yang tak tahu sebab akibat laki-laki itu marah, refleks mengejarnya setelah sebelumnya meminta Arlan untuk mengurusi semua hal yang berkaitan dengan Angel. Padahal sebelumnya, aku melihat tatapan Putra yang begitu mendamda. Namun, sekejap saja, tatapan itu menjadi sorot benci yang menggumpal di matanya.
"Maksud lo apa sih ngomong kayak gitu tadi?" tanyaku saat berhasil mengejar Putra. Kami duduk di sisi outdoor kafe yang menghubungkan langsung ke jalan raya.
"Kalau kamu ingat, dia perempuan yang aku tanyakan tadi pagi."
"So, maksudnya apa dengan ngatain dia munafik atau apalah lo sebut dia."
Putra menghela napas. Dia mengurut kepalanya sebelum berkata,"Dia pura-pura nggak kenal sama aku saat kami ketemu nggak sengaja di bandara. Saat di rumah sakit juga. Dia nolongin aku waktu kamu tinggal pergi di kantin beberapa waktu lalu. Dia seolah nggak kenal aku. Nggak kenal Nada Sumbang, tapi nyatanya, dia bahkan sudah kenal Nada Sumbang sejak SMP. Apa-apaan itu."
"Terus kenapa lo marah?"
"Ya aku nggak suka saja orang yang tahu segalanya, tapi sok nggak tahu apa-apa. Biar apa? Ngerasa dia paling pintar atau apa?"
"Lo nggak lagi bikin kesalahan ‘kan?" Laki-laki itu seketika terdiam saat aku bertanya padanya. Sikapnya yang aneh membuatku yakin jika telah terjadi sesuatu di antara mereka yang aku tidak tahu. "Apa?"
"Aku mojokin dia di dinding waktu dikejar sama penggemar di bandara. Aku tahu sikap aku kurang ajar, tapi ... ."
Kini aku menghela napas panjang. Bagaimana bisa perempuan yang sudah memperoleh perlakuan kurang ajar dari laki-laki asing masih sanggup tersenyum dan menerima tawaran untuk menjadi manajernya? Sedang dengan tidak tahu malunya, Putra justru menyebutnya munafik tanpa mau peduli dengan apa yang pernah dialami oleh perempuan itu.
"Minta maaf sekarang."
"Apa? Kenapa aku yang mesti minta maaf sih, Nya."
__ADS_1
"Gue bilang minta maaf sekarang atau gue nggak mau peduli sama lo lagi," ancamku membuat Putra mendengus kesal.
Dia meninggalkanku sendirian di kursi dan kembali masuk demi meminta maaf pada Angel. Cahaya yang berpendar cerah itu, sebisa mungkin aku ingin menjaganya agar tidak padam. Sebab di masa depan muncul harapan agar dia mampu menjadi penerang kesunyian gelap malam Putra.